NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

REHABILITASI HATI DAN KOMPLIKASI RASA

Malam di minimarket pinggir jalan itu terasa lebih mewah daripada restoran berbintang mana pun bagi Kania. Mereka duduk di kursi plastik depan toko, di bawah sinar lampu neon yang berkedip-kedip. Devan benar-benar memakan es krim cokelatnya dengan tenang, sementara Kania sibuk mengayun-ayunkan kakinya, merasa menang karena berhasil membawa sang dokter bedah saraf "turun kasta" ke tempat rakyat jelata.

"Dok, lihat deh. Dokter makan es krim tapi mukanya masih kayak lagi mikirin cara bedah tengkorak orang," celetuk Kania sambil menyenggol lengan Devan.

Devan melirik es krimnya, lalu melirik Kania. "Ini disebut distraksi kognitif , Kania. Saya sedang mencoba mengalihkan fokus dari kegagalan motorik pasien tadi ke rasa manis berlebih dari cokelat ini."

"Halah, bilang aja enak!" Kania tertawa. "Dokter tahu nggak? Dokter itu terlalu keras sama diri sendiri. Hidup itu nggak harus selalu tentang keberhasilan. Kadang, hidup itu tentang seberapa berani kita nerima kalau kita cuma manusia biasa."

Devan terdiam. Ia menatap Kania yang sedang asyik menjilati es krimnya dengan ceria. Gadis ini selalu punya cara untuk menyederhanakan hal-hal yang ia buat rumit.

"Kamu benar," ucap Devan pelan. "Mungkin itu sebabnya saya butuh kamu. Kamu adalah pengingat bahwa di luar ruang operasi, dunia masih berputar dengan cara yang tidak kaku."

Kania hampir tersedak es krimnya. "Apa? Dokter barusan bilang... butuh aku?"

Devan tidak menjawab. Ia hanya berdiri, merapikan bungkus es krimnya, dan membuangnya ke tempat sampah dengan akurasi yang presisi. "Ayo pulang. Ini sudah hampir tengah malam, dan hormon melatonin kamu harus segera bekerja supaya besok pagi kamu tidak bangun dengan otak yang tumpul."

"Ih! Merusak suasana banget sih!" Kania menghentakkan kaki, namun ia tetap tersenyum saat Devan membukakan pintu mobil untuknya.

Keesokan harinya, kabar tentang kedekatan dr. Devan dengan seorang mahasiswi mulai menjadi buah bibir di Rumah Sakit Medika Utama. Devan yang biasanya tidak pernah peduli dengan gosip, kali ini merasakan tatapan-tatapan aneh dari para perawat dan rekan sejawatnya.

Puncaknya adalah saat ia berada di ruang makan dokter. Dr. Sarah duduk di hadapannya dengan wajah yang terlihat sangat tidak senang.

"Devan, aku dengar kamu sering terlihat di area kampus hukum?" tanya Sarah sambil mengaduk kopinya dengan kasar.

"Saya hanya mengantar jemput tunangan saya, Sarah. Apa ada masalah dengan itu?" jawab Devan dingin tanpa mengalihkan pandangan dari jurnal medis di tangannya.

"Masalah? Tentu saja tidak. Tapi kamu harus ingat posisimu. Kita sedang diproyeksikan untuk menjadi kepala departemen bedah saraf bersama-sama. Citra profesional itu penting. Menjalin hubungan dengan gadis yang bahkan belum lulus kuliah... itu terlihat sedikit putus asa, bukan?"

Devan menutup jurnalnya dengan suara *brak* yang cukup keras hingga beberapa dokter lain menoleh. Ia menatap Sarah dengan tatapan yang sangat tajam—tatapan yang biasanya ia gunakan saat asistennya melakukan kesalahan fatal di meja operasi.

"Keprofesionalan saya dinilai dari keberhasilan operasi dan dedikasi saya pada pasien, bukan dari dengan siapa saya menghabiskan waktu luang saya. Dan Sarah," Devan menjeda, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Kania bukan sekadar gadis yang belum lulus. Dia adalah orang yang membuat saya tetap menjadi manusia di saat pekerjaan ini mencoba membuat saya menjadi robot. Jangan pernah menghina dia lagi di depan saya."

Devan berdiri dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Sarah yang terpaku dengan wajah merah padam karena malu dan marah.

Sementara itu, Kania sedang menghadapi ujiannya sendiri. Bukan ujian skripsi, melainkan ujian keberanian. Ia memutuskan untuk datang ke rumah sakit tanpa memberi tahu Devan, karena ia ingin membawakan makan siang buatan Mamanya yang katanya "ampuh buat meluluhkan hati pria kaku".

Namun, saat ia sampai di lobi rumah sakit, ia melihat kerumunan di depan unit gawat darurat. Ada sebuah kecelakaan berantai besar, dan semua dokter bedah dipanggil.

Kania berdiri di sudut, melihat Devan berlari keluar dari lift menuju area darurat. Jas putihnya berkibar, wajahnya sangat serius, memberikan perintah dengan cepat dan tegas kepada para perawat. Di sana, Devan terlihat seperti seorang jenderal di tengah medan perang.

Kania baru saja akan melangkah maju saat ia melihat Sarah berlari di samping Devan. Mereka berkomunikasi dengan bahasa medis yang sangat cepat, saling paham hanya dengan satu tatapan mata. Mereka masuk ke dalam area steril bersama-sama, meninggalkan Kania yang terpaku memegang kotak bekalnya.

Rasa sesak itu kembali muncul. Kania menyadari satu hal yang menyakitkan: ia bisa mencairkan hati Devan, ia bisa membuat Devan tertawa, ia bisa menemani Devan makan es krim di minimarket. Tapi ia tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari "medan perang" Devan. Ia tidak bisa membantu Devan menyelamatkan nyawa. Di dunia itu, Sarah-lah yang menjadi pendamping Devan.

Kania menunduk, menatap kotak bekal bermotif bunga di tangannya yang terasa sangat konyol di tengah hiruk-pikuk rumah sakit.

"Mungkin dr. Sarah bener," bisik Kania pada dirinya sendiri. "Gue cuma gangguan buat dia."

Ia meletakkan kotak bekal itu di meja informasi dengan sebuah catatan kecil: 'Buat Dokter Devan. Dimakan kalau udah selesai perang ya. Semangat, Dokter Hebat.'

Kania berbalik dan berjalan keluar dengan langkah gontai. Namun, baru saja ia sampai di pintu keluar, sebuah tangan besar menarik lengannya.

"Kania?"

Kania berbalik dan terkejut melihat Devan berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, wajahnya masih tegang tapi matanya menatap Kania dengan penuh tanda tanya. Ia belum masuk ke ruang operasi.

"Dok? Bukannya ada keadaan darurat?"

"Pasiennya baru sampai lima menit lagi. Suster tadi bilang ada gadis berisik yang naruh kotak bunga di meja informasi. Saya tahu itu kamu," ucap Devan. Ia mengabaikan panggilan Sarah dari kejauhan.

"Aku... aku cuma mau bawain makan siang. Tapi kayaknya Dokter lagi sibuk banget. Maaf ya ganggu," Kania menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Devan melangