Haiii semua.. Ini Novel karya pertamaku.. Mohon dukungannya ya, semoga kalian suka alur ceritanya. 🙏🙏
Ini menceritakan tentang romansa cinta anak sekolah. Kisah cinta yang penuh dengan berbagai perasaan.
Menceritakan seorang gadis remaja lugu dan apa adanya yang tiba-tiba menjalani kehidupan yang sangat rumit.
Febhia Putri Kusuma gadis remaja berusia 16 tahun ini tinggal bersama kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya. Febhia menjalani kehidupan gadis remaja pada umumnya, hingga suatu ketika dia mengalami sebuah situasi dimana kedua orang tuanya harus berpisah.
Dan disituasi yang bersaam Febhia harus mengalami penghianatan dari sahabatnya. Hidupnya makin rumit dan membuatnya putus asa. Cinta pertamanya berpaling darinya. Febhia merasa semua yang ia cintai mulai menghilang perlahan-lahan.
Mau tau kelanjutan ceritanya?? ayoo baca Novel pertamaku ini.. Mohon dukungannya ya.. ❤️❤️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Arida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Jealous and Happy
****
Hari ini hari Sabtu, pelajaran di sekolah tidak terlalu banyak, sisanya kegiatan ekstrakurikuler. Karna Bhia yang tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun, seselesainya pelajaran ia hanya duduk-duduk santai di depan kelasnya. Ia mengamati setiap sudut halaman sekolahnya, matanya menyipit melihat ke arah Raisa dan Alin yang sedang berjalan menghampirinya.
" Bhi, gue mau ekskul dulu, lo tunggu di sini aja ya, nanti kalo udah kelar gue langsung kesini. " Pamit Alin sambil berjalan melewati Bhia.
" Kenapa sih lo nggak ikut ekskul aja Bhi? " Usul Raisa pada sahabatnya itu.
" Ntar deh, gue cari ekskul yang cocok. Yaudah sana lo, nanti telat lagi." Ucap Bhia pada Raisa.
Raisa pun meninggalkan Bhia dan menuju tempat ekskul nya. Alin mengikuti ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja ) sedangkan Raisa mengikuti ekstrakurikuler Mading ( Majalah Dinding ) . Sebenarnya Bhia juga ingin mengikuti ekstrakurikuler, namun ia belum menemukan ekskul yang cocok dengan diri nya. Bhia yang sedang duduk-duduk di depan kelasnya sambil bermain ponselnya sesekali matanya tertuju pada lapangan basket yang tidak jauh dari tempat duduknya itu. Ia melihat dari kejauhan, seperti biasa terlihat Fero yang sedang duduk di bangku samping lapangan basket. Bhia ingin menghampirinya namun ia ragu, ia pun mengurungkan niatnya. Lalu Bhia berdiri dan berjalan kembali menuju kelasnya karna ia merasa bosan. Di dalam kelas hanya tinggal beberapa murid saja yang tidak mengikuti ekstrakurikuler sama sepertinya. Lalu ia duduk di kursinya, Bhia meletakkan kepalanya di meja sambil mengutak-atik ponselnya.
" Bhi.."
Terdengar suara seorang pria yang memanggilnya dan menyentuh bahunya lembut. Bhia menoleh dan mengambil pandangan ke arah suara itu. Ia terkejut matanya terbelalak ternyata pria itu adalah Fero.
" Lho Fer, lo ngapain disini? " Tanya Bhia pada Fero yang sedang berdiri di sampingnya.
" Tadi gue lagi duduk di lapangan basket, trus gue liat lo masuk ke kelas. Lo nggak ikut ekskul? " Jelas Fero pada Bhia dan ia kembali bertanya.
" Oh, gue nggak ikut." Jawab Bhia sambil tersenyum simpul.
" Kenapa? "
" Nggak apa-apa, cuman belum pengen aja. " Jawab Bhia menjelaskan.
Lalu Fero pun duduk di bangku kosong depan Bhia dan memulai percakapan dengan Bhia. Sebenarnya Bhia sedikit canggung, ia tidak mengerti dengan apa yang di rasakan nya. Dulu saat ia belum tau bahwa Fero berpacaran dengan Alin, melihat Fero saja rasanya sudah berdebar-debar. Tapi sekarang, disaat sudah ada kesempatan bahkan Fero pun sudah mau membuka hati nya untuk Bhia, ia malah merasa ada yang salah dalam dirinya. Bhia yang merasa sedikit canggung terkadang menjawab perkataan Fero dengan mengangguk ataupun tersenyum kecil. Di tengah perbincangan Bhia dan Fero, tiba-tiba saja Gio yang baru selesai bermain basket masuk ke dalam kelas dan mendapati Bhia yang sedang mengobrol berdua dengan Fero.
Gio yang melihat mereka berbicara berdua tampak risih. Ia sadar bahwa dia bukan siapa-siapa bagi Bhia, tapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Di balik sikapnya yang dingin pada Bhia, Gio amat sangat peduli dengan Bhia. Ia tidak bisa memungkiri lagi perasaannya pada gadis itu. Ya Gio menyadari bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Bhia.
