Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.
Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.
Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar Fiona
“Jangan ada yang membantu dia, atau kalian tahu akibatnya,” ancam Prince.
Prince beserta kedua kacungnya pergi begitu saja meninggalkan tubuh Fiona yang terduduk di lantai dengan raut wajah kesakitan memegang perutnya.
Feriska segera menghampiri Fiona. “Kita ke klinik yuk.”
Feriska semakin khawatir saat Fiona tidak menjawab ucapannya. Sahabatnya itu terus memejamkan matanya dengan wajah meringis. Feriska mencoba menghubungi Anthony, namun tidak kunjung di angkat.
Feriska cukup kebingungan, semua orang di sana pergi begitu saja. Mereka semua takut pada Prince hingga tidak mau menolong Fiona. Feriska tidak mungkin menghubungi orang tua Fiona, ia takut Fiona belum memberi tahu orang tuannya bahwa ia sedang hamil.
Feriska teringat Arsya. Dia segera menghubungi Arsya. “Cepat ke kampus sekarang juga, ini gawat Fiona kesakitan.”
[Fiona siapa yang kamu maksud?]
“Fiona Havelaar, cepat jangan sampai terlambat aku takut janin Fiona kenapa-napa.”
Feriska memegang bahu Fiona, “Kamu bisa jalan gak?”
Fiona menggeleng, perutnya benar-benar sangat sakit.
Arsya sangat khawatir setelah mendapat kabar dari Feriska tentang keadaan keponakannya. Ia langsung menuju ke kampus. Sampai di kampus Arsya kembali menghubungi Feriska. “Kalian di mana?”
[Di kantin]
Arsya segera menuju kantin, ia melihat tubuh Fiona yang terduduk di lantai dengan wajah menahan rasa sakit. Arsya segera menghampiri Fiona dan Feriska.
Arsya segera membawa tubuh Fiona ke mobil. Banyak pasang mata yang melihat mereka.
Feriska mengekor, ia duduk di kursi penumpang bersama Fiona. Sementara Arsya menyetir,
Jarak rumah sakit dari kampus cukup jauh, namun ada klinik kandungan yang tidak jauh dari kampus. Feriska memberi arahan pada Arsya.
Sampai di klinik Fiona segera mendapat pertolongan. Sementara Feriska dan Arsya menunggu di depan ruang UGD.
Arsya hendak memberi kabar kepada Ignazio. Pandangan Arsya bertemu dengan manik Feriska, ia lupa bahwa di sini ada sahabat Fiona. Arsya sudah berjanji akan menyembunyikan pernikahan Fiona dan Iganzio. Arsya mengurungkan niatnya untuk memberitahu Ignazio.
Seorang dokter kandungan keluar dari ruang UGD. “Apa kalian keluarga dari pasien?”
“Iya dok, saya Papanya.”
“Keadaan janin ibu Fiona baik-baik saja, ada pendarahan sedikit tapi tidak terlalu bermasalah. Lain kali jangan sampai ibu Fiona mengalami hal yang akan membahayakan kehamilannya.”
“Baik dokter,” jawab Arsya.
“Apa kami bisa melihat keadaan Fiona?” tanya Feriska.
“Ibu Fiona akan segera di pindahkan ke ruang rawat, kalian bisa menemaninya.”
Feriska dan Arsya akhirnya bisa bernafas lega. Mereka ikut mengantar Fiona menuju ruang rawat.
Fiona di tempatkan di ruang perawatan, setelah memastikan semuanya aman para perawat pergi meninggalkan ruangan.
Rasa sakit di perut Fiona belum benar-benar hilang, namun kini mulai mereda setelah dokter memberikannya obat.
Kejadian barusan sangat mengejutkan bagi Fiona, ia menatap Feriska yang tampak khawatir. Di sampingnya ada Arsya yang sama menunjukkan raut wajah khawatirnya.
“Kamu baik-baik saja sayang?”
“Aku baik-baik saja Pa, jangan beritahu Ayah dan ibu.”
Arsya menghela nafasnya, ia mengusap kepala Fiona dengan penuh kasih sayang. “Kenapa ini kabar gembira?”
