Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA PAPAN DAN NAMA
Pagi itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Aleta dan Viana turun sambil membawa beberapa kantong berisi buah-buahan.
Ting... Tong...
Bel pintu berbunyi.
Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Seorang wanita paruh baya tersenyum hangat menyambut keduanya.
"Wah, datang juga kalian."
"Selamat sore, Tante," sapa Aleta dan Viana hampir bersamaan.
"Sore juga. Masuk, Nak," sambut Lily, ibunya Aura.
"Iya Tan."
Keduanya melangkah masuk lalu menyodorkan beberapa kantong plastik berisi buah-buahan kepada Lily.
"Eh, kok bawa buah segala?" tanya Lily sambil menerima kantong yang dibawa Aleta.
"Sedikit oleh-oleh buat Tante sama Om," jawab Aleta singkat. Membuat Viana langsung menyenggol pelan lengan Aleta sebelum tersenyum jahil.
"Hehe... Tante, aku sama Aleta ke sini mau culik anak Tante."
Wanita itu langsung tertawa, "Ada-ada aja kamu ini."
Viana ikut terkikik.
"Kalian duduk aja ya, Aura masih siap-siap di kamarnya."
Keduanya mengangguk. Viana melihat sekelilingnya. Hingga matanya berhenti ke arah lorong yang mengarah ke kamar mandi.
"Loh, Tante... Kenapa habis lahiran nggak bilang-bilang sih?"
"Hah?" Wanita yang sedang mengeluarkan buah-buahan itu tampak bingung.
"Oh, itu bukan anak Tante," ucap Lily sambil menaruh buah-buah tadi ke kulkas.
"Itu sepupunya Aura. Namanya Dania, umurnya lima tahun. Mamanya lagi ke luar kota, jadi sementara dititip di sini," jelasnya.
"Oh..." Viana mengangguk pelan. "Kenapa nggak diajak sekalian, Tan?"
"Dania udah cukup besar kok buat ditinggal sebentar sama mamanya."
Viana tampak semakin bingung.
"Perasaan... yang tadi kelihatan masih sekitar dua tahunan deh..."
Saat itu juga, Aura keluar dari kamarnya.
"Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Aura.
Viana langsung menunjuk ke arah lorong.
"Itu tuh, anak kecil yang tadi merangkak ke arah kamar mandi."
"Anak kecil?" Aura mengernyit.
"Iya."
"Siapa?"
"Kata Tante Lily sepupu lo, Au."
"Loh..."
"Dania kan masih tidur di kamar gue," ucap Aura, menyebut nama sepupunya.
Mama Aura langsung ikut heran. Mata Aura langsung membesar begitu menyadari sesuatu.
"Vi..."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Aura buru-buru menarik tangan Aleta dan Viana dan membawa mereka keluar.
"Ta, kita berangkat sekarang."
"Loh?" Viana masih tampak kebingungan, "Ga pamit dulu?"
"Eh iya ya."
Ketiganya lalu kembali ke ruang tamu.
"Tante... kami pamit dulu."
Aleta dan Viana bergantian mencium punggung tangan ibunya Aura.
"Aku pergi dulu ya, Ma," pamit Aura, lalu mencium punggung tangan dan kedua pipi ibunya.
"Kalian mau kemana sih? Kok pagi-pagi udah berangkat aja. Mama kira kalian santai-santai dulu di sini nunggu siang."
"Kami mau ziarah ke makam teman, Ma."
"Benar, Tan. Tempatnya lumayan jauh. Makanya berangkat dari sekarang. Biar sampainya masih siang. Kalau sore atau malam serem," jelas Viana.
Mendengar itu, Lily hanya terkekeh pelan.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya."
"Iya Tante..."
"Iya Tan..."
"Iya Ma..."
Vroomm....
Sedan hitam milik Aleta perlahan meninggalkan area apartemen.
Beberapa menit pertama, suasana di dalam mobil dipenuhi obrolan ringan. Aura yang kini duduk di kursi pengemudi akhirnya memecah keheningan.
"Vi..."
"Hm?"
"Yang lo lihat tadi... kemungkinan besar bukan Dania."
Viana menoleh, "Lalu?"
Aura mengembuskan napas pelan.
"Gue yakin itu hantu."
Viana spontan memeluk kedua lengannya sendiri.
"Jangan bercanda, Au."
"Gue nggak bercanda. Jelas-jelas Dania tadi tidur di kamar pas gue lagi siap-siap."
Buluk kuduk Viana seketika meremang. Ia menatap ke luar jendela tanpa sadar. Bayangan balita yang tadi dilihatnya kembali terlintas di kepalanya.
"Lo belum bisa bedain yang mana hantu dan mana yang benar-benar manusia, Vi?"
"Belum."
"Mungkin karena belum terbiasa," ucap Aleta.
"Yahh... Mungkin aja," sahut Aura.
