NovelToon NovelToon
Kau Lupa Anak Istri

Kau Lupa Anak Istri

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Fantasi / Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:751.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Buna Seta

Kartika Sari, di tinggal suaminya sejak pernikahannya yang baru berjalan enam bulan. Terlebih, saat itu Kartika baru mengandung tiga bulan.

Alasan ekonomi yang membuat Kartika merelakan suaminya pergi. Namun, tidak disangka bagi Kartika bahwa suaminya tidak pernah memberi kabar.

Hari berganti bulan, bahkan tahun. Angga tak kunjung pulang.

Kartika harus membesarkan anaknya seorang diri, walaupun dalam keadaan sulit. Hingga Jenita berumur enam tahun Kartika mencari Angga suaminya di rantau orang. Namun kenyataannya suaminya telah menikah lagi.

Akan kah Kartika mempertahankan rumah tangganya? atau justeru sebaliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Jam delapan malam dirumah Mbak Rumi, setelah makan malam mereka berkumpul. Berbincang-bincang menceritakan kegiatan masing-masing siang tadi, sambil menonton televisi. Kecuali Jeni dan Anisa mereka sedang belajar.

"Jadi kalian tadi pergi bersama Rangga? terus bagaimana reaksi nya, setelah dia tahu kalau Jeni anaknya?" tanya Arumi yang sedang memainkan jari jemari suaminya.

"Biasa saja Mbak, ternyata dia itu sudah tahu sejak tiga bulan yang lalu, kalau Jeni itu anaknya."

"Maksudnya?" Dahi Arumi berkerut-kerut.

"Yah... kalau diceritakan panjang Mbak. Mbak tahu nggak? ternyata dia check DNA Jeni tanpa minta izin aku!" Kartika mengingat itu, wajahnya memerah.

"Kurang ajar sekali dia?!" Arumi emosi. "Terus bagaimana sikapnya sama kamu?"

"Dia maksa-maksa minta maaf gitu," Kartika ingat sikap Rangga tadi, kembali jengkel.

"Terus, kamu ada niatan untuk balikkan sama suaminmu?" Aldi menimpali.

"Kak Aldi ini bagaimana? siapa juga... yang mau menjadi istri kedua." Kartika tersenyum masam.

"Sebaiknya, kalian bicarakan baik-baik, mungkin Angga melakukan itu ada alasan lain, jangan hanya menduga-duga yang akan membuat persoalanya semakin rumit. Ingat! kalian ada Jeni yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya yang utuh." nasehat Aldi panjang lebar.

"Enak saja Mas Aldi bicara! jangan mau Tik, memaafkan pria yang gila harta itu!" Arumi mengepalkan tangan.

"Ma..." Aldi menggeleng tidak boleh mengompori adiknya.

Arumi pun diam.

*******

Sementara Jenita dan Anisa sedang belajar. "PR kakak sudah selesai?" Jenita melirik Anisa yang sedang mangetuk-ketukan bolpen. di dahinya sedang berpikir.

"Tinggal dua soal lagi tapi susah. Kamu?" Anis balik bertanya.

"Sudah, tuh lihat," Jeni memperlihatkan hitungan perkalian.

"Oh hebat kamu," mereka saling memuji apapun yang mereka lakukan.

"Kak Anisa mau ice cream nggak?" tanya Jenita selesai belajar, membereskan buku untuk besok lalu teringat Ice cream yang dia simpan tadi.

"Mau sih, tapi jam segini mana ada ice cream, kalau kudu keluar... pasti nggak di bolehin sama Mama?"

"Tunggu disini kak, Jeni ambil dulu ya." Jeni bergegas menuju kulkas ambil Ice cream yang di beliakan Om ganteng tadi sore baru ia minum satu.

"Ini kak, buat kakak satu, terus.... Jeni satu."

"Waah... mantap ini mah, kamu dapat darimana Jen?" Anisa berputar menghadap Jenita sambil menyecap Ice cream.

"Om ganteng yang beliin tadi sore" Jeni menatap Nisa lalu kembali membuka kulit Ice cream sedikit demi sedikit.

"Oh kamu tadi, di ajak jalan-jalan Om ganteng lagi"

"Iya, aku seneng banget kak, apa lagi bunda tadi juga ikut." Jeni senang, ingat ketika jalan bertiga.

