NovelToon NovelToon
Plot Twist : I'M The Villainess

Plot Twist : I'M The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: blumoon

Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai

Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!

Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Jadi diri sendiri

Suasana ruang tamu utama kediaman keluarga Lauren mendadak berubah hening dan sarat akan ketegangan yang pekat. Begitu mobil sedan hitam mewah Alex berhenti di pelataran megah rumah tersebut, Alex langsung memberi isyarat dingin namun tegas kepada seluruh jajaran pengawal, pelayan, bahkan anggota keluarga Lauren lainnya untuk mengosongkan area ruang tamu. Tidak ada yang berani membantah atau mempertanyakan perintah dari sang penguasa bisnis HELX CORP itu. Dalam hitungan detik, ruang tamu berukuran luas itu menjadi sepenuhnya steril dari kehadiran orang lain.

Elia memiringkan kepalanya sedikit, menatap sekeliling ruangan yang kini mendadak sepi melompong. Langkah kaki para pelayan yang biasanya meramaikan lorong-lorong rumah seketika lenyap tanpa sisa. Ia membetulkan posisi duduknya di atas sofa kulit empuk bernuansa klasik, lalu melirik pria bertubuh tegap yang kini duduk persis di hadapannya.

"Hel, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ujar Alex membuka pembicaraan. Suaranya rendah, dalam, dan terdengar jauh lebih serius ketimbang percakapan-percakapan mereka sebelumnya.

"Apa itu?" tanya Elia seraya menaikkan sebelah alisnya. Ia mencoba tetap memasang raut wajah santai, meski dalam hati kecilnya rasa penasaran dan cemas mulai merayap pelan.

Alex menatap lurus ke dalam manik mata Elia, mengunci pandangan gadis itu tanpa memberikan celah sedikit pun untuk berpaling. "Mana diri kamu yang sebenarnya?" tanya Alex lugas.

Pertanyaan singkat itu menghantam Elia bagaikan kejutan listrik mendadak. Jantungnya berdesir heboh—Deg! Ia berusaha menjaga kontrol emosi di wajahnya agar tidak tampak goyah atau panik.

"Maksudnya?" jawab Elia bingung, membalas tatapan Alex dengan pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan tersebut.

Bukannya langsung menjawab, Alex merogoh saku dalam jas mewahnya. Pria itu mengeluarkan sebuah tempat rokok perak berukir elegan serta sebatang rokok aromatik. Sebelum menyalakannya, Alex menatap Elia dengan pandangan meminta kepastian.

"Boleh?" ujar Alex menunjukkan sebatang rokok di jemarinya, meminta izin pada Elia secara sopan.

"Ya udah—" sahut Elia refleks, memotong kalimatnya dengan nada acuh tak acuh khas gaya bicaranya sehari-hari.

Alex menghentikan gerakan jemarinya yang hendak memantik api. Pria itu menyunggingkan ukiran senyum yang sangat tipis—hampir tak terlihat—lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.

"Nah, itu. Terkadang kamu terlalu santai, namun terkadang kamu juga begitu formal," jelas Alex seraya menatap Elia lekat-lekat. "Helena, saya harap saat bersama saya kamu memilih jadi diri kamu sendiri, bukan berpura-pura menjadi wanita kalangan atas yang kaku."

Elia membeku di tempatnya. Hembusan napasnya tertahan sejenak di tenggorokan. Penjelasan Alex barusan seolah menembus topeng yang selama ini berusaha ia kenakan sejak jiwa Elia bertransmigrasi ke dalam tubuh Helena Evangelin Lauren. Poin ketiga dalam surat perjanjian pra-nikah tadi siang—Pihak Pertama dan Kedua wajib menjadi diri sendiri—seketika terngiang kembali di pikirannya dengan kejelasan yang sangat nyata.

‘Oalah... jadi dari tadi ini poin maksudnya si om-om?! Dia nyadar gue sering gonta-ganti gaya bicara?!’ jerit Elia pasrah dalam hatinya. Ia meremas pinggiran gaunnya pelan, merasa sedikit terpojok namun juga merasa heran akan kepekaan Alex yang begitu tajam.

"Emmm..." Elia tampak bingung ingin menjawab apa. Bibirnya terkatup rapat, kehilangan kata-kata tengil yang biasanya sangat lancar meluncur dari mulutnya.

Melihat ekspresi canggung dan kebingungan yang membias jelas di wajah Elia, Alex memutuskan untuk tidak menekan calon istrinya lebih jauh. Pria itu menyimpan kembali rokoknya tanpa sempat menyalakannya, menghormati keberadaan Elia di ruangan tersebut.

