"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TUJUH: Gemuruh Sunyi (Bagian 2)
“She didn’t make any trouble so far.”
“Not yet,” aku menolak pernyataan Ian yang jelas bertentangan dengan isi kepalaku saat ini. Ian mendengus. Aku mengabaikannya dengan meneruskan suapan baksoku.
“Kenapa segitunya sih sama Vanya? Dia kan cuma anak pak direktur,” Ian mengaduk-aduk jus alpukatnya.
“Cuma katamu? Gila!”
“Sebenernya apa sih masalahmu? Wanna talk?” desak Ian. Aku menatapnya dengan enggan.
“Nothing. Aku cuma punya firasat nggak enak aja.”
“Dan kamu segitu percayanya sama itu? Vanya udah sebulan di sini, Zang. Dan dia bertingkah normal seperti kebanyakan anak yang lagi penelitian. Dia juga nggak laporan macem-macem ke pak Hendra. It’s just your feeling and it makes you act so weird. Have you talked to Ara?” Ian menanyakan sesuatu yang membuatku terkesiap.
“About what?” tanyaku.
“All of this.”
“No, why would I?” ya, buat apa? Lagipula bagaimana mungkin aku bercerita pada Ara tentang kekhawatiranku yang tidak berdasar ini?
“Karena biasanya dengan kamu cerita ke Ara, kamu jadi bisa lebih tenang menghadapi apa pun,” kata-kata Ian membiusku.
“But it just...”
“Talk to her! Or I’ll be the one who gonna talk to her,” Ian memojokkanku. Membuatku terdiam dan mencerna kata-katanya.
Aku baru sadar jika sejak Vanya datang ‘merepotkan’ kami berdua, intensitasku menelepon Ara juga menjadi jauh berkurang. Yang biasanya sekali dalam tiga hari, menurun menjadi sekali dalam seminggu. Yang biasanya tiga jam dalam sekali telepon—atau bahkan sampai paketanku habis—berubah menjadi hanya satu jam saja. Ini terjadi bukan karena aku tertarik pada Vanya, sama sekali bukan itu penyebabnya. Tapi, ini lebih pada kesibukanku dengan pikiranku sendiri. Menduga yang tidak-tidak sampai tidak sadar sudah mengacaukan hubunganku pelan-pelan. Ian benar. Kupikir-pikir aku memang harus bicara pada Ara.
“Excuse me!” suara yang tak asing membuyarkan pikiranku. Vanya berdiri di samping meja kami dengan membawa beberapa tumpuk kertas yang terlihat merepotkan.
“Hey! Ada apa?” Ian menyapa gadis berkucir kuda itu lebih dulu. Melakukan ramah-tamah yang tidak mungkin diperankan olehku.
“Maaf nih ganggu. Kayaknya aku butuh beberapa data dari tanggal tertentu lagi deh. Teman sekelompokku bilang kalau dosen kami ternyata menambah beberapa detail untuk laporan yang harus kami serahkan.”
“Ah, padahal udah tinggal finishing ya?”
“True! It sucks, right?” tutur Vanya memelas. Aku tertawa.
“Come on! It’s not the end of the world. Ayo! Kutemenin ambil datanya,” aku merapikan kemejaku sambil berdiri. Ian melongo.
“Kamu belum makan siang, kan? Makan siang aja dulu. Biar aku yang nemenin Vanya.”
“Are you sure?” tanya Ian dengan tatapan tak yakin. Yah, aku tahu ini akan terasa aneh karena ini pertama kalinya aku akan berdua saja dengan Vanya. Tapi aku juga tak tega melihat Ian menemani gadis ini dalam kondisi kelaparan.
“One hundred per cent! Nanti kamu nyusul aja kalau udah kelar makan. Yuk!” aku mengedikkan daguku ke arah Vanya. Tanda pamit agar Ian tak lagi banyak bertanya dan sebagai tanda agar Vanya mengikutiku.
