menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pagi kembali menyapa para mahluk di muka bumi dan ada seoeang wanita cantik yang masih enggan membuka matanya.
Namun ingatan Rya tentang wajah seseorang serta segala perintahnya dan tumpukan pekejaan yang menantinya membuat mata Rya harus segera terbuka
"Sial, lagi-lagi aku harus bangun cepat untuk membersihkan rumah agar tidak telat ke kampus, jika tidak si tukang perintah itu pasti mengomeli ku." ucap Rya yang kini trlah bangkit dari tidur indahnya
Rya lalu mengucir rambutnya yang berantakan dengan asal, dan segerah cuci muka agar bisa keluar dari kamar untuk mengerjakan piring-piring kotor sisa makan semalam
setelah membersihkan wajah bantalnya, Rya lalu keluar kamar dan kuni telah mengkutak katik kekacauan semalam.
"Apakah kamu tidak bisa membersihkan diri sendiri? aku bahkan bisa melakukannya sendiri." ucapnya pada piring kotor di wastafel cuci piring
"Apakah kau sudah gila menyuruh benda mati membersihkan dirinya sendiri?" ucap Mahendra yang tidak sengaja mendengar Ucapan Rya pada piring kotor tadi
"Apakah dia hantu, tiba-tiba saja datang." batin Rya sambil menatap sinis pada Mahendra
"Jangan menatap ku seperti itu, kau pasti sedang berpikiran mesum." tebak Mahendra asal
"Apa? kenapa aku harus berpikiran mesum kepada mu? bahkan pikiran itu tidak pernah sama sekali lewat di pikiran ku yang suci ini." ucap Rya tak terima atas tuduhan Mahendra
"Kau pikir aku peramal bisa mengetahui isi otak mu yang katanya suci itu." balas Mahendra lagi
"Kau memang bukan seorang peramal, maka dari itu mulut mu seharusnya tidak asal menebak pikiran orang lain." kesal Rya
"Sudahlah buatkan aku secangkir kopi, aku ingin segera berangkat kerja, aku tidak mau terlambat karena berbicara dengan mu yang mempunyai suara cempreng dan akan merusak pendengaran ku." ejek Mahendra lagi seraya melangkahkan kakinya di meja makan.
Rya yang mendengar itu sangatlah terlihat kesal namun tidak berani membantah karena tidak ingin mendapatkan hukuman dan juga Rya telah lelah terus berdebat dengan Mahendra.
Setelah selesai membuat kopi Rya pun mengantarkannya ke depan Mahendra.
"Oh iya, aku sudah menyuruh sekertaris ku untuk mendaftarkan mu di kelas memasak, kelas akan di mulai jam 3 sore nanti." ucap Mahendra saat Rya mulai berbalik hendak kembali ke tempat cuci piring setelah mengantarkan kopi untuknya
Rya yang mendengar itu sangatlah kaget dan syok dan langsung kembali menatap Mahendra dengan perasaan kesal
"Apa? bagaimana bisa kau membuat jadwal ku tanpa bertanya dulu pada ku, apa kau pikir aku manusia yang tidak mempunyai kesibukan?." Rya yang tidak terima dengan pernyataan Mahendra
"Bukannya kelas mu hari ini hanya sampai siang hari? dan juga jadwal kelas memasak akan di cocokan dengan jadwal kuliah mu." ucap Mahendra lagi
"Apa si tukang perintah ini memata-matai ku?" batin Rya
"Tapi tetap saja, aku harus mengerjakan beberapa tugas ku di sore hari, intinya aku tidak punya waktu untuk mengikuti kelas memasak." Rya masih coba memberi alasan
"Tidak bisa, kau harus tetap mengikuti kelas itu, kau harus bisa mengatur jadwal mu dan menghadiri kelas memasak itu, agar kulkas itu dapat berfungsi dan di isi dengan bahan masakan mu setiap harinya, dan tidak ada alasan untuk terlambat makan karena menunggu pesanan makanan yang tak kunjung datang." ucap final Mahendra dan tidak ingin di bantah
"Dan satu lagi, oleskan selai ke roti itu, aku ingin sarapan." lagi dan lagi perintah Mahendra sangat membuat Rya muak, ada ada saja suruhan Mahendra padanya yang membuat ia lelah
hanya sumpah serapah untuk Mahendra lah yang terus berkumandang di hati Rya, karena tidak terima dengan semua suruhan dan perintah Mahendra
Baru 3 hari Rya tinggal bersama Mahendra, namun Rya merasa seperti setahun lamanya, entah mengapa waktu seperti sangat bergerak lambat untuk Rya
sementara di sisi lain Mahendra nampak begitu bahagia, Ia bisa memerintah Rya dengan seenak jidatnya, dan membuat Rya selalu cemberut serta kesal yang menambah kesenangan di hati Mahendra.
