Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Hanya Pura-Pura
"Makasih Bang Damar."
Kata Cita pada Damar yang mengantarnya berangkat ke sekolah pagi ini.
Yah, setelah melewati masa tenang, Cita akhirnya memutuskan kembali ke sekolah dan siang nanti ia akan kembali ke rumah.
"Kalau ada apa-apa hubungi Bang Damar saja, jangan sungkan."
Kata Damar pada Cita yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri sejak dulu.
Cita mengangguk.
Damar kemudian pamit pada Cita karena harus segera menuju tempat kerjanya.
Sepeninggal Damar, barulah kemudian Cita berjalan menuju gerbang sekolah.
Beberapa anak yang mulai ramai masuk menatap Cita, ada yang terang-terangan menyindir soal bawa laki-laki yang habis booking, ada juga yang hanya kasak-kusuk.
Cita yang tak paham kenapa tiba-tiba mereka seolah heboh pada Cita jadi merasa tak nyaman.
Namun, tekatnya untuk kembali bersekolah setelah mendengarkan nasehat Bi Imah membuat langkah kaki Cita tak surut untuk terus menuju kelasnya.
"Wah, tiga hari berapa nih tarifnya."
Tiba-tiba seorang anak laki-laki terdengar ikut nyinyir.
Cita menoleh pada anak laki-laki itu yang bersama teman-temannya tampak tersenyum dan cekikikan menyebalkan ke arah Cita.
Cita masuk ke dalam kelas.
Di sana juga sama saja, begitu banyak sindiran untuk Cita terkait tak berangkatnya ke sekolah dan juga soal Cita yang ternyata sering dibawa supir.
Cita yang duduk di bangkunya menatap sekeliling kelas, di mana banyak anak kelasnya bicara tak jelas.
Cita sebetulnya ingin sekali menghampiri mereka dan menghajar mereka satu persatu, tapi Cita ingat ia baru saja masuk setelah tiga hari bolos.
Dari bolos itu saja pasti nanti Cita akan dipanggil Guru, apalagi jika Cita meladeni mereka hingga membuat keributan.
Hingga kemudian Desi, Helen dan Putri tiba-tiba masuk kelas, mereka melihat ke arah Cita dengan tatapan seperti mencemooh.
Cita meremas pulpen yang ia pegang.
Tampaknya selama Cita tak berangkat ke sekolah, ada yang sengaja menyebarkan kabar yang bukan-bukan, dan sepertinya Cita yakin dia siapa.
Saat Cita masih dalam keadaan berusaha sabar mendengar celotehan anak-anak di kelasnya, tiba-tiba dari arah pintu muncul Adi masuk ke dalam kelas dan kemudian menghampiri Cita.
"Tadi aku jemput ternyata kamu udah berangkat."
Kata Adi.
Suara Adi yang agak keras membuat Desi menatap ke arah keduanya dengan wajah memerah karena kesal.
Cita yang melihat Desi menatap ke arah Cita dan Adi dengan kesal akhirnya sekalian saja membuat Desi agar makin naik pitam.
Cita berdiri menyambut Adi.
"Yah Di, sorri."
Kata Cita.
Adi mengangguk.
"Seharian ini aku akan latihan buat tanding besok, aku lega kamu udah berangkat Ta."
Kata Adi.
Cita mengangguk.
"Yah."
Cita memaksakan senyumannya.
Lalu Cita menghampiri Adi, dan sedikit berjinjit untuk kemudian mencium pipi Adi tiba-tiba.
"Semangat Di, kamu pasti menang."
Kata Cita.
Adi menatap Cita dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Ada terkejut, bingung tapi juga senang bukan main.
Desi yang melihatnya tanpa sadar berdiri dan menggebrak mejanya.
Semua anak di kelas juga jadi tambah heboh.
Cita dan Adi menatap Desi.
Cita hanya menyeringai.
Ia malas meladeni Desi sekarang, jadi biar saja Adi yang akan urus mulai hari ini untuknya.
"Dasar cewek murahan! Ngga tahu malu! Ngga tahu aturan! Kebiasaan mesum!"
Desi seperti kesetanan.
Cemburu membuatnya menggila.
Cita hanya tersenyum tipis melihat Desi yang berteriak-teriak tak jelas.
"Des! Jaga mulut kamu!"
Bentak Adi.
"Apa! Kamu bodoh atau apa? Lebih milih Cita padahal dia sama supir-supir di jalan!"
Teriak Desi.
