NovelToon NovelToon
Terjerat Rasa

Terjerat Rasa

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:286.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adinda Aira tidak menduga jika kekasihnya yang bernama Frans Albar telah memiliki calon istri yang akan segera ia nikahi.

Kini Adinda hamil.

Demi menutupi Aib itu, Frans memaksa Ryan Alaska yaitu teman sekaligus rekan kerjanya agar menikahi Adinda Aira untuk sementara saja. Frans berjanji akan menikahi Adinda setelah setahun pernikahannya dengan sang istri, Nia Devira.

Ryan terpaksa menerimanya karena hidupnya pada saat itu begitu bergantung kepada Frans dan sedang mengalami konflik besar dengan keluarganya.

Lantas apakah yang terjadi? Jika mereka ternyata sudah terjerat oleh rasa cinta yang dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Persiapan Adinda Bertemu Calon Mertua

Minggu pagi, pukul 08.00 Wib

"Dreeeet...Dreeet...Dreeeet...."

Bunyi suara getaran ponsel Adinda yang kuat di atas bufet lampu tidur, tepat bersebelahan dengan kasurnya. Terkejut mendengar suara itu, Adinda reflek meraba dan memanjangkan tangan kanannya untuk meraih ponsel itu, kemudian memaksakan mata mengantuknya terbuka demi melihat asal panggilan.

"My Sister!" gumam Adinda langsung menerima panggilan, masih dalam posisi tertidur.

"Kakak!" jawab lesu Adinda dalam nada suara beratnya.

"Aku sudah di depan rumahmu, buka pintunya?"

"Trup" Nabila langsung mematikan ponselnya.

Adinda pun memaksakan tubuh lemahnya bangkit sambil berkata;

"Syukurlah, akhirnya dia rela untuk datang, hampir saja aku memecatnya sebagai kakak jika ia mengabaikan ku hari ini" omelan Dinda terus berjalan menuju pintu utama.

(Minggu pagi waktu yang bebas bagi Adinda, Tidur lebih pagi dan bangun lebih siang. Biasanya pukul 08.00 wib ia sudah berada di kantor X-Tren)

Adinda langsung membuka pintu, Nabila masuk begitu saja dengan langkah cepat sambil membawa banyak barang-barang berupa makanan, buah dan pakaian baru.

Adinda sempat terbengong, terheran-heran dengan tentengan kakaknya yang cukup banyak, tidak seperti biasanya.

"Kaca jendelanya sudah diperbaiki?" tanya Nabila.

"Ia, aku harus menggantinya!"

Nabila meletakkan semua barang itu di atas meja makan sambil berdecap;

"Huuuft!" lanjut meneguk segelas air. Terlihat wanita itu kelelahan, banyak yang harus ia urus dan kerjakan sebagai wonder woman sejati.

"Kakak bawa apa saja?" tanya Adinda mengacak-ngacak barang bawaan Nabila.

Nabila mengeluarkan satu per satu barang bawaannya.

"Ini makanan buat sarapan kita, ada juga buah, susu, terus pakaian khusus, yang akan kamu pakai saat berkunjung ke rumah calon ibu mertuamu!"

"Pakaian?" Adinda langsung mengambil bungkusan pakaian dan membukanya, karena wanita itu lebih tertarik dengan pakaian daripada makanan.

Sementara Nabila bergegas menyiapkan sarapan mereka, sosok kakak itu semakin menunjukkan rasa tanggung jawabnya setelah ia gagal mengontrol pergaulan hubungan percintaan adiknya yang kebablasan.

Setelah membukanya, Adinda memperhatikan pakaian dress elegan dan sopan itu dan menempelkan ke tubuhnya.

"Gaunnya bagus sih, tapi ini lebih seperti ingin pergi ke pengajian!" komentar polos Adinda.

"Heh, maksud kamu, mau bertemu calon mertua pakai bikini? Adinda dengarnya, image kamu itu sudah jelek di mata siapa saja, itulah resikonya menjadi perempuan yang sudah mengandung di luar pernikahan, biarpun kita baru sekali melakukannya, tapi semua orang sudah menganggap kita ini kotor, berbeda dengan pria, tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Jadi tolong! Jangan kamu tambahi lagi dengan penampilan kamu yang buruk (Sexy) seperti selama ini."

"Jadi kakak setuju jika Adinda, bertemu dengan ibunya Ryan?"

"Begitu melihat pesan kamu pukul 4 pagi, kakak sudah tidak bisa tidur lagi, demi untuk mempersiapkan moment ini! Ayo buruan sarapan!"

"Ouh!" respon kecil Adinda cukup kagum melihat kakaknya yang begitu antusias menikahkan ia dengan Ryan.

Keduanya sarapan bersama.

"Adinda kan banyak pakaian, untuk apa kakak harus beli!" celoteh sang adik masih belum paham.

"Pakaian mana yang kamu maksud, pakaian yang kau beli bersama Frans yang semuanya kekurangan bahan itu?"