Perjalanan menuju pemakaman memakan waktu berjam-jam. Mereka bergantian mengemudikan mobil agar tidak terlalu lelah.
Sesekali berhenti di rest area untuk membeli minuman, lalu kembali melanjutkan perjalanan hingga kota perlahan berganti menjadi hamparan pepohonan dan jalanan yang lebih lengang.
Tak jauh dari gerbang pemakaman, Aleta menghentikan mobil di sebuah toko bunga. Mereka membeli lima buket bunga. Aleta memilih bunga lili putih. Aura membawa anyelir putih.
Untuk Leo, mereka memilih mawar putih. Untuk sahabat lainnya, krisan putih. Sedangkan Viana, ia memilih bunga matahari. Katanya untuk mencegah mereka menangis setelah sampai di sana.
Begitu memasuki area pemakaman...
Ketiganya mematung. Viana yang sejak tadi berceloteh pun ikut terdiam.
Rumput di sekitar lima makam itu dipotong rapi. Tak ada daun-daun kering yang berserakan. Bahkan bunga-bunga lama yang telah layu pun sudah diganti. Seolah ada seseorang yang rutin datang merawatnya.
"Masih ada yang mengingat kita ternyata..." gumam Aura lirih.
"Padahal sudah belasan tahun berlalu," jawab Viana.
Ketiganya mendekat. Mereka berjongkok perlahan, lalu meletakkan buket bunga di depan nisannya masing-masing.
Viana kembali berdiri, lalu meletakkan dua buket bunga di depan nisan Leo dan Luna yang bersebelahan. Matanya tak lepas memandangi dua nama yang begitu dikenalnya.
Air matanya mulai menggenang, namun ia segera menghapusnya dan menahan diri untuk tidak menangis.
"Kangen..." gumamnya.
Tapi ga boleh sedih, apalagi kalo nangis. Aleta ga suka air mata. Bisa-bisa aku di kick dari circle.
Viana berusaha tersenyum dan memikirkan hal-hal yang tidak akan membuatnya sedih. Begitu juga dengan Aleta yang tidak ingin terlihat rapuh dan lemah di hadapan teman-temannya.
"Hiks.... Kangen kalian..." isak Aura, membuat Aleta dan Viana yang sejak tadi menahan diri pun saling berpandangan.
"Au? Ini benaran lo?" tanya Viana heran.
"Kalian berdua kenapa sih? Kalo mau nangis ya nangis aja. Ga usah ditahan," marah Aura.
"Mereka bertiga itu kita," lirihnya pelan, sambil menunjuk nisan milik Anneta, Naura, dan Viona.
"Dan mereka berdua," ia lalu menunjuk makam Leo dan Luna, "Mereka berdua adalah teman kita. Wajar kita sedih, karena sampai sekarang kita belum tahu apa yang terjadi pada mereka. Kita gak tahu apakah mereka juga mengalami hal yang sama dengan kita."
"Please guys, normalisasi kan orang menangis di depan makam. Menangis bukan berarti kita lemah."
"Hiks..."
Aura tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Lututnya terasa lemas, membuatnya berlutut di depan lima makam itu. Seorang Aleta yang biasanya tegar pun akhirnya ikut menangis. Viana juga tak lagi berusaha menahan air mata.
"Sorry..." lirih Aleta, lalu ikut berlutut dan memeluk Aura dari samping.
"Au..." panggil Viana, lalu berlutut di samping Aura dan ikut memeluknya.
Mereka menangis sejadi-jadinya sampai tidak sadar jika hari sudah mulai petang.
Hingga akhirnya, Aleta berdiri lebih dulu, lalu diikuti oleh Aura dan Viana. Mereka bertiga berdiri dalam keheningan. Di hadapan lima makam, masing-masing tenggelam dalam rindu yang sama. Rindu kepada orang-orang yang pernah memenuhi hidup mereka, tetapi kini hanya bisa ditemui melalui doa dan kenangan.
"Thanks ya Ta. Udah cariin makam kita," ucap Viana, sambil tersenyum lebar.
"Hmm."
"Dah, yuk pulang. Udah malam," ajak Aura.
Ketiganya pun pergi setelah berpamitan. Meski tidak ada jawaban yang mereka dapatkan.
Sesampainya di dalam mobil, Viana menghembuskan nafas lega. Aura yang sejak tadi menunda untuk bertanya pun akhirnya membuka suara.
"Vi," panggil Aura.
"Iya?"
"Lo kan indigo, tadi ada lihat Leo sama Luna ga?" tanya Aura.
"Lah iya ya. Kok tadi ga ada ya? Padahal makam-makam sebelumnya ada. Mau ngomong tapi takut diikuti sampai rumah," ucap Viana.
"Lo gabisa lihat kita, Vi?" tanya Aleta, bak orang bodoh.
