NovelToon NovelToon
Life After Marriage

Life After Marriage

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:738.4k
Nilai: 5
Nama Author: leni septiani

Menikah membutuhkan sebuah kesiapan, karena bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda kelamin, tapi juga menyatukan dua keluarga yang mana di dalamnya akan terjalin silaturahmi yang begitu erat.

Namun kehidupan setelah menikah tidaklah mudah, dimana setiap cobaan silih berganti menghampiri dan keharmonisan tidak selalu terjaga. Percekcokan itu selalu ada, begitu pun dengan pertengkaran akibat sebuah keslah pahaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Selesai menghabiskan makan siang yang di bawa oleh istrinya, Birma kini berbaring di sofa ruang kerjanya, dengan paha Clara menjadi bantalan. Untunglah pekerjaannya saat ini tidak terlalu banyak, membuatnya bisa bermanja pada istri cantiknya yang sejak selesai jam istirahat memutuskan untuk tidak kembali menuju supermarket tempatnya bekerja. Clara memilih bertahan di ruangan suaminya, yang entah kenapa hari ini begitu ingin mendapatkan tingkah manja ayah dari calon anaknya.

Itu alasan kenapa Clara tidak mengomel saat ini, walau Birma memeluk pinggangnya posesif dan sejak tadi tidak hentinya mengecupi perutnya yang sedikit keras. Biasanya Clara akan kesal, tapi tidak untuk saat ini, ia justru merasa hangat dan bahagia melihat binar di wajah suaminya yang seolah mengatakan bahwa laki-laki itu menyayangi anak yang masih bersemayam di dalam perutnya.

Clara sudah tak sabar menantikan perut buncitnya, tak sabar ingin segera merasakan tendangan-tendangan kecil yang di berikan anak dalam perutnya, begitupun dengan Birma yang merasakan apa yang di inginkan istrinya. Sebagai pasangan suami istri yang sudah beberapa tahun menunggu kehamilan itu, jelas begitu menantikan setiap momennya, bahkan Birma sudah tak sabar untuk segera menemani istrinya di ruang persalinan. Birma ingin menjadi salah satu orang pertama yang menyambut kelahiran bayinya.

“Cla, anak kita perempuan apa laki-laki?” tanya Birma masih berbaring di paha istrinya, bibirnya tidak bosan melayangkan kecupan di perut Clara, walau sesekali nyasar pada dada yang tidak pernah bosan Birma mainkan setiap malamnya.

“Kamu maunya perempuan apa laki-laki?” Clara balik bertanya.

“Apa aja, yang penting sehat.” Jawab Birma, memainkan jarinya di perut yang terbungkus midi dress yang di kenakan istrinya, dengan senyum yang tidak pernah luntur, membuktikan bahwa pria itu bahagia.

“Gak ada keinginan khusus gitu? Biasanya dari kedua pilihan itu ada salah satu yang paling di inginkan.”

“Kadang aku pengen anak laki-laki yang tampan dan menggemaskan seperti si kembar Nathan dan Nathael,” Birma terkekeh pelan begitu ingatannya terlempar pada kelucuan dua bocah kembar yang menjadi keponakannya. “Kadang juga aku pengen anak perempuan yang sudah aku yakini akan secantik mommy-nya. Tapi balik lagi pada Sang Pencipta, apa pun yang di berikan Tuhan pasti akan aku terima dengan bahagia, laki-laki ataupun perempuan dia tetap anak aku, anak kita yang selama empat tahu kita tunggu kehadirannya.” Senyum terlukis di bibir Birma, bersamaan dengan tatapan cinta yang selalu laki-laki itu berikan pada wanita cantik yang sudah bersedia menemani sisa hidupnya.

