Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Gara will ....?
Hila merasa ingin menenangkan dirinya di luar perusahaan. Hati dan perasaannya kini terganggu karena kehadiran Gara. Menghadapi kenyataan bahwa Gara adalah Direktur di perusahaan tempat ia bekerja, membuatnya sedikit bingung dan tak nyaman.
Baby ku ... kamu telah bertemu dengan Ayahmu ... entah ini akan menjadi nasib baik bagi kita, ataukah akan menjadi nasib buruk. Aku tak ingin menambah masalah lagi. Hidupku bersamamu, sudah bahagia. Aku punya tempat tinggal, aku punya pekerjaan, dan aku punya rekan kerja yang baik. Lebih baik aku tak pernah bertemu lagi dengannya, daripada seperti ini, aku merasa tak nyaman dengan kehadirannya.
Perut Hila keroncongan. Ia hanya sarapan gorengan dan roti saja. Ia masih berjalan di sekitar perusahaan. Hila hanya ingin menenangkan diri dari rasa kagetnya, oleh karena itu ia keluar dari perusahaan untuk mencari angin segar.
Hila ingin sekali makan tipat cantok, tapi tak pernah kesampaian sejak tiga bulan usia kehamilannya, karena disini tak mungkin ada yang menjualnya. Tipat cantok adalah makanan khas Bali, Tipat berarti ketupat dan cantok berarti diuleg atau dihaluskan. Hidangan ini berbahan dasar ketupat potong yang diberi sayur kacang panjang, kangkung, taoge, dan mentimun lalu disiram saus.
Tipat cantok mirip dengan gado-gado, hanya terdapat perbedaan dari saus dan petisnya. Sausnya terbuat dari kacang tanah goreng, bawang putih, cabai, garam dan tauco yang diuleg atau dihaluskan. Hila sudah ngidam makan itu sejak 3 bulan kehamilannya. Tapi, ia hanya bisa makan gado-gado biasa saja, karena tipat cantok hanya ada di Bali.
Hila sudah berada di tempat penjual gado-gado yang berjarak sekitar 500 meter dari perusahaannya.
"Bang, gado-gado satu ya," pesan Hila.
"Dibungkus apa makan disini Neng?" tanya penjualnya.
"Bungkus aja, nanti bos ku nyariin lagi," ujarnya.
"Neng Hila tumben jam segini udah keluar,"
"Aku sengaja, mau cari angin segar, makanya kesini, Pak. Padahal belum waktu istirahat ya," Hila terkekeh.
Tak lama, suara bariton terdengar dibelakang tubuh Hila, dan begitu mengagetkannya,
"Gado-gadonya tambah satu lagi, Bang ...."
DEG. Hila seperti mengenal suara itu, Hila pun berbalik, ternyata Bagas sudah ada dibelakangnya. Hila heran, kenapa Bagas bisa berada disini?
"Pak Bagas? Bapak ngapain disini?" Hila kaget.
"Kamu kemana aja? Sampe semua orang nyariin kamu." Ucapnya.
"Ha? Kenapa nyariin saya, Pak? Saya cuma pengen belu gado-gado aja, gaj tahu kenapa pengen banget makan gado-gado. Bapak mau gado-gado juga?" Jawabnya.
"Cepet kembali ke perusahaan! Kamu buat onar aja, tahu enggak!" Bagas kesal.
Hila mengernyitkan dahinya, "Buat onar? Maksud bapak? Memangnya saya kenapa?"
"Iya, kamu buat onar! Kamu dicariin sama---" Seketika itu pula Bagas langsung tertunduk, tak berani melanjutkan pembicaraannya.
"Sama siapa?" Hila masih tak mengerti, karena ia tak menatap ke arah belakangnya.
"Saya! Saya mencari kamu!" Suara aneh itu mengagetkan Hila.
Bagas segera membungkukkan badannya karena ia telah melihat Gara terlebih dulu. Hila kaget, niat hati ingin menenangkan diri, tapi ternyata malah bertemu lagi dengan Gara di tempat penjual gado-gado.
"Selamat siang, Pak Gara ..." Sapa Bagas sopan.
