NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 10

Tubuh gadis kecil itu gemetar menahan sakit saat sensasi panas dari puntung rokok yang menyala disundutkan ke betisnya.

Sang pelaku tertawa puas melihat karyanya di betis putih yang awalnya mulus itu kini meninggalkan banyak bekas luka lama dan baru darinya.

“Begini lebih baik. Tubuhmu tidak monoton lagi. Luar biasa.” Remaja laki-laki itu kegirangan sambil bertepuk tangan. Sosoknya seperti menemukan kesenangan baru.

Gadis kecil di bawahnya beringsut mundur sembari menyeret betisnya yang terasa nyeri dan perih. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi dia tak berani bersuara karena lebih banyak suara berarti lebih banyak rasa sakit. Dia tak ingin ini terus berlanjut.

“Mau ke mana? Apa aku sudah mengizinkanmu pergi?” Remaja itu menarik kuat rambut gadis kecil itu hingga beberapa rontok membuat sang empu meringis.

Gadis kecil itu menggeleng sembari menggigit bibirnya keras-keras agar tidak mengeluarkan suara tangisan.

“Kau tahu, ‘kan, kenapa aku melakukan ini? Itu karena kehadiranmu selalu membuat kesayanganku sedih. Dia seharusnya bahagia andai kau tak terlahir ke dunia ini dengan hal-hal yang membuatnya iri.” Remaja itu menghempas kasar kepala gadis kecil itu hingga tersungkur ke tanah.

Kurangnya antisipasi membuat gadis kecil itu tak dapat melindungi wajahnya hingga tergerus ke tanah menimbulkan efek perih akibat gesekan.

“Aku masih ingin memberimu pelajaran. Sayangnya, aku harus pergi dari sini, tapi tenang saja, aku akan kembali dengan hadiah yang lebih besar. Ini belum selesai.” Remaja itu menginjak keras kaki telanjang itu hingga terdengar bunyi patah yang menyakitkan.

Kali ini gadis kecil itu tak dapat menahan jeritannya. “Aakh! S-sakit. Ibu ....”

Mendengar tangisan memilukan itu menuai senyum puas dari remaja itu. Dia akhirnya meninggalkan sosok kecil itu yang menangis dengan rasa sakit yang semakin menjalar. Kakinya sulit digerakkan.

“Ibu, El butuh bantuan. El butuh Ibu sekarang.” Gadis itu tergugu. Matahari semakin turun dan kegelapan mulai mengambil alih di langit.

Gadis kecil itu semakin panik mendengar suara hewan malam yang mulai bersahutan di pinggir hutan yang begitu asing. Wajahnya pucat dan tubuhnya melemas hingga tak sadarkan diri. Bahkan dalam alam bawah sadarnya pun gadis kecil itu masih dihantui oleh bayang-bayang rasa sakit—membuatnya sulit membedakan mana realitas dan ilusi.

Amelia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia terbangun dalam ruangan serba putih. Tangannya tertancap jarum infus dengan beberapa orang berkumpul di dekat brankarnya, tapi dia tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan orang-orang itu. Satu-satunya yang dia tangkap dengan jelas adalah tatapan sendu dari seorang gadis kecil lain ke arahnya.

Gadis kecil itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi dia dibawa pergi oleh dua orang dewasa yang merupakan orang tuanya.

“Kita kembali lagi nanti, yah. Dokter bilang keadaannya belum stabil dan membutuhkan ketenangan untuk sementara waktu.” Sang ayah yang melihat keengganan di mata putrinya mau tak mau menggendong anak itu keluar ruangan.

Amelia berkedip pelan melihat interaksi manis di depannya yang terasa sangat asing. Sesuatu yang menyenangkan dan menyakitkan di saat yang bersamaan. Mungkin karena dia belum pernah merasakan secara langsung adegan harmonis seperti itu. Rasanya seperti disuguhkan gula saat lidah hanya terbiasa dengan rasa hambar.

Terlalu tiba-tiba dan membingungkan.

“Ayah, dia pasti bisa sembuh, ‘kan? Kata dokter yang sakit bukan hanya fisiknya, tapi mentalnya juga. Bagaimana caranya kita menyembuhkannya?” Gadis kecil itu senantiasa menatap ruangan di depannya yang menampilkan sosok seumurannya bertubuh kurus termenung dengan tatapan kosong.

“Dokter akan menanganinya. Jangan khawatir.” Sang ayah menghibur putrinya.