"Lupakan itu, Hel. Kamu tahu Leila?" ujar Alex mengalihkan topik pembicaraan secara mulus, membawa percakapan mereka ke arah yang tak kalah penting.

Mendengar satu nama kunci dari alur novel original tersebut, binar mata Elia seketika berubah cerah. Rasa canggung yang tadi menyelimuti dadanya mendadak menguap, digantikan oleh naluri antusiasme yang membara.

"Aku tahu! Dia wanita yang dicintai Arton, kan?" jawab Elia cepat, tidak sanggup menyembunyikan rasa tahunya.

"Ya. Wanita itu ada di kota ini," kata Alex datar, menatap reaksi Elia yang berubah seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik.

"Benarkah?!" tanya Elia antusias. Tubuhnya bahkan refleks maju sedikit mendekati meja kaca di antara mereka. Matanya berbinar-binar penuh minat, seolah baru saja mendapatkan kabar paling mendebarkan tahun ini.

‘Gila! Tokoh utama wanita asli novel ini ternyata udah ada di kota yang sama! Ini artinya plot utama antara Arton dan Leila bakal segera dimulai!’ batin Elia bersorak heboh. Sebagai orang yang tahu nasib tragis karakter Helena di buku asli jika terlibat cinta segitiga dengan Arton, kabar keberadaan Leila adalah berita angin segar yang sangat ia tunggu-tunggu.

"Tapi mereka belum bertemu," lanjut Alex menuntaskan kalimatnya, mematahkan sedikit Euforia di kepala Elia.

Elia tertegun sejenak, mengedipkan matanya beberapa kali. "Hah? Belum bertemu? Kenapa bisa?"

Alex menghembuskan napas pendek, melipat kedua tangannya di atas paha. "Leila baru saja pindah dan bekerja di salah satu properti bisnis besar di pusat kota. Keberadaannya sangat tenang dan terisolasi dari jangkauan Arton untuk saat ini. Arton sendiri masih sibuk mencari keberadaan wanita itu tanpa tahu bahwa Leila berada sangat dekat dengan jangkauan radar keluarga Veradoux."

Elia mengangguk-angguk paham, jemarinya mengetuk-ngetuk dagunya pelan seraya memproses seluruh informasi penting tersebut. ‘Pantas aja... Leila kan kerja jadi staf di Hotel Azure yang megah itu! Pantesan Arton belum nemu, wong Leila-nya lagi fokus kerja keras bertahan hidup!’

"Terus... kenapa Kamu memberitahu aku soal ini, Alex?" tanya Elia menatap Alex penuh rasa ingin tahu. "Maksud aku, bukannya hal ini berhubungan sama Arton? Kenapa kamu malah cerita ke aku?"

Alex memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara mereka di atas meja kaca. Aura penuh perlindungan dan ketegasan menguar nyata dari sepasang mata elangnya.

"Saya memberitahu kamu karena saya ingin kamu tetap berada di jalur aman, Helena," ujar Alex rendah namun sarat akan penekanan. "Saya tahu kamu selalu berusaha menghindari Arton. Dengan mengetahui bahwa Leila sudah ada di kota ini, saya ingin kamu paham bahwa fokus Arton sebentar lagi akan sepenuhnya teralih. Kamu tidak perlu khawatir lagi akan diganggu atau diseret ke dalam urusan pria itu."

Elia tersenyum lebar, rasa lega yang amat sangat merekah hangat di dalam dadanya. Perhatian dan kalkulasi Alex yang begitu matang selalu berhasil membuatnya merasa aman dan terlindungi.

"Wah... kalau gitu ini berita bagus banget sih!" seru Elia tanpa sadar kembali menggunakan aksen kasualnya. "Bagus deh kalau mereka belum ketemu, tapi makin cepat mereka ketemu makin bagus juga buat gue—eh, maksudnya buat aku! Biar Arton gak keluyuran gak jelas lagi!"

Alex menahan kedutan di sudut bibirnya melihat perpindahan gaya bicara Elia yang terbolak-balik antara 'aku' dan 'gue'. Pria itu tidak marah, melainkan merasa terhibur melihat kepolosan dan kejujuran sikap calon istrinya tersebut.

"Ingat poin ketujuh di perjanjian kita," tegas Alex mengingatkan. "Kamu tetap dilarang berinteraksi dengan Arton lebih dari sepuluh menit tanpa dampingan saya, terlepas dari fakta bahwa Leila sudah ada di kota ini."