"Nga-ngapain kesini?" tanya Hila.
"Kamu tanya ngapain? Kamu gak tahu, ruangan kerja saya jadi berantakan gara-gara kamu! Kenapa main pergi aja kamu? Ayo, pergi, bereskan sekarang juga! Seenaknya saja, sudah memecahkan gelas, malah pergi begitu saja. Cepat bereskan sekarang juga, aku tak mau tahu!" Gara sedikit membentak Hila.
"Ah, iya. Maafkan saya, Pak. Baiklah, saya akan segera kembali ke perusahaan untuk membersihkan semuanya. Tunggu sebentar, saya bayar dulu gado-gado, Pak." Ucap Hila terlihat kesal.
"Biar saya yang bayar. Sekarang, naiklah ke mobilku. Bagas, kau kembali ke perusahaan, dan jangan masuk ke ruanganku, biarkan dia membereskannya!" Tegas Gara.
"Ba-baik, Pak. Saya permisi kalau begitu." Bagas membungkukkan badannya, lalu ia meninggalkan Gara dan Hila.
"Pak Bagas, ini gado-gadonya gimana?" tanya Hila tanpa berdosa.
Bagas melotot pada Hila,
"Gado-gadonya buat saya! Karena saya yang bayar!" Tegas Gara.
"Ha? Kok gitu? Kan Pak Bagas yang pesan?" Hila keheranan.
"Hila! Sudah! Maafkan Hila, Pak. Saya tidak jadi beli gado-gadonya. Saya permisi," Bagas pun berlalu karena tak ingin terlibat lagi pembicaraan dengan Gara.
Sagara, dia kesal melihat Hila bersama Bagas sedang berada disini berdua. Gara telah melajukan mobilnya, namun ketika ia akan menancap gas nya dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba pandangannya tertuju pada penjual gado-gado. Gara melihat Hila sedang berdiri, dan ada laki-laki di belakangnya. Tanpa basa-basi, Gara segera meminggirkan mobilnya dan memutuskan untuk menemui mereka.
Ternyata, Hila berada tak jauh dari perusahaannya, Gara sempat khawatir, Hila akan marah dan pergi jauh. Tapi untungnya, Hila bukan gadis yang lemah. Ia tak seperti yang Gara bayangkan. Hila malah membeli gado-gadi dan tak terlihat kesal ataupun sedih.
"Ayo masuk ke mobil," pinta Gara.
"Ya." Jawab Hila dingin.
Hila naik ke mobil Gara dengan sedikit kesal. Hila sebenarnya tak ingin terus berurusan dengan Gara. Tapi, ia pun bingung karena lagi-lagi Gara sudah menampakkan diri. Gara melajukan mobilnya bukan ke perusahaan, dan Hila pun merasa aneh.
"Kamu mau kemana? Perusahaan kita bukan kesini arahnya!" Tegas Hila.
"Maaf, kalau ucapan ku padamu tadi sedikit kasar." Ucap Gara.
"Kasar gimana? Memang seorang Direktur itu harus tegas dan berwibawa. Aku pahami itu," jawab Hila.
Gara menatap Hila, "Aku hanya malu pada Bagas, jadi aku sedikit tegas padamu tadi. Agar ia segan padaku, aku tak ingin bawahanku menganggap aku tak tegas."
"Iya-iya, sudah cukup. Bisa aku mengerti, sudahlah. Tak perlu merasa bersalah lagi, Direktur Sagara." Ledek Hila.
"Gitu banget kamu, Hil." Gara terlihat kecewa.
"Kamu mau kemana? Kok ke jalan ini?" Hila tak mengerti.
"Aku mau ke rumahmu, aku mau lihat, bagaimana kamu menghidupi calon bayiku. Apakah dia tidur di tempat yang nyaman, atau tidak. Aku harus memastikan semuanya." Tegas Gara.
"Ha? Apa? Ke rumahku? Ya ampun, jangan Gara! Ngapain ke rumahku. Putar balik gak? Aku gak mau ya ke rumahku! Untuk apa kamu! Aku sedang kerja, putar balik ke kantor sekarang juga, cepat!" Hila ketakutan, ia tak ingin ke rumahnya.
"Kenapa? Rumahmu berantakan, ya?" Gara terkekeh.
"Enggak! Aku cuma gak suka, ngapain kamu harus ke rumahku? Memangnya sedekat apa kita, sampai kamu berani ke rumahku, ha? Putar balik, gak!!!" Hila teramat kesal.
"Sedekat baju dan tubuh, yang selalu menempel dan merekat!" Ujar Gara cengengesan.
"Aaarrrh, kamu! Ngomong-ngomong, tangan kamu kenapa? Kenapa diikat dengan dasi?" tanya Hila.
"Ini? Tanganku ini ya gara-gara kamu, aku jadi terluka." Ujar Gara.
"Kok aku sih? Tangan kamu kenapa, Gar?" ucap Hila.
"Kamu khawatir?" tanya Gara.
"ENGGAK!" Hila cemberut.
"Aku mau ke rumah kamu, kita bicara serius! Nurut aja dan jangan banyak bicara." Ucap Gara.
"Ya, tapi gak harus di rumahku juga, Sagara!" Hila terus saja mengoceh.
Gara kesal karena Hila terus saja membantahnya, ia pun menutup mulut Hila dengan jari telunjuknya,
"Ih, apa sih," Hila tak nyaman.
"Kenapa harus marah? Aku hanya menyentuh bibirmu pakai telunjuk aja, biar kamu diem!" Tegas Gara.
Hila hanya cemberut saja dan tak mau lagi menjawab ucapan Gara. Ia pasrah, karena Gara terus memaksa ingin ke rumahnya.
...🥰🥰🥰...
Kediaman Andra ....
Elang hari ini baru selesai rapat dengan clien. Ia sedang beristirahat di rumah Andra, karena Andra memintanya mengambil berkas di ruang kerjanya. Ia lelah, dan memutuskan bersantai dulu di halaman belakang rumah Andra. Tak lama, Callista datang dan menyapanya.
"Hai, Kak Elang." Sapa Callista.
"Siang, Cal. Kamu gak kuliah?" tanya Elang.
"Kuliah, tapi nanti siang. Pagi ini aku gak ada kelas," jawabnya.
"Oh, begitu. Santai kalau gitu ya, mau Kak Elang antar ke kampusnya?" Elang tersenyum.
"Boleh, tapi apa Kakak gak sibuk?" tanya Callis lagi.
"Enggak kok, aku malah seneng bisa anterin kamu, Cal." Jawab Elang.
"Makasih, Kak" tanya Callis.
"Sama-sama," Elang melebarkan senyumannya.
Tak lama, Arini dan Davian datang menemui Elang juga Callista,
"Siang, Tuan, Nyonya ..." sapa Elang ramah.
"Cal, Elang, besok jangan kemana-mana ya," titah Arini.
"Kenapa Mom?" tanya Callista.
"Amih Tira mau datang, dia datang sama calon istrinya Gara. Mungkin, sebelum hari pengangkatan Gara sebagai Direktur, mereka akan bertunangan dahulu. Kalian kosongkan jadwal juga ya." Ucap Arini.
"Baik, Nyonya."
"Gara akan bertunangan, oleh karena itu, nanti aku tunjuk Elang untuk mengatur semuanya, sementara Gara belum punya sekretaris. Aku percayakan semua padamu. Rangga telah memerintahkannya padaku," ucap Davian.
"Siap, Tuan. Saya akan lakukan yang terbaik." Elang tersenyum.
"Keluarga kita juga akan bertemu dengan keluarga Brata saat pengangkatan jabatan Gara nanti, kamu harus berkenalan dengan keluarga mereka, Call." Perintah Davian.
"Buat apa, Dad? Kenapa harus aku?" Callista heran.
"Kamu anak gadis Daddy yang sudah dewasa, kamu harus mendapatkan lelaki yang sepadan denganmu juga. Ada alasan Daddy mengenalkan kamu dengan mereka. Daddy ingin kamu berkenalan dan dekat dengan anak dari Keluarga Brata. Daddy ingin anak gadis Daddy mendapatkan orang yang baik dan berasal dari keluarga terpandang. Karena Daddy, sudah mencari tahu semua jejak digital pria itu. Kamu harus berkenalan dengannya." Perintah Davian.
"Apa? Daddy menjodohkan aku? ENGGAK! Aku gak mau, Dad! Aku menolak keras." Callista emosi.
"Daddy tidak menjodohkan, Daddy hanya mengenalkan kamu padanya, dan meminta kamu untuk dekat dengannya. Mungkin saja, setelah kenal, kamu akan jatuh cinta padanya. Bukan begitu, Mom?" tanya Davian pada Arini.
"Iya, sayang. Tenang saja, Daddy ingin yang terbaik untuk kamu. Percayalah, tak ada orang tua yang ingin menyesatkan anaknya. Sama halnya seperti kedua orang tua Elang, mereka pun sebenarnya ingin yang terbaik untuk Elang. Hanya saja, waktu belum berpihak pada Elang. Mommy tidak akan memaksa, berkenalan dulu saja, setelah itu kamu boleh memutuskan semuanya." Ucap Arini.
"Daddy sama Mommy gak asyik! Aku gak mau kenalan sama orang asing. Kalian emang menyebalkan!" Callista meninggalkan mereka.
"Dad, apa moment kita berbicara kurang tepat?" tanya Arini.
"Biarkan saja. Lambat laun, dia pun harus tahu, bahwa kita sudah memilihkan lelaki terbaik untuknya." Ucap Davian.
"Baiklah, Dad. Oh iya, Lang ... kamu masih belum mau pacaran lagi? Kata Mamamu, kamu masih saja betah sendiri. Ayo, jangan kalah sama Andra, dia sebentar lagi mau punya baby loh, Lang." Arini menggoda Elang.
"Iya nih kamu, Lang. Sama aja kayak Ayahmu, susah banget dapetin cewek. Ckckck, memang persis, anak dan Ayah, selalu sulit mendapatkan wanita, Ayahmu juga dulu begitu, Lang. Semoga, secepatnya kamu mendapat pengganti Hila. Carilah wanita yang kamu cintai. Ayah dan Mamamu, telah mendapat tamparan keras atas perjodohan itu, mereka tak akan menjodohkan mu lagi." Ucap Davian.
Elang menghela napas, hatinya sedikit terguncang ketika Davian dan Arini berkata bahwa Callista akan dijodohkan dengan keluarga Brata. Ia pun memberanikan diri untuk berbicara,
"Saya masih mencari yang pas, Tuan. Saya hanya sedikit tergelitik saja, mohon maaf sebelumnya ... kenapa Tuan dan Nyonya juga tidak berkaca dari kejadianku?" selidik Elang.
"Maksudmu?" Arini tak mengerti.
"Iya, kalian sudah tahu, bukan? Bahwa perjodohan itu tidak selamanya baik. Contohnya aku, aku dijodohkan, tapi ternyata gadis itu tengah hamil, dan tentu saja itu bukan gadis yang baik untukku. Tapi, dulu Ayah dan Mama tak berpikir jernih, mereka memaksa aku untuk dengannya. Apa Tuan dan Nyonya tak bisa melihat kejadianku? Bagaimana kalau ternyata, lelaki yang dijodohkan untuk Callista juga sebenarnya bukan laki-laki baik? Terlepas dari Tuan yang telah menyelidiki semuanya. Tapi, apa itu menjamin bahwa Callista akan bahagia? Biarkan Calliata memilih, ia berhak memilih, Tuan, jangan dijodohkan, kasihan Callis." Entah ada angin apa, Elang berani berkata begitu pada Davian dan Arini.
"Elang, apa maksudmu?" Davian mengernyitkan dahinya.
Ya Tuhan ... apa yang barusan aku katakan pada Tuan dan Nyonya? Batin Elang yang antara sadar dan tak sadar mengucapkan kalimat panjang lebarnya.
*Bersambung*
Jangan lupa like dan komen, biar aku semangat buat up nya 🥰😘😍
Yang belum beri VOTE dan HADIAH, aku tunggu ya hehehe