" Lo ngapain Fer di sini? " Tanya Gio pada Fero sambil berjalan melewatinya.
" Ya pengen ngobrol lah sama Bhia. " Jawab Fero dengan nada yang ketus.
Fero pun kembali mengajak Bhia untuk mengobrol. Gio yang melihatnya semakin terbakar api cemburu. Matanya dengan sangat berapi-api menatap Fero dengan tajam. Lalu ia dengan percaya diri menghampiri Bhia dan Fero yang tengah mengobrol.
" Bhi mau ke kantin nggak? " Ajak Gio pada Bhia.
Bhia yang terkejut mendengar ajakan Gio pun menatap dengan penuh tanda tanya ke arah Gio. " Kenapa ni bocah? kok tiba-tiba ngajak gue ke kanti? Tumben amat? " Tanyanya dalam hati.
Bhia yang masih melongo mendengar ajakan Gio pun hanya bisa melirik Fero dan kembali menatap Gio.
" Lo ngajak gue ke kantin? " Tanya Bhia sambil menunjuk dirinya sendiri dan memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Fero yang melihat ekspresi Bhia terhadap Gio sengaja tersenyum miring menaikkan sudut bibirnya ke atas bermaksud untuk meledek Gio.
" Lo mau ikut nggak ? Kalo nggak yaudah." Ujar Gio yang merasa malu. Dan berlalu pergi begitu saja.
" Yaudah gue ikut deh, tunggu." Bhia dengan tiba-tiba menyetujui ajakan Gio.
" Fer, gue ke kantin dulu ya. " Ujar Bhia sambil meninggalkan Fero dan berlari mengejar Gio yang sudah berjalan dengan cepat di depannya.
Fero yang awalnya mengira Bhia akan menolak ajakan Gio tiba-tiba saja menjadi murung. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Bhia tidak menawarkan padanya untuk ikut bersamanya. padahal jika saja Bhia bertanya pada Fero, ia pasti akan mengikuti Bhia dan Gio ke kantin. Dengan suasana hati yang kesal Fero pun berjalan pergi meninggalkan kelas Bhia dan kembali ke kelasnya.
Bhia yang masih berjalan cepat mengimbangi Gio pun dengan kesal menarik baju basket Gio dari belakang. Gio tiba-tiba oleng dan hampir saja terjatuh.
" Bhia.. !! Lo apa-apaan sih? " Teriak Gio pada Bhia yang membuat Bhia jadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya.
" Sorry-sorry, gue nggak sengaja. Abis lo jalan cepet banget. " Jelas Bhia sambil meminta maaf pada Gio.
Merekapun berjalan berdua menuju kantin, belum sempat sampai kantin Bhia berpapasan dengan kakaknya. Dan lagi-lagi Arkan dengan jahilnya menggoda dan meledek Bhia yang sedang berjalan bersamaan dengan Gio.
" Wiiii jalan berdua nih. " Ledek Arkan pada adiknya itu.
" Apaan sih kak. " Bentak Bhia pada kakaknya itu.
Gio yang melihat Bhia dan Arkan hanya tertawa kecil sambil menepuk pundak Arkan.
" Tuh liat, si Gio biasa aja Bhi. Kamu kok sewot banget sih ? " Ucap Arkan sambil menunjuk ke arah Gio.
" Tau ah, males ngomong sama kakak. NYEBELIN!! " Seru Bhia kesal pada kakaknya itu, lalu Bhia pun berjalan mendahului Gio dengan wajah yang sudah berubah menjadi cemberut.
Gio pun berpamitan pada Arkan dan menyusul langkah Bhia yang sudah berada jauh di depannya. Tingkah Bhia sangat lucu menurutnya. Ia terus berjalan di belakang Bhia sambil mengamati gadis yang di sukai nya itu dari belakang.
Bhia masih terus berjalan dengan kesal, sesampainya di kantin pun ia masih memasang wajah yang masam. Gio yang melihat raut wajah Bhia itu tanpa sadar mulutnya melengkung membentuk senyuman di bibirnya. Bhia yang melihat senyum Gio dengan cepat raut wajahnya berubah. Rona merah merangkak naik di wajahnya yang putih itu. Pipinya berubah menjadi merah muda.
" Udah, ngambek mulu lo , mau makan apa? " Tanya Gio pada Bhia masih dengan senyuman di bibirnya.
" Lo kok dari kemaren senyum-senyum mulu Yo? Lo nggak gila kan ya? Apa gue yang gila? " Bhia pun bertanya balik pada Gio.
Gio yang awalnya tersenyum kini menjadi tertawa, ia melihat gadis di depannya itu sambil menggelengkan kepalanya, ia menjadi gemas melihat Bhia yang membuatnya tertawa itu.
MAKASIH YAH YANG UDAH SETIA BACA NOVEL KARYA PERTAMAKU, JANGAN BOSEN-BOSEN YAH, LIKE COMMENT AND VOTE YAH. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KLIK TOMBOL FAVORIT.
TERIMAKASIH READERS ❤️❤️
mampir juga yuk dinovelku