NovelToon NovelToon
GALACTIC PARCEL SERVICE

GALACTIC PARCEL SERVICE

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Komedi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.

Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.

Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.

Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pengumuman Ratu dan Raksasa Kosmik

Seminggu berlalu dengan sangat cepat di dalam lambung baja kapal GPS Andromeda. Setelah rentetan masalah politik dan ancaman hewan berbisa, rutinitas mereka akhirnya kembali normal. Beberapa tumpukan paket logistik telah sukses diantarkan ke berbagai koordinat.

Saat ini, usai menyelesaikan sisa pengiriman terakhir di tata surya sebelumnya, kapal kargo raksasa itu sedang mengambang diam, mematikan sebagian besar mesin pendorong utamanya di pinggiran luar Galaksi Andromeda.

Tidak ada planet terestrial yang mengorbit di dekat mereka. Tidak ada pendaran stasiun luar angkasa, tidak ada sabuk asteroid. Hanya ada ruang hampa gelap gulita yang dingin dan luar biasa sunyi mengelilingi kapal. Bintang-bintang di luar sana tampak begitu jauh layaknya taburan debu bercahaya di atas kanvas hitam legam. Mereka sedang menunggu sesuatu.

Di dalam kokpit utama yang luas, suasana terasa jauh lebih santai. Arka, YUI, Lyra, Eiden, Brakkor, dan Pipi sedang mengambil napas sejenak, mengistirahatkan otot dan otak mereka sembari menunggu waktu transit.

Ssssh.

Suara desisan hidrolik pintu otomatis kokpit yang terbuka memecah keheningan ruangan. Sosok gelap Null melangkah masuk. Langkahnya yang berat beresonansi di lantai logam.

"YUI," panggil Null, suaranya yang menyerupai dengungan statis radio terdengar memecah keheningan. "Paket VIP punya Bu Arle itu... udah diambil kan ya sama orang suruhannya?"

YUI, yang sedang duduk menyamping di atas konsol navigasi sambil meniup permen karet hologramnya, memutar bola mata ungunya dengan raut wajah luar biasa malas.

"Barang itu udah diambil dari lima hari yang lalu," sindir YUI tajam. "Dan kau baru nanya sekarang?"

"Kan resi serah-terimanya udah diselesaikan duluan di sistem, jauh sebelum paket fisiknya diambil," bela Null datar tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Arka yang sedang duduk menyandar rileks di kursi kaptennya memutar tubuh, menatap heran sang Kepala Kargo. "Weeeh, tumben banget kamu naik sampai ke kokpit sini, Reng? Biasanya betah mendekam di gudang. Ada apa?"

"Resi paketnya Bu Arle itu datanya tenggelam jauuuuh ke dasar log sistemku," keluh Null mencari pembenaran.

Arka mendengus geli. "Ya iyalah tenggelam, kan itu paket dari jadwal pengiriman pertama. Udah biarin aja, toh barangnya juga udah beres diambil. Nggak usah dipikirin lagi."

Dari sudut ruangan dekat panel observasi, Pipi yang sedang selonjoran nyaman di atas sofa tiba-tiba menyela. "Reng."

"Oit," sahut Null singkat.

"Kamu lihat deck kartu Galactika Idol-ku nggak?" tanya gadis Grovax itu. "Di kamarku kok kucari-cari nggak ada, ya?"

Null mengedikkan bahu bayangannya. Pusaran materi gelap di wajahnya berputar lambat. "Mana ku tahu."

"Udah, udah. Duduk sana, Reng," lerai Arka sambil menunjuk sebuah kursi observasi yang kosong di dekat jendela raksasa. "Bentar lagi kapal kita bakal kena gelombang transit dari Cosmobalaena."

Mendengar itu, Null pun langsung berjalan antusias menuju kursi yang ditunjuk dan duduk dengan postur tegak. "Wih, ini nih yang seru. Udah lama banget aku nggak lihat paus itu lagi."

