Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Masih Tetap Sama
Tak terasa rumah tangga yang dijalani dengan biasa tanpa ada romantis di dalamnya, sudah berumur satu bulan. Hari ini Amira pulang sekolah cepat setelah mengantar Cinta pulang. Dia langsung menuju kamar, membersihkan badan yang terasa amat lengket.
Setelah selesai, dia langsung ke dapur. Mengambil bahan-bahan yang bisa dimasak dari kulkas. Setelah meyakinkan hati, dia akhirnya belajar memasak. Selama beberapa Minggu, memang belum bisa. Tetapi karena usaha, akhirnya dia mampu.
Hubungannya dengan Laska masih sama, tak ada yang berubah. Mereka pun masih tidur di kamar terpisah, Amira sudah mencoba menjadi istri yang baik. Dia selalu mengerjakan pekerjaan rumah, meski sering mengeluh karena belum terbiasa.
Setelah martabak telur alanya jadi, Amira langsung menyantap. Karena memang sangat lapar, makanan itu habis dengan waktu yang singkat. Seperti biasa, Amira langsung mencuci piring bekas dia makan.
Dia benar-benar berubah. Jarang belanja apalagi mengejar diskon baju, karena sekarang dia disibukkan oleh rumah. Dan tentunya jarang ngumpul bareng teman yang lain. Semata-mata dia lakukan hanya untuk mendapat perhatian Laska. Tetapi hasilnya nol.
Amira bergegas ke kamar, mengambil buku dari dalam tas. Mulai mengerjakan tugas yang dikasih guru di sekolah tadi. Walau sebenarnya tak bisa, Amira mencoba terus menerus. Hingga akhirnya dia menyerah dan memasukkan kembali buku-buku itu ke dalam tas.
“Ternyata susah jadi gadis baik dan pintar,” gerutunya sembari membaringkan badan di kasur.
Pikirannya berkelana jauh, membayangkan wajah tampan Laska. Sejauh ini, pria itu masih cuek dan dingin. Bahkan berbicara seperlunya saja, jujur itu membuat hati Amira sakit. Di saat dia sudah mencintai, justru pada pria yang tak mencintainya. Sedangkan di luaran sana banyak sekali pria yang mencoba meluluhkan hatinya.
Matanya mulai mengantuk, Amira memosisikan tubuh agar lebih nyaman. Setelah itu dia menutup mata untuk segera menuju ke alam mimpi.
**
Pria dengan setelan jas kantor, duduk terdiam di kursi kebesarannya. Dia menatap lurus ke arah kaca bening yang menampakkan bangunan-bangunan tinggi kota Jakarta. Laska menghembuskan napas pelan, lalu mengusap wajahnya.
Dia masih mencoba meratapi nasib yang datang pada kehidupannya. Dulunya Laska tak pernah bermimpi akan menjalin sebuah hubungan yang sangat sakral secepat ini, apalagi setelah insiden, terluka karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Kini dia harus berusaha, membahagiakan sang istri sebagai bentuk nafkah lahir. Sedangkan nafkah batin, dia belum bisa. Susah payah Laska membuka hati untuk Amira, tetapi tetap saja tidak bisa. Masih satu nama yang menempel kuat dikalbu, hanya satu, dan itu bukan nama Chelsi Amira Putri.
“Akhir-akhir ini Lo sering melamun, ada apa Ka? Cerita sama gue, kalau menang gue bisa bantu pasti bakalan dibantu,” ucap Hari yang baru saja masuk.
“Tidak ada, hanya masalah kecil kok,” jawab Laska seadanya. Pria itu lekas menatap layar monitor kembali.
“Yakin? Bukan masalah dengan Amira ‘kan?”
“Bukan. Lagian aku dan Amira baik-baik saja.”
“Tapi, gue udah jarang lihat gadis itu main sama temannya. Apa dia Lo kurung di rumah?” Hari tertawa untuk mencairkan suasana, sedangkan Laska hanya mendengkus kesal.
“Sok tahu Lo. Lagian, pengin tahu banget sama istri orang,” cetus Laska.
“Akhirnya balik lagi jadi Pak Alaska Lencana!” Hari langsung berlari keluar dengan tawa yang masih menggema, hingga mengundang kebingungan karyawan lain yang lewat di sana.
Membuang napas kasar, Laska bangkit. Pria muda itu berjalan keluar pintu dengan membawa tas kerja. Hari ini dia ingin pulang cepat, karena akan mengantar Amira ke rumah orang tua gadis itu.