Elia memutar bola matanya jenaka seraya terkekeh pelan. "Iya, iya, Paman—eh, Alex! Tenang aja! Lagian siapa juga yang mau ngobrol sama Arton? Ogah banget! Mendingan gue makan kue mochi atau jalan-jalan ke mall daripada melayani omongan Arton yang sok ganteng itu!"

"Bagus kalau kamu paham," balas Alex tenang. Pria itu berdiri dari sofa, merapikan kancing jas mewahnya dengan gerakan yang sangat rapi dan elegan. "Saya harus kembali ke kantor Veradoux Corporation untuk mengurus beberapa dokumen penting, termasuk menyelesaikan pembalasan untuk wanita bergaun merah di parkiran tadi."

Mendengar kata 'pembalasan', Elia tersenyum jahil. "Langsung banned total dari kota nih ceritanya?"

"Tentu. Saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan saya," jawab Alex datar namun penuh dominasi. Pria itu melangkah mendekati Elia, mengulurkan tangannya dan mengusap pucuk kepala Elia dengan sangat lembut untuk kesekian kalinya. "Istirahatlah. Jangan melakukan hal-hal konyol yang memicu serangan panikmu lagi."

"Iya, tenang aja! Jantung gue udah aman kok!" sahut Elia seraya mengacungkan jempolnya penuh percaya diri.

Alex menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah ajaib calon istrinya itu. Setelah berpamitan secara singkat, pria bertubuh tegap itu melangkah keluar dari ruang tamu kediaman Lauren. Begitu Alex menghilang di balik pintu utama dan suara deru mesin mobil mewahnya terdengar menjauh, suasana rumah keluarga Lauren perlahan-lahan kembali hidup seperti semula.

Para pelayan dan pengawal mulai berlalu-lalang kembali di lorong-lorong rumah, sementara Elia menyandarkan tubuhnya sepenuhnya ke sofa, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat melegakan.

‘Dunia multiverse ini emang makin acak-adut, tapi setidaknya gue udah pegang kartu AS!’ batin Elia tersenyum puas seraya memandangi cincin berlian yang melingkar cantik di jari manisnya. ‘Leila udah di kota ini, Arton tinggal tunggu waktu buat ketemu, dan gue... tinggal duduk manis menikmati kekayaan dan perlindungan dari om-om sultan bernama Alex Veradoux ini! Perfect!’

Bersambung 🫰🏻🤗

1
Arni Arlinawati Pratiwi💃
akhirnya isekai melanda kamu nak elia.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
gak ada baca novel sampe gadang.. salah anda itu mah! 😅
Arni Arlinawati Pratiwi💃
mencerminkan kita semua para pembaca..
Arni Arlinawati Pratiwi💃
itu dia maksud emak! 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
berarrti harus senggol author nya.. emak sembur bunga 7 rupa dong elia! /Curse/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
heh.. karakter apaan kek gitu, kalo emak yang baca juga emak lempar buku nya.. abis sama emak author nya! umpatan emak keluar semua!!! 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
ya kaya emak sama kalo baca novel, kayak kamu nak elia.. suka baperan, 🗿
Tamaa
lu siapa kira pede banget, harus banget gitu setiap orang harus terpesona ngeliat lu
Cimol krispy
bahkan selama ini yang bikin Leila nggak bisa kamu temukan dimana² itu ya pamanmu itu Arton
Cimol krispy
sekebal²nya sama hukum, tapi ya nggak terang²an didepan umum juga kalo mau nyulik orang
Aquarius97 🕊️
beruntung banget, ada Arumi yang perhatian.. langka banget loh Lei orang kaya Arumi
Aquarius97 🕊️
bukan gara-gara pusing sebenarnya, tapi pucat gara2 kaget ketemu cintanya wkwk
Myz Pena
elleh malah minta tolong sama alex.. kamu lakuin aja sendiri 🤧
Myz Pena
hiii ngerinya 🤧
Myz Pena
ini om alex kah 🤭🤣
ginevra
eila emang cewek tangguh amat ya...
ginevra
jeng jeng jeng!!!! cepetan cepetan tancap gass
ginevra
peka banget deh om alex, cepatan om!!! keburu jauh orangnya
Putry Chan
aku setuju! mkanya Arton nekat batalin. lebih baik malu sebentar di depan umum dari pada menderita seumur hidup
Kartika Candrabuwana
wah dengan penampilan seperti itu... paling iri dengan elia karena kalah cantik. j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!