NovelToon NovelToon
Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:537.7k
Nilai: 4.6
Nama Author: Mei-Yin

Amara Khaira Shaza tidak pernah menyangka perilaku buruknya di masa lalu menjadikan calon suaminya membatalkan rencana pernikahan yang telah disusun rapi. Calon suaminya membatalkannya sepihak tanpa memberinya penjelasan yang gamblang.

Amara patah hati, dia terluka oleh seseorang yang begitu dipercaya. Rasa frustasi dan keterpurukan yang dirasakan membuatnya selalu mengurung diri dan menjauh dari semua orang. Hingga akhirnya dia dikirim oleh kedua orang tuanya datang ke pesantren untuk melupakan segalanya dan belajar ikhlas untuk apa yang telah terjadi dalam hidupnya.

Ketika Amara menyerahkan seluruh cinta dan hidupnya hanya pada Allah, Allah datangkan seseorang yang baik untuk menjadi jodohnya.

Namun, godaan kembali datang saat Amara kembali di hadapkan pada kenyataan bahwa suaminya juga memiliki masa lalu yang kelam.

Akankah kehidupan Amara akan menemukan titik bahagia atau harus kembali menerima cobaan yang lebih dahsyat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei-Yin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istimewanya seorang wanita dan ibu

Semua yang telah terlewati hanya masa lalu. Hidup bukan untuk kemarin tapi untuk hari ini dan hari esok. Belajar menikmati dan melakukan yang terbaik untuk meraih hidup bahagia di dunia maupun di akhirat kelak.

Semakin hari Amara semakin bersemangat untuk menjalani hidup karena telah diberikan nikmat kesehatan dan napas sampai detik ini.

Tanpa terasa sebulan terlewati begitu saja. Amara mengutarakan niatnya pada Umi Rahma bahwa dia izin akan pulang lagi untuk membantu sahabatnya yang melakukan aksi sosial. Tentunya hal baik selalu mendapatkan kebaikan pula. Umi Rahma mengizinkan dan memberikan banyak nasihat seperti biasanya.

Setiap sebulan sekali, Amara akan pulang ke Surabaya.

Sore itu Amara yang tengah datang bulan tidak melakukan kegiatan apa pun. Dia duduk di teras rumah sembari mengamati setiap orang yang berlalu lalang dan menyapanya.

“Ning Fatimah mau ke mana?” tanya Amara melihat Fatimah telah rapi dan membawa tas. Wajahnya tampak lesu tak bersemangat seperti ada beban berat yang tengah dipikirkan.

“Mau pulang ke Kediri, Mara. Umiku sedang sakit,” jawabnya pelan.

“Semoga segera diberikan kesembuhan untuk ibunda tercinta dan diangkat segala penyakitnya.”

Fatimah mengangguk. “Terima kasih, Mara. Aku duluan, ya. Assalamu’alaikum,” katanya berlalu begitu saja.

Hari-hari berlalu, minggu berganti, bulan terlewati dengan cepat tanpa masalah yang berarti.

Semakin hari Amara semakin terlihat begitu bijak dalam menyikapi banyak hal. Tampak begitu tenang dalam setiap tutur kata dan sikapnya.

Selepas magrib dia menemui Umi Rahma yang ada di selasar masjid mengajari para santriwati yang mulai beranjak remaja.

“Wanita beda dengan pria. Dalam menjalankan aktivitas pun sangat berbeda. Tapi hukum syara’ memandang sejajar antara wanita dan pria. Dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 17, ‘Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.’ Jadi derajat antara pria dan wanita itu sama di mata Allah.”

Amara ikut duduk di sana, ikut mendengarkan apa yang tengah dijelaskan.

“Pun dalam bergaul, seorang wanita

muslim memiliki etika antara lain, menahan pandangan, menutup aurat, dalam perkataan harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan, dalam berjalan jangan memancing pandangan lawan jenis, dalam gerak gak boleh berjingkrak atau berlenggak-lenggok, menjauhkan diri dari parfum yang mencolok, gak boleh berkhalwat dengan lawan jenis karena bisa jadi yang ketiganya nanti setan.” Umi Rahma terkekeh pelan diakhir kalimat.

“Mengapa seorang wanita dan pria berbeda, Umi?” tanya seorang santriwati.

