Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019
Sahabat Lama
Pintu mobil menutup dengan bunyi pelan.
Louisa duduk di kursi penumpang, memeluk tote bag di pangkuannya. Mug jeruk di dalam tas sudah berhenti berbenturan, tetapi telapak tangannya masih terasa seperti memegang tepi meja kantor. Dingin. Kaku. Seolah tubuhnya belum percaya bahwa ia benar-benar sudah turun dari gedung itu.
Nathanael tidak langsung menyalakan mobil.
Ia hanya mengambil botol air mineral dari konsol tengah, membuka segelnya, lalu menyerahkannya kepada Louisa.
"Minum dulu."
Louisa menoleh. "Kamu tahu aku belum makan?"
"Aku lihat kamu keluar bawa tote bag, bukan lunch bag."
Jawaban itu terlalu datar untuk disebut perhatian, tetapi justru karena datar, Louisa tidak tahu harus menolak dengan alasan apa. Ia menerima botol itu, meneguk dua kali, lalu baru sadar tenggorokannya perih.
"Aku bisa pulang sendiri tadi," katanya pelan.
"Bisa."
Nathanael memasang sabuk pengamannya. "Tapi hari ini kamu sudah cukup banyak melakukan hal sendiri."
Louisa menggenggam botol itu lebih erat. Di luar kaca, lobby Tanuwijaya Group masih memantulkan lampu senja dan orang-orang yang pulang kerja. Nama gedung itu tidak berubah. Pintu putarnya terus berputar. Hidup orang lain tetap berjalan seperti biasa.
Hanya langkahnya yang bergeser.
"Pulang?" tanya Nathanael.
Louisa mengangguk.
Mobil bergerak meninggalkan drop-off PIK tanpa tergesa. Tidak ada pertanyaan tentang Kevin. Tidak ada kalimat besar tentang keberanian. Nathanael hanya menyalakan AC lebih rendah, lalu mengambil kantong kertas kecil dari kursi belakang.
"Roti. Makan setengah juga nggak apa-apa."
Louisa menatap kantong itu.
Nama bakery di labelnya berasal dari rute yang tidak mungkin dilewati kalau seseorang hanya kebetulan menjemputnya.
Ia membuka kantong itu. Aroma butter hangat naik pelan, menabrak hidungnya bersama rasa lelah yang tiba-tiba punya tempat jatuh.
"Terima kasih," katanya.
"Hm."
Nathanael menatap jalan. Tangannya tenang di setir. Begitu tenang sampai Louisa hampir percaya bahwa keluar dari Tanuwijaya Group memang bukan akhir dunia.
Besok paginya, orang pertama yang benar-benar mengguncang ketenangan itu bukan Kevin.
Melainkan Jason Halim.
Jason datang ke Equity Tower pukul sepuluh lewat dua belas menit dengan kemeja lengan digulung, kopi dingin di tangan kanan, dan wajah seseorang yang sudah terlalu sering ditolak janji makan siang oleh sahabat sendiri.
"Pak Jason, Pak Nathanael sedang call dengan Singapura," kata Tiffany begitu melihatnya masuk ke area resepsionis lantai PT Nusatek Mandiri.
Jason berhenti di depan meja Tiffany. "Tif, gue sudah kenal dia dari zaman kos UI. Kalau dia bilang call Singapura, biasanya artinya dia lagi menghindari manusia."
Tiffany menahan senyum profesional. "Kali ini benar call, Pak."
"Dia menghindari manusia sambil call Singapura."
"Kemungkinan itu juga ada."
Jason menunjuk Tiffany dengan gelas kopinya. "Nah, jujur kan."
Tiffany tertawa kecil, lalu menunduk pada tablet di depannya. "Pak Nathanael selesai sekitar lima belas menit lagi. Bapak mau tunggu di lounge?"
"Mau ganggu di ruangannya."
"Pak Nathanael minta tidak diganggu."
"Dia juga dulu minta gue nggak ganggu waktu dia pura-pura belajar statistik, padahal buka akun Instagram orang. Permintaan dia tidak selalu masuk akal."
Jari Tiffany yang sedang menggeser jadwal berhenti sepersekian detik. Terlalu singkat untuk orang biasa, tetapi cukup jelas untuk Jason yang sudah bertahun-tahun membaca ekspresi orang kantor.
Ia menyipitkan mata. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Tif."
"Saya tidak punya kewenangan menjawab gosip pribadi Pak Nathanael."
Jason langsung meletakkan kopinya di meja resepsionis. "Wah. Kalimat begini artinya ada bahan."
Tiffany mengangkat kedua tangan. "Saya hanya staf."
"Staf yang tahu semua rahasia logistik hidup dia. Jadwal meeting, flight, makanan, nomor notaris, sampai dia kalau sakit minum obat atau cuma pura-pura kuat."
"Saya tetap hanya staf."
Di layar tablet Tiffany, notifikasi kalender muncul sebentar sebelum ia sempat menutupnya.
Ambil hard copy akta nikah, Catatan Sipil Jaksel, Jumat 14.00.
Jason membaca cepat. Matanya turun ke baris peserta internal.
Pak Nathanael. Bu Louisa.
Udara kantor yang dingin tiba-tiba terasa salah suhu.
"Bu siapa?" tanya Jason.
Tiffany menutup tablet itu dengan gerakan halus. "Pak Jason, saya rasa Bapak sebaiknya tanya langsung ke Pak Nathanael."
"Bu Louisa siapa?"
"Saya tidak bisa menjawab."