"Yah, tapi Itu harganya mahal loh kak?" protes Adinda.

"Adinda, ini bukan perkara mahal atau tidaknya, tapi kesan pertama kamu saat bertemu dengan seorang ibu dari calon suami kamu, jangan anggap sepele!"

"Emang segitu penting yah kak?"

Nabila menghela nafas, mendengar pertanyaan sang adik, tapi sosok kakak itu bisa memaklumi adiknya yang memang selama ini kurang perhatian dan banyak yang belum ia pahami.

"Tidak ada seorang ibu yang rela menikahkan putranya dengan perempuan yang sudah hamil dari hasil hubungannya dengan lelaki lain, jika Ibu Ryan bisa setuju dan merestuinya, artinya ia sosok ibu yang sungguh luar biasa, maka ini jangan sampai kamu sia-siakan. Adinda kamu tau tidak! kakak cukup stress dengan masalah kamu ini, untungnya masih ada jalan keluarnya, yaitu kamu bisa menikah dengan Ryan, coba jika tidak ada, kakak tidak tau lagi harus bagaimana!" keluh Nabila dengan mata berkaca-kaca.

Adinda terdiam mulai memahami perkataan sang kakak yang sebagai pengganti ibunya.

"Ini kesempatan kamu untuk bisa merubah hidupmu lebih baik. Adinda, hiduplah di level sendiri, jangan terlalu banyak tuntutan, itu semua hanya akan menjerat kamu. Nasib setiap manusia itu berbeda-beda, kakak hanya ingin kamu lebih banyak belajar dan memahami arti kehidupan ini, apalagi kau akan menikah, tidak semua apa yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan!"

Adinda hanya terlihat diam saja sambil mengunyah sarapannya.

Akhirnya Nabila meneteskan airmata, menangis layaknya seorang anak kecil, hatinya cukup rapuh dan sebenarnya ia tidak sanggup menghadapinya namun ia harus tegar.

"Kakak?" rengek Adinda tampak panik saat melihat kakaknya menangis tersedu-sedu, wanita itu bangkit dengan cepat lalu merangkul kakaknya dari belakang.

"Adinda janji, akan menuruti apa kata kakak?" bisik Adinda, Nabila mengangguk sambil menyentuh lembut pipi adiknya.

"Apa Ayah tau tentang kehamilan ku?"

"Ayah lagi sakit, kakak tidak ingin membebaninya, dia harus hidup untuk anaknya yang lain. Tapi kakak sudah memberikan kabar, jika kau akan menikah, ini penting, karena dia lah yang akan menjadi wali kamu!"

"Apa responnya?"

"Cukup senang, mungkin beberapa hari ini, ia akan bertemu dengan kamu!"

"Apa kau tidak ingin menelponnya?" tanya Nabila.

Adinda menggeleng tidak.

"Aku juga mengabaikan panggilannya, semua sudah terlambat?" ungkap gadis yang gawangnya sudah kebobolan itu, dalam tatapan lamunan yang jauh.

"Hemm!" Hela nafas Nabila.

*

Pukul 09.06 Wib, artinya sebentar lagi Ryan akan sampai di rumah Adinda.

Setelah sarapan, dua bersaudara itu lanjut menuju kamar utama Adinda.

"Dimana pakaian kamu?" tanya Nabila.

"Sebagian sudah aku masukin ke dalam koper!"

"Sudah pergi sana, sebentar lagi Ryan akan datang!"

"Baiklah" Adinda bergegas menuju kamar mandi.

Sementara Nabila sibuk memisahkan pakaian-pakaian adiknya yang terlalu terbuka dengan yang lebih sopan, ia tau Adiknya akan tinggal bersama Ryan.

"Kenapa dibongkar semua kak?" protes heran Adinda setelah selesai mandi.

"Pakaian kamu yang super sexy ini akan kakak jual, kakak janji, uangnya akan kakak belikan dengan pakaian yang lebih sopan!"

"Kak jangan! Itu harganya mahal, kakak mau jual berapa?"

"Ssssst 🤫 bukankah kamu tadi sudah berjanji, akan menuruti semua perkataan kakak!"

"Tapi...bahkan ada yang belum sempat aku pakai☹️!" jawab mewek Adinda.

Nabila tetap tidak perduli. Ia membungkus pakaian Adinda yang menurutnya tidak layak untuk dibawa ke rumah mertua.

"Lagian panas kak, jika harus pakai pakaian terlalu panjang terus!" keluh Adinda.

"Adinda, pakaian itu menentukan pria yang datang kepada kita, selama ini pakaianmu terlalu terbuka! Lihat, pria seperti apa yang datang? Frans? Pria yang tidak bertanggung jawab dan hanya ingin menikmati tubuh kamu saja, jika pakaian kamu sopan, maka pria sopan lah yang akan datang kepadamu, jadi cara kamu berpakaian juga salah satu menentukan pasangan hidupmu!" ucap Nabila sang dosen psikologi.

