"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 Kinanti
Jarum jam menunjuk angka tujuh malam saat Xavier melangkah masuk ke rumahnya. Ekspresinya tampak tenang, bertolak belakang dengan isi kepalanya yang gaduh.
Perlahan tapi pasti, gema ucapan Ryuga mulai mengikis kepuasan semu yang sempat ia rasakan, menyisakan kesadaran pahit bahwa tindakannya pada Sukma sudah terlewat batas.
Jauh di sudut hati, Xavier mengutuk kebodohannya sendiri karena telah menelan mentah-mentah ide gila Edo. Lebih tepatnya, hasutan keji dari sang wakil jenderal Geng Bima Sakti--sosok musuh dalam selimut yang diam-diam berambisi menghancurkan pamornya sebagai pemimpin.
Demi meluapkan amarah dan dendam, Xavier telah bertindak terlalu jauh. Ia tega menghancurkan mental Hamdan dengan merenggut kesucian Sukma--gadis malang yang sama sekali tidak bersalah.
Langkah Xavier terhenti begitu menginjakkan kaki di ruang utama. Di sana, papa dan mamanya tengah berbincang serius. Lamat-lamat, ia menangkap nama Hamdan dan Sukma disebut, disusul untaian kalimat tarjih yang meluncur lirih.
"Vier, kamu sudah pulang, Nak," sapa Raina, menyadari kehadiran sang putra sulung.
Xavier hanya mengangguk samar. Ia melangkah mendekat untuk menghampiri kedua orang tuanya, lalu memilih berdiri diam di sisi sofa.
"Bagaimana tugas kuliahmu? Sudah beres?" tanya Raditya, mengalihkan atensi sepenuhnya pada Xavier. Tatapan pria paruh baya itu menuntut jawaban tegas.
"Udah, Pa," jawab Xavier berdusta. Bukan tugas kampus yang baru saja ia selesaikan, melainkan misi gelap. Misi tentang ambisi balas dendam, Aluna, serta bara perseteruan antara Geng Bima Sakti dan BEM Universitas Cakrawala.
"Duduk. Ada yang ingin Papa bicarakan," titah Raditya dengan nada rendah yang tak kuasa dibantah.
Xavier menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Ada kabar buruk, Vier..." Raditya membuka obrolan serius. "Hamdan meninggal dunia. Dia bunuh diri di sel tahanan. Setengah jam lagi, jenazahnya akan diantar pulang ke rumah."
Xavier bergeming. Tidak ada riak keterkejutan, apalagi keinginan untuk menanggapi. Kematian Hamdan justru menjadi akhir yang paling ia dambakan.
"Kasihan Sukma. Sekarang dia sebatang kara. Sungguh, Mama tidak tega melihat gadis itu harus memikul ujian seberat ini sendirian," sela Raina, suaranya bergetar menahan kesedihan.
Xavier menghela napas panjang. Ia mengangkat wajah, menatap lekat netra mamanya yang terbingkai sendu. "Ma, Hamdan hampir menghancurkan hidup Aluna. Dia pantas mendapat hukuman yang setimpal. Mati membusuk atau bunuh diri di sel, itu akhir yang memang patut buat manusia sebejat dia! Dan Sukma? Buat apa Mama mengasihaninya? Dia bukan siapa-siapa kita. Dia adik dari bajing** yang berniat menyentuh Aluna."
Raina menggeleng pelan, menatap putranya dengan tatapan kecewa. "Vier, Hamdan memang pantas dihukum atas dosanya pada Aluna. Tapi Sukma? Gadis itu tidak punya salah apa pun. Dia berhak dikasihani. Bukan hanya karena sekarang dia sebatang kara, tapi karena dia harus menanggung getah dari kelakuan bejat kakaknya."
Raina menjeda sejenak, meraup udara sedalam mungkin demi menenangkan dadanya yang sesak sebelum kembali bertutur. "Dunia ini kejam, Vier. Orang-orang di luar sana pasti akan melabeli Sukma sama rusaknya dengan Hamdan. Mereka akan mencela, menghakimi sesuka hati, dan itu pasti akan menghancurkan mentalnya perlahan."
Xavier terbungkam. Ia meresapi setiap untaian kalimat penuh empati yang mengalir dari bibir mamanya.
Keheningan sesaat mengambil alih. Namun, atmosfer sunyi itu segera terpecah begitu Raditya membuka suara.
"Vier, Hamdan memang layak menerima hukuman atas perbuatan bejatnya pada Aluna," cetus Raditya, nadanya berat dan penuh wibawa. "Tapi, kita tidak boleh menutup mata atas ujian berat yang tengah menimpa Sukma. Gadis malang itu patut dirangkul dan dibantu, bukan malah disamakan dengan kakaknya. Apalagi sampai membiarkannya menanggung hukuman atas dosa yang sama sekali tidak pernah dia lakukan."
Sekali lagi, Xavier hanya bisa bungkam. Ia meresapi dan mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Raditya. Xavier kian tersadar, bahwa apa yang telah ia perbuat pada Sukma benar-benar jauh dari kata manusiawi.
Bukan hanya menghancurkan hidup Sukma, melainkan juga bom waktu yang siap meruntuhkan kepercayaan Gea dan membunuh kekasihnya secara perlahan jika sampai pusat dunianya itu mengendus perbuatan bejatnya.
"Vier, Mama dan Papa akan berangkat ke rumah Sukma malam ini. Terserah, kamu mau menyusul kami atau datang besok pagi," ucap Raina sembari beranjak dari sofa. Ia mengulas senyum tipis, lalu mengusap lembut bahu Xavier.
"Aluna sudah memaafkan perbuatan Hamdan. Dia bahkan yang meminta Papa dan Mama untuk merangkul Sukma. Kalau Sukma bersedia, Aluna ingin gadis itu tinggal di rumah ini dan menempati kamarnya dulu. Seluas itu hati adikmu, Vier. Meski hampir dinodai, dia tidak menyimpan dendam dan justru berempati pada adik Hamdan."
Xavier membeku. Detik itu juga, tubuhnya perlahan bergetar halus. Sungguh, ia tidak pernah menduga bahwa adik bungsunya bisa dengan begitu mudah memaafkan kebejatan Hamdan. Bahkan meminta kedua orang tua mereka untuk merangkul dan menampung Sukma.
Tak terbayang jika gadis itu benar-benar tinggal satu atap dengannya. Bisa dipastikan, kebejatannya akan segera terendus oleh kedua orang tuanya. Seisi rumah akan mengecam, mengutuk, lalu memaksanya untuk bertanggung jawab pada Sukma.
Tidak! Hal itu jelas tidak boleh terjadi. Xavier Narendra Aditama hanya mencintai Gea Anindita. Ia tidak akan pernah sudi menikahi wanita lain--sekalipun Sukma, wanita yang telah ia nodai.
Sepeninggal papa dan mamanya, Xavier melangkah ke kamar lalu merebahkan tubuh di atas ranjang. Ia meraih ponselnya, memutar kembali rekaman video terlarang yang diambilnya saat menghancurkan hidup Sukma tanpa ampun.
Netra Xavier mendadak menyipit begitu menangkap siluet tahi lalat di dagu Sukma. Jemarinya bergerak refleks, memperbesar gambar demi mengamati garis wajah Sukma yang tiba-tiba terasa begitu familier di ingatannya.
Ia mencoba menggali kembali memori tentang semua gadis yang pernah melintasi hidupnya. Sepersekian detik kemudian Xavier tertegun. Ingatannya menerawang jauh, melompati waktu ke masa SMP dan terkunci pada sosok Kinan--gadis kelas dua A yang memiliki letak tahi lalat yang persis sama dengan milik Sukma. Bahkan, struktur wajah mereka bagai pinang dibelah dua. Hanya warna kulit dan bentuk tubuh saja yang membedakan keduanya.
"Nggak mungkin! Pasti bukan dia. Cuma kebetulan mirip," gumam Xavier, berusaha keras menyangkal kenyataan yang mulai mengusik kepalanya. "Lagian, dia udah pindah ke Jakarta. Dan nggak pernah ngasih kabar lagi sejak itu."
Denting notifikasi pesan mendadak memecah kesunyian kamar, menarik atensi Xavier pada gawai yang masih berada dalam genggaman tangannya.
Ia segera menggeser layar, membaca sebaris teks yang dikirim oleh nomor tak dikenal.
Sukma Kinanti Putri. Mantan siswi SMP Rajawali. Mahasiswi Fakultas Sastra Inggris, Universitas Cakrawala.
Tepat di bawah biodata singkat itu, terlampir foto Sukma saat berpose mengenakan seragam SMP, disandingkan dengan potret terbarunya yang memakai almamater Universitas Cakrawala.
Seketika, tangan Xavier gemetar hebat. Genggamannya melonggar begitu saja hingga gawai di tangannya jatuh menghantam lantai dengan keras.
"Sukma... jadi dia... Arghhh!" Xavier menyugar rambutnya ke belakang dengan frustrasi. Jantungnya berdegup liar, sementara batinnya mengutuk diri habis-habisan yang telah berperan menjadi iblis paling kejam bagi gadis yang dulu selalu ia bela dan lindungi setengah mati.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier