Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Pertemuan Pertama Di Butik
Di Kamar Mandi...
Noah Jones masih menggendong tubuh Emma Taylor saat mereka memasuki kamar mandi.
Di bawah guyuran air kran, Noah memilih berdiri di sana bersama Emma, mereka basah kuyup sambil saling menatap dalam.
Wajah Emma yang terkena air kran bersemu merah seperti buah tomat masak, melihatnya Noah langsung tersenyum lembut.
"Kau sangat cantik, Emma...", bisiknya pelan.
Emma yang menggigil kedinginan oleh guyuran air kran merapatkan badannya ke dada Noah Jones, tak menjawab, cuma terdiam.
" Sepertinya kau ingin kita mandi bersama." kata Noah yang masih menggendong Emma.
Emma tersentak kaget sehingga dia beringsut turun dari gendongan Noah Jones.
"Tinggalkan aku... Aku mau membersihkan diri... " ucap Emma sambil berbalik badan, membelakangi Noah Jones.
"Baiklah, aku juga harus bersiap-siap mengantarkanmu ke Butik Dior." sahut Noah.
Emma mengangguk pelan, menunduk tanpa bersuara.
"Aku keluar sekarang." kata Noah.
"Sret...! Tunggu..." sahut Emma seraya menyodorkan selembar handuk kering. "Pakailah ini, bajumu basah. Kau akan masuk angin jika keluar seperti itu."
Noah melirik sekilas ke arah handuk kering di tangan Emma, tersenyum samar lalu menjawab.
"Tidak. Aku tidak memerlukannya." sambil berlalu pergi dari kamar mandi.
Emma menoleh ke arah belakang, tampaknya Noah Jones sudah pergi, tidak terlihat kehadirannya lagi di kamar mandi ini.
"Srrrshhh... Srrrshhh...!" Air kran turun membasahi tubuh Emma, sudah kepalag basah pikirnya lantas ia membuang lingerie gadingnya dan segera mandi.
Di luar sana, Noah Jones berjalan cepat menuju ruangannya. Alfred yang melihatnya buru-buru menghampirinya panik.
"Biarkan saya siapkan baju gantinya, anda tunggu saja di sini, saya takut anda masuk angin jika berjalan dalam keadaan basah seperti ini, tuan." kata Alfred.
"Tidak, Alfred. Terimakasih, Aku harus cepat-cepat bersiap diri. Karena aku yang akan mengantarkan Emma sendiri ke Butik Dior." sahut Noah.
"Saya meragukannya, anda terlihat basah kuyup, sebaiknya sopir saja yang mengantarkan Nona Emma menemui Madame Claire." kata Alfred cemas.
"Jangan cemas, Alfred. Aku baik-baik saja. Biarkan aku ke kamar ku jika aku terlalu lama disini, kemungkinan aku bisa terkena masuk angin seperti yang kau katakan barusan." sahut Noah Jones tersenyum lembut.
Alfred tertawa pendek, mengangguk paham, ia menyingkir untuk memberi jalan pada majikannya itu.
Noah Jones menepuk pundak Alfred, lalu berjalan pergi.
Alfred hanya berdiri memandangi punggung Noah Jones yang berlalu dari hadapannya, ia menarik nafas pelan lalu tersenyum.
"Kurasa sebelumnya tuan tidak sehangat ini, biasanya dia selalu konsisten terhadap apapun, tapi semenjak mengenal Nona Emma, sikapnya mulai berubah ramah."
Alfred tertawa pendek seraya pergi dari tempatnya berdiri, melanjutkan kebiasaannya sehari-hari di rumah ini.
Jam Grand father Clock di rumah ini berdentang sebanyak delapan kali, menandakan waktu sekarang tepat pukul delapan pagi.
Suasana di Anggrek Residen terasa hening, sangat sepi, maklum saja hal itu dikarenakan luasnya area rumah Anggrek Residen yang menyebabkan ruang-ruang disana tampak lenggang dan kosong.
Rumah bergaya modern itu berdiri di atas tanah seluas 2000 hektar. Pantas saja jika area di ruangan Anggrek Residen tampak lapang seperti senyap.
Walaupun sang pemilik rumah yaitu Noah Jones memperkerjakan banyak orang di rumahnya tapi tetap saja tidak membuat kediamannya penuh, tetap terasa sepi.
"Trrrt... Trrrt... Trrrt..."
Dering Vertu milik Noah Jones berbunyi nyaring, sengaja Noah mengeraskan suara untuk panggilan telepon. Itu dia lakukan semata-mata demi Emma Taylor yang mungkin akan menghubungi nya sewaktu-waktu.
Takut dia tidak mendengar panggilan telepon atau pesan terkirim dari Emma maka Noah Jones mengeraskan suara di Vertu miliknya.
"Yah, hallo..." sahut Noah Jones ketika menerima panggilan telepon.
"Ada rapat penting dengan pihak Vertu, rupanya mereka tertarik investasi di Lucent Gem." terdengar suara dari balik Vertunya bicara serius.
"Baiklah, Ethan. Aku akan segera datang ke kantor sekarang. Jam berapa mereka datang ?" sahut Noah Jones dalam balutan handuk kering sedangkan bagian atas tubuhnya telanjang, basah oleh sisa air mandi.
"Sekitar pukul delapan lebih, mereka sudah tiba di Lucent Gem setengah jam yang lalu. Aku sendiri juga baru datang ke kantor, tidak tahu jika mereka telah menunggu." sahut suara Ethan Coen menjawab dari balik telepon.
Noah Jones melirik ke arah jam dinding di kamarnya, titik hitam di matanya membesar bulat.
"Ya, ampun.... Sekarang sudah pukul delapan pagi, kenapa kau baru bilang sekarang, Ethan." kata Noah terkejut panik.
"Sudah ku bilang kalau aku juga baru sampai di kantor Lucent Gem. Mana aku tahu kalau pihak Vertu akan datang kemari, paman." terdengar suara Ethan Coen yang tak terima disalahkan oleh Noah.
"Baiklah, baiklah... Aku akan datang ke kantor sekarang, tunggu aku di sana. Buat mereka senang dan betah, Ethan Coen." sahut Noah Jones sambil menyisir rambutnya yang basah.
"Siap, paman." jawab Ethan Coen lalu panggilan telepon terputus tanpa salam.
"Tut..."
Noah Jones mendesah pelan, mendongak ke atas sembari menghela nafas panjang.
"Fuih...!" desahnya. "Ini sangat mengesalkan."
Noah Jones menunduk lalu meletakkan Vertu miliknya ke atas ranjang dengan asal. "Pluk." Ia bergegas ke Walk-In Closet miliknya di kamar ini, terdapat wardrobe tersimpan di ruangan khusus itu. Noah Jones buru-buru berganti pakaian rapi dan sesudahnya dia berniat menemui Alfred untuk memberitahukan pada kepala pelayan bahwa dia tidak bisa mengantarkan Emma pergi ke Butik Dior.
Sejam kemudian...
Di Butik Dior.
Emma telah tiba di butik diantar sopir, ia datang sendirian tanpa Noah Jones menemaninya. Sebab Noah berangkat ke Lucent Gem untuk urusan pekerjaan yang lebih penting.
Emma berjalan-jalan mengitari ruangan butik Dior yang lenggang, maklum butik belum buka di jam segini. Ia datang lantaran undangan khusus dari Madame Claire sebagai pelanggan istimewa dengan akses terbatas yang diprioritaskan.
Ruangan di Butik Dior terasa sepi, ada dua orang pekerja yang sibuk berbenah untuk persiapan butik.
Emma melihat-lihat ke sejumlah deretan gaun yang menjadi koleksi butik, beberapa menit yang lalu, setibanya dia di sana, salah satu karyawati memberitahukan padanya bahwa Madame Claire masih diperjalanan menuju Butik. Ia diharapkan menunggu dengan sabar.
"Krieet...!" Pintu butik terdorong pelan dari arah depan. Emma menoleh pelan ke arah pintu masuk.
Tampak seorang wanita tua renta berpenampilan lusuh masuk sembari menenteng tas bulukan ke ruangan butik.
Ia mengangguk sekilas kepada Emma yang memperhatikannya.
"Maaf, apa butik sudah buka sekarang?" tanyanya ramah pada Emma.
"Mmm, kurasa belum, masih tutup. Tapi anda bisa tanyakan pada karyawati disini. Mereka sedang sibuk berbenah di ruangan dalam." sahut Emma sopan.
"Baiklah, aku akan menunggu di ruangan tunggu saja. Biarkan mereka bersiap-siap untuk butik." kata wanita tua itu tersenyum lembut.
"Ya, silahkan." sahut Emma sembari mengangguk pelan. Lalu membalas dengan senyuman manis.
Emma melanjutkan kegiatan nya, melihat-lihat gaun, ia berpikir gaun apa yang pantas dia kenakan nanti di acara pesta Nenek Charlotte malam ini.
Ia sibakkan deretan gantungan gaun pada rak baju, memilah-milah mana gaun yang pas untuknya.
"Kau bisa mencoba gaun berwarna ungu itu, nona muda. Terlihat pas di kulitmu yang bersih, dan kau akan tampil glowing jika mengenakannya."
Wanita tua memberi saran pada Emma dari tempatnya duduk, ia tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Sekilas Emma menoleh ke arah wanita tua, lalu menjawab.
"Aku tidak terlalu suka warna ungu, tapi aku akan mencobanya."
"Kau tidak usah ragu-ragu, pilihan gaun berwarna ungu itu sangat pas buatmu, nak." kata wanita tua berpakaian lusuh. "Kapan acaranya?"
"Malam ini." sahut Emma.
"Mid-Length Flared Dress in Purple Silk Faille. Ciri khas keasliannya meliputi bahan silk faille premium, potongan berkerut dan detail ikat pinggang dengan pita besar di bagian belakang. Sangat cocok apabila dikenakan ke acara pesta malam hari. Kulit mu akan memancar cantik dan bersinar indah kalau kau pakai gaun itu, nak." tegas wanita tua.
"Baiklah, aku akan mempertimbangkan saran anda, tapi aku takut tidak bisa membelinya." kata Emma ragu.
"Harganya berkisaran puluhan juta, tidak terlalu mahal bagi pelanggan istimewa Dior. Kau diundang kemari di jam privasi, artinya kau adalah tamu kehormatan disini. Harga segitu tidak terlalu mahal buat pelanggan istimewa." sahut wanita tua.