"Hadeeeh cemburu bikin gila sampai fitnah orang."
Kata Cita.
"Diam kamu Ta!"
Marah Desi.
"Kamu yang diam Des! Supir yang bersama Cita itu saudaranya! Kamu kalau ngga suka kita putus ngga usah main kotor dengan fitnah orang lain!"
Marah Adi.
Semua yang mendengar di kelas langsung kasak kusuk.
Beberapa anak merekam pertengkaran Adi dan Desi.
Cita yang sebetulnya tahu beberapa dari mereka merekam, Cita biarkan saja.
Inilah cara Cita menjelaskan pada semua orang yang termakan omongan Desi.
Desi menatap Adi dengan kesal.
"Kamu lah yang gampang diajak cowok mana saja, itu sebabnya aku ngga bisa sama kamu lagi! Jadi ngga usah gangguin Cita, dan mending kamu berkaca dulu kalau mau ngatain orang lain!"
Ujar Adi.
**----------**
Dan sepanjang hari itu, berita soal Cita yang sebetulnya bukan cewek yang seperti dikabarkan Desi dan teman-temannya itu langsung jadi buah bibir di lingkungan sekolah.
Cita sendiri begitu santai menanggapi beberapa anak yang akhirnya mendatanginya dan meminta maaf.
Yah...
Keputusannya menekan amarah sebentar akhirnya membuahkan hasil.
Karena sekarang akhirnya keadaan jadi terbalik. Dari yang tadinya Cita yang di sindir dan dibahas, sekarang akhirnya Desi dan kedua temannyalah yang menanggung sebaliknya.
Jam pulang sekolah akhirnya tiba, Cita tampak melewati Desi dengan senyuman puas.
Tentu saja, siapa yang menanam keburukan maka ia pula yang akan menanggungnya. Itu sudah pasti.
Cita berjalan dengan santai, hingga kemudian saat ia melewati lapangan basket tampak Adi dan timnya yang masih latihan.
Sejak pagi mereka ada di lapangan basket, latihan mempersiapkan diri untuk hari besok.
Cita berdiri di dekat lapangan, saat kemudian Adi melihat ke arahnya tanpa sengaja dan hilang fokus sejenak.
Tampak Adi tersenyum sambil melambai pada Cita.
Ah Adi, tampaknya ia salah sangka dengan apa yang Cita lakukan tadi pagi. Cita tahu bahwa Adi tak lagi melihatnya sebagai Cita yang dulu sejak mereka sama-sama masuk SMA.
Tapi Cita memang abaikan hal itu. Ia ingin mereka tetap dekat dan seperti biasanya, maka Cita pura-pura tak tahu.
Hanya saja hari ini, Cita akhirnya memanfaatkan perasaan Adi, meski sebetulnya tanpa itu Adi pasti akan tetap membela Cita, tapi Desi pasti masih bisa pura-pura diam jika Cita tak langsung membuatnya cemburu tadi.
"Ta... Gabung sini."
Tiba-tiba seorang teman Adi di dalam tim memanggil Cita.
Bukan hanya memanggil, ia juga berlari ke arah Cita berdiri.
Beberapa anak dari banyak kelas yang akan pulang dan menyempatkan diri menonton latihan jadi melihat ke arah Cita yang kemudian ditarik ke lapangan.
"Terakhir nih Ta, kita udah selesai."
Seorang yang lain melempar bola basket ke arah Cita yang jadi tergelak.
Cita bertatapan dengan Adi sejenak, lalu akhirnya Cita menerima undangan latihan mereka.
"Hmm baiklah."
Cita melepas tasnya, lalu meletakkan di atas bangku di pinggir lapangan, lari masuk ke lapangan lagi sambil mendrible bola.
Adi memandangi Cita yang berlari menghindari beberapa temannya, sedikit berputar, menghentakkan kaki lalu melompat ke arah ring dan memasukkan bola ke sana.
"Waw... ini baru pacar kapten basket."
Sambut anak-anak tim Adi saat Cita berhasil memasukkan bola basketnya ke dalam ring.
Cita tergelak.
"Sudah Ta, yuk aku antar pulang."
Kata Adi.
Cita mengangguk.
"Eh ngga bisa, syukuran dulu lah, makan-makan."
Kata anak-anak basket.
Adi jadi tertawa.
Cita melihat Adi yang terlihat bahagia jadi tak tega jika nanti ia harus bilang semua hanya pura-pura.
**----------**