Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Hari-hari pertama tanpa pekerjaan terasa berat bagi Askar. Ia bangun pagi dengan perasaan hampa, duduk di ruang tengah tanpa tahu harus berbuat apa. Rara yang awalnya bersikap manis dan penuh pengertian, kini mulai berubah wajah. Setiap kali melihat Askar hanya duduk diam, ia langsung mengeluarkan kata-kata tajam.
"Kau sudah seharian duduk di sana, tidak ada yang kau kerjakan? Uang tabungan kita semakin menipis, kau tahu itu?" tanya Rara dengan nada tinggi, meletakkan gelas di meja dengan kasar.
"Aku sedang mencari pekerjaan lain, Ra. Tapi tidak semudah itu. Gaji sebelumnya sudah besar, sekarang sulit mendapat yang setara," jawab Askar pelan, tidak berani menatap istrinya.
"Sulit? Itu bukan urusanku! Aku menikah denganmu karena kau punya penghasilan tetap, bukan untuk hidup pas-pasan seperti ini!" Rara berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas sekaligus marah. "Cepat cari pekerjaan, atau cari pinjaman, apa saja! Aku tidak mau hidup miskin!"
"Kau tenanglah dulu. Aku berusaha sebaik mungkin. Tapi pinjam uang itu menambah beban, bukannya menyelesaikan masalah," kata Askar mencoba menenangkan.
"Kau itu lemah! Tidak bisa diandalkan!" Rara membentak, lalu pergi ke kamar membanting pintu.
Bu Surya yang mendengar semua itu dari kamar keluar dengan wajah lesu. "Askar, Ibu sudah tidak tahan lagi. Rara semakin hari semakin kasar. Dan sekarang... uang belanja pun semakin sedikit. Ibu takut..."
"Maafkan Ibu, Bu. Maafkan aku. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya," jawab Askar lemah, hatinya terasa hancur.
Namun keadaan justru semakin memburuk. Tiga minggu berlalu, tidak ada panggilan kerja yang layak datang. Tabungan mereka hampir habis. Rara semakin gelisah, sering keluar rumah tanpa pamit, pulang dengan wajah penuh kekhawatiran. Askar mulai curiga, namun terlalu takut untuk bertanya.
Suatu sore, saat Askar sedang duduk di teras, seorang petugas bank datang membawa surat pemberitahuan. Askar membacanya dengan tangan gemetar. Kakinya lemas seketika. Rumah itu — rumah yang dulu ditempatinya bersama Miska, rumah peninggalan orang tuanya — ternyata dijaminkan ke bank atas nama Rara. Pinjaman yang besar, yang sudah lama jatuh tempo dan tidak pernah dibayar.
"Rara!!" teriak Askar berlari masuk ke dalam rumah.
Rara sedang mengemasi koper besar di kamar. Wajahnya tidak lagi menyembunyikan ketakutan maupun niatnya.
"Kau... kau menjaminkan rumah ini?! Tanpa sepengetahuanku?!" tanya Askar dengan suara bergetar, surat itu tergenggam erat di tangannya.
"Aku butuh uang! Apa lagi yang bisa kulakukan?!" jawab Rara dingin, terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper. "Uang itu sudah habis, untuk gaya hidupku, untuk belanjaanku. Dan sekarang... aku tidak bisa lagi di sini."
"Kau mau ke mana?! Hutang ini masih ada!"
Rara menutup koper, berdiri tegak menatap suaminya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Aku pergi, Askar. Maaf, aku tidak bisa ikut menderita bersamamu. Hutang itu urusanmu, bukan urusanku. Aku tidak menandatangani apa pun atas namaku."
"Kau... kau tidak punya hati?!" Askar melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca. "Kau bilang mencintaiku? Bilang mau menemani suka maupun duka?"
"Itu dulu, saat kau masih punya uang dan pekerjaan bagus. Sekarang kau tidak punya apa-apa. Untuk apa aku tetap di sini?" Rara mendorong bahu Askar pelan, lalu berjalan keluar kamar dengan koper besarnya.
