Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes DNA
Setiap manusia pasti mempunyai masa lalu, entah itu kenangan indah maupun menyakitkan. Apapun itu, masa lalu akan memiliki dampak untuk masa depan.
***
Baim duduk di sebuah kursi yang terdapat di taman kota. Hari ini dia memiliki janji temu. Dia akan bertemu dengan Kenzo. Kenzo menghubungi beberapa hari yang lalu, dia ingin membicarakan sesuatu hal pada Baim. Baim sebenarnya binggung dan menerka-nerka tujuan Kenzo ingin menemuinya.
"Kamu udah lama?" Suara Kenzo mengkagetkan Baim yang tampak melamun.
"Kalian sudah datang," Berdiri, bersalaman sebentar.
"Lama kita tidak pernah bertemu, bagaimana kabarmu?" Kenzo basa-basi mengusir kecanggungan di antara mereka.
"Aku baik-baik saja, Makanya aku bisa menemuimu! "
"Syukurlah kalau begitu.Clara, bagaimana kondisinya?"
Tidak ada sahutan dari Baim, dia memilih untuk diam. Diam seribu bahasa, membuat kenzo gelabakan binggung harus berbuat apa.
"Maaf," Kenzo akhirnya memilih minta maaf, karena binggung karena Baim tiba-tiba diam seribu bahasa setelah mendengar Kenzo menyebut nama clara.
Tidak ada percakapan lagi, mereka memilih diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah agak lama mereka dalam kondisi diam. "Berbicaralah, apa gunanya kalian bertemu kalau saling diam begini." Ucap Nancy memecahkan keheningan yang tercipta barusan.
"Uhemm, Kenzo menarik nafas sebelum berbicara.
"Maaf sebelumnya Baim, Apa yang terjadi pada kalian?"
"Kami baik-baik saja." Dusta baim.
"Kalian tidak sedang baik-baik saja. Aku tahu itu, katakan ada apa?"
"Kenapa kamu mau tahu?"
"Mengapa aku ngak boleh tahu?" Kenzo balik bertanya.
"Ini masalah pribadi kami."
"Aku tahu mungkin aku tak pantas ikut campur. Tetapi aku tidak bisa tinggal diam, mengapa kamu memperlakukan clara seperti itu? Memgapa kamu terus menghindari bertemu dengannya? Mengapa kamu tidak peduli dengan kondisinya?" Kenzo menghujani Baim dengan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya beberapa hari ini.
"Mengapa kamu peduli? Apakah kamu masih mencintainya?" Melirik pada Nancy yang duduk mendampingi Kenzo.
"Apa yang kamu bicarakan Baim, masalah itu sudah kelar di masa lalu. Aku tidak mencintai Clara." Ucap Kenzo dengan tegas.
Kenzo ngak menyangka kalau Baim akan berkata seperti itu, dia cukup terkejut. Takut Nancy salah paham lagi. Oleh karena itu dia mengenggam erat tangan Nancy.
"Aku ngak apa-apa sayang. Bisik Nancy.
Dia tahu apa yang saat ini di rasakan oleh Kenzo. Dia pasti terkejut, karena Baim membahas masa lalu. Terbukti dengan respon Kenzo yang menggengam erat tangan Nancy.
"Aku tidak ingin membahas mengenai masa lalu itu. Semuanya sudah jelas, aku tidak mencintai clara. Yang terjadi di antara kami biarlah menjadi kenangan, kenangan yang tidak perlu di bahas lagi."
"Bagaimana kalau kenangan itulah yang membuat semua ini menjadi begini."
"Apa maksudmu?"
"Apa kamu tahu, apa yang telah Clara korbankan karena obsesinya untuk memilikimu?"
"Kamu juga tahukan, aku hampir kehilangan Istri dan putriku karena obsesi clara tersebut."
"Tetapi kamu dapat menemui mereka pada akhirnya. Dan kalian hidup bahagia selama ini."
"Apa yang telah dia korbankan?"
"Dia menyingkirkan Bukti cinta kami."
"Apa maksudmu?"
"Dia membunuh anakku, dia menyingkirkan anakku yang seharusnya hadir di dunia ini. Membuangnya tanpa ada perasaan penyesalan."
"Apa yang kau bicarakan? Anak apa? bukankah Edho baik-baik saja." Kenzo tidak paham kemana arah pembicaraan Baim.