**
Pukul 17.00, Amira baru bangun. Gadis itu lekas menuju kamar mandi, dia memilih membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu baru memasak.
Saat dia sudah turun untuk memasak, terlihat Laska di sana. Pria itu berdiri di depan kompor sembari memakai celemek, serta memegang spatula. Amira gegas menghampiri, dia berdiri di samping tubuh tinggi tegap milik Laska.
“Om lagi ngapain?” tanya Amira dengan polosnya.
“Masak,” jawab Laska dingin, tentunya dengan wajah tanpa ekspresi membuat Amira hanya bisa menghembuskan napas kasar.
“Seharusnya tidak usah, bukankah itu pekerjaan seorang istri.” Amira berniat ingin mengambil alih spatula dari tangan sang suami, tetapi langsung ditepis oleh Laska.
“Tidak apa, kamu kelihatan capek. Jadi biarkan saya yang bekerja kali ini,” ujar Laska dengan tegas, membungkam mulut Amira.
Entah harus senang atau sedih. Amira tak tahu. Senang karena diperhatikan, tetapi harus kembali sedih karena dia sadar. Laska melakukan ini semua karena kasihan, bukan cinta.
“Tapi ‘kan Om juga capek, pulang kerja,” ucap Amira lagi, membuat Laska kesal sendiri.
“Silakan duduk, karena masakan akan segera terhidang.”
Amira memilih menurut, gadis itu sudah menjatuhkan bokongnya di kursi. Sembari menunggu Laska selesai, dia menumpukan tangan di meja, lalu menjatuhkan kepalanya di sana.
Tubuh tegap dan tinggi itu terlihat begitu kokoh. Serta wajah tampan yang jarang berubah ekspresi, Amira mulai mengagumi semuanya. Dia jadi terbayang-bayang kejadian dulu, saat diam-diam dia mencuri first kiss pria tampan di depannya.
Kapan cinta konyolku terbalas Om. Aku sudah khawatir, takut ambil haluan, balik sama Dimas lagi.
Ya, memang beberapa hari ini dia dekat dengan Dimas—mantannya. Karena pria itu yang terus mengotot ingin menjadi teman dekatnya, akhirnya Amira hanya bisa mengangguk. Tetapi dia tetap menolak ketika pria itu ingin mengantar pulang.
“Makan, jangan melamun terus,” titah Laska sembari meletakkan sepiring nasi goreng di depan wajah Amira.
Harum yang menguar dari masakan itu membangunkan cacing-cacing yang sejak tadi sempat berdemo. Amira tersenyum, lalu meraih sendok.
“Nanti aku akan mengantarmu ke rumah orang tuamu, seperti permintaan dua hari lalu,” tutur Laska sembari mengunyah makanannya.
“Serius Om?” Wajah Amira berubah bahagia, bola mata bening itu berbinar. Laska mengangguk.
“Setelah ini aku siap-siap deh.”
Setelah selesai mencuci piring bekas makan dia dan Laska, Amira bergegas masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Dia memilih dress abu terang yang dibelikan sang ibu satu bulan lalu. Tak lupa memoles sedikit make up serta lipglos. Amira terlihat cantik.
Dia memilih memakai sneakers dibanding heels. Setelah memastikan bahwa semuanya sudah sempurna, Amira berjalan anggun untuk turun. Saat akan menapaki tangga, dia berselisih dengan Laska. Pria itu tampak tampan dengan balutan kemeja dongker serta celana jin berwarna hitam.
Laska tertegun melihat penampilan Amira, dia akui gadis itu sangat cantik hari ini. Sangat cocok menggunakan pakaian yang menempel di tubuh, tetapi segera mungkin Laska memalingkan wajah.
“Duluan,” ucapnya.
“Apa?” tanya Amira dengan bingung.
“Turun duluan, aku di belakang,” katanya lagi.
“Ouh, ya sudah. Aku duluan, awas saja kalau lihatin tubuhku dari belakang,” ucap Amira dengan pede, membuat Laska mendecih kesal.
“Aku bukan pria mesum!” tegas Laska.
“Ciee, aku kamu sekarang ya,” ledek Amira sambil tertawa penuh kemenangan. Dia segera berlari ketika melihat wajah merah padam suaminya.
Dasar gadis bar-bar.
Bersambung
Hay Hay guys. Jangan lupa baca karya kakak onlineku yang ini yah👇👇
Gomawo🥰🥰
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