Kisah ini menceritakan sekumpulan lima bocah yang bersahabat dari kecil yang memiliki keunikan yang berbeda-beda. Kelima bocah itu selalu bertingkah somplak dan menggemaskan. Dengan tingkah somplak itulah, mereka selalu saja di jitak oleh orang tua mereka. Jitakan itu terdengar bunyi "Pppplleettaakkk.." yang akhirnya mereka berkumpul dan menjadi sebuah geng yang bernama GENG PLETAK.
Kelima bocah itu tumbuh bersama walaupun usia mereka tak sama. Namun dengan perbedaan usia yang tak jauh itu, membuat mereka menjadi sahabat yang begitu akrab satu sama lainnya hingga mereka dewasa.
Suatu hari GENG PLETAK bosan dengan kiruk pikuk kehidupan yang ada di kota. Mereka pun memutuskan untuk pergi berlibur mencari suasana baru di sebuah pedesaan yang memiliki rumor bahwa ada sebuah Goa yang di dalamnya terdapat harta karun yang terkubur disana. Sontak saja membuat GENG PLETAK itu penasaran untuk mencarinya.
Akankah GENG PLETAK dapat menemukan harta karun tersebut dan menjadi kaya raya??????????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petanya ketemu, wooii!!!
Usai makan siang, mereka semua mencari peta harta karun yang sudah berhari-hari mereka cari namun tak kunjung ketemu. Sedangkan Giselle dan Rena sedang beristirahat di dalam kamar karena lelah dalam perjalana menuju villa.
"Haaadeeh, capek banget gue! Apa gue panggil si Dora aja ya buat nyari tuh peta?" Ucap Ari ketika mereka sedang beristihata sejenak mencari peta tersebut.
"Dasar somplak! Kebanyakan nonton kartun lo!" Ujar Jodi.
"Wah, gue ingat tuh filmnya! Gue juga hafal gimana si Dora kalau mau manggil si peta keluar dari tasnya." Seru Novia.
Saat Novia akan mempergakan gaya bicara tokoh kartun tersebut, tiba-tiba saja Gading menyelanya.
"Siapakah yang bisa kita mintai bantuan ketika kita tidak tau harus kemana? Ya...peta!!! Maukah kau memeriksa peta? Katakan peta!!! Sekali lagi, katakan peta!!!" Seru Gading bertingkah layaknya si tokoh kartun Dora.
"Hahaha, Gading stress!!!" Pekik Pinka menertawainya.
"Waktu kecil gue doyan banget nonton tuh kartun! Hahaha." Sahut Gading tertawa.
Saat semuanya sedang tertawa membahas masa kecil mereka di salah satu ruangan villa ketika menccari peta hart karun itu, tiba-tiba Giselle dan Rena menghampiri mereka.
"Kalian pada ngapain sih? Berisik banget!" Ucap Giselle.
"Eh, Giselle! Dari pada lo tidur siang, mendingan lo bantuin kita cari peta harta karun! Entar kalau ketemu tuh harta karunnya lo bakalan dapat bagian." Kata Novia.
"Hah? Harta karun? Yang bener nih ada harta karun di zaman edan begini?" Tanya Giselle seakan tak percaya.
"Ya ada lah! Makanya lo bantuin kita nyari tuh peta di seluruh ruangan villa ini." Sahut Pinka.
"Oke deh!" Seru Giselle, sedangkan Rena masih terlihat bingung dengan kata-kata yang ia dengar mengenai harta karun.
"Harta karun? Apa itu?" Tanya Rena sembari berpikir dengan bingung.
"Treasure! Kalau bahasa indonesianya sih harta karun namanya!" Sahut Pinka.
"Oh, begitu!" Ucap Rena manggut-manggut.
Si Gading langsung menghampiri sang kekasih hati.
"Cinta! Kamu mau gak bantuin aku nyari tuh peta? Nanti kita bakalan dapat dua bagian loh! Kita jadi tambah kaya deh!" Seru Gading.
"Eh, kok jadi dua bagian sih?" Tanya Jodi bingung.
"Lah iya! Bagian gue sama bagian Rena kalau digabungin kan jadi dua!" Sahut Gading.
"Oh, bener-bener!" Ucap Jodi.
"Ayo cintaku, kita cari petanya!" Seru Gading mengajak Rena.
"Aku gak mau!" Sahut Rena.
"Lah, ngapa sih yang?" Tanya Gading.
"Katanya kamu cinta sama aku, jadi kamu dong yang berusaha untuk cari harta karun itu terus kasih ke aku biar aku yang kaya kamu gak usah!" Sahut Rena seenaknya sendiri kalau bicara karena merasa Gading tergila-gila padanya.
"Huh, enakan kamu dong!" Gerutu Gading.
"Iyalah! Buktiin semua ucapan kamu ke aku selama ini jangan cuma gombal aja!" Seru Rena sembari duduk di atas sofa sembari memeluk bantal sofa yang berbentuk petak.