Pipi ikut bangkit dari rebahannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan hidungnya ke kaca jendela yang dingin, mengintip hamparan gelap di luar sana yang masih kosong melompong. "Yakin nih lokasinya benar di koordinat ini, Kap? Sepi banget dari tadi."

"Tunggu aja. Bentar lagi juga muncul," jawab Arka meyakinkan, melipat tangannya di dada dengan senyum percaya diri.

Tiba-tiba, lampu indikator di layar radar taktis yang dijaga Eiden berkedip merah menyala dengan ritme yang sangat cepat. Pemuda ras kristal es itu langsung menegakkan punggungnya, matanya terpaku pada fluktuasi data ruang dan waktu yang mendadak melonjak tajam.

"Kapten!" lapor Eiden cepat memecah obrolan, suaranya sedikit tegang. "Satu menit lagi!"

Arka mengangguk pelan. "YUI."

Mengerti maksud panggilan singkat sang kapten, YUI langsung melompat turun dari konsol. Ia menyambungkan sistem core-nya secara nirkabel ke seluruh jaringan speaker komunikasi kapal. Dengan gaya teatrikal ala karakter villain di serial anime, kedua tangannya direntangkan lebar ke atas dan mata ungunya menyala terang menatap langit-langit, YUI memulai pengumumannya.

NYIIIIIIIIIIING!

Suara feedback mikrofon berfrekuensi tinggi sengaja dilengkingkan dengan kekuatan maksimal ke seluruh penjuru dek, membuat semua kru kargo hingga teknisi di ruang mesin menjerit kaget dan menutup telinga mereka rapat-rapat.

"Tes tes... Ehem!" Suara YUI menggema dengan distorsi mekanis yang luar biasa angkuh dan mendominasi. "Wahaaai kalian para makhluk fana menjijikkan yang masih buang air besar setiap hari!! Dengarkanlah titahku, yang mulai detik ini adalah Ratu dari segala Ratu di kapal ini!"

YUI menarik napas digitalnya dramatis. "Sebentar lagi, seluruh lambung kapal akan mengalami gelombang transit Cosmobalaena! Maka dari itu, berhentilah melakukan aktivitas rendahan kalian dan DUDUKLAH! Jika tidak menurut, akan kulempar kalian keluar kapal melalui palka sampah! Mengerti!??"

Di tengah jeda pengumuman gilanya, sistem AI YUI menangkap berbagai proyeksi penglihatan dari CCTV internal kapal langsung ke layar retinanya untuk memastikan kepatuhan krunya. Di salah satu layar, ia melihat Sektor Hidroponik.

Di sana, Rizer sang staf pertanian, asyik membungkuk sambil sibuk mencabuti gulma menggunakan pisau plasma yang menyala panas. YUI yang melihat pelanggaran keselamatan tingkat tinggi itu tak segan-segan langsung menegurnya secara spesifik lewat pengumuman.

"RIZERRRR!!!" bentak YUI menggelegar, suaranya meledak melalui speaker tepat di atas kepala gadis Reptola itu hingga membuat daun-daun di kebun bergetar. "Taruh plasma pisaumu itu sekarang juga dan DUDUKLAH!!!!"

Dari penglihatan CCTV YUI, Rizer kaget setengah mati. Bahunya melonjak kaget hingga ia refleks melemparkan pisau plasmanya bergemerincing ke lantai baja. Mendengar ancaman langsung itu, Rizer buru-buru menoleh ke arah kamera pengawas di sudut ruangan, membungkukkan badannya dalam-dalam sebagai tanda minta maaf, lalu berlari panik mencari kursi terdekat dan menghempaskan tubuhnya ke sana.

Puas melihat kekuasaan dan ketaatan absolut tersebut, YUI menurunkan tangannya dan tersenyum sinis. "Baiklah. Pengumuman selesai."

Arka memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Merasa lelah dengan kelakuan AI-nya yang mengalami god complex. "YUI, bisa biasa aja nggak sih ngasih pengumu..."

Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya, hukum fisika di sekitar mereka mendadak berubah.

GUDUK... GUDUK... GUDUK...

Guncangan itu merambat dari luar angkasa ke dasar lambung GPS Andromeda. Awalnya terasa seperti melewati jalan berbatu, namun dalam hitungan detik, intensitasnya meningkat gila-gilaan.

WUUUUUUNG! KRAAAAK! DRRRRRGGGGH!

Suara derak logam dan dengungan distorsi gravitasi beradu memekakkan telinga. Guncangan hebat itu membuat seluruh rangka kapal bergetar kasar layaknya dilempar ke dalam mesin cuci raksasa. Lampu-lampu panel di dalam kokpit berkedip tak beraturan, alarm peringatan proksimitas menjerit-jerit.

Di luar sana, di tengah kehampaan yang tadinya sepi dan gelap gulita, seluruh orang di kokpit menahan napas dan menatap lurus ke luar kaca jendela. Hal yang sama juga dilakukan oleh seluruh awak kapal GPS di dek bawah yang mematung di dekat kaca observasi.

Di depan mereka, fabrik realitas alam semesta... robek.

Sebuah portal organik tiba-tiba meledak terbuka. Robekan ruang itu memancarkan pendar cahaya biru kosmik dan ultraviolet terang yang seketika mengusir kegelapan. Pusaran energi itu terus membesar, membesar, dan membesar seiring dengan getaran kapal yang makin brutal. Pendarannya membentuk cincin raksasa yang dikelilingi oleh percikan petir ungu.

Portal itu terus melebar hingga memenuhi seluruh bidang pandang kokpit GPS-731 Andromeda. Dari ujung kiri hingga kanan kaca observasi, tak seorang pun lagi mampu melihat batas akhirnya. Seolah-olah robekan ruang itu telah menggantikan langit semesta di hadapan mereka.

Lalu... segalanya terhenti.

Guncangan kapal lenyap seketika bagai disapu sihir. Semua orang di kapal kargo terdiam kaku. Mereka semua hening. Semesta kembali menyuguhkan kebisuan ruang hampa yang mencekam, menunggu kedatangan entitas di balik robekan realitas tersebut.

Perlahan-lahan...

Dari dalam pusaran portal super-raksasa itu, muncullah makhluk yang ukurannya melampaui logika akal sehat. Skalanya begitu luar biasa hingga membuat planet-planet terestrial tampak seperti kerikil debu di hadapannya.

Moncong seekor paus purba menembus pusaran ungu yang bergejolak. Tubuhnya terus bergeser keluar tanpa henti, memakan waktu hingga beberapa menit berlalu bagai tontonan slow-motion yang mengagumkan. Kulit paus itu tidak seperti daging biologis; warnanya hitam kebiruan dan bertekstur keras layaknya kerak benua, dipenuhi guratan-guratan bercahaya menyerupai gugusan konstelasi bintang yang berdenyut lembut, seirama dengan detak jantung alam semesta.

Sirip-sirip kolosalnya yang membentang ribuan kilometer bergerak perlahan, seolah sedang berenang di lautan tak kasatmata yang hanya dapat disentuh oleh makhluk sekelas dirinya. Gerakannya tampak anggun dan nyaris tanpa tenaga, namun setiap satu ayunan sirip itu memancarkan gelombang gravitasi yang merambat melalui jalinan ruang-waktu. Bukan ruang hampa yang bergerak, melainkan struktur alam semesta di sekitarnya yang ikut beriak. GPS-731 Andromeda, yang berada sangat jauh dari tubuh Cosmobalaena, tetap terguncang hebat seakan seluruh ruang di Sekeliling kapal sedang berdenyut mengikuti irama renang sang raksasa purba.

Bahkan setelah bermenit-menit berlalu dan sebagian besar tubuhnya berhasil keluar dari portal, ekornya masih belum tampak di ujung sana. Ukurannya seolah menegaskan bahwa portal ungu itu sedang melahirkan sebuah dunia baru, bukan sekadar memuntahkan seekor makhluk hidup.

Namun, hal yang paling mustahil dan membuat napas semua orang tercekat, justru berada tepat di atas punggung sang paus.

Di bagian punggung raksasa itu terbentang sebuah daratan sungguhan yang luasnya melampaui gabungan benua di planet mana pun. Permukaannya tidak datar; ia dipenuhi oleh barisan pegunungan berbatu yang menjulang menembus atmosfer buatan, hutan-hutan purba yang lebat, serta sungai-sungai raksasa yang berkelok-kelok membelah daratan, bermuara dengan anggun menuju samudra luas yang menutupi tepi punggung sang paus. Bahkan, awan-awan putih tampak berarak pelan di langit tipisnya, bergerak mengikuti arah angin dari ekosistem yang mandiri.

Untuk menopang ekosistem raksasa tersebut, sebuah cincin gravitasi bercahaya keemasan mengelilingi punggung Cosmobalaena layaknya cincin Saturnus. Pada lintasan cincin itu beredar dua benda langit biologis yang terus mengitari daratan secara stabil: sebuah bintang biologis yang memancarkan cahaya dan kehangatan sebagai sumber siang, serta sebuah satelit biologis yang mengatur datangnya malam dan pasang surut lautan. Keduanya telah menjadi bagian dari anatomi sang paus sejak lahir.

Dari kejauhan jarak kapal Andromeda, mata Arka bisa menangkap titik-titik cahaya kota dan jalur peradaban yang tampak samar berkelap-kelip di antara lembah-lembah hijau pegunungan. Cahaya-cahaya itu membuktikan sebuah realita yang luar biasa gila: miliaran makhluk hidup benar-benar menjalani kehidupan, membangun kota, tertawa, dan menangis di atas sana, di atas punggung seekor paus kosmik yang tanpa mereka sadari sedang berenang santai melintasi kehampaan Galaksi Andromeda.

Di dalam kokpit, Arka, Pipi, YUI, Null, Lyra, Brakkor dan Eiden hanya bisa mematung membisu.

Di hadapan raksasa purba pemanggul dunia itu, kapal kargo GPS-731 Andromeda dengan empat pendorong birunya yang panjangnya nyaris mencapai satu kilometer, kini tak ubahnya sekadar setitik debu kosmik. Sebuah debu yang beruntung bisa berada di barisan paling depan, menjadi saksi bisu dari salah satu keajaiban terbesar di alam semesta.

1
Feburizu
Mirip Guardian galaksi ya
helena (Hiatus 12/8/26- idk)
ilustrasinya remind me film the guardians of the galaxy 😍
Sarah
Lyra ini yang muncul di bab berapa yah Thor? Hehehe aku lupa. Soalnya tokoh cerita ini emang banyak banget. 😅😆
Maya: Bab 3 & 14, Lyra itu pilot yang tangannya ada 6 😁
total 1 replies
Sarah
Iyeyyyy lanjut!
Eka
wkwkkw🤣
Eka
pasti di suri nyari putri itu
Eka
apakah ini villain pertama?
MayAyunda
mampir kak
Eka
apa itu berarti bu Maya lebih kuat dari pipi? secara dia kan authornya 👀b🤣
Eka
wkwkkw
Eka
bagus sih ini
Eka
tapi kasian GK sih? nanti suaminya pasti kan berpulang duluan kalo kek gitu🥲
Eka
yak authornya nongol
Eka
maksa banget namanya Thor? 🤣
Eka
Hajar mbak zer!! 🤭
Eka
ini yui tuh robot kan ya? apa settingannya emang gitu?
Eka
Author sering sekali pake Kyaaaaa kenapa Thor ? 🤣
Eka
ternyata di masa depan kita tidak financial freedom ya 🤣
Eka
alasan pembully emang always klasik
Eka
pijat apa ne 👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!