Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merawat Amira
Setelah kembali dari rumah sakit, Farhan memutuskan untuk merawat Amira, bahkan dia meminta asisten rumah tangga untuk tinggal di rumah membantu merawat dan menjaga Amira. Awalnya Amira menolak, tapi Farhan tidak mendengarkan keinginan istrinya. Dia benar-benar merasa bersalah, bahkan berkali-kali Farhan memukul kepalanya hanya untuk memaki diri sendiri yang begitu bodoh.
"Aku mohon, Amira, kamu harus istirahat total, ini semua demi kebaikanmu," ucap Farhan tak berani menatap wajah Amira. Amira akhirnya setuju.
"Mas, kenapa? Sejak tadi cuma diam aja nggak berani natap aku, aku ngerepotin kamu ya?" Tanya Amira dengan dugaannya.
Farhan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Amira. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak salah, aku yang salah karena semalam terlalu memaksa kamu."
Akhirnya Amira mengerti kenapa suaminya banyak diam. "Mas, aku ngga apa-apa, ini pengalaman pertama kita jadi wajar kalau semuanya masih menggebu-gebu. Jangan merasa bersalah gitu, aku jadi sedih liatnya," ucap Amira agar Farhan bersikap biasa dan tidak merasa bersalah.
Sedangkan isi kepala Farhan berbeda dengan Amira, seandainya Amira bisa membaca isi pikirannya bagaimana semalam dia menggagahi Amira namun yang dipikirkan perempuan lain, mustahil kalau Amira tidak marah. Ini adalah rahasia menjijikan yang akan Farhan simpan seumur hidupnya.
Farhan menghampiri Amira dan mencium keningnya sambil mengucapkan kata maaf entah yang keberapa kalinya. "Maaf."
**
Pukul 5 sore, kedua adik kembar Amira sudah kembali dari sekolah, dia sedikit terkejut karena di rumah kakak iparnya banyak orang, ya hari ini orangtua Farhan dan adiknya mampir ke rumah Farhan setelah dia mengabari keluarganya. Awalnya tidak mau memberi tau, tapi dia harus memberikan alasan yang logis saat meminta asisten rumah tangga dari rumah utama untuk bekerja di rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap salam keduanya. Amara dan Ammar menyalami Farhan lebih dulu, kemudian kakak iparnya itu memperkenalkan keduanya pada keluarga, karena saat nikahan kemarin tidak sempat memperkenalkan si kembar.
"Mah, ini Amara dan Ammar adik kembar Amira." Ayumi hanya menganguk dengan raut wajah sedikit judes, hal itu tak luput dari penglihatan Ammar. Mereka menyalami ketiganya dengan sopan.
"Semuanya kami pamit membersihkan diri dulu," ucap Amara yang disetujui Ammar. Mereka belum tau kalau kakaknya sedang sakit dan dilarikan ke RS.
"Iya, sebaiknya kalian mandi dan makan dulu, nanti ke sini lagi, ada yang Mas mau kasih tau." Keduanya mengangguk.
Setelah mereka berlalu, ibunya tak bisa lagi menahan untuk bicara.
"Kamu ini, Han. Nikahin perempuan udah kaya nikahin janda anak dua, coba kamu terima perjodohan mamah kamu, nggak akan kerepotan ngurusin anak orang," Ucapan Ayumi benar-benar pedas, hal itu masih bisa di dengar Ammar, karena belum sempat masuk ke dalam kamarnya, namun harus mendengar kata-kata menyakitkan.
Ammar diam sejenak bersandar belakang pintu kamarnya. Iya memikirkan banyak hal setelah ini. Dia tidak ingin terus-terusan menjadi beban untuk kakak dan iparnya. Dia berpikiran untuk mengambil kelas ekslarasi supaya cepat lulus dan bekerja sambil kuliah, tapi bagaimana dengan adik kembarnya?
Kembali ke ruang tamu.
Farhan benar-benar tidak bertenaga meladeni ibu kandungnya, karena yang ada hanya perdebatan yang ngga berkesudahan.
"Mah, plis jangan mulai lagi, aku lagi nggak mau ribut sama mamah."
