Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19
Saat ini Ali mengajak adik nya ke taman belakang sekolah. Tempat itu sepi, dan jarang sekali siswa ke sana. Dinda tampak heran melihat kakak nya itu. mengapa mengajak nya ke sini.
"Ini buat kamu." kata Ali yang menyodorkan sebuah siomay yang dibeli nya tadi sebelum ke kelas adik nya. Uang itu, dia dapat dari hasil penjualan yang dilebihkan oleh guru yang membeli kue buatan ibu nya tadi.
Dan hasil jualan kue buatan ibu nya juga sudah habis terjual. Ali merasa senang karena bisa membantu ibu nya mendapatkan uang.
"Wah, siomay." pekik nya girang saat melihat makanan yang ingin sekali dia makan.
"Kakak, ini beneran untuk ku?" kata nya dengan nada berbinar.
"Iya, makan lah. nanti kalau sudah dingin pasti ga enak. Di habiskan ya dek."ucap nya sambil mengelus rambut adik nya dengan penuh kasih sayang.
"Makasih kakak!" pekik nya girang Mendapatkan siomay itu.
Kedua nya sambil bercanda dan tertawa bersama. tak terasa bel jam pelajaran kedua pun di mulai. Ali langsung menyuruh adik nya masuk ke kelas. Sedangkan dia akan kembali menemui Bu Lusi. Soal soal yang diberikan oleh Bu Lusi cukup banyak, sehingga dia juga harus fokus dalam mengerjakan nya.
"Nanti setelah selesai pelajaran, kamu temui kakak dulu ya dek. Kita gantian pake sepatu nya!"
"Oke kak, aku masuk dulu ya. Kakak semangat belajar nya."
"Kamu juga semangat ya dek, ingat kunci sukses itu orang yang mau berusaha."
Ali tak henti henti nya selalu mengingatkan adik nya untuk terus belajar. Apabila gagal, dia selalu menyemangati adik nya itu tetap bangkit. Begitu juga dengan Dinda yang bercita cita ingin menjadi seorang dokter yang hebat.
*****
Setelah pulang sekolah, ali langsung pergi ke rumah nya pakde Sutomo. dia ingin melihat Sepatu adik nya terlebih dahulu. berharap sepatu itu sudah siap, dan sudah bisa digunakan oleh adik nya. Apalagi waktu yang diberikan oleh pakde Sutomo pasti sudah selesai.
"Assalamualaikum pakde." teriak nya sedikit tinggi saat melihat pintu rumah itu masih tertutup rapat.
"Walaikumsalam, masuk nak Ali!" teriak pakde Sutomo yang ternyata sedang mengerjakan pesanan dari orang orang
"Pakde, maaf ya mengganggu waktu nya. Aku ke sini mau liat sepatu yang dua Minggu lalu pakde. Apakah udah siap?"
"Sudah nak. Pakde udah siapin dari semalam. maaf ya, kalau lama menyiapkan nya. Jadi adik mu pake apa ke sekolah nya?"
"Kamu bergantian memakai sepatu ku pakde. Alhamdulillah, dinda pasti senang melihat sepatu nya sudah selesai dijahit."
"Yo wes, bawa pulang segera. duit nya pakde balikin ya."
"Loh, jangan pakde. Ini kan memang hak milik pakde. Makasih banyak ya pakde, udah mau menjahit sepatu adik ku."
"Udah ambil aja nak, buat jajan. yaudah pulang sana. nanti ke buru sore, ibu mu nanti khawatir!"
Pakde Sutomo merasa kasihan dengan ali dan adik nya. Saat mendengar bahwa mereka memakai sepatu secara bergantian, hati pakde Sutomo benar benar terharu dan ingin meneteskan air mata nya.
"Makasih banyak pakde, aku balik ke rumah dulu, assalamualaikum."
Setelah kepergian Ali, pakde Sutomo langsung melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan saat ini, dewa yang masih berkeliling menggunakan sepeda nya, masih berjualan kue di sekeliling desa sukamaju.
Peluh keringat membasahi baju dan wajah nya. terik matahari benar bener tak membuat nya pantang menyerah.
"Kue....kue....kue." pekik nya yang bersemangat berjualan di rumah ruang warga sekitar.