“Bunda, aku boleh, ‘kan, berteman dengannya nanti?” Gadis kecil itu menatap ibunya penuh harap.

“Boleh saja, tapi kamu harus berjanji tidak memukulnya seperti yang kamu lakukan pada teman-temanmu yang lain.” Wanita itu menjawil hidung mungil putrinya.

Gadis kecil itu merengut. “Hem, itu karena mereka nakal. Dia terlihat baik. Aku janji akan menjaganya.” Jarinya menunjuk ke dalam ruangan.

Wanita itu menatap suaminya seolah merasakan ketulusan baru dari putrinya. Keduanya tersenyum dan berharap kali ini putri mereka benar-benar bisa mendapatkan seorang teman.

Selama ini putri mereka selalu dijauhi karena gadis kecil itu suka memukuli teman-temannya dengan alasan bahwa mereka berbuat nakal.

Gadis kecil di dalam ruangan itu menetap langit di luar ruangannya yang tampak begitu terang. Kepalanya beralih ke arah pintu yang menampakkan tiga orang yang menatapnya intens.

Kakinya menjejak lantai rumah sakit yang dingin dan dia menghampiri pintu, mengetuknya perlahan.

Gadis kecil di gendongan pria itu memberontak untuk turun. Dia membuka perlahan hingga bertemu pandang dengan sosok pucat di dalam ruangan.

“Maaf, bisakah aku keluar dari sini? Ibu mungkin akan mencariku. Aku tidak bisa terus berada di sini.” Suara lemah dan serak gadis kecil itu membuat sosok di depannya tak senang.

“Kamu masih sakit, tunggu beberapa hari lagi baru keluar dari rumah sakit ini. Ayo kita berkenalan dulu, Namaku Kanaya. Kamu bisa memanggilku Naya.”

Gadis kecil dengan pakaian rumah sakit itu menatap tangan yang terukur ke arahnya dengan tatapan kosong.

“Amel, Amelia.” Gadis kecil itu membalas uluran tangannya.

“Amel, mau jadi temanku, yah. Kumohon.” Kanaya menggenggam erat tangan Amelia kecil.

“Aku ... aku harus pulang sekarang, maaf. Terima kasih sudah menyelamatkanku, tapi aku ingin bertemu dengan Ibu saat ini.” Amelia kecil masih kekeh dengan keputusannya.

Kanaya tampak kebingungan dan menatap orang tuanya seolah meminta bantuan. Matanya menyiratkan kalimat ‘Apa yang harus kulakukan? Dia tidak mau tinggal.’

“Tunggu sampai nanti sore, kami akan mengantarmu asal kondisimu membaik.”

“Ayah!” Kanaya berseru tak terima. Dia ingin menjaga teman barunya itu di sisinya.

“Kita lihat kondisinya dulu. Lagi pula kita memang harus memulangkannya atau orang tuanya akan khawatir.” Sang ayah memberi pengertian pada putrinya.

“Tapi, Yah, aku ingin membawa Amel pulang. Dia tidak boleh pergi.” Kanaya dengan berani memeluk erat tubuh Amelia membuat gadis kecil itu menegang.

“Nak, lepaskan dulu. Kamu membuat Amel takut.” Sang ibu menyadari ekspresi tertekan gadis kecil yang dipeluk oleh anaknya itu.

“Maaf.” Kanaya melepas pelukannya dengan tidak rela. Ini pertama kalinya dia berinisiatif meminta maaf pada orang lain. Biasanya jika bukan mulutnya yang berbicara, itu berarti tangan dan kakinya yang bergerak.

“Kamu ... kamu bisa datang ke rumahku jika mau. Tapi jangan terlalu sering.”

Melihat antusiasme di mata Kanaya yang memudar membuat Amelia diliputi rasa bersalah, akhirnya dia mengucapkan kalimat yang mulai dia sesali beberapa detik kemudian.

“Atau mungkin kamu tidak perlu datang, kita bisa—“

“Aku akan datang, tentu saja,” potong Kanaya cepat tak membiarkan Amelia menarik kata-katanya lagi.

“Jadi, mulai sekarang kita berteman, ‘kan?” Kanaya mengacungkan jari kelingkingnya. Amelia mengerti isyarat itu, meski ragu dia perlahan menautkan jari kelingkingnya pada Kanaya.

“Iya, kita ... berteman.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!