"Dia mengarborsi janin yang diam di dalam kendungannya, janin yang seharusnya lahir sebelum Edho. Dia tega menyingkirkan anakku tanpa memikirkan perasaanku. Dia pergi tanpa rasa menyesal sekalipun. Tak masalah dia tidak mencintaiku lagi, tetapi mengapa harus menyingkirkan anakku yang seharusnya hadir di dunia ini."
"Apa!! Pekik Kenzo dan Nancy bersamaan.
Mereka tidak menyangka akan hal ini.
"Katakan semuanya itu tidak benar. Clara tidak mungkin melakukan itu."
"Apanya yang tidak mungkin, apa kamu
tidak mengenal bagaimana Clara!"
Kenzo memilih diam,mengusap wajahnya frustasi. Dia mencoba mencerna ucapan Baim barusan.
"Apa karena itu kamu tidak memperdulikan kondisi clara saat ini."
"Iya, bahkan dari dulu pun aku tidak pernah peduli padanya. Apapun yang menimpanya aku tidak mau tahu."
"Apakah kamu tidak mencintainya?"
"Aku muak mendengar kata cinta, karena cinta semua ini terjadi."
"Kalian menikah, kalian hidup bersama cukup lama. Bahkan hadir Edho di antara kalian, Dia bukti bahwa kalian saling mencintai. Mengapa kamu masih mengenang masa lalu. Semuanya sudah terjadi, kita tidak bisa mengulang waktu kembali.
"Aku menikahinya untuk balas dendam, aku ingin membalas perbuatannya padaku." Baim diam sesaat.
"Apa yang kamu dapatkan dengan membalas dendam?Apa kamu bahagia membalas dendam pada clara?"
"Seharusnya aku senang, seharusnya aku bahagia. Mengapa aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri. Tangisan clara membuat perih di dadaku, melihatnya menderita membuatku tambah menderita. Apapun yang aku perbuat tidak membuatnya dendam dan meninggalkan aku. Dia memilih bertahan di sisiku walaupun aku tahu dia sangat kesakitan.Suara baim mulai melemah, dia berkaca-kaca mengucapkan itu.
"Masa lalu biarlah berlalu, seharusnya kamu berdamai dengan hatimu. Pasti ada alasan tersendiri membuat Clara Bertahan disisimu selama ini. Dia pasti sangat menyesal telah mensia-siakan cinta kalian dahulu. Pandanglah Edho, dia merupakan bukti cinta kalian, mengantikan anak yang pernah di singkirkan oleh Clara."
"Edho... " Ucap Baim.
"Aku rasa Edho bukanlah anak kandungku. Aku begitu membenci Clara, aku tidak sudi menyentuhnya. Bagaimana mungkin Edho bisa menjadi anakku. Menatap seruis pada Kenzo."
"Apa maksudmu? Kalau bukan anakmu, edho anak siapa?" Tanya Kenzo binggung.
Baim hanya diam, dia hanya menatap Kenzo dan Nancy bergantian.
"Kamu berpikir edho adalah anakku?" Ucap kenzo mengerti arti tatapan Baim padanya.
Mendengar semua itu membuat hati Nancy terluka. Luka yang sudah mulai mengering dan hendak sembuh kembali terluka lagi. Nancy hanya diam, menundukkan kepala menatap kakinya.Tidak terasa air mata jatuh membasahi pipinya.
"Aku menduga dia adalah anakmu."
Bruuk...
Kenzo berdiri meninju muka Baim yang duduk di sampingnya.
"Kamu jangan gila, dia tidak mungkin anakku. aku tidak pernah melakukan itu padanya.
"Kalau bukan kamu, lalu Edho anak siapa? Aku juga tidak pernah melakukan itu padanya." Dengan berapi-api Baim berucap.
"Stop, kalian berdua tenanglah. Kalau kalian emosi begini tidak dapat menyelesaikan masalah ini." Ucap Nancy menenggahkan kedua pria paruh baya yang siap adu jotos.
Nancy sekuat tenaga untuk tersenyum, walaupun hatinya saat ini sedang berdarah karena terluka mendapati kenyataan tersebut.
Kenzo dan Baim mulai tenang, mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Untuk membuktikan semuanya, aku rasa kalian perlu melakukan tes DNA terhadap Edho." Nancy memberi saran pada kedua pria paruh baya ini.
"Tes DNA! " Ucap Kenzo dan Baim bersamaan.
.
.
.
.
.
Thanks sudah mampir di ceritaku, semoga kalian menyukainya. 😘😘
Jangan lupa dukung Author melalui Vote, like dan komentar dari kalian.