"Ah...Kakak payah ah, banyak juga perempuan yang pakaian sopan tapi tetap saja pergaulannya bebas!" keluh Adinda.

"Setidaknya, itu merupakan salah satu usaha, untuk melindungi perempuan dari pelecehan!"

Meski Adinda tidak menyukai aksi kakaknya namun ia tidak bisa membantahnya.

Adinda merias sendiri wajahnya karena itu merupakan salah satu keahlian yang ia sukai. Wanita itu memiliki satu koper kecil yang berisi perlengkapan kosmetik, perawatan wajah (skincare) dan tubuh mulai dari ujung rambut sampai kaki, serta lengkap dengan alat kecantikan lainnya, di bandrol sekitar 70-100 juta.

((Kecantikan itu mahal yah guys🥳))

"Bagaimana kak?" senyum manis Nabila memperlihatkan hasil dandanannya.

"Ok! cantik!" Nabila mengacungkan jempolnya, senang melihat adiknya yang cantik dan berpakaian sopan.

*

Pukul 10.05 Wib.

Tampak Ryan sudah berada di depan rumah Adinda mengenakan mobil sport berwarna putih, penampilan pria itu terlihat santai dan biasa saja.

Ponsel Ryan berbunyi saat ingin memarkirkan mobilnya dengan rapi.

Panggilan dari Frans yang sedang sarapan berdua bersama Nia di sebuah restoran, pria itu menelpon Ryan saat Nia sedang sibuk dengan menu makanannya.

📱

"Mengapa kau belum menyerahkan data pribadi mu kepada Daniel? Aku sudah meminta ia akan mengurus semua berkas pernikahan kalian."

"Hari ini ibuku ingin bertemu dengan Adinda, jika ibuku tidak setuju, maaf aku terpaksa harus membatalkannya Frans?"

"Apa?" Frans terkejut hebat.

"Kau mungkin bisa mencari pria lain untuk suami pacarmu itu?"

"Hei, apakah kau sedang bercanda? Bukankah kita sudah sepakat?" tanya Frans tidak terima.

"Tapi semuanya masih tergantung Ibuku!"

"Ryan, bisakah kamu menjadi anak lelaki yang lebih mandiri, mengambil keputusan sendiri, tidak selalu cengeng kepada ibumu!" hardik Frans membaut Ryan terpukul.

"Frans, kita itu berbeda, jika kamu tipe sosok pria yang tidak bertanggung jawab, selalu cuci tangan dengan masalah mu, sementara aku tidak! Aku tidak bisa meneruskan pekerjaan yang pada akhirnya aku tidak sanggup, walaupun harus mengambil resiko yang cukup besar, jadi aku tetap butuh restu orang tuaku!"

"Trup!" Ryan langsung menutup ponselnya dengan cepat.

*

"Aaargh, nih anak, payah dan benar-benar labil, pernikahan hanya satu tahun saja dia terlalu berlebihan menanggapinya!" gerutu Frans dengan kesal membuang ponselnya di atas meja.

1
Rani Chiko
ikutan tegang q thor bacanya/Cry/
Afnan S
pada novel terjerat rasa author banyak menyelipkan dakwah lewat mama khaliza dan alamsyah secara tidak langsung para pembaca belajar akan ketenangan jiwa dengan selalu menyerahkan urusan pada sang pencipta.. good author
Afnan S
episode ini banyak bawangnya
Afnan S
jadi ingat kelucuan Andre dan indah
Mita
luar biasa
💜⃞⃟𝓛 ᎩᏬᏁhiat ⍣⃝ꉣꉣ❀∂я
Ceritanya bagus dan kereen😍🙏
Rohmadhona Vina
terimakasih kak,dari cerita ini aku jd belajar ilmu sabar & ikhlas yg ternyata sulit tp aku yakin hasilnya nanti akan indah.
Senyiur Borneo
😅😂😂😂
Senyiur Borneo
ternyata iyaa, mmg lbh mengerikaaann hahahaa...
Senyiur Borneo
wkwkkwwk
findry
selalu suka sama karyamu Thor
lovely
pergi k neraka aja Lo Frans 🥴
lovely
kasihan amat nasibmu Ryan apem s Dinda bekas s frans 🥵
lovely
aduhhh terlalu bnyak beragumen jd ngos³an bacanya🥴
lovely
dasar manusia lucnuttt c Frans seenaknya nyuruh org yg berta ggunh jawab realnya ogahhh mski diancam🥵
lovely
ini yg pacarnya siapa.yg hamilin siapa malah Ryan malaikat penolong Dinda 🥴
lovely
kasian Ryan dapat bekasan bosnya 😜
lovely
dasar cewek begokkk d Dinda😜
Supry Atun
bagus novelnya
Supry Atun
athor yg bikin kepo Ryan kwkwkwwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!