Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Zian memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Amira.
"Amira, dengar saya. Sejak saya mengucapkan ijab kabul, sejak saat itu juga kamu sudah menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Jadi, di mana pun kamu berada, di situ juga ada saya."
Amira meremas ujung bajunya.
Wajahnya mendadak terasa panas, dan dia yakin rona merah kini sudah menjalar hingga ke telinganya. Kalimat Zian terlalu tiba-tiba, membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"I–iya, paham," cicit Amira spontan, mengalihkan pandangannya ke arah lantai karena tidak sanggup menahan intensitas tatapan suaminya.
"Tapi... tidak perlu sedekat ini juga bicaranya."
Melihat tingkah gugup Amira, Zian justru menahan senyum. Alih-alih menjauh, dia justru sengaja mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat lagi. Wangi parfum maskulin milik Zian langsung menyergap indra penciuman Amira, membuat pertahanan wanita itu semakin goyah.
Demi Tuhan, perlakuan Zian selalu sukses membuat hati Amira meleleh. Perhatian kecil, tatapan hangat, dan untaian kalimat penuh komitmen tadi benar-benar merayap masuk ke sudut terdalam hatinya yang paling dingin. Amira ingin sekali menyerah pada rasa aman yang ditawarkan Zian.
Namun, sebuah alarm peringatan mendadak berdering nyaring di kepalanya.
Jangan bodoh, Amira, bisik sebuah suara di benaknya.
Seketika, rasa hangat yang sempat menjalar di dadanya berganti menjadi ketakutan yang mencekat. Amira teringat pada janji sakral yang pernah dia buat untuk dirinya sendiri:
Jangan pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam hati ini lagi.
Amira terlalu takut. Dia tahu betul rasanya ditinggalkan, dan dia tidak akan sanggup jika harus melewati kehancuran yang sama untuk kedua kalinya. Lebih baik membentengi diri sejak awal daripada harus terluka.
Amira menarik napas dalam-dalam, lalu dengan sengaja memundurkan tubuhnya, dan hingga punggungnya membentur dinding di belakangnya. Dia mendongak, memaksa matanya menatap Zian.
"Lagipula, janji lisan itu mudah dilupakan. Jadi, jangan terlalu sesumbar seolah mas nggak akan berubah."
Seketika itu juga, senyum tipis di bibir Zian lenyap tanpa bekas. Atmosfer di dalam kamar mendadak berubah mencekam. Kalimat ketus Amira barusan sukses menyenggol ego Zian yang setinggi langit. Bagi pria itu, meragukan komitmennya sama saja dengan sebuah penghinaan.
Alih-alih mundur seperti dugaan Amira, Zian justru merapat. Sifat dinginnya mengambil alih kendali.
Brak!
Satu tangannya terangkat, menghentak dinding tepat di samping kepala Amira. Jarak di antara mereka terkikis habis, mengunci pergerakan wanita itu tanpa celah.
"Sesumbar?" Ucap Zian tepat di depan wajah Amira.
"Kamu pikir saya sedang bercanda saat mengucapkan nama kamu di depan penghulu dan para saksi?"
Amira refleks menahan napas. Pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis, tapi harga dirinya melarang keras untuk memalingkan wajah.
"Kamu mau bentengi hati kamu sampai setinggi apa pun, terserah,tapi jangan samakan saya dengan orang-orang yang pernah ninggalin kamu. Saya nggak semurah itu sampai harus mempermainkan pernikahan."
Amira diam dan Zian tahu mengapa Amira bertingkah aku seperti itu. Seperti yang pernah Zian bilang dia tidak mungkin menikahi wanita dengan latar belakang yang tak jelas dan dalam informasi yang Zian tahu, Amira pernah mengalami hal trangis dalam hidup nya, melihat sang mama merengang nyawa didepan mata nya sendiri.
Amira buru-buru mendorong tubuh Zian, keluar dari kukangan pria itu.
"Jangan bicara nggak jelas mas, saya nggak ngerti." Kata Amira.
Zian tak menjawab, dia hanya menaikkan alisnya lalu berkata.
"Evan akan datang besok, dia akan liburan disini untuk beberapa hari." Kata Zian
Amira menoleh. "Evan? Sejak kapan mas dekat dengan adik saya?, dia bahkan belum mengabari saya tentang ini."
Evan adalah adik Amira. Dia tinggal diluar ibukota karena sedang kuliah, jika ingin mengunjungi Amira pasti Evan selalu mengabari Amira. Tapi kali ini dia justru hanya bilang pada Zian.
Zian mengangkat pundak, memasang wajah tengil yang menyebalkan bagi Amira.
Sejak pertama hingga sekarang Zian memang selalu bisa membuat nya kesel tak karuan.
"Maka nya jangan cerewet jadi orang, adik kamu jadi nyaman sama saya "
"Apaan si mas, aku nggak cerewet ya." Bantah Amira.
"Orang Evan sendri yang bilang." Ucap Zian lagi sebelum akhirnya pria itu berlalu masuk kamar mandi.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care