Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Wanita Yang Tak Seharusnya Muncul
Bab 22 - Wanita Yang Tak Seharusnya Muncul
Setelah selesai membereskan semua barang bawaan, mereka pun berangkat menuju hotel tempat akan menginap selama satu malam. Raisa duduk di dalam mobil yang dikemudikan langsung oleh Radit, sedangkan anggota keluarganya yang lain mengikuti di kendaraan terpisah. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening; keduanya lebih banyak diam dan hanya sesekali melontarkan percakapan singkat.
Hingga akhirnya Senopati memberanikan diri memecah keheningan, meski nadanya terasa sedikit ragu. “Raisa, bolehkah nanti setelah mengantarkan keluargamu di hotel, kamu ikut bersamaku?” tanyanya pelan. Baginya, momen pertemuan ini akan menjadi titik penting yang menentukan arah hubungan dan kehidupan mereka ke depannya.
Raisa menoleh dengan tatapan penuh tanya. “Memangnya ada apa, Tuan? Apakah ada urusan yang perlu diselesaikan?” jawabnya, berusaha memahami maksud di balik ajakan itu, meski di dalam hatinya masih diliputi rasa penasaran.
“Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, sebelum hari pernikahan kita tiba,” ujar Senopati lembut. Untuk pertama kalinya, ia menampakkan senyum tulus di hadapan Raisa—senyum yang membuat jantung gadis itu berdebar pelan, seolah ada perasaan baru yang mulai tumbuh di hatinya.
Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman hotel. Begitu melangkah masuk ke lobi, staf yang bertugas segera menyambut mereka dengan ramah dan menawarkan bantuan untuk mengangkat serta mengantarkan barang bawaan ke kamar masing-masing.
Raisa dan Senopati tidak ikut naik ke lantai kamar. Senopati cukup memerintahkan Radit untuk mengurus semuanya. Setelah itu, keduanya segera meninggalkan hotel. Kali ini Senopati menyetir sendiri, sementara Raisa duduk tenang di samping kursi pengemudi, menanti ke mana perjalanan selanjutnya akan membawa mereka.
Mereka tiba di sebuah pantai di pinggiran kota yang cukup ramai dikunjungi orang. Senopati mematikan mesin kendaraan, lalu mengajak Raisa berjalan menyusuri tepian pantai sambil membiarkan butiran pasir halus menyentuh lembut telapak kaki mereka. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan suara deburan ombak yang menenangkan.
“Raisa…?” panggil Senopati dengan nada sangat pelan, seolah takut memecah keheningan yang mulai tercipta.
“Hm, ada apa, Tuan?” Raisa segera berbalik, menatap pria yang tiba-tiba berhenti melangkah dan berdiri diam di tempatnya.
“Kamu tidak perlu lagi memanggilku dengan sebutan ‘Tuan’.”
Senopati dikenal sebagai sosok yang tegas, bahkan terkesan dingin dan tertutup. Selama ini ia sulit membiarkan orang lain mendekat ke dalam dunianya—sifatnya yang kaku membuatnya jarang menjalin kedekatan dengan siapa pun.
“Saya merasa aneh membayangkannya,” lanjutnya pelan, “jika nanti kamu sudah menjadi istri saya, tapi tetap memanggilku dengan sebutan itu.”
Raisa terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali belum terbiasa berada sedekat ini dengan Senopati; rasanya canggung saja, apalagi harus mengganti panggilan yang sudah terasa biasa baginya. Di dalam hatinya, bayangan kekasihnya yang terpaksa harus pergi karena pernikahan ini kembali melintas, meninggalkan rasa perih yang masih terasa.
Seandainya saja beban hutang Ardi tidak seberat ini, pikirnya, ia pasti tidak akan pernah bersedia menikah dengan orang lain selain pria yang dicintainya. Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan satu orang—ia harus memikirkan nasib keluarganya juga.
Setelah menarik napas panjang dan berusaha menenangkan hati, Raisa akhirnya menjawab dengan suara lembut, “Baiklah, saya akan mencobanya. Kalau begitu… Tuan ingin saya memanggil apa?”
“Apa saja, asalkan kamu merasa nyaman mengucapkannya, dan menurutmu itu panggilan yang pantas untuk seorang suami,” jawab Senopati tenang.
“Baiklah… bagaimana kalau ‘Mas Seno’? Apakah menurutmu itu terdengar baik?” tanya Raisa hati-hati.
Senopati mengangguk pelan, sedikit tersenyum. “Hm, menurutku itu jauh lebih baik.”
Keduanya berdiri diam sejenak, menikmati hembusan angin pantai yang lembut menerpa wajah mereka.
“Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah mengirimkan undangan kepada sahabat-sahabat yang ingin kamu hadirkan?” tanya Senopati kemudian.
“Sudah. Hanya beberapa orang yang sangat dekat saja,” jawab Raisa singkat.
Mereka pun melanjutkan langkah menyusuri bibir pantai. Malam itu terasa sangat indah; bulan bersinar terang memancarkan cahayanya yang lembut menerangi sepanjang pantai. Keduanya menghabiskan waktu dengan saling bercerita dan bertukar pikiran, suasana terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya. Namun ketika malam semakin larut, Raisa mengajak pulang—mereka perlu istirahat yang cukup agar siap menjalani rangkaian acara keesokan harinya.
Begitu tiba di area parkiran, sebuah suara memecah keheningan malam. Seorang wanita yang terlihat sangat anggun berjalan mendekat sambil memanggil nama Senopati berulang kali. Mendengar panggilan itu, Senopati dan Raisa langsung berhenti melangkah dan menoleh ke arah sumber suara.
“Senopati! Kenapa kamu ada di sini?” tanya wanita itu dengan nada tegas. Pandangannya segera beralih ke Raisa yang berdiri di samping Senopati, menatap gadis itu dengan sorot mata yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan.
Hati Senopati terasa tak tenang saat melihat sosok itu. Ia mengenalnya sangat baik—wanita yang tiba-tiba menghilang bertahun-tahun lalu tanpa pesan, wanita yang pergi begitu saja tepat saat ia mulai membuka hatinya dan membiarkan perasaan tumbuh.
“Senopati, jawab aku. Siapa dia?” Wanita itu melangkah mendekat, lalu menyentuh lengan Senopati dengan lembut. “Apa kamu sudah benar-benar melupakanku, Senopati?” Wajahnya berubah tampak sedih, matanya menatap lekat-lekat ke arah pria itu.
“Lepaskan tanganku, Laras. Dan ingat, aku tidak berkewajiban menjawab setiap pertanyaanmu,” ujar Senopati dengan nada dingin dan tegas, lalu melepaskan genggaman wanita itu dari lengannya. Ia segera berbalik ke arah Raisa. “Raisa, ayo kita pergi dari sini.” Sambil berkata begitu, ia membukakan pintu mobil untuk Raisa.
“Senopati, kenapa kamu bersikap sekejam ini padaku?” seru Laras dengan suara bergetar.
“Sudah tujuh tahun, Laras. Sekarang kamu datang tiba-tiba begitu saja? Sebaiknya kamu menjauh. Besok adalah hari pernikahanku,” jawab Senopati tanpa menoleh lagi, nadanya tegas dan tak terbantahkan.
“Senopati! Senopati, tunggu! Kamu belum memberiku jawaban!” seru Laras berulang kali, namun pria yang dipanggil itu sama sekali tidak menoleh. Ia langsung menyalakan mesin dan melajukan mobil mewahnya meninggalkan area parkiran, membiarkan Laras yang masih terus memanggil namanya tertegun sendirian.
Sepanjang perjalanan, Senopati hanya terdiam membisu. Pikirannya terasa kacau balau—ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apakah ia masih menyimpan sisa perasaan yang sama seperti dulu, atau hanya merasa terganggu dan ragu dengan pertemuan tak terduga itu? Sementara itu, Raisa yang duduk di sampingnya pun memilih untuk ikut bungkam; ia memutuskan tidak akan menanyakan apa pun terlebih dahulu.
Citt…!
Suara rem mobil berbunyi keras. Senopati mengerem secara mendadak, membuat Raisa yang tidak siap hampir membenturkan kepalanya ke dasbor. Namun dengan sigap, Senopati segera mengulurkan tangannya untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak terluka.
“Kenapa kamu diam saja dan tidak bertanya apa pun soal wanita tadi?” tanya Senopati tiba-tiba, memecah keheningan dengan pertanyaan yang membuat Raisa bingung harus menjawab apa.
**
(Tinggalkan komentar ya teman-teman)