"Iya! Siapa juga yang gombal!" Gerutu Gading seraya bangkit dan mengajak semuanya kembali mencari peta harta karun itu.
***
Sambil mencari peta harta karun itu, mereka saling berbincang bahkan bercanda seperti biasanya. Tak di pungkiri mereka juga saling menghujat dengan ledekan-ledekan yang mereka lontarkan. Sementara Rena masih duduk santai sambil memeluk bantal sofa tersebut dan memperhatikan Gading sedang berbisik-bisik dengan Ari.
"Ding, cewek yang kita jumpai di cafe itu gimana? Masih kontek sama lo kagak? Cantik tuh!" Bisik Ari.
"Masih dong! Gue kan jago gombali cewek." Sahut Gading.
"Bagi gue dong! Gue masih jomblo, nying! Jangan lo embat semuanya!" Ucap Ari lagi.
"Tenang aja! Gue udah buat janji sama tuh cewek kalau si Rena balik ke Itali gue mau ketemuan sama dia! Dia bawa temen cewek juga. Entar temannya buat lo deh! Hehehe." Ucap Gading.
"Hehehe, gitu dong! Kalau gue dapat cewek kan gue kagak kalah taruhan sama kalian!" Ucap Ari membuat Gading terperanjat.
"Wooiii, licik amat lo! Lo memperdayai gue rupanya! Pura-pura minta cewek dari selingkuhan gue ternyata supaya lo kagak kalah taruhan dari kita!!!" Pekik Gading keceplosan mengatakan bahwa dirinya memiliki selingkuhan.
"Uuuppsss!!!" Gading lantas menutup mulutnya ketika sadar bahwa ia keceplosan bicara.
"Dasar pria kurang ajar!!! Beraninya mengkhianati aku, hah???" Teriak Rena seraya mencabik-cabik bantal sofa yang sempat di peluknya lantaran kesal mendengar ucapan Gading yang memiliki selingkuhan di belakangnya.
"Sayang...cintaku, kekasihku, jantung pisangku...eh, jantung hatiku! Jangan marah, aku hanya keceplosan bicara." Ucap Gading gemetar ketakutan.
"Keceplosan kau bilang!!! Aaaarrrgghhhh!!!" Teriak Rena lagi memukuli kepala Gading dengan bantal yang sudah robek-robek dan kapasnya pun berhamburan kemana-mana.
"Tolongin gue, woiii!!!" Pekik Gading minta tolong pada semuanya yang ada di ruangan itu.
"Derita lo! Selingkuh lagi!" Ujar Pinka dengan judesnya.
"Hahaha, rasain!" Ucap Novia.
"Kasihan banget abang gue! Haaah, salahnya sendiri entah ngapain pakek selingkuh udah tau cinta mati sama kak Rena." Ucap Giselle geleng-geleng kepala.
Rena terus memukuli Gading dengan bantal sofa tersebut, namun tiba-tiba sehelai kertas berwarna coklat jatuh dari dalam bantal sofa tersebut. Gading pun secara spontan menangkap kertas itu dan melihatnya.
"Eh, apaan nih?" Gumam Gading dalam hatinya.
Gading membalikkan kertas itu dan melihat gambar-gambar yang berupa pentunjuk jalan mencari harta karun yang selama ini mereka cari di villa itu.
"Peta!" Ucap Gading melebarkan kedua matanya.
Gading lantas bangkit dan berseru dengan percaya diri.
"PETANYA KETEMU, WWOOII!!!" Teriak Gading membuat semua orang menoleh dan menatap fokus pada apa yang di genggam Gading. Sementara Rena seketika berhenti memukuli Gading dan menatap bingung pada kertas itu.
"Petanya ketemu!!!! Hahahaha." Seru semuanya begitu senang karena apa yang mereka cari berhari-hari akhirnya ditemukan tanpa sengaja oleh Gading.
Gading menoleh pada Rena yang masih menatap bingung padanya.
"Cintaku! Kamu memang dewi fortuna untukku!" Seru Gading menggendong Rena dengan girang.
"Gak sia-sia si Rena mukulin Gading tadi! Hahaha, akhirnya nih peta ketemu juga!" Seru Ari girang.
"Wooii, diam!!!" Ucap Mang Urip membuat semua bocah yang sedang kegirangan itu sontak terdiam dan menatapnya bingung.
"Lebih baik kita diam dan jangan banyak bicara mengenai peta yang udah kita temukan." Kata Mang Urip.
"Kenapa mang?" Tanya Jodi.
"Dinding juga memiliki kuping, jadi kalian harus waspada! Kalian tau sendiri kalau semua orang di kampung ini juga mengincar harta karun itu." Sahut Mang Urip.
"Iya, bener tuh yang Mang Urip bilang!" Ucap Ari.
"Kalau begitu mulai sekarang kalau kita mau ngomong mengenai harta karun itu, kita harus bisik-bisik." Ucap Didik.
"Iya, bener-bener!" Ucap Novia.
\~\~\~\~
BTW gaya bicaranya aku robah biar tambah cakep nih novel. Uuhhuuyy....