Seperti mendapatkan mainan yang bisa dia mainkan kapan saja dan seperti mendapatkan pembantu gratis karena bisa memerintah apa saja tanpa harus mengeluarkan gaji sang pembantu, itulah yang di rasakan Mahendra saat ini.
Setelah selesai sarapan dan meminum kopinya Mahendra lalu bergegas untuk berangkat ke kantor, sementara saat ini Rya telah selesai juga dengan pekerjaannya yaitu membersihkan meja makan dan mencuci piring dan segera bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Woi ngelamun aja." ucap Rulisa yang tiba tiba datang dan mengagetkan Rya
Rya yang kaget sontak memukul lengan Risa
"Apaan sih, tidak lucu." ucap Rya kesal
"sore ini jalan yuk." ajak Risa
"Tidak bisa, aku ada urusan sore ini." ucap Rya menolak ajakan Risa
"Mamangnya mau kemana dan ada urusan apa?." tanya Risa penasaran
"Masih malas buat bahas itu, bahas yang lain saja yah." ucap Rya yang tidak ingin merubah moodnya karena kesal dengan perintah dari Mahendra itu.
"yah sudah kalau memang tidak ingin bercerita, kita ke kantin yuk, aku sudah lapar sekarang." ucap Risa sambil memperlihatkan wajah sedihnya yang di jawab anggukan oleh Rya
mereka pun pergi ke kantin untuk memesan 2 mangkok bakso dan menghabiskannya sambil berbincang bincang
****
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, waktunya untuk Rya memulai kelas masak.
banyak sekali hal-hal yang di dapatkan Rya di kelas memasak hari ini, meskipun ini adalah paksaan dari Mahendra namun Rya tetap mengikuti kelas dengan memperhatikan setiap penjelasan dari sang instruktur memasak
Walau bagaimana pun ia tidak mau mendapat julukan bodoh dari Mahendra jika ia mengikuti kelas memasak dengan tidak serius.
Mahendra selalu mengeluarkan kata-kata pedas saat Rya membuat kesalahn dan lebih parahnya lagi adanya hukuman jika Rya melakukan kesalahan itu.
Rya bergidik ngeri membayangkan ancaman terakhir Mahendra malam tadi, yang membuat Ia tidak ingin membuat kemarahan besar untuk Mahendra lagi dan mulai was was dan menjaga emosi dari Mahendra
Tidak terasa kelas telah selesai, dan Rya pun harus puoang ke neraka berkedok apartemen mewah itu.
Bagi Rya apartemen itu adalah neraka yang di huni dirinya dan seorang iblis yang membuat dirinya selalu naik darah akibat setiap perintah yang Ia dapatkan dari orang itu, dan orang itu adalah Mahendra Putra Atmaja suami kontraknya selama 2 tahun dalam surat perjanjian kontrak nikah yang telah Ia dan Mahendra tanda tangani.
Rya pun melangkah keluar dari gedung tempatnya mengikuti kelas memasak lalu menghampiri mobilnya dan mulai menyetir membela jalanan ibu kota yang sedikit macet.
****
**sekian BAB Ini....
jangan lupa likenya yahh.. 😊😊😊**