Fiona melirik kan matanya ke arah Feriska. Arsya yang mengerti segera mengalihkan topik pembicaraan. “Kamu memerlukan sesuatu?”
“Tidak Pa.”
Feriska terkejut saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh, ia sudah berjanji untuk melakukan wawancara dengan narasumbernya. “Gawat aku harus ke kampus sekarang.”
“Untuk apa?”
“Aku ada janji untuk mewawancarai narasumber. Maaf Fiona aku tidak bisa menemanimu, aku pamit ya.” Wajah Feriska sangat panik, ia segera keluar dari ruangan.
“Papa telepon Zio ya.” Fiona mengangguk memberi ijin.
Ignazio sedang berada di ruangannya, ia di sibukkan dengan tumpukan kertas yang sedikit menggunung. Cuti pernikahannya sudah usai, Ignazio harus kembali pada rutinitasnya.
Kedua bola matanya bergerak menelusuri setiap kata yang tersusun di atas kertas untuk menelitinya dengan saksama.
Mata Ignazio melirik pada ponselnya yang tergeletak di atas meja, sebuah panggilan masuk dari Arsya. Ignazio segera menerima panggilan tersebut. “Ada apa?”
[Fiona ada di klinik, ia bertikai dengan teman kampusnya.]
“Kirimkan alamatnya, aku akan ke sana.”
Ignazio meninggalkan tumpukan kertas di mejanya, fokusnya sekarang tertuju pada Fiona. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan istri dan calon anaknya.
Ignazio menempuh perjalanan selama dua puluh menit untuk sampai di klinik. Di tempat parkir ia melihat Arsya yang tengah berdiri menikmati satu batang rokok.
“Fiona ada di mana?”
“Di lantai dua, ruang mawar.” Bibir Arsya mengeluarkan kepulan asap rokok.
“Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit?”
“Karena tempat ini jaraknya lebih dekat, cepat temui Fiona. Rasanya aku ingin memecat mu dari menantuku, tidak becus menjaga Fiona,” tandas Arsya dengan nada kesalnya.
Ignazio melenggang pergi meninggalkan Arsya untuk segera menemui istrinya.
***
Usai bertemu dengan dosen pembimbing Anthony memutuskan untuk pergi ke rumah Fiona.
Anthony mengecek ponselnya, ada satu panggilan dari Feriska. Ia menghubungi Feriska, namun tidak di angkat.
Dengan motornya Anthony sampai di rumah Fiona. Anthony turun dari motor, membuka helmnya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu berjalan menuju penjaga gerbang. “Saya ingin bertemu dengan tuan Eduard dan nyonya Averyl.”
Penjaga tersebut meneliti penampilan Anthony yang cukup rapi dengan setelan kemeja yang di padukan dengan celana jeans. “Ada keperluan apa?”
“Saya Anthony teman kampus Fiona, hendak berbicara serius dengan tuan Eduard dan nyonya Averyl.”
“Tunggu sebentar.” Penjaga tersebut masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan kedatangan teman kampus Fiona.
Sementara penjaga satunya lagi meneliti gerak gerik Anthony, untuk tetep waspada.
Pria tadi kembali dan membuka pintu gerbang untuk Anthony masuk. Penjaga tersebut mempersilahkan Anthony untuk masuk. “Tuan dan Nyonya menunggu di ruang tamu.”
Anthony berjalan dengan jantung yang sedikit berdebar, ini pertama kalinya ia menemui orang tua Fiona.
Pintu depan terbuka lebar, Antony menunduk hormat. “Permisi Tuan, Nyonya.”
“Masuklah.”
Anthony mengikuti perintah ayahnya Fiona.
“Silahkan duduk.” Eduard menatap Anthony. “Ada perlu apa kemari?”
“Saya bermaksud untuk melamar Fiona.”
Anthony melihat raut wajah terkejut dari Ayah dan ibu Fiona. “Saya tidak masalah dengan kehamilan Fiona, saya akan menyayangi dan menerima anak yang di kandung Fiona.”
mksh kak bonusan Babnya lope lope sekebon cabe 💜💜💜💜