**
Arhan membantu menengahi keduanya. "Udah, Mah, kamu ini nggak bisa tenang dikit apa? Tujuan kita ke sini buat jenguk Amira, bukan bikin ribut."
"Mamah tadi nggak mau ikut, tapi Papah paksa. Lagian, anak kamu baru sehari nikah sama anak orang, udah dibuat sakit. Kirain Mamah nikah nggak pake perasaan, taunya gragas," sahut Ayumi.
Farhana hanya tersenyum mendengar perdebatan keluarganya. Semenjak Farhan memilih tinggal sendiri, kejadian adu mulut seperti ini bukan hal baru lagi.
Setengah jam kemudian, si kembar kembali ke ruang tamu.
"Mas, tadi mau ngomong apa?" tanya Ammar sopan.
Dengan ragu, Farhan menceritakan semuanya, tapi bukan tentang malam pertama semalam. "Kakak kalian sedang sakit. Tadi sudah Mas bawa ke RS karena demam tinggi. Kalau kalian mau lihat, silakan ke kamar. Tapi kalau Amira sedang tidur, jangan diganggu." Ammar terkejut mendengar penjelasan kakaknya, begitu juga Amara. Keduanya langsung berlari ke arah kamar utama. Saat membuka pintu, yang pertama kali mereka lihat adalah wajah pucat Amira yang sedang tertidur.
Keduanya tidak berniat membangunkan, hanya mendekat dan menatap lekat wajah perempuan yang dianggap sebagai pahlawan dalam hidup mereka.
"Bang, Kakak sakit apa? Kemarin baik-baik aja," tanya Amara sambil berkaca-kaca.
"Kita doakan Kakak cepat sembuh," sahut singkat Ammar.
Keduanya duduk di sofa yang ada di kamar itu. Ammar sebagai laki-laki merasa bertanggung jawab atas kehidupan kakak dan adik kembarnya, tapi dia masih terlalu dini.
Rasanya berat sekali memikul beban itu sendirian di usia yang masih belia. Dia menatap lekat wajah Amira yang tampak sangat lemah, ada rasa bersalah yang menggerogoti hati. Seandainya dia lebih dewasa, mungkin dia tidak perlu melihat kakaknya berjuang dan menikah dengan laki-laki yang keluarganya tidak menyukai kakaknya.
Amara menyeka air mata yang mulai menetes di pipinya, takut-takut suaranya akan membangunkan Amira. "Padahal tadi pagi aku udah liat kakak pucat, tapi aku nggak peka, harusnya aku biarin kakak istirahat." bisiknya pelan, suaranya bergetar tertahan tangis.
Ammar mengelus bahu adiknya pelan, berusaha terlihat tegar meski hatinya pun sama sakitnya. "Nggak apa-apa, Ra. Kakak cuma kecapean aja, nanti juga sembuh. Kamu jangan kaya gini, nanti kakak sedih, ingat ya kita harus ceria di depan kakak. "
Di ambang pintu, Farhan berdiri diam menyaksikan pemandangan itu. Hatinya terasa diremas-remas melihat adik-adik iparnya begitu menyayangi istrinya, tapi di sisi lain rasa bersalah kembali datang. Dia merasa sudah benar-benar menyakiti ketiganya.
Perlahan Farhan melangkah masuk mendekati mereka. "Sudah, jangan nangis. Nanti Kak Amira bangun kalau dengar suara tangisan kamu amara," ucapnya lirih sambil melihat ke arah Amira.
Mendengar suara bisik-bisik ketiganya akhirnya membuat Amira terbangun. Hal pertama yang dia lihat adalah mata amara yang memerah, adik bungsunya pasti habis nangis karena Amara memang cengeng dan sedikit manja.
"Kalian sudah pulang sekolah? " Mendengar suara amira keduanya mendekat dan amara memeluk kakaknya .
"Kakak kenapa seperti ini? sebelumnya kakak jarang sakit dan selalu jadi Kakak terkuat aku huhuhu," Amara melupakan perintah Ammar agar terlihat ceria di depan kakaknya, malah nangis kencang. Amira sedikit tertidur dengan tingkah adiknya.
"Kakak nggak apa-apa amara, cuma kecapean aja besok juga udah pulih " sahut amira agar membuat adiknya tenang dan tidak khawatir.