"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17 : Uang
"White!" Theo menunjuk ujung mulut White.
"Hehehehe, White sekarang bisa mengeluarkan racun yang kuat. Kakak senang kan? Kan?" White memamerkan kekuatan barunya dengan mata yang berbinar-binar.
"Haha, benar White. Oiya sebentar ya."
Theo segera pergi ke tong jus buah yang belum di fermentasi.
"Ambil sedikit, lalu campur."
Theo mencampur sedikit jus dengan sebotol endapan bir di gelas.
"Tutup dengan sihir ruang, percepat dengan sihir waktu."
Theo lanjut mencampur minuman di gelasnya dan menaruhnya di tong.
"Tutup."
Setelah Theo selesai mengatur rasio waktu, Theo segera mengajak White keluar dari ruang jiwa.
"Kak, Ayo coba. White mau nembak, pup, pup, pup."
"Hahaha, iya iya. Aku bilang Silas dulu."
Theo keluar dan duduk di meja bar.
"Paman Paul, Silas sudah berangkat ya?"
"Ya, dia baru berangkat tadi."
"Kalau begitu Theo pergi dulu paman."
Theo melangkahkan kakinya keluar dari tavern, lalu ia mulai berjalan ke kuil.
"Woah..."
Ternyata, kuil tersebut memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari yang dikira Theo.
Theo masuk ke dalam kuil, lalu ia memasuki sebuah lorong. Sampai di ujung lorong, Theo menyentuhkan tangannya.
"Umm... Kayanya begini?" Theo mencoba menyentuhkan tangannya mencari tombol. Namun sayang, dia tidak dapat menemukannya.
"Penyusup!" Seketika terdengar teriakan dari dalam. Terdengar derap langkah mulai mendekat, dan Theo dilanda kepanikan.
"Penyusup! Penyusup! Penyusup!"
Drap! Drap! Drap! Drap!
"Theo?" bisik Robertus kepada Theo.
"Ha!.... Oh Robert, kukira siapa."
"Kenapa kamu di sini? Ku kira ada penyusup tadi."
Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Hehehe, aku ingin bertambah kuat. Oiya, apakah ada setidaknya guild atau serikat petualang?"
"Hmm... Ayo masuk dulu ke dalam Rubanah Suci."
Ketika Theo melangkahkan kakinya, ia dapat dengan jelas merasakan perbedaan hawa di dalam rubanah.
"Entah perasaanku atau tidak, tapi rasanya jauh lebih hangat ya."
Robertus mengangguk setuju, ia kemudian mendatangi sebuah mesin.
Mesin itu dibuat dengan kaca dan besi, serta ada rantai mirip borgol dengan tambahan kulit.
"Apa itu?"
"Mmm... Kamu mau bertambah kuat kan? Mau jadi kelinci percobaan nggak?"
"Ok."
Theo langsung di taruh di atas mesin, tangannya dirantai dan kakinya juga.
"Sekarang coba kamu gerakan seluruh tangan dan kakimu."
Theo mencoba menggerakkan semua anggota tubuhnya.
"Ringan!" Theo merasa senang ketika ia merasa tubuhnya sangat ringan.
"Ketua Robertus, mesin ini masih dalam tahap pengembangan. Mohon jangan digunakan pada manusia."
"Ah kalian ini, tenang saja aku yang menjamin. Jalankan protokol 01."
"Baik." seorang alkemis segera pergi dan menekan sebuah tombol.
Drrrrr
Zingg!
Wut
Berat, Theo langsung merasakan seluruh tubuhnya ditimpa batu yang sangat besar.
"Ok, sekarang kamu gerakan seluruh tangan dan kakimu seperti tadi."
Theo berusaha, tangannya ia gerakkan, kakinya ia gerakkan. Susah, tapi Theo selalu berusaha.
"Hei, jalankan protokol 02!" Robertus berteriak kepada alkemis yang menekan tombol.
"Tapi..."
"Haish... Laksanakan!" Robertus berteriak kepada para alkemis.
"Siap."
Alkemis itu segera menekan tombol lagi.
Wuuut
Brak
Tubuh Theo mulai terasa ditimpa truk besar. Badannya susah bergerak, dan seluruh kakinya mulai terasa sakit.
'Gila! Dia mau membunuhku."
", Argh, Hea!" Theo lagi-lagi bisa menggerakkan tubuhnya.
"Sekarang protokol nomor 10."
"Tapi..."
"Kerjakan!"
Alkemis itu menyiramkan sebuah ramuan kedalam mesin.
Swush
Ramuan itu disiramkan ke tubuh Theo.
"Argh"
Theo merasakan sekujur tubuhnya ambruk, panas, dingin, berat, ringan, dan masih banyak lagi.
"Tahan!"