"Om ganteng itu orangnya baik ya Jen, Nisa jadi mau kenal sama beliau."

"Siip kak, kapan-kapan... kalau Jeni di ajak jalan-jalan lagi, aku ajak kak Nisa deh."

"Kita kedepan yuk"

"Ayo" mereka menghampiri orang tuanya masih memegang Ice cream setengahnya.

"Bunda..." Jeni langsung duduk di pangkuan Kartika. Begitu juga Anisa langsung ndusel di tengah-tengah Aldi dan Rumi.

"Sudah selesai belajarnya?" tanya Kartika menatap Jeni dan Anisa bergantian.

"Sudah." jawabnya kompak.

"Kalian makan ice cream kok nggak nawari?" gurau Aldi menyelipkan rambut Nisa di atas daun telinga.

"Ini juga boleh dikasih Jeni. Ini Papa, cobain" Anisa menyuapi Papanya.

"Nggak mau lah, masa! Papa dikasih bekas," kelakar Aldi.

"Harus mau... aaaa..." paksa Anisa. Bapak dan anak itupun saling bercengkrama.

Membuat mata Jeni berkaca-kaca, mendadak ingat kembali tujuannya ke kota, kenapa sudah hampir satu semester sekolahnya belum menemukan Ayahnya.

Tiap kali melihat keakraban Anisa dan Pakde Aldi. Timbul rasa iri di hati Jeni. Kenapa dia tidak bisa merasakan seperti itu? itulah yang selalu mengganggu pikiran Jeni.

"Jeni... makan ice cream nya kok, belepotan kemana--mana?" Kartika mengangkat pundak Jeni agar bangun.

"Kiaaa..." pekik Jenita, sebab ice cream yang ia pegang mencair dan parahnya mengotori baju Bunda, kursi, bahkan bajunya sendiri.

"Kamu ini Jen, ya ampuuun... sana! ganti baju" Kartika geleng-geleng.

"Maaf bun, iya Jeni ganti baju."

"Hahaha... lagian kamu Jen, seperti bocah kecil." Anisa meledek. Arumi dan Renaldi hanya tersenyum melihatnya.

"Ah kak Nisa, tertawa diatas penderitaan aku," Jeni merengut.

"Sudah... sana, ganti baju dulu" Kartika mengulangi ucapanya.

"Iya bun" Jeni segera berlari kekamar ganti baju, begitu juga dengan Kartika. "Dasaar bocah" ucapnya sambil melenggang.

Tok tok tok.

"Ada tamu, Pa, Ma" Nisa segera mengusap mulutnya dengan tisue.

"Bukain sana gih" titah Arumi.

"Aku saja yang bukain" Renaldi segera beranjak.

Ceklak.

Aldi menatap pria yang membawa tentengan tiga kantong plastik tersenyum ramah kepadanya. "Angga?" Aldi tak percaya, adik iparnya itu lebih tampan, berwibawa dan berjiwa pemimpin. Keduanya tertegun sesaat.

"Assalamualaikum" pria itu ternyata Rangga. Ia tersenyum kikuk.

"Waalaikumsalam" kamu Ga? masuk-masuk." Aldi mempersilahkan.

"Terimakasih Mas Aldi. Mas Aldi apa kabar?" Rangga menjabat tangan Aldi.

"Alhamdulillah..." sahut Aldi menepuk-nepuk pundak Angga.

"Siapa yang datang Pa?" tanya Arumi karena suaminya tidak segera masuk. Arumi pun menyusul.

Arumi terkejut melihat Rangga yang sedang tersenyum kepadanya. "Ngapain kamu kesini?!" todong Arumi. menatap Angga sebal.

"Mama..." Aldi menggeleng, memperingatkan istrinya.

"Ayo masuk Ga" Aldi berjalan terlebih dahulu.

"Dasar kamu ya. Laki-laki maruk harta! karena harta sampai lupa anak istri?!" tuding Arumi. Ingat Kartika menderita bertahun-tahun menjadi hilang sikap lembutnya.

Angga menunduk memandang kantong plastik di tanganya. Perasaannya tidak karuan, rasa nyeri dihati mendengar ucapan kakak Iparnya. Namun dia menyadari memang pantas menerima itu.

