Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Penting
Clare membuka pesan itu.
Jhon: Apa Bima sudah memberikan kartu itu?
Dadanya langsung panas. Clare meletakkan sendok yang tadi ia pegang.
Clare: Sudah. Bukankah Bima bilang? Anda sedang rapat yang sangat mendesak.
Beberapa detik kemudian.
Jhon: Yeah. Sekarang saya sedang rapat.
Clare mengerutkan dahi. Jempolnya mengetik cepat, sedikit kesal.
"Kenapa dia masih sempat-sempatnya mengirim pesan?" gumamnya
Clare: Lalu mengapa Anda masih punya waktu untuk mengirim pesan ini?
Layar ponselnya hening. Tidak ada centang dua biru. Clare menggigit bibir. Ia hampir menyesal sudah bertanya seperti itu. Kedengarannya seperti anak kecil yang merajuk.
Di ruang rapat Singapura, Jhon duduk di ujung meja panjang. Di depannya, layar proyektor menampilkan grafik yang naik-turun. Para direktur bergantian bicara.
Tapi Jhon tidak mendengar satupun.
Tangannya ada di bawah meja. Ponsel Oren di tangannya ia pegang erat. Jempolnya berhenti beberapa detik di atas keyboard. Ia tahu ini tidak profesional
Tapi nama 'Clare' yang muncul di layar tadi terus mengganggu pikirannya.
Akhirnya ia mengetik.
Mengirim.
Lalu mengunci ponselnya lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.
Jhon: Saya terus terpikir kamu.
Clare terdiam, setelah membacanya
Ia membaca ulang kalimat itu tiga kali. Empat kali
Jantungnya berdebar tidak karuan.
Pipi rasanya panas. Ia buru-buru meletakkan ponsel dan mengambil air putih
"mengapa jantungku berdebar" gumamnya
Clare menarik napas panjang. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Akhirnya ia kirim.
Clare: Dan apa maksud Anda memberi saya sebuah kartu? Apa anda sedang menyindir saya?
Balasan datang cepat.
Jhon: kartu itu sengaja saya berikan untuk kamu habiskan, bukan untuk bermaksud apapun
Jari Clare berhenti di atas layar. Kalimat itu terlalu asing, Terlalu berbahaya untuk diabaikan.
Ia menatap keluar jendela. matahari mulai datang
Clare: tapi kita tidak mempunyai hubungan apapun! Malam itu... Hanya sebuah ketidaksengajaan
Clare mengetik itu cepat namun tangannya menggantung di layar, ragu untuk memencet 'kirim'
jempol Clare tak ingin diam, hingga ia tak sengaja mengirimkan pesannya
Clare panik!
Ia terburu-buru ingin menghapus pesan itu namun Jhon sudah membacanya
Jhon: apa maksudmu mu! Kamu ingin lepas tanggung jawab dariku?!
Pesannya dengan satu emoji kesal
Clare: tapi malam itu atas dasar suka sama suka, tidak ada yang harus bertanggung jawab disini! Dan anda juga pasti sudah mengetahui bahwa saya sudah menikah
Ketik Clare, pasrah. Mengikuti alurnya
pesan terbaca, namun tak ada jawaban
beberapa detik berlalu, balasan Jhon pun muncul
Jhon: jangan bicarakan pernikahanmu dalam pembicaraan kita
Jhon: kamu yang menarik ku ke jurang ini
Jhon: jadi, jangan harap bisa pergi begitu saja!
Clare membaca pesan itu 3 kali. Napasnya tercekat.
Clare: lalu anda mau apa?
Ketik Clare gelisah
beberapa detik berlalu. "sedang mengetik" muncul lalu hilang.
Jhon: mau apa?
Jhon: aku mau kamu.
Jhon: utuh.
Jhon: tanpa alasan, tanpa suamimu, tanpa drama murahanmu.
Jhon: kamu pikir bisa tidur denganku lalu pergi begitu saja?
Jhon: salah besar.
Jhon: dengar baik-baik Clare.
Jhon: kamu itu milikku sekarang.
Jhon: mau kamu nikah 10 kali juga tetap milikku.
pesan terkirim.
centang dua biru.
Clare mematung. Jari-jarinya dingin. Belum sempat ia membalas, beberapa pesan lagi masuk.
Jhon: aku akan pulang langsung malam ini
Jhon: ada gadis kecil nakal yang harus ku urus
Jhon: malam nanti datang ke hotel itu. Sendiri.
Jhon: kalau tidak... aku yang akan datang menjemputmu, ke rumahmu. Dan membuat suamimu tahu
Jhon: dan percayalah, kamu tidak akan suka caraku menjemput.
lalu hening.
Di sisi lain, Jhon melempar ponsel ke meja.
"Brengsek." gumamnya pelan. Di depan banyak orang, mereka semua terkejut
Dadanya naik turun. Ia meremas pangkal hidung. Kesal.Gadis itu pikir bisa lepas begitu saja setelah tidur bersama
Jhon berdiri. Jasnya disambar kasar.
Para pemegang saham di ruangan itu langsung menunduk. Aura membunuhnya membuat semua orang takut
"the meeting is over" ujar Jhon, semua orang pergi membawa dokumen, menunduk
Ruangan kosong mulai kosong
Tapi udara di dalamnya masih panas karena amarah yang ditahan
Ia menatap layar ponsel yang sudah gelap. Jarinya mengetuk meja sekali. Dua kali. Pelan
Di tempat lain, ponsel Clare bergetar beberapa kali, Clare melihatnya pesan yang terus bermunculan
Ia duduk di tepi kasur. Punggung tegak.
Ekspresinya datar. Pasrah
Hening beberapa detik.
Lalu ia bersandar ke dinding dan menutup mata.
"aku sudah berurusan dengan orang yang salah sejak awal..."
gumamnya. Lirih. Hanya untuk dirinya sendiri.
Tidak ada chat balasan. Tidak ada drama.
Ia mengambil ponsel, meletakkannya kembali, lalu menutupnya dengan majalah.
Seakan kalau tidak dilihat, ancamannya tidak nyata.
"jika aku tak menurutinya, apa aku akan mati di tangan mafia sepertinya" bisiknya pelan