“Pria dan wanita telah diberikan tanggung jawab yang berbeda. Perbedaan tersebut tentu disesuaikan pula dengan kewajibannya. Dalam hukum syara’ memandang sejajar antara pria dan wanita. Islam memandang sama pria dan wanita dalam aspek keseteraan. Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang istimewa. Allah menciptakan satu ruang khusus pada tubuh wanita yang tidak ada pada pria, yaitu rahim.”

Amarah mengangguk membenarkan. Dalam hal kesetaraan wanita dan pria memang sama. Namun, perlu diingat lagi bahwa perbedaan itu juga memiliki tanggung jawab yang berbeda.

“Allah telah mengangkat derajat wanita dengan memberikan fungsi khusus dan tugas yang amat berat ini hanya kepada golongan wanita. Pemilihan wanita sebagai penyebab warisan generasi manusia adalah lambang keagungan karunia Allah.”

“Oleh karena itu surga diciptakan di bawah telapak kaki ibu?”

“Surga di bawah telapak kaki ibu hanya sebagai kiasan karena kita sebagai anak wajib taat dan berbakti kepada ibu untuk mendapatkan ridha-nya. Ibu menempatkan diri sebagai posisi pertama sebelum ayah.”

“Kenapa hanya ibu? Kenapa bukan ayah?”

“Hati ibu adalah anugerah terindah dari Allah. Mengapa ibu, bukan ayah? Karena ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anaknya. Seorang ibu rela mengandung dan melahirkan anaknya meskipun harus bertaruh nyawa. Kasihnya sepanjang masa, gak akan lekang oleh waktu meski anak-anaknya kelak beranjak dewasa.”

Amara menyeka sudut matanya yang basah. Nasihat-nasihat dari Umi Rahma selalu menyentuh hati.

Ibu, maafkan aku yang pernah melawan dan tak berbakti pada-Mu. Allah berikan umur yang panjang untuk kedua orang tuaku.

To Be Continue ....

1
Arya Al-Qomari@AJK
Harris dan keluarganya merasa suci seolah gk punya dosa. orang² yg begini nih yang pada akhirnya tenggelam lebih dulu
Sri Darmayanti
sedih
Dede Bleher
Ajaran ibuku,saurna walaupun kamu bandel tapi jangan pernah serahkan kesucian mu pada pria yg bukan suami mu!
krna kesucian itu kehormatan kluarga.
pun begitu,teman temanku walaupun mereka minum Alkohol dan pernah ke Club malam, mereka masih bersih.
mereka tahu hanya suami yg berhak atas dirinya.
jd tk pernah bablas dlm pacaran!
Rima baharudin
ya allah amara......... jangan bilang gitu org tua mu sedang berusaha membuat mu bangkit kembali, lupakan haris dengan cara mengikhlaskan nya
neng ade
happy ending utk Amara Akram dan kedua putri nya yg satu blm dikasih nama kah . ??
neng ade
sejak awal kedatangan nya di rumah itu niat nya memang ingin menggoda Akram agar mau menikahi diri nya ..
neng ade
syukurlah akhir nya Amara udah sembuh dan bisa berjalan normal lagi .
neng ade
apa tuh hadiah nya .. bikin pemasaran nih. ..
neng ade
ternyata Adnan kenal dngn sopir. mobil itu yg bernama Lukman .. siapa sisik yg bernama Lukman itu
neng ade
itu yg nabrak Mara orang suruhan nya Claudia
neng ade
detektif Adi kah itu yg datang. ??
neng ade
semangat dan sukses selalu utk mu thor 🙏❤❤❤
neng ade
jngn sampai Claudia berhasil kabur
neng ade
jngn ada yg tergiur dngn uang suap yg Claudia kasih
neng ade
obsesi mu akan menghancurkan diri mu sendiri Claudia ..
neng ade
bayi yg tak berdosa itu harus kena imbas nya atas skandal yg melibatkan Akram
neng ade
Luar biasa
neng ade
semoga semua nya cepat selesai ..
detektif Adi harapan ku ada pada mu
neng ade
licik nya ..
neng ade
jadi gregetan juga sm Claudia.. dia ternyata udah hamil dan sengaja menjebak Akram agar bisa menutupi kehamilan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!