Bu Surya berlari menghadangnya di pintu depan. "Rara! Kau tidak bisa pergi begitu saja! Kau yang membawa uang itu, kau yang menjaminkan rumah ini! Kembalilah!"
"Pergi saja, Bu. Rumah ini akan disita bank beberapa hari lagi. Lebih baik Ibu bersiap pindah daripada menghalangiku," ujar Rara dingin, lalu membuka pintu dan pergi tanpa menoleh sekali pun.
Askar dan Bu Surya berdiri terpaku di ruang tengah yang tiba-tiba terasa begitu sempit dan dingin. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Rara sudah pergi, dan hutang ratusan juta itu menjadi beban mereka berdua.
Tiga hari kemudian, mobil-mobil bank datang. Petugas meminta mereka segera meninggalkan rumah. Bu Surya menangis memohon, berlutut di depan pintu, namun prosedur tetaplah prosedur. Mereka harus pergi — tanpa rumah, tanpa harta, tanpa tempat berlindung.
Mereka pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil yang sempit dan pengap. Dindingnya tipis, lantainya tanah, dan di musim hujan pasti bocor. Bu Surya duduk di lantai, memandangi barang-barang mereka yang hanya sedikit dan sudah kusam. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya.
"Askar... bagaimana bisa begini? Dulu kita punya rumah yang layak, hidup yang cukup..." bisik Bu Surya lemah, air mata menetes di pipinya yang keriput. "Dulu... dulu Miska selalu merawat kita, selalu sabar, selalu tulus... dan kita... kita menyiksanya. Kita mengusirnya. Padahal dialah satu-satunya orang yang tulus pada kita."
Askar menunduk dalam, tangannya mengepal erat. Penyesalan meremukkan hatinya. "Aku salah, Bu. Aku salah besar. Aku membuang permata demi kaca yang berkilau sebentar lalu pecah di tanganku. Aku bodoh sekali."
"Hancur semuanya... harta, rumah, kehormatan... dan Miska sudah pergi. Dia sudah bahagia tanpa kita," Bu Surya terbatuk pelan, napasnya mulai terasa berat. "Ibu tidak kuat lagi, Nak. Ibu lelah sekali..."
"Jangan bicara begitu, Bu. Aku akan cari pekerjaan, aku akan berusaha keras. Kita bisa bangkit," Askar mencoba menguatkan ibunya, namun suaranya pecah.
Bu Surya tersenyum tipis, namun matanya penuh kesedihan. "Terlambat, Askar. Terlambat menyadari. Kalau saja kita memperlakukannya dengan baik... kalau saja kita tidak buta melihat ketulusannya..."
Malam itu, Bu Surya jatuh sakit. Demam tinggi, sesak napas, dan sering berbicara sendiri tentang masa lalu, tentang Miska, tentang penyesalannya. Askar merawatnya sekuat tenaga, namun uang untuk berobat pun sulit ia dapatkan. Ia berjalan dari rumah ke rumah menawarkan tenaga, namun penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Sementara itu, di sisi lain kota, Miska sedang duduk di restoran yang nyaman bersama Arfan. Mereka berbicara dengan tawa dan tatapan penuh kasih sayang. Arfan menggenggam tangan Miska di atas meja, lalu menatapnya dalam.
"Miska, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Aku ingin menua bersamamu. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada untukmu, mendukungmu, dan menyayangimu setiap hari. Maukah kau menikah denganku?" tanya Arfan tulus.
Miska menatap pria itu, matanya berkaca-kaca namun tersenyum bahagia. "Iya, Arfan. Aku mau. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya."
Di luar sana, hujan turun deras. Miska tidak tahu bahwa di tempat yang jauh, seorang wanita yang dulu pernah menyiksanya sedang terbaring lemah, dan seorang pria yang dulu dicintainya sedang hancur lebur. Ia hanya tahu bahwa di depannya ada masa depan yang cerah, dan di sampingnya ada orang yang tulus mencintainya.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