"Hurg! Haa!" Theo mengeluarkan sisa tenaganya untuk melawan seluruh tekanan yang dia dapatkan membuat dia bisa menggerakkan tangan dan kakinya.
Bruk!
Theo langsung pingsan seketika mesin dimatikan.
Theo terbangun di atas sebuah ranjang, ia sadar bahwa ia sudah diantar ke tavern tempatnya menginap.
Tubuhnya sakit, tidak ada sedikitpun sisa rasa di tubuhnya. Theo segera masuk ke dalam ruang jiwanya.
"Setidaknya aku bisa bergerak di sini."
Theo mengecek cuka yang ia buat, sudah jadi. Lalu Theo mengecek wine yang ia buat.
Glegek
Theo menenggak wine dan terkejut karena wine itu sudah jadi dan rasanya sangat enak.
"Dasar Robert sialan! Ngomong-ngomong, wine ini sempurna."
Ketika Theo kembali dari ruang jiwanya, dia menemukan Silas sedang mengguncangkan tubuhnya.
"Theo! Bangun Theo!" Silas menangis sambil mengguncangkan tubuh Theo.
Klatak!
Theo memukul kepala Silas, "Berisik bodoh!"
Kemudian Theo kembali ke tempat tidurnya, berharap bisa tidur kembali. Namun naas, Theo sudah tidak bisa tidur.
"Silas, bisa tolong panggilkan paman Paul? Oh jangan lupa, minta dia membawa botol dan gelas."
Silas keluar dari ruangan itu, meninggalkan Lucy dan Theo di dalamnya.
"Theo!" Lucy segera memeluk Theo.
"Kenapa bisa kamu pingsan selama sepuluh hari."
"Hah? Sepuluh? Gila." Theo segera mengalihkan pandangannya dari Lucy yang masih memeluknya.
"Iya, oh iya, kamu kayanya lebih berotot ya. Entah kenapa, waktu kemaren kamu tidak punya otot sebesar ini." Lucy mulai meraba tubuh Theo.
"Oh iya, aku dulu lebih kurus. Wah sialan, dasar Robert sialan!"
"Sshh, jangan keras-keras. Dia merupakan petinggi gereja yang sangat dihormati."
"Ya, ya ya."
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan sosok paman Paul dan Silas.
"Hehehehe, ternyata kamu memang pacaran sama Theo ya."
"Nggak paman loh selalu usil, aku pergi!" Lucy langsung pergi dengan muka merah padam.
"Hahahahhaha, oiya ada gerangan apa kamu memanggilku?"
"Paman ingat dua hari lalu ngasih aku endapan wine kan? Mau liat hasilnya nggak?"
"Tentu," ucap Paul sambil mengelus janggutnya.
Theo memegang Paul, lalu ia memasukkan Paul ke dalam ruang jiwanya.
Theo segera mengambil tong wine dan membukanya.
"Waah..."
Seketika tong dibuka, tercium bau bunga sedikit bercampur dandan baru madu.
"Ini!" Paul langsung mengambil segelas air fermentasi yang dibuat Theo.
Glek
Mata Paul langsung bersinar, dia segera meminta Theo menjual wine itu untuknya.
"Jual kepadaku, akan kubayar dengan harga yang mahal."
"Eh... Baiklah, berapa harga yang kau tawarkan?"
Paul segera mengelus janggutnya lebih kencang, berusaha berpikir.
"Erm... Gimana kalo satu koin emas untuk satu tong?"
"Maaf, aku nggak tau sistem ekonomi di sini. Gimana kalo Lucy dan Silas aja yang menentukan harga?"
Theo dan Paul segera keluar dari ruang jiwa, segera memanggil Lucy dan Silas yang menunggu di depan kamar.
"Jadi, ini produk yang akan aku jual." Theo mengeluarkan segelas wine yang sangat wangi.
"Ini..." Silas memberanikan diri untuk meminum wine itu.
Glek
"Gimana kalo ini dihargai satu koin emas setiap tong nya?"
"Nggak, nggak, nggak, menurutku itu harga yang terlalu rendah." Silas segera membantah penawaran yang diberikan Paul.
"Setuju, sebotol wine ini pasti laku dijual lima koin perak setiap satu botol," ucap Lucy.
Uhuk!
"Lima koin perak? Hei, hei, hei, kau bercanda kan Lucy? Dengan harga wine sekitar 2 koin perak, mana mungkin ada yang mau membeli wine dengan harga 5 koin ini?"
Theo mengangkat tangannya, lalu ia mengusulkan, "Gimana kalau gini aja, Aku jual dengan harga satu koin emas. Namun, aku menetapkan suatu syarat."
"Syarat apa itu?"
...****************...
End Ch. 17 : Uang
Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment, dan favorit.