"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam semakin larut di ruang kerja privat griya tawang Ellis Corporation London. Cahaya remang-remang lampu meja memantul di permukaan layar monitor raksasa yang menampilkan barisan enkripsi data.
Emma berdiri menyandarkan tubuhnya pada tepi meja sambil memegang cangkir teh chamomile yang sudah dingin.
Di sisinya, Xavier duduk mengamati pergerakan grafik siber, sementara Kevin, kepala tim keamanan pribadi ELLIS berdiri tegap menyerahkan sebuah flashdrive berenkripsi emas.
"Semua file yang diunduh Leon dari server internal Kincaid Group sudah saya dekripsi, Madame," ujar Kevin dengan intonasi mantap.
"Termasuk rekam medis rahasia Rumah Sakit Saint Jude dari malam kejadian lima tahun lalu."
Emma meletakkan cangkirnya, matanya menajam.
"Buka filenya, Kevin."
Jemari Kevin menari di atas papan ketik dan dalam hitungan detik, lembaran dokumen rekam medis bertanda sangat rahasia terpampang luas di layar besar.
"Perhatikan grafik toksikologi ini, Emma," sela Xavier sembari menunjuk laporan analisis darah atas nama Willa Kincaid.
"Malam saat kamu dituduh mencampur racun ke dalam teh ibu mertuamu, kadar cyanide-derivative dalam darah Willa hanya berada di angka nol koma nol dua miligram per liter."
Emma memicingkan matanya dab membaca baris-baris istilah medis tersebut dengan teliti.
"Nol koma nol dua? Dosis seminim itu."
"Sama sekali tidak mematikan," pangkas Xavier dengan tawa dingin yang beracun.
"Dosis itu dirancang dengan sangat tepat oleh ahli farmakologi. Cukup untuk memicu gejala mual dramatis, kejang ringan sementara, dan efek wajah pucat tetapi sama sekali tidak merusak organ vitalnya."
Emma mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasionalitasnya yang selama empat tahun ini diselimuti duka dan amarah mendadak terang benderang.
"Dosis yang terukur rapi," bisik Emma.
"Wanita tua itu tidak sedang diracuni olehku. Dia meminum racun itu sendiri!"
"Bukan hanya itu, Madame," tambah Kevin seraya menggeser layar ke log transaksi keuangan pribadi Willa pada bulan yang sama.
"Dua hari sebelum insiden malam badai itu, ada aliran dana rahasia sebesar lima puluh ribu Poundsterling dari rekening pribadi Willa ke sebuah laboratorium farmasi swasta di pinggiran London dan tebak siapa yang mengotentikasi dokumen pengiriman bahan kimia tersebut?"
"Nadia," tebak Emma cepat dan matanya menyala-nyala.
"Tepat sekali," jawab Kevin.
"Nadia yang memesan racun dosis rendah itu dan Willa yang mengeksekusinya di depan Alfie untuk menciptakan panggung kejahatan sempurna."
Emma memejamkan matanya rapat-rapat. Kenangan malam badai empat tahun lalu mendadak berputar hebat di kepalanya. Malam di mana ia diseret, dimaki sebagai pembunuh, diusir tanpa membawa sepeser pun uang, dan diceraikan secara paksa oleh Alfie.
"Mereka merencanakan semuanya," gumam Emma.
Dadanya kempas-kempis menahan gemuruh emosi.
"Mereka menuduhku mencoba membunuh calon nenek dari anak-anakku sendiri demi melapangkan jalan bagi Nadia."
Xavier berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Emma dan menepuk bahu wanita itu dengan lembut namun penuh penekanan.
"Sekarang kau memegang bukti autentiknya, Emma. Drama empat tahun lalu hanyalah konspirasi murah dua wanita tamak."
"Dan Alfie," gumam Emma.
Bibirnya menyunggingkan senyuman paling dingin yang pernah ada.
"Pria bodoh itu menelan mentah-mentah semua kebohongan ibunya tanpa pernah menyaring kebenaran sedikit pun."
Sementara itu, di kediaman utama Kincaid Group, Alfie duduk di dalam ruang kerjanya yang gelap gulita hanya pendar redup dari layar laptopnya yang menerangi wajah tampannya yang makin tirus dan frustrasi.
Di meja kerjanya, berantakan foto-foto jepretan rahasia dari Masquerade Gala di Paris serta foto-foto kedatangan Emma di Bandara London. Alfie memegang kaca pembesar dan membandingkan foto masa kecilnya sendiri dengan foto Leon yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh intelijennya.
Troy melangkah masuk dengan hati-hati, membawa sebuah berkas tebal.
"Pak Alfie, ini laporan tambahan yang Anda minta."
"Bagaimana dengan pelacakan basis data rumah sakit di Eropa?" potong Alfie cepat tanpa mendongak dari foto Leon.
Suaranya parau dan haus akan kebenaran.
"Apa kamu menemukan rekam medis kelahiran Leon dan Leah?!"
Troy menelan ludah dengan susah payah.
"Nihil, Pak. Seluruh data kelahiran atas nama anak-anak Madame Emma Ellis terkunci di bawah enkripsi tingkat militer Ellis Corporation. Setiap kali peretas kita mencoba menembusnya, sistem kita langsung diserang balik."
Alfie melempar kaca pembesarnya ke meja hingga berdentang keras.
"Aku tidak butuh alasan siber, Troy! Lihat garis rahang anak ini! Lihat cara dia menatap kamera! Dia adalah cerminanku saat berusia empat tahun!"
"Tapi Pak," bisik Troy ragu.
"Bukankah saat Nyonya Flossie diusir lima tahun lalu tidak ada indikasi medis bahwa beliau sedang hamil?"
Perkataan Troy bagaikan petir yang menyambar benak Alfie. Pria itu membeku seketika. Matanya membelalak lebar menatap kegelapan ruang kerjanya
Hamil?
Ingatan Alfie melayang mundur ke malam badai hujan lima tahun lalu. Ia mengingat betapa pucatnya wajah Flossie saat ia menghempaskan surat cerai ke dada wanita itu.
Ia mengingat Flossie yang memegangi perutnya sembari menangis histeris di lantai marmer dan memohon agar Alfie mendengarkannya. Saat itu Alfie yang dibutakan oleh amarah atas tuduhan peracunan ibunya, menganggap tangisan Flossie hanyalah akting murahan untuk mencari belas kasihan.
"Tangan itu," bisik Alfie gemetar.
Raut mukanya jadi lucat pasi.
"Malam itu dia memegangi perutnya."
"Pak Alfie?" tanya Troy cemas melihat perubahan drastis pada atasannya.
"Apakah Flossie sedang hamil saat aku mengusirnya?!" jerit Alfie histeris.
Ia berdiri mencengkeram kerah kemeja Troy dengan mata memerah penuh penyesalan.
"Jawab aku, Troy! Apakah wanita yang kubuang di tengah badai malam itu sedang mengandung anak-anakku?!"
Troy gemetaran hebat dan tak berani menjawab. Alfie melepaskan cengkeramannya dan terduduk lemas di kursinya sembari mencengkeram rambutnya sendiri.
Ketakutan yang teramat sangat mulai menggerogoti jiwanya. Jika Leon dan Leah benar-benar anak kandungnya, maka dosa yang ia tanggung atas Flossie sudah tak terampuni lagi.
"Aku harus membuktikannya," bisik Alfie dengan napas tersengal dan mata liar.
"Aku harus mendapatkan tes DNA anak-anak itu, apa pun taruhannya!"