Baru beberapa langkah berjalan, kuputuskan untuk mengambil separuh kertas yang dipeluk Vanya dan membawanya dengan sekali genggam. Kutundukkan kepalaku ke arah coretan-coretan tangan di laporannya tanpa ada minat mengajak gadis berwangi melati ini bicara.
“Makasih, Zang,” Vanya bersuara setelah kami berjalan sepuluh menit tanpa suara. Aku menengoknya sekilas tanpa ada keinginan untuk memperlambat langkahku.
“For?”
“Ya karena udah mau nemenin ambil data. Biasanya yang kurepotin masalah gini kan Ian. I can’t even talk to you for a minute cause you always look so busy,” ada nada kesal yang diatujukan padaku.
“I’m not trying to look busy. I AM busy. Tenderku bulan ini bejibun, banyak laporan yang harus aku kerjain juga setelahnya. Dan selama ini Ian masih keliatan fine aja bantuin kamu, jadi kupikir nggak ada yang perlu aku khawatirkan secara berlebih soal data dan tugasmu itu.”
“Iya, sih. Tapi, kadang si Ian kayak bingung gitu mau ngasih data yang mana, kayak takut salah ngasih. Tiap mau nanya kamu, kamu pasti lagi serius banget ngelihat komputer dan akhirnya Ian malah nggak jadi nanya. Ujung-ujungnya beberapa laporan harus aku bawa semua dan aku jadi kerja ekstra buat antisipasi kalau bukan data itu yang dimaksud,” laporan Vanya barusan membuat keningku mengerut.
“Really? He never told me that one.”
“Well, now you know,” Vanya mengangkat bahunya. Aku menghela napas sambil membentuk garis datar pada bibirku.
“Yeah, thank’s to you,” aku mengucapkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh. I mean, kalau dia tidak memberitahuku, Ian pasti akan tetap bersikap begitu sampai kerajaan api menyerang. Kulihat Vanya hanya menyunggingkan senyumnya sebagai tanda terima.
“Eh, Zang! Aku mau kepo dong!” kami berdua baru memasuki ruang arsip ketika pernyataan itu muncul. Aku menelusuri daftar data yang telah dibuat Vanya dan mulai mencari laporan yang bisa kutemukan di dalam kabinet sebelum menanggapinya.
“Kalau kepo bisa bikin hidup kamu tenang, go on then!”
“Even if it’s about your private life? You won’t mind?” Vanya menopangkan dagunya di atas meja. Aku terkekeh.
“Sure. Setidaknya kamu harus janji kalau kamu nggak bakal ngelihatin aku seperti stalker lagi setelah ini,” kali ini pernyataanku yang membuatnya terkejut. Ada rona merah yang menyembul di pipinya yang tirus dan tegas itu.
“Hm? Oh, sorry!!! Kayaknya aku kelewat penasaran deh sama kamu makanya nggak sadar kalau udah jadi stalker,” Vanya membuat tanda kutip dengan kedua tangannya sebagai penegasan di kata terakhir kalimatnya. Mau tak mau aku tertawa lagi melihat tingkah putri direktur di hadapanku ini.
“Just ask, princess!” tanpa sadar aku memanggil Vanya dengan julukan yang biasanya kupakai dengan Ian ketika membicarakan dia. Semoga saja dia tidak mendapati nada sarkastis di ucapanku dan menjadi tersinggung.
“Um...do you have girlfriend?” ah, baguslah. Dia tidak terlihat tersinggung. Meskipun entah kenapa pipinya masih menyemburatkan warna merah muda.
“Menurutmu muka-muka kayak aku begini lebih pantes mana? Jomblo apa punya pacar?” aku balik bertanya sambil mengecek pendingin ruangan yang ternyata sudah di dingin maksimal. Hm, berarti merah di pipi Vanya bukan karena kepanasan.
“Not sure, sih. Tapi, kayaknya lebih cocok punya pacar.”
“Good guess. It is true,” aku meletakkan dua berkas ke atas meja. Masih ada tiga belas berkas lagi yang harus kucari.
“For real? Anak Bandung juga?” sekarang Vanya terdengar lebih excited dari sebelumnya.
“Nope, dia di Malang kok. Di Jatim sana.”