Clara pun ikut tersenyum mendengar jawaban suaminya itu, apa yang di katakan Birma adalah apa yang pernah di pikirkannya juga. Tidak ada keinginan khusus untuk jenis kelamin anaknya yang tengah ia kandung, karena yang terpenting adalah anaknya tumbuh sehat dan lahir dengan selamat. Mengenai laki-laki atau perempuannya, Clara akan terima dengan lapang dada. Clara akan tetap menyayangi dan mencintai anaknya kelak apa pun jenis kelaminnya, sebab Clara tak ingin mengecewakan siapapun termasuk anaknya yang mungkin jika saja tidak sesuai keinginan dirinya atau Birma akan membuat si bayi dalam perutnya kecewa.

“Kalau seperti itu, kita gak perlu USG, ya? Biar kelamin anak kita menjadi rahasia sampai hari melahirkan nanti.”

Birma mengangguk setuju, kemudian kembali melayangkan kecupan di perut istrinya, setelah itu bangun dan memberikan kecupan di bibir Clara. “Kamu duduk disini aja, aku mau lanjutin kerjaan dulu, setelah selesai, kita pulang.”

Clara mengangguk, membiarkan suaminya kembali pada meja kerjanya dan berkutat dengan berkas-berkas yang menjadi istri kedua Birma. Melihat bagaimana seriusnya laki-laki itu berkerja, menerbitkan senyum di bibir Clara. Menunduk, Clara memperhatikan perutnya yang masih belum terlihat menonjol, tangannya bergerak menyentuh perutnya, lalu kembali memperhatikan suaminya.

Melihat Birma yang fokus seperti ini, membuat kadar ketampanan laki-laki itu bertambah dan tingkah menyebalkannya menghilang begitu saja. Clara suka saat suaminya tengah serius, tapi ia tak ingin kehilangan tingkah menyebalkan pria itu, karena bagaimanapun dunianya tidak akan berwarna tanpa semua tingkah menyebalkan dan konyol Birma yang tidak jarang membuatnya naik darah akibat kesal juga jengkel.

🍒🍒🍒

“Kita mau ke mana, Bir?” tanya Clara saat menyadari bahwa jalanan yang di lewati suaminya bukanlah arah menuju rumah mereka, bukan pula menuju rumah orang tuanya.

“Aku lagi pengan makan sea food, jadi kita ke angkringan di dekat kampus.” Jawab Birma tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan di depan.

“Kenapa harus jauh-jauh ke sana coba? Di persimpangan mau ke rumah kita juga ada rumah makan sea food.” Clara memutar bola matanya, terkadang tidak mengerti pada keinginan suaminya itu. Kenapa harus mencari yang jauh jika yang dekat saja ada?

“Beda, Cla. Aku pengennya yang di dekat kampus.”

“Beda dari mananya, Birma sayang? Itu sama aja, sea food ya rasanya juga gitu, kecuali kalau sea food-nya kamu bandingin sama bakso dan mie ayam. Itu baru namanya beda.”

“Aish, sayangnya aku yang ngidam, jadi cuma aku yang rasain gimana bedanya. Udah, lebih baik kamu diam dan ikut makan.” Birma menghentikan mobilnya di pinggir jalan depan angkringan penjual sea food yang di inginkannya. Tempat yang memang selalu buka di sore-sore seperti ini sudah cukup ramai oleh beberapa pengunjung. Kepala Birma sudah membayangkan bagaimana enaknya makanan tersebut, semakin membuatnya tak sabar dan dengan segera turun dari mobilnya.

“Turun!” titah Birma pada istrinya yang masih setia duduk di dalam mobil.

Menuruti suaminya, Clara lalu menggandeng tangan besar milik Birma dan sama-sama berjalan masuk ke tempat makan yang semua menunya di isi makanan laut. Namun begitu beberapa langkah memasuki tempat itu, rasa mual menyerang Clara dengan begitu hebatnya saat bau dari makanan laut itu masuk indra penciumannya, perutnya yang bergejolak seakan di aduk-aduk. Clara berlari menjauhi tempat itu saat tidak lagi bisa menahan rasa mualnya, meninggalkan Birma yang kebingungan.

“Yang, kamu kenapa?” tanya Birma begitu berhasil mengejar istrinya. Clara hanya menggelengkan kepala, setelahnya bersandar pada mobil suaminya, tubuhnya yang kini lemas dan wajah yang pucat membuat guratan cemas di wajah Birma. “Kamu baik-baik aja 'kan?” kembali Birma bertanya seraya mengelus lembut pipi istrinya yang terasa dingin.

“Aku gak apa-apa,” senyum Clara berikan untuk suaminya itu walau hanya senyuman lemah. “Kamu makan sea food sendiri aja ya? Aku benar-benar gak kuat.” Dengan lemas Clara berucap, kemudian menengadahkan tangan meminta kunci mobil pada suaminya itu.

“Masa iya aku makan sendiri?” Birma memajukan bibirnya, cemberut membayangkan dirinya yang tampan harus makan seorang diri. Apa kata dunia nanti? Pikir Birma.

“Ya terus gimana? Aku benar-benar gak bisa nemenin kamu, Bir. Aku gak kuat sama baunya.”

Birma menoleh ke belakangnya, lalu beralih kembali menatap istrinya yang benar-benar pucat dan lemas. Keinginannya untuk makan makanan laut seperti sudah berada di tenggorokan, posisinya pun sudah sangat dekat dengan tempat yang di inginkannya. Tapi melihat keadaan sang istri, membuatnya tak tega, dan sepertinya Birma memang harus menyimpan keinginannya itu, berharap bahwa anaknya tidak akan marah dan kecewa karena keinginannya tidak dirinya penuhi.

“Nak, kamu yang sabar ya, sayang nanti kita minta Om kamu untuk temani Daddy makan sea food.”

1
Suhaida Ghani
hebat ceritanya
si kece
justru yg begini yg menakutkan, diam2 menghanyutkan.
si kece
hadehh.. makanya apa2 jgn pendem sendiri, utarain ke suami. laki2 kan memang sering tdk peka, bkn jg mereka dukun yg bs tau isi hati manusia..
Fransiska Siba
Clara juga egois dalam keadaan marah. tp tidak mau kasih tahu kekesalannya bagaimana Birma mau tahu kesalahannya. kalau kamu kasih tahu pasti Birma menjauhi Dinda dan kamu tidak berlanjut cemburu begitu.
tp krn kamu tidak kasih tahu jadi silahkan saja berlanjut kemarahanmu itu sampai mati.
aku aja kesal sama Clara, meskipun Birma salah
Susi Susilawati
di tunggu karya terbaru nya lho mba Leni
Aminuddin Marpaung
Umai Kak....maaf saya baru nemu ini lg....trims Kak....
Nurwana
itulah kekuranganmu Birma krna kurang tgas. tp ingat Birma, jgn smpai gara gara sifatmu yg tdk tgas itw org yg kamu sayang dpt terlpas dri genggamannu.
Euis Jubaedah
kangen bangetttttttttt
Erma Marliany
akuu msh blm bisa move on dr rapa & cleona 😍😍😍 ngarep nya sih ada sesion 2 gth 😘😘😘
࿇ℕ_ℚєєLค✿࿐ 🅟🅖 ☄
udah end Thor ini nggak ada ektra part lagi keknya debay nya belum dikasih nama deh🙊
࿇ℕ_ℚєєLค✿࿐ 🅟🅖 ☄
nah betul itu kata ayah pandu atu emang harus dikasih tau dari pada tau dari orang lain nanti malah berabe
Weni Wulandari
ceritanya cela ama bram gk ada ya thor? kalo ada pasti seru bngt thor
Ayu Arthamobilindo
up thor
Ayu Arthamobilindo
dasar birma
Ayu Arthamobilindo
SE x x kerjain ibu hamil boleh y
Ayu Arthamobilindo
Calla hebat👍👍👍👍
Ayu Arthamobilindo
impas y bir
Ayu Arthamobilindo
kapok Lo Birma
Ayu Arthamobilindo
sompelak nya lyra itu
Ayu Arthamobilindo
sdh sdr birma
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!