"Kok masih diam, ajak masuk Ma." menggandeng istrinya kedalam. Aldi tidak ingin istrinya meluapkan kemarahannya.

Dengan langkah ragu Rangga masuk kedalam berdiri sejenak di sisi kursi. Rasa takut melihat tatapan mata Arumi yang menghunus.

"Duduk Ga" Aldi menunjuk kursi di depanya.

"Terimakasih Mas." Angga duduk setelah meletakkan kantong di pinggir meja.

"Kamu apa kabar Ga? selama ini kamu tinggal dimana?" tanya Aldi wlaupun sudah mendengar cerita bahwa Angga sudah menikah lagi dan menjadi orang kaya. Namun Aldi belum mengetahui saat ini Angga tinggal dimana.

"Kabar baik Mas, saya tinggal di komplek xxx"

"Kami pikir anda sudah tinggal di alam kubur!" potong Arumi sakartis.

"Mama... nggak boleh gitu." Aldi mengusap punggung istrinya agar tenang. Sedangkan Angga tidak berkutik.

"Maaf kan saya Mbak Arumi!"

"Mudah sekali kamu minta maaf!" walaupun sudah di ingatkan suaminya Arumi masih tetap emosi. "Manusia nggak punya tujuan, hanya diimingimingi bibir menor, dan harta berlimpah saja, langsung berbelok arah. Sudah tahu jurang masih kamu tabrak!!"

"Om ganteng..." Jeni yang keluar dari kamar menyelamatkan Angga dari amukan Arumi.

Semua beralih, menatap Jeni. "Om ganteng kesini ya?" Tanpa permisi dulu Jenita langsung duduk di pangkuan Angga.

"Iya, Om mau antar belanjaan kamu ketinggalan di mobil Om" Angga mencium pucuk ubun-ubun anaknya ada damai yang menelusup di hati. "Ya Tuhanku... satukan kami."

Kartika keluar dari kamar, melihat siapa yang datang kakinya berat untuk melanjutkan langkah. Ia termangu di depan pintu kamar, yang hanya berjarak satu meter dari ruang tamu.

1
imoe nawar
👍
Jumi Eko
Bagus
Hera sasuwe
👍
Isabela Devi
Kartina akan dapatkan orang yg lebih baik angga
Isabela Devi
semoga kamu tetap kaya terus angga
Isabela Devi
Angga bagai kacang lupa kulit
Isabela Devi
semoga Devan jodoh dgn Kartika
Isabela Devi
Kartika ga usaha harapin laki laki yang kaya Angga itu lagi
Evy
Harus nikah lagi kalo mau kumpul sebagai suami istri...
Evy
Karena sudah kaya ...Angga jadi lupa anak istri ..punya istri baru yang kaya ..tega menelantarkan anak istri dikampung.setifaknya walaupun sudah punya yang baru ..ingat akan nafkah pada keluarga yang ditinggal kan...
fadhila
bagus Kartika pembalasan yang cantik tak perlu saling mencakar...
emg Diana sakit jiwa kyaknya tu..🤭
ayu cantik
suka
Firgi Septia
Kartika sdh TDK ada harga diri jadi istri mau kembali sama suami yg menduakan walaupun ada alasan TDK jijik apa
Syilvi Hesty
kayaknya Diana itu pernah kena depresi deh makanya bapaknya maksa si Mokondo nikahin anaknya karna dia tau anaknya gila
LENY
DASAR WANITA SAKIT JIWA DIANA
LENY
KASIHAN MAMA ULY ORANGNYA BAIK BANGET😥😥
LENY
KASIHAN DEVAN ORANGNYA BAIK AKU SIH SEBETULNYA LBH SETUJU KL TIKA SAMA DEVAN 😊🙏🙏
LENY
PAPA HERMAWAN & MAMA ULY ORANG YG SANGAT BAIK KOK ANAKNYA DIANA KELAKUANNYA BEDA BANGET SAMA MM PAPA. APA ANAK PUNGUT 😊😅
SALAH DIDIK SIFATNYA GAK NURUN MAMA DAN PAPA.
LENY
DIANA INI KL MARAH SEREM YA BANTING2 BARANG DUH🙈
LENY
DASAR DIANA SAKIT JIWA😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!