"Gabisa Ta. Kan jiwa kita di sini," jawab Viana.
"Oh."
...****************...
Hari Senin.
Seluruh siswa SMA Alexander School berbaris rapi di lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Matahari pagi yang seharusnya terasa hangat justru berubah menyengat.
Belum setengah upacara berlangsung, beberapa siswa sudah mulai mengipas-ngipas wajah menggunakan topi. Sebagian lainnya sibuk mengelap keringat yang terus bercucuran.
Begitu juga dengan Viana, ia menatap langit dengan wajah pasrah.
"Kenapa panas banget sih..." gumamnya pelan.
Aura yang berdiri di sampingnya hanya menahan tawa.
"Kemarin hujan, sekarang balas dendam."
Aleta tetap berdiri tegak tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.
"Upacara selesai, barisan dibubarkan!"
Suara pembina upacara akhirnya terdengar. Seolah mendapat kebebasan, para siswa langsung membubarkan barisan.
"Astaga..." keluh Viana sambil mengibaskan dasi di depan wajahnya.
"Gue resmi matang."
"Lebay." Aura terkekeh.
"Serius. Kalau lima menit lagi, Gue rasanya bisa berubah jadi ayam bakar."
Aleta menggeleng kecil, melihat tingkah sahabatnya yang absurd
"Ayo ke kantin!" ajak Viana.
"Lah gak ke kelas?" tanya Aura.
"Bu Mega ga masuk Au. Biasalah guru Bahasa Indonesia," sarkas Viana.
"Beda lagi kalau guru Bahasa Inggris ya?" ucap Aura, terkekeh.
"Guru Bahasa Inggris mah sebelas duabelas ama guru Matematika. Untung gue pandai bahasa asing," sombong Viana.
"Yuk ke kantin, Ta! Gue butuh es teh." Viana berjalan lebih dulu menuju kantin.
Beberapa menit kemudian...
Ketiganya pun akhirnya tiba di kantin. Entah mengapa kantin terasa lebih ramah dari biasanya. Beruntung, meja langganan mereka masih kosong.
"Selamat!" seru Viana senang.
"Loh... Meja lain penuh semua?" Aura ikut menoleh.
Dan benar saja, hampir seluruh meja telah terisi. Bahkan beberapa siswa terpaksa makan sambil berdiri.
Tak lama kemudian...
Dua sosok berjalan memasuki kantin. Keira dan Ravian. Keduanya berhenti sejenak, memperhatikan keadaan sekitar.
"Kayaknya penuh semua," gumam Keira.
Ravian mengangguk pelan. Tatapannya kemudian jatuh ke meja Aleta, Aura, dan Viana.
"Di sana masih ada kursi." Tanpa banyak bicara, Ravian melangkah lebih dulu. Keira mengikutinya dari belakang.
"Permisi," sapa Keira sopan.
"Kami boleh gabung?" tanyanya lagi.
Viana menoleh ke Aura, sementara Aura menoleh ke Aleta. Aleta hanya mengangkat bahu pelan.
"Terserah," ucapnya acuh tak acuh.
"Silakan," ucap Aura mempersilakan.
"Thanks." Ravian menarik salah satu kursi yang kosong, lalu duduk tepat di hadapan Viana. Sementara Keira memilih kursi di sebelah Ravian.
Sesaat...
Tak ada satu pun yang berbicara. Suasananya mendadak canggung.
"Eumm... Guys gue... Pesan es teh dulu ya," ucap Viana, menggeser kursinya lalu berdiri.
"Gue sama Aleta nitip, kayak biasa," ucap Aura.
"Okeyy!" seru Viana sebelum pergi untuk ikut mengantri.
"Gur ikut Viana dulu ya," ucap Keira pada Ravian.
Sebelum ia benar-benar beranjak dari tempat duduknya, Ravian segera menahan tangannya.
"Kali ini gue aja yang pesan," ucap Ravian, lalu pergi menyusul Viana tanpa meminta persetujuan dari Keira.
Melihat itu, Aleta dan Aura saling berpandangan. Seolah-olah keduanya tahu jika hubungan keduanya tidak akan bertahan sampai bertunangan, karena Ravian menyukai Viana.
...****************...
Suasana di meja Aleta yang biasanya berisik, kini hening saking canggungnya.
Viana yang biasanya paling cerewet pun hanya menatap gelas es tehnya. Keira sibuk memainkan sedotan minumannya. Aura pura-pura fokus melihat menu. Aleta tetap tenang seperti biasa.
Sedangkan Ravian...
Tatapannya beberapa kali tanpa sengaja bertemu dengan Viana. Keira yang menyadari hal itu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Ravian, lalu ke arah Viana. Keira mengepalkan tangannya.
Entah mengapa suasana meja itu kini terasa jauh lebih panas dibanding cuaca saat upacara tadi.
mana dipanggil honey lagi /Doge/