Ia tengah lari dari perjodohannya. Nur Aida Rindayani tak pernah menyangka, Ia justru menemukan seorang pria yang tergeletak di pantai dan membawanya pulang. Sebuah fitnah keji, lalu memaksa mereka menikah dalam sekejap.
Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.
Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda itu milikku.
"Nek, Nur mana?" tanya Tono yang terbangun dari istirahatnya.
"Katanya ambil obat, tapi kenapa lama banget? Apa ketiduran malahan?" Nenek akhirnya keluar, dan menatap dari kejauhan sembari menggerutu.
"Nah, itu dia." omelnya pada sang cucu, yang berjalan setengah berlari.
"Maaf, Nek."
"Kamu dari mana aja? Hampir aja Tono sakit lagi."
"Aida....."
"Nur, mana obatnya." panggil Tono, mengalihkan omelan Nenek Mis.
Aida masuk, dan langsung melayani Tono untuk obatnya.
"Nur, ini apa?" tatap Tono yang menemukan bekas merah di leher Aida. Ia tahu, meski ditutupi dengan rambut panjangnya.
"Eng- nanti, Aida ceritain, Mas. Ngga enak, ada nenek." balas Aida. Tono mengangguk, dan mulai meminum semua obat yang Aida persiapkan.
*
Hari semakin sore. Aida mengajak Tono pulang kerumah, untuk segera memandikan diri dan mempersiapkan makan malam.
"Nur, biar ku bantu." tawar Tono. Ia mengambil beberapa bahan dan mengupasnya segera di masak oleh Aida.
Keduanya tampak rukun, seperti suami istri pada umumya. Tampak ketika Tono begitu terampil membantu sang istri membereskan rumah itu..
Kali ini, Aida menyempatkan diri untuk membersihkan kamarnya. Ia mengepel seluruh lantai kamar, ketika Tono pergi mandi. Hari yang memang begitu panas, membuatnya melepas blouse dan hanya memakai tanktop untuk bekerja. Ia nyaman, toh dirumah sudah bersama suaminya sekarang.
"Nur, aku sudah...." ucapan Tono terhenti, ketika menatap Aida yang berpakaian minim. "Ah, maaf. Aku ngga sengaja."
"Masuk aja, Mas. Ngga papa kok.". Jawab Aida tanpa menoleh.
Tono pun masuk, perlahan merayap ke dinding dengan terus menutup matanya. Perlahan, Ia mulai sampai ke dekat lemari untuk mencari pakaiannya.
Sayangnya, kaki Tono terpeleset oleh lantai yang terlalu basah. Ia berusaha menyeimbangkan diri, namun tak bisa. Aida menoleh, meraih dan menangkap tangan Tono. Tapi, tarikannya terlalu kencang hingga justru membawa Tono jatuh.
Bughhh! Tono jatuh, tepat di atas Aida.
"Aawwwh, sakit!" pekik Aida pada suaminya. Dan entah bagaimana awalnya, Aida menatap Tono yang juga tengah menatapnya tajam.
"Mas, kenapa? Berdiri dong, berat ini."
"Nur, maaf. Aku ngga sengaja." ucap Tono, dengan wajah syoknya.
"Apa?" Aida melirik kebawah. Dan menatap keberadaan telapak tangan Tono. Ya, telapak tangan itu mendarat tepat diatas benda bulat dan kenyal milik Aida. "Aaaaarrrrgghhh!"
Aida memekik, lalu Tono berdiri dari tubuh Aida.
"Ma-maaf aku ngga sengaja. Serius."
Aida duduk, mendengkus kesal dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menyibakkan rambutnya yang panjang kebelakang.
"Nur, marah?"
"Engga. Gantilah pakaiannya. Aku, mau keluar." ucap Aida. Beranjak meninggalkan Tono di kamarnya.
Usai berganti pakaian. Tono keluar dan mencari istrinya. Terdengar suara tangis dari ruang belakang. Ia langsung menghampiri Nur-nya disana.
"Nur, kamu kenapa? Kamu, marah gara-gara tadi? Aku... Aku sudah minta maaf. Aku ngga sengaja." sesalnya. "Apa yang harus aku lakukan, agar kamu kembali ceria?"
Aida mengusap air matanya, "Bukan, Mas. Bukan itu. Yang baru saja terjadi, adalah Aida nyaris di lecehkan Amrul. Tadi sebelum ke warung."
"Apa?" kaget Tono, yang langsung duduk di sampingnya.
Aida lalu membuka tengkuk lehernya. Tepat di bercak merah yang Tono lihat sebelum ini. "Udah coba di hapus. Tapi ngga hilang juga. Aida jijik lihatnya. Aida berusaha mengalihkan rasa itu daritadi."
"Astaga, Aida. Ini akan susah hilang, mungkin." usap Tono di tanda itu.
Tanpa di duga, Tono mendekatkan wajahnya disana. Ia mengecup tengkuk leher itu dengan sedikit kuat. Bercaknya makin merah, dan Aida hanya menatapnya makin tajam.
"Mas, kamu kenapa?"
"Sekarang, jika orang tanya. Itu adalah bekas yang ku berikan padamu. Apa kamu masih jijik, jika suamimu yang membuatnya?" tanya Tono, dengan senyumnya yang begitu manis.
Aida menatapnya, terharu dengan perlindungan yang Tono berikan padanya. Selalu saja, berusaha melindungi Aida, ditengah semua keterbatasannya...
melaknat pebinor dan memuja pelakor
pemikiran munafik wanita
melaknat pelakor dan memuja pebinor
dan novel ini menunjukan dirimu dengan cara kau memperlakukan pelakor dan pebinor
bahkan ada novel istri diculik, tinggal bersama, bahkan tidur bersama dengan pebinor penculiknya dan ketika suami datang menyelamatkan nya dan menghajar pebinor itu istrinya malah membela pebinor karena dia bilang dia diperlakukan dengan baik, dan novel itu membenarkan
cari satu saja novel yang bertema pebinor menculik atau memaksa istri orang tinggal bersamanya, dan novel itu anggap itu sebuah kesalahan
kalian tidak akan dapat novel kayak gitu, karena faktanya semua novel akan membenarkan itu