“You must be kidding! Jangan bilang kalau kalian in a long distance relationship stuff?” entah telingaku yang terlalu peka atau apa, tapi aku mendapati ejekan halus di pertanyaan gadis itu. Kulihat wajahnya untuk mengecek dugaanku. Dan ejekan itu memang di sana.
“Yes, we are. Anything wrong with that?” aku mendekapkan tanganku di depan dada. Kali ini aku yang jadi penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
“Of course. You know that kind of relationship is hard and never works.” Vanya berargumen.
“Mm... is it hard? Yes. But it works for us so far.”
“Tapi emangnya kamu nggak curiga apa ke dia? Kali aja kan dia di sana selingkuh kek, atau jalan sama cowok lain, atau apa gitu?” aku tersenyum mengejek mendengar Vanya. Sugesti itu memang masuk akal, tapi hanya untuk kalangan cinta monyet saja. Dan aku, jelas bukan lagi di kalangan remaja labil yang membombardir pacarnya hanya karena hal seperti itu.
“Kalau nurutin mikir yang nggak-nggak sih ya nggak bakal ada abisnya. Lagian kalau sampai curiga dan tetek bengeknya, berarti kamu sendiri yang nggak percaya sama pasanganmu,” aku menarik tiga laporan sekaligus dan sedikit melemparkannya ke meja. Ada napas tertahan yang tak sengaja kutangkap.
“Okay. Jadi, udah berapa lama kalian pacaran?”
“Hm...let’s see! One...two...four years. Kita udah empat tahun ini jalan,” aku terdiam sejenak usai mengatakannya. Baru menyadari jika aku dan Ara sudah sedemikian lamanya bersama.
“Wow! Now you amazed me. Dia kayak gimana orangnya?” Vanya benar-benar memanfaatkan kesempatannya sebaik mungkin. Ketika dia mengatakan private life, aku tak mengira jika dia akan mengorek informasi soal kehidupanku yang ini. Kutumpuk enam map biru di tanganku sembari berpikir jawaban seperti apa yang harus kuberikan pada putri pak direktur ini.
“She is...unbelievable. An angel and a devil in the same soul. And I always end up loving both sides of her,” Ara pasti akan merengut jika tahu aku memanggilnya devil, meskipun dia sadar bahwa dia memang punya sisi liar seperti itu.
“She must be lucky to have you,” samar, tapi aku tahu ada ketidakrelaan dalam intonasi Vanya. Aku menghela napas panjang.
“Well, I’m the lucky one here. She’s the one that makes me want to be great,” ujarku menerawang. Benar, jika bukan karena Ara, aku pasti masih keluyuran di malam hari. Balapan ke sana kemari mencari kepuasan diri. Ugh! Aku jadi sangat merindukannya sekarang.
“Ah,” Vanya mengangguk-angguk pelan. Membuyarkan lamunan sesaatku.
“Oke, princess. Ini semua laporan yang datanya kamu butuhin. Udah aku cek ulang dan seharusnya nggak ada yang salah, sih. Kalau kamu mau kamu bisa aja pakai ruangan ini buat ngerjain ini, tapi terserah kamu aja nyamannya gimana. Any questions left for me?” lagi-lagi semu merah itu tiba-tiba menyembul di pipi Vanya. Anak ini kenapa sih?
“Nope. It’s enough for today,” Vanya geragapan menjawabku.
“Good,” aku dengan bergegas menyahut handphoneku di atas meja. Gadis itu mengikuti gesturku.
“Kamu mau ke mana?”
“Ah, mau telepon Chan aja. Kalau aku telepon di ruangan takutnya kamu keganggu,” aku mengeklik panggilan cepat di layarku dan menempelkannya di telinga. Ada bunyi tut beberapa kali sebelum suara riang pacarku melingkupi perasaanku.
“Chan?” alis Vanya naik sebelah.
“Yep. Babe’s name stuff, Vanya,” kujawab pertanyaan itu secepatnya sebelum kembali berkutat dengan kesayanganku di seberang.
...***...