"Tif, lo baru saja menyuruh gue tanya langsung. Itu artinya gue boleh panik."
"Saya tidak bilang begitu."
"Mata lo bilang begitu."
Tiffany menatapnya dengan wajah datar yang terlalu rapi. "Mata saya tidak tercatat dalam SOP."
Jason mengambil ponselnya. Jempolnya langsung membuka WhatsApp dan mencari nama Stella.
Jas:
Stel, jawab cepat. Nath punya siapa?
Stella:
Punya Tuhan, punya Engkong, punya saham mayoritas. Konteks?
Jas:
Bu Louisa.
Balasan Stella datang setelah jeda empat detik.
Stella:
Oh.
Jason menatap satu kata itu seperti orang menatap alarm kebakaran.
Jas:
OH APA?
Stella:
Kalau kamu sudah di kantor, jangan teriak terlalu keras. Kaca ruang Ko Nath mahal.
"Ya ampun," gumam Jason.
Tiffany pura-pura tidak mendengar.
Pintu koridor eksekutif terbuka tidak lama kemudian. Nathanael keluar sambil menutup panggilan di earbud. Kemejanya rapi, wajahnya tenang, dan ekspresinya tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa hidupnya baru saja meledakkan saraf seorang sahabat lama.
"Jas," katanya. "Kamu datang nggak bilang."
Jason memasukkan ponsel ke saku dengan gerakan pelan yang sama sekali tidak cocok dengan wajahnya. "Gue harus bilang dulu sekarang? Sejak kapan?"
"Sejak kamu biasanya datang untuk minta makan siang gratis."
"Biasanya lo juga nggak punya jadwal ambil akta nikah."
Tiffany menunduk sangat cepat. Kali ini bahunya benar-benar bergerak, menahan tawa atau takut, Jason tidak peduli.
Nathanael berhenti.
Tidak banyak. Hanya satu langkah yang tertahan. Namun bagi Jason, itu lebih dari cukup.
"Masuk ruanganku," kata Nathanael.
"Oh, jadi benar?"
"Jas."
"Jangan pakai nada CEO ke gue. Gue pernah lihat lo demam pakai selimut biru pudar di kos Depok."
Beberapa staf di area luar langsung menunduk ke laptop masing-masing. Suasana kantor berubah menjadi terlalu rajin.
Nathanael menatap Jason selama dua detik, lalu berkata lebih pelan, "Masuk dulu."
Jason mengikutinya ke ruang kerja. Begitu pintu tertutup, ia tidak lagi menahan suara.
"Nath, gue baru pergi ke Surabaya tiga minggu, bukan koma tiga tahun."
Nathanael berjalan ke mejanya, mengambil map hitam, lalu meletakkannya di laci tanpa tergesa. Justru ketenangan itu membuat Jason makin ingin mengguncang bahunya.
"Lo mau kopi?" tanya Nathanael.
"Gue mau penjelasan."
"Duduk."
"Jangan alihkan."
"Kamu berdiri di depan pintu seperti mau demo."
"Karena mungkin memang harus demo!"
Nathanael menghela napas kecil. Bukan napas kesal. Lebih mirip orang yang sejak awal sudah tahu momen ini akan datang, hanya belum menentukan kalimat pembuka yang paling sedikit menimbulkan kerusakan.
Jason melihat itu.
Dan sesuatu di dalam dadanya bergerak dari kaget menjadi curiga.
"Tadi Tiffany tulis Bu Louisa." Suaranya turun setengah nada. "Louisa yang mana?"
Nathanael tidak menjawab cepat.
Jason langsung tahu.
Ia mundur satu langkah, telunjuknya mengarah ke Nathanael, lalu mulutnya terbuka tanpa suara selama hampir dua detik.
"Jangan bilang," katanya.
Nathanael tetap diam.
"Louisa Hartono?"
Nama itu jatuh di antara mereka seperti benda lama yang selama ini disimpan di laci terkunci.
Nathanael akhirnya mengangkat mata.
"Iya."
Jason memejamkan mata. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu tertawa pendek sekali, bukan karena lucu, melainkan karena otaknya menolak bekerja dengan normal.
"Oke. Oke, tunggu." Ia membuka mata lagi. "Lo menikah sama Louisa Hartono?"
"Iya."
"Louisa yang itu?"
"Kalau maksudmu Louisa yang sama, iya."
"Yang dari UI?"
"Iya."
"Yang dulu bikin lo ikut kelas seni rupa padahal jurusan lo bukan itu?"
Rahang Nathanael mengeras tipis.
Jason menunjuk ekspresi itu seperti menemukan bukti kriminal. "Nah! Gue tahu!"
"Jas."
"Nggak. Jangan Jas-Jas gue dulu."
Nathanael diam.
Jason menarik napas panjang, tetapi napas itu tidak cukup. Ia memutar tubuh sekali, menatap rak buku, menatap sofa, menatap jendela SCBD, lalu kembali menatap Nathanael yang masih berdiri seolah pernikahan mendadak adalah agenda rapat biasa.
Di laci meja itu mungkin ada akta nikah. Di kalender Tiffany ada jadwal Catatan Sipil. Di ponsel Stella ada balasan yang terlalu santai. Semua orang di keluarga Susanto tampaknya sudah tahu, sementara dia, sahabat yang dulu tidur di ranjang atas kos Nathanael, baru mendapat kabar dari notifikasi tablet sekretaris.
Pengkhianatan sosial ini tidak bisa diterima.
Jason menunjuk dada Nathanael.
"Kamu nikah?! KAPAN?!"