azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan
makan siang yang kiano rencanakan dengan sarah ternyata berubah, wanita itu mengajak kiano makan malam saja, karena siang itu kiano mendadak harus ketemu klien di luar.
Dan lagi-lagi gagal. Namun mereka tetap pergi, kini mereka berada di sebuah pub milik salah seorang teman kuliah kiano juga.
Yohan, pemilik pub itu adalah teman kiano semasa SMA. Pria tampan berdarah blasteran itu masih melajang, ia duduk menemani kiano dan sarah.
"maaf yah bro, aku tak bisa hadir di pemakaman istrimu"
Kiano yang sudah mengenggam gelas sodanya menggeleng pelan, dengan senyum lembutnya menatap sahabat masa remajanya itu.
"aku juga nggak ngasih kabar apapun padamu kan, santai aja yoo"
Yohan, pria bermata kebiruan itu menatap kiano lekat. Tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada sarah yang duduk di sisi kiano, matanya mengamati wanita itu yang menempel rapat ke tubuh kiano.
"dan apakah nona ini, calon istrimu?" tanyanya memicingkan mata.
Yohan sangat tahu bagaimana kiano, dulu kiano adalah saingan terberatnya di kelas, baik dalam bidang akademik dan juga kegantengannya.
Banyak wanita yang tergila-gila pada mereka saat itu, hanya kiano tidak pernah memanfaatkan ketampanan wajahnya, berbeda dengan dirinya, yohan memang sangat playboy.
Sarah tersenyum senang, kepalanya mengangguk-angguk, namun jawaban kiano membuatnya tercekat.
"aku tak akan menikah lagi yo, cintaku habis pada naima"
Yohan menyadari perubahan wajah sarah, namun dia memilih mengacuhkannya.
"kamu masih bisa minum kan?aku traktir hari ini" ujarnya mengalihkan tatapannya dari sarah ke kiano yang hampir menggeleng.
"aku tahu kian, kamu membutuhkan pelampiasan uneg-unegmu, nanti kalau kamu mabuk aku akan mengantarmu pulang"
Tiba-tiba pria blasteran tampan itu kembali menatap sarah, "dan mungkin nona ini bersedia mengantarkanmu pulang"
Kiano ikut menoleh, menatap sarah yang mengangguk.
"iya mas minum aja, nggak apa-apa kok"
Tanpa menunggu jawaban kiano, yohan memanggil seorang waitress yang berdiri tak jauh dari mereka.
"nikmati malam ini bung, luapkan segala beban di hatimu!"
Yohan menuangkan ke gelas kosong kiano cairan berwarna coklat kemerahan dari botol whisky yang dipegangnya.
"terima kasih" ujar kiano, meraih gelasnya ragu. Namun ia tetap mengendus bau minuman itu, terlihat matanya berbinar.
Walau dia bukan pria pemabuk, namun minuman seperti ini dulu sempat akrab di lidahnya. Yohan sejak menyelesaikan SMAnya sudah menjalankan pub ini sembari kuliah.
Keakraban mereka sudah seperti saudara kandung, mungkin karena kiano anak yatim piatu, dan yohan anak semata wayang.
Kiano juga pernah bekerja paruh waktu di pub ini, minuman ini pernah akrab di lidahnya. Namun setelah berpacaran dengan naima, kiano berubah menjadi lebih baik.
Perlahan kiano mengecap minuman itu lembut, rasa itu menyeruak keras di dalam mulutnya, namun anehnya terasa nikmat.
Matanya menatap yohan yang tersenyum mengangguk,"bagaimana?masih terasa familiar rasanya?"
Kiano terkekeh pelan, namun pria itu tak menjawab, ia menoleh ke arah sarah yang menatapnya lekat.
"oke kian, aku tinggal dulu yah. Kalau kamu butuh sesuatu panggil saja aku"
Yohan berdiri, ia sadar kalau kiano dan wanita di sisinya itu ingin bicara. Tak enak rasanya kalau dia masih tetap di situ menemani mereka.
Kiano mendongak, ia mengangguk tersenyum pada yohan yang beranjak pergi.
"mas"
Kiano menoleh, sarah menatapnya dengan sorot mata penuh cinta.
Tangannya kembali meraih gelas, menyesap isinya dengan nikmat. Tanpa meletakkan gelasnya, kiano kembali menoleh ke arah sarah.
"aku sudah menikah sar"
Sarah terdiam, matanya memicing heran. Seakan tak yakin dengan apa yang didengarnya, jemarinya menyentuh lengan kiano.
"gadis tempo hari yang aku kenalkan sebagai adik ipar, adalah istriku"
"mas" seru sarah terperanjat kaget. Ternyata dirinya tak salah dengar.
"kamu menikahi adik iparmu sendiri?"
"demi rara sar" jawab kiano cepat, kembali dia menyesap isi gelasnya.
"rara butuh ibu, dan hanya gadis itu yang aku yakin tulus mengurus rara"
"tapi aku juga tulus menyayangi rara mas" suara sarah terdengar sendu, matanya menatap kiano kecewa.
"mas kian kan tahu kalau aku menyukai mas kian sejak di bangku kuliah"
"aku tahu sar" sahut kiano cepat, kepalanya mulai terasa ringan, sepertinya pengaruh alkohol mulai mengambil alih kepalanya.
"tapi pernikahanku dengan azalea hanya di atas kertas, sudah 4 bulan kami menikah aku tak pernah menyentuhnya"
Mata sarah kembali berbinar, entah kiano menyadari ucapannya atau tidak. Walau sarah tahu kiano sudah di bawah pengaruh alkohol, dia tahu apa yang pria ini ucapkan barusan adalah kejujuran.
"kenapa mas menikahi gadis itu kalau tak ingin menyentuhnya"
"aku butuh dia untuk membesarkan rara, sar. Aku tak bisa menyentuhnya, dia adiknya naima"
"lantas! Sampai kapan?"
Sarah menatap kiano yang mulai fly, pria itu sudah menuangkan lagi dari botol yang ada di sisi gelasnya.
"aku minta dia bersabar selama 2 tahun ini"
Sarah tersenyum senang, berarti dirinya masih memiliki kesempatan, tiba-tiba jemarinya mengelus lembut lengan kekar yang terlihat seksi itu, lengan kemeja yang di tarik sebatas siku, membuat kiano terlihat sangat jantan dan seksi.
Kiano tersentak, elusan jemari sarah membuatnya meremang. 4 bulan kiano berusaha membunuh hasratnya, ia tak ingin menghianati naima.
Namun elusan jemari lembut sarah membangkitkan keinginan itu lagi, dan mungkin dibantu alkohol yang sudah merasukinya.
Perlahan kiano meraih jemari itu, membawanya ke bibir dan mengecupnya lembut. Sarah tersentak, namun senyuman kemenangan terlihat jelas di wajahnya.
Sarah membiarkan kecupan itu berlanjut, saat kepala kiano terangkat,mata pria itu menatap sayu. Sarah meremang, dia tahu arti tatapan itu.
Perlahan kepala kiano mendekatinya, mata pria itu menatap bibir sarah penuh hasrat. Sarah tahu kiano akan menciumnya, perlahan ia menutup matanya, memberi ijin pria itu menciumnya.
Sesaat ruangan terasa hening, seluruh tubuhnya terasa seperti dialiri ribuan watt listrik. Bibir kiano melumat bibirnya rakus, sarah membalasnya.
Dia sangat menginginkan kiano, saat lidah pria itu mulai membuka paksa mulutnya, sarah dengan sadar malah membalasnya dengan lidahnya juga.
Ciuman itu mulai terasa panas, sarah tidak perduli, walau kiano bau alkohol sungguh dia tak perduli.
"masss" desah sarah, ia meremang saat bibir kiano turun ke lehernya. Tangannya mulai meremas lembut kepala pria itu.
"heummm" terdengar jawaban kiano parau, ia sama sekali tak menghentikan ciumannya dari leher wanita itu.
"jangan di sini, kita ke apartemen aku yuk" bisik sarah dengan suara paraunya, jelas wanita itu juga sudah menginginkannya.
Tiba-tiba mata kiano yang terpejam, terbuka. Mengurai pelukannya di tubuh sarah yang mendesah manja.
"astaga..!" serunya kaget." maafin aku sar"
"masss" sarah yang menatap sayu itu, sedikit terkejut. Saat kiano mengurai pelukannya tadi, apalagi menatapnya dengan terkejut seperti itu, sangat menyakitinya.
Kiano beringsut, menarik tubuhnya sedikit jauh. Sorot matanya terlihat bersalah, ia meremasi rambutnya frustasi.
"maafin aku sar, maafin aku"
Tiba-tiba kiano berdiri," maaf aku tak bisa mengantarmu pulang, kamu naik taksi saja yah"
Sarah terperangah tak percaya, pria itu pergi begitu saja meninggalkannya sendirian seperti orang bodoh.
Bersambung...
.