Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Keesokan paginya.
Tim A menerima laporan tentang korban ketujuh belas yang ditemukan di sebuah rumah tua di Distrik Selatan.
Tidak lama kemudian, Evelyn dan Damien tiba di lokasi bersama Kapten Wong dan anggota Tim A lainnya.
Mengenakan sarung tangan, keduanya mulai memeriksa tempat kejadian perkara.
"Korban perempuan, tiga puluh dua tahun. Diperkirakan meninggal enam jam lalu," lapor petugas forensik.
Damien berjongkok dan memperhatikan luka di leher korban.
"Evelyn, lihat luka ini."
Evelyn mendekat.
"Luka ini berbeda dengan korban sebelumnya," kata Damien. "Sepertinya seseorang sengaja menirunya."
Belum sempat mereka melanjutkan pemeriksaan, suara teriakan terdengar dari lantai atas.
"Aaaah!"
Seorang petugas forensik berlari turun dengan wajah pucat.
"Kapten! Ada mayat lagi di atas!"
Kapten Wong langsung memerintahkan semua orang naik.
Saat memasuki kamar di ujung lorong, semua orang terdiam.
Di dalam ruangan itu terdapat mayat seorang pria, kedua tangannya yang terikat di kursi, sementara wajahnya ditutupi kain hitam.
"Periksa identitasnya!" perintah Kapten Wong.
"Baik!"
Damien mengenakan sarung tangan baru dan menyingkap kain tersebut.
Wesley yang berada di samping langsung mengernyit.
"Sepertinya aku pernah melihatnya."
Andy Liu ikut mendekat.
"Benar, wajahnya familiar."
Tidak lama kemudian, seorang petugas datang membawa data identitas.
"Kapten, korban bernama Zhao Ming, empat puluh satu tahun."
Kapten Wong mengangkat kepala.."Siapa dia?"
Petugas itu menelan ludah.
"Dia mantan petugas forensik."
Semua orang terdiam.
"Mantan petugas?" tanya Evelyn.
"Ya. Dia pensiun tiga tahun lalu."
Damien memeriksa luka di tubuh korban. "Lukanya masih baru, kurang dari satu jam."
Kapten Wong langsung mengernyit.
"Artinya pelaku sengaja membunuhnya sebelum kita tiba."
Damien berdiri dan memperhatikan ruangan.
Tiba-tiba tatapannya berhenti pada sebuah kamera pengawas kecil yang tersembunyi di sudut lemari.
"Kapten Wong."
"Apa?"
"Seseorang merekam kita."
Mendengar itu, tatapan Evelyn langsung berubah dingin.
Sementara di tempat yang tidak diketahui, seorang pria bertopeng sedang duduk di depan beberapa layar monitor.
Melihat wajah Evelyn di layar, sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Sudah lama tidak bertemu, Detektif Shen."
Damien melepas kamera kecil itu dengan hati-hati.
"Kamera ini baru dipasang. Dia sengaja meninggalkannya."
Wesley mengerutkan kening.
"Berarti sejak kita masuk ke rumah ini, seseorang sedang melihat kita?"
"Evelyn, mundur!" perintah Kapten Wong.
Namun Evelyn justru mendekati meja di samping korban.
"Paman, lihat ini."
Semua orang mendekat.
Di bawah cangkir teh terdapat bekas lingkaran yang lebih besar.
"Awalnya ada dua cangkir," kata Evelyn.
Damien mengangguk.
"Dan tehnya masih hangat."
Tatapannya berubah serius.
"Artinya pelaku baru saja pergi sebelum kita tiba."
"Brengsek!" umpat Wesley.
Kapten Wong langsung memberi perintah, "Andy, A Fei, periksa semua kamera di sekitar rumah. Wesley, ikut aku memeriksa lantai bawah."
"Baik, Kapten!"
Sementara itu, Damien memeriksa tubuh korban.
Tiba-tiba tangannya berhenti.
"Aneh."
Evelyn menoleh.
"Apa?"
Damien menunjuk pergelangan tangan korban.
"Tidak ada bekas perlawanan."
"Apakah tidak ada kesempatan melawan?" tanya Evelyn.
"Korban mengenal pembunuhnya."
"Evelyn, lihat jarum suntikan ini."
Di sela lengan baju korban terdapat bekas tusukan kecil.
"Pingsan sebelum dibunuh?" tanya Evelyn.
Damien mengangguk.
"Dan pelaku sangat tenang."
Saat itulah ponsel Kapten Wong berdering.
"Kapten Wong."
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah drastis.
"Apa?"
Semua orang langsung menoleh.
Kapten Wong memegang ponselnya dengan erat.
"Kapan?"
"Baik, aku mengerti."
Setelah menutup telepon, wajahnya menjadi suram.
"Paman, ada apa?" tanya Evelyn.
Kapten Wong menatapnya.
"Tersangka yang kita tangkap kemarin.. dia ditemukan tewas di ruang tahanan."
Tatapan Damien langsung berubah.
"Bunuh diri?"
Kapten Wong mengepalkan tangannya.
"Dan sebelum mati... dia menulis satu nama dengan darahnya."
"Evelyn Shen."
"Dia menggigit lidahnya sendiri. Sepertinya dia memilih bungkam dan rela bunuh diri," ucap Kapten Wong dengan wajah suram.
"Dan kenapa dia menulis nama Evelyn?" tanya Wesley sambil mengernyit.
"Kita akan cari petunjuk lain," jawab Kapten Wong.
Damien terdiam sesaat.
Peringatan pria yang mereka tangkap itu kembali terngiang di telinganya.
"Awasi dia baik-baik."
Tatapannya perlahan beralih kepada Evelyn yang masih memeriksa tubuh korban dengan tenang.
"Sebelumnya dia pernah berkata, 'awasi dia baik-baik'," ujar Damien.
Kapten Wong dan Wesley langsung menoleh.
Damien melanjutkan, "Saat itu aku mengira dia sedang mengancam Evelyn."
"Tapi sekarang... setelah dia menulis nama Evelyn sebelum mati... apakah artinya Evelyn adalah sasaran selanjutnya?"
"Kalau aku adalah orang yang dia incar, aku malah penasaran siapa dia," gumam Evelyn.