Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Gelombang energi yang dilepaskan Selena merambat jauh melampaui batas pegunungan utara dan menyentuh setiap sudut dunia yang selama ini tersembunyi.
Di kota-kota manusia, di kedalaman hutan, dan di balik benteng-benteng Dewan, setiap mahluk yang memiliki tetesan darah serigala merasakan satu hal yang sama, yaitu kekosongan. Taring mereka menyusut, indra penciuman yang tajam memudar, dan kekuatan liar yang selama ini mereka puja lenyap bagai uap di pagi hari.
Selena melayang beberapa inci di atas tanah yang sekarang menghijau. Matanya tidak lagi memancarkan amarah, melainkan keheningan yang dingin dan mutlak. Ia menatap Joan yang kini meringkuk di atas rumput tanpa keagungan Alpha. Joan tampak kecil, rapuh, dan sangat manusiawi.
"Jadi ini rasanya ...." Joan berbisik dan suaranya gemetar. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang sekarang tidak lagi mampu mengeluarkan cakar. "Kamu benar-benar melakukannya. Kamu membunuh mahluk di dalam diri kami."
"Aku tidak membunuhnya, Joan," suara Selena terdengar seperti harmoni ribuan dawai. "Aku hanya mengambil kembali apa yang kalian curi ribuan tahun lalu. Keberadaan kalian adalah sebuah kesalahan yang tumbuh dari ambisi. Kalian ingin menjadi dewa, namun kalian hanya menjadi monster."
Lucian yang masih berlutut, tersenyum puas melihat kejatuhan Joan. "Sempurna. Sekarang Sang Pencipta, biarkan aku membantumu menata ulang dunia ini sesuai kehendakmu. Aku telah menjaga rahasiamu selama dua puluh tahun. Aku adalah pelayanmu yang paling setia."
Selena menoleh perlahan ke arah Lucian. Tatapannya membuat Lucian membeku.
"Setia?" Selena bertanya lembut. "Kamu bekerja untuk ibuku hanya karena kamu tahu bahwa suatu saat aku akan terbangun. Kamu melindungiku bukan karena cinta, tapi karena kamu ingin menjadi orang yang berdiri di samping "Tuhan" saat dia bangkit. Kamu tidak berbeda dengan Joan, Lucian hanya metode kalian yang berbeda."
Lucian terperangah. "Tapi Selena, aku yang menyelamatkanmu!"
"Kamu membiarkan ribuan kaummu menderita di dalam sel hanya untuk menunggu saat ini." Selena mengangkat tangannya. "Kamu bilang kamu bekerja untuk ibuku? Ibuku mengorbankan nyawanya agar aku tidak pernah terbangun, Lucian. Dia tahu betapa berbahayanya kekuasaan ini. Dan kamu? Kamu justru memancingku untuk menjemputnya."
Dengan satu jentikan jari, tubuh Lucian perlahan mulai memudar bukan menjadi abu melainkan menjadi butiran cahaya yang kembali ke alam. Ia tidak lagi memiliki tempat di tatanan yang sedang Selena bangun.
Saat Lucian menghilang, sebuah suara lembut memanggil dari balik pohon besar di pinggir lembah. Seorang wanita melangkah keluar. Ia mengenakan pakaian sederhana dan wajahnya terlihat lelah namun damai.
Selena terkesiap. "Ibu?"
Wanita itu tersenyum sedih. "Bukan, Selena. Aku adalah sisa-sisa memori yang tertanam dalam darahmu, tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui sebelum kamu melangkah lebih jauh."
Memori sang ibu mendekat dan menembus waktu yang terhenti. "Darah Bulan bukan hanya sebuah gelar dan kamu bukan hanya Sang Pencipta yang terbangun. Kamu adalah Breaker itu sendiri. Senjata yang mereka cari tidak pernah ada dalam bentuk fisik. Senjata itu adalah kesadaranmu."
Selena terdiam. "Maksud Ibu?"
"Dunia serigala diciptakan olehmu dalam kehidupan sebelumnya karena kamu merasa dunia manusia terlalu lemah untuk dilindungi. Namun ciptaanmu memberontak. Untuk menghentikan mereka, kamu membagi dirimu menjadi dua, satu bagian menjadi manusia yang lupa akan segalanya, itu adalah kamu, dan satu bagian lagi menjadi "kutukan" yang merantai kekuatan mereka."
Wanita itu menghilang dan meninggalkan Selena dalam kebenaran yang paling pahit. Segala konflik, Dewan, Joan, Lucian, dan penderitaan selama ini adalah hasil dari perangnya dengan dirinya sendiri ribuan tahun yang lalu.
Joan mendongak dan matanya sekarang biru murni, menatap Selena dengan penyesalan yang jujur.
"Jika kamu adalah pencipta kami, apakah ada tempat bagi kami di dunia barumu? Atau kami hanya akan menjadi sejarah yang dihapus?"
Selena menatap langit yang sekarang mulai menampakkan fajar. Ia bisa saja menghapus semua ingatan tentang mahluk serigala dan membuat mereka hidup sebagai manusia biasa tanpa pernah tahu bahwa mereka pernah memiliki taring. Ia bisa memberikan kedamaian yang mutlak.
Namun, ia melihat belati di pinggangnya, belati yang diberikan Riven. Ia mengingat Joan yang pernah menjaganya di kabin, meskipun sebagian adalah sandiwara, namun kebersamaan itu nyata.
"Tatanan baru tidak akan dibangun di atas kebohongan," ucap Selena.
Selena menutup matanya. Energi perak yang menyelimuti lembah mulai menyusut, namun tidak menghilang. Sebaliknya energi itu masuk kembali ke dalam tubuh setiap orang yang ada di sana.
Tiba-tiba taring Joan kembali muncul. Bulu hitamnya tumbuh sekilas sebelum menghilang lagi. Kekuatan itu ada, namun tidak lagi liar.
"Aku tidak akan menghapus kalian," suara Selena kini kembali menjadi suara manusia, namun penuh otoritas. "Tapi aku akan mengikat jiwa kalian dengan bumi ini. Kalian akan tetap menjadi serigala, namun kalian tidak akan bisa menyakiti mahluk lain tanpa merasakan rasa sakit yang sama di tubuh kalian sendiri. Itulah hukum baruku."
Selena perlahan mendarat di tanah. Pendaran di kulitnya hilang. Ia tampak seperti Selena yang dulu, gadis dari dunia manusia. Namun di tangannya, ia masih menggenggam hulu pedang yang kini hanya berupa cahaya tipis.
Joan berdiri dan mendekati Selena dengan ragu. "Selena?"
Selena menatapnya, ada luka yang tidak akan pernah sembuh di matanya. "Pulanglah, Joan! Bubarkan Dewanmu. Jadilah pemimpin yang sebenarnya bukan penguasa yang bersembunyi di balik bayangan."
"Dan kamu?" tanya Joan.
Selena melihat ke arah pegunungan utara yang sekarang bersinar terkena matahari pagi.
"Aku harus pergi ke tempat di mana pencipta seharusnya berada. Menunggu hingga dunia ini benar-benar siap untuk memegang takdirnya sendiri."
Selena berbalik dan berjalan menuju kabut yang perlahan menipis. Joan ingin mengejarnya, namun ia tahu ada batas yang tidak bisa lagi ia lalui. Selena bukan lagi miliknya dan mungkin tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Di tengah keheningan Lembah Pembuangan yang sekarang menjadi taman bunga yang indah, sang Darah Bulan menghilang ke dalam cahaya, meninggalkan dunia yang baru saja mendapatkan kesempatan kedua, sebuah dunia di mana mahluk serigala dan manusia harus belajar hidup berdampingan, di bawah pengawasan diam-diam dari pencipta mereka yang kini berjalan di antara bintang-bintang.
Perang telah berakhir, namun cerita tentang seorang gadis bernama Selena yang membawa pedang cahaya akan terus dibisikkan oleh setiap serigala yang memandang bulan purnama sebagai pengingat bahwa kekuatan tanpa hati hanyalah kutukan yang menunggu untuk diputus.