Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengamankan Bukti
“Bisa. Berapa lembar kamu mau beli?”
Dirga menghitung dulu uang di tabungannya. Daripada disimpan dalam bentuk tabungan, lebih baik dibelikan saham.
Dia yakin bahwa harga saham Adiguna Grup hanya anjlok sementara. Apalagi sahabatnya juga membeli saham cukup banyak.
“Kalau dua puluh juta, berapa yang bisa kudapat?”
“Sekitar 40.000 lembar saham atau 400 lot.”
“Banyak itu?”
“Kalau dibandingin saham yang dimiliki keluarga Adiguna, cuma seupil,” jawab Saka tanpa ekspresi sama sekali.
“Nggak usah disamain sama keluarga Adiguna juga,” sewot Dirga.
Firlan dan Ayura tak bisa menahan tawanya. Hanya Saka saja yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
“Jadi mau beli, nggak?” tanya Saka.
“Nanti sahamnya bisa dijual lagi, nggak?”
“Bisa. Kalau Adiguna Grup sudah stabil lagi posisinya, nilai saham per lembarnya bisa lima sampai enam ribu.”
“Wah, kalau aku beli 20 juta sekaran dan menjual pas perusahaan sudah stabil, aku bisa dapat dua ratus juta?” tanya Dirga.
“Ya,” jawab Saka singkat, padat, dan jelas.
“Kalau begitu, aku jadi beli,” ujar Dirga bersemangat.
Saka segera melakukan apa yang minta Dirga. Pria itu tampak bersemangat sekali. Jika benar dia bisa menjual saham dengan harga tinggi, maka tabungannya akan semakin banyak.
“Kamu mau beli berapa?” tanya Saka lagi.
“Aku tambah jadi tiga puluh juta.”
Saka kembali membuat rekening efek atas nama Dirga. Semua prosesnya diulang kembali hingga akhirnya Dirga berhasil membeli saham.
Masih cukup banyak saham yang tersisa di pasar efek. Pasti Baskara dan Mahesa juga bergerak untuk membeli saham tersebut. Saka harus mencari cara untuk mendapatkan saham kembali.
Selesai membereskan semua transaksi, Saka melihat Firlan. Dia akan melanjutkan hal yang sempat tertunda, yakni menemui Bani dan mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan.
“Di mana Bani?” tanya Saka.
“Dia ada di safe house. Aku tidak bisa lama-lama menempatkan dia di sana. aku menggunakan safe house tanpa seijin atasan.”
“Aku akan bertemu dengannya. Dia tidak perlu lama-lama berada di sana. Aku akan menyerahkannya kepada orang yang tepat.”
“Kamu mau menemuinya sekarang?”
“Ya. Kita ke sana saja sekarang.”
Saka membereskan laptopnya. Sebelum pergi, dia berpamitan dulu kepada Ayura. “Terima kasih, Ay. Bantuanmu hari ini sangat berarti.”
“Aku tidak memberikan bantuan apa-apa. Uang yang kugunakan untuk membeli saham juga uang keluarga Adiguna. Kalau Mas Saka tahu aku melakukan ini demi keluarganya, aku yakin kalau dia juga akan senang.”
“Aku pergi dulu.”
“Hati-hati.”
Saka mengangguk pelan. Cukup lama dia memandangi Ayura sebelum keluar dari toko kue tersebut. Saka kembali mengikuti Firlan untuk bertemu dengan Bani. Sementara Dirga harus bekerja. Dia harus memenuhi target setoran hari ini.
Berbeda dengan Saka yang mendapatkan privilege dari Revan karena sudah membantunya melewati audit perusahaan.
Firlan segera melajukan mobil menuju safe house tempat Bani berada. Dia menghubungi dulu salah satu anak buahnya yang diminta menjaga Bani.
Tak sampai setengah jam mereka sudah tiba di lokasi. Safe house yang digunakan Firlan memang jauh dari pusat kota dan tempatnya juga tidak berada di dekat perumahan warga.
“Apa ada yang datang ke sini?” tanya Firlan pada anak buahnya.
“Tidak ada, Komandan.”
“Dia nggak mencoba kabur, kan?”
“Nggak, Komandan. Aku bahkan sudah menyita hape-nya.”
Firlan tersenyum tipis. Anak buahnya ini memang bisa diandalkan. Dia sudah tahu bagaimana cara kerja Firlan, dia sudah melakukannya tanpa menunggu instruksi darinya.”
Saka segera masuk ke dalam rumah. Pandangannya langsung tertuju kepada Bani yang sedang duduk santai sambil menonton berita di televisi. Saka duduk tidak jauh dari Bani.
“Apa kamu menikmati beritanya?” tanya Saka setengah menyindir.
“Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu begitu peduli dengan Adiguna Grup? Itu tidak ada hubungannya denganmu.”
“Memangnya berapa kamu bersedia membayarku kalau aku tidak ikut campur? Aku yakin kamu mendapat bayaran besar dari hasil menggelapkan pajak.”
Seketika Bani langsung terdiam. Dia memang mendapatkan banyak uang dari Baskara. Bani bahkan sudah mengungsikan keluarganya lebih dulu. Anak dan istrinya dititipkan kepada salah satu saudaranya yang tinggal di luar pulau.
Jika Saka tidak menemukannya, dia pasti sudah kabur ke Thailand. Rencananya pria itu akan kembali ke tanah air setelah kasus penggelapan pajak ini mereda. Namun sekarang rencananya berantakan.
“Berapa kamu mendapat bayaran dari Baskara?” tanya Saka lagi.
Bani hanya mendeham. Pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Berikan bukti yang ada padamu dan uang yang diberikan untukmu. Aku yakin uang yang kamu terima adalah dana pajak yang sudah digelapkan.”
“Baskara sudah mengambil semua bukti yang kupunya.”
“Benarkah? Aku tahu kamu tidak bodoh. Serahkan bukti itu atau aku akan menghubungi Baskara. Aku yakin dia tidak akan membiarkanmu hidup kalau tahu kamu memiliki salinan laporan keuangan itu.”
Bani menelan ludahnya dengan susah payah. Posisinya kali-kali ini benar terjepit. Maju salah, mundur pun salah.
Dia benar-benar tidak mengerti dari mana pria di hadapannya ini mengetahui persembunyiannya dan mengetahui jika dirinya masih memegang bukti penting.
“Aku tidak akan memberimu banyak waktu. Serahkan bukti itu padaku, atau aku akan benar-benar menyerahkanmu ke Baskara.”
Bani masih terdiam. Pria itu belum mau memberikan bukti yang ada di tangannya. itu adalah jaminan hidupnya. Melihat Bani yang hanya terdiam, Saka mendekat lalu memegang tangannya.
Saka sengaja menyentuh tangan Bani agar mendapat penglihatan lain.
Dalam penglihatannya, Saka mengetahui bahwa Bani sudah mengirimkan anak dan istrinya bersembunyi. Dia terus menelusuri di mana pria itu menyembunyikan keluarganya. Setelah beberapa saat, dia melepaskan pegangannya.
Saka memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu melihat Bani lagi.
“Rupanya kamu sudah menyembunyikan anak dan istrimu di luar pulau. Apa perlu aku katakan pada Baskara, di mana kamu menyembunyikan mereka?”
“B-Bagaimana kamu tahu tentang itu?” Wajah Bani langsung berubah pucat.
“Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mengetahui semua itu. Berikan bukti itu, dan ini adalah penawaran terakhir.”
Bani membisu. Pikirannya kembali berperang. Namun akhirnya dia mengambil keputusan saat Saka membisikkan keberadaan anak dan istrinya saat ini.
“Baiklah, aku akan memberikannya padamu.”
Bani masuk ke kamar yang ditempatinya. Tak lama kemudian dia keluar dengan membawa sebuah USB di tangannya.
Saka memeriksa dahulu isi USB tersebut. Di dalamnya terdapat laporan keuangan yang asli. Selain itu, di sana juga tertera siapa saja nama pemilik rekening uang itu mengalir.
“Apa bayaran untukmu ada di salah satu rekening ini?” tanya Saka.
“I-Iya. Rekening atas nama Yuzman Qodir.”
Saka langsung mencari nama dimaksud. Tertera nominal sebesar sepuluh miliar yang masuk ke rekening tersebut.
Setelah memastikan semua bukti lengkap dan bisa membuat Indra terbebas dari tuduhan, Saka beranjak dari tempatnya. Pria itu menuju teras sambil mengambil ponselnya.
Dengan cepat dia mengetikkan sejumlah nomor kemudian menghubungi nomor tersebut.
Karena orang yang dihubungi tidak juga menjawab panggilannya, Saka memutuskan mengirimkan pesan.
[Hubungi aku kalau kamu mau menyelamatkan Indra Adiguna.]
Dalam hitungan detik, centang abu-abu sudah berubah menjadi biru. Tak lama berselang, sebuah panggilan masuk dari nomor tersebut. Saka segera menjawab panggilan. “Halo.”
“Siapa kamu? Dan apa yang kamu punya untuk membebaskan Indra Adiguna?” Terdengar suara seorang pria dari seberang.
***
Saka telepon siapa hayo?
kan dia yg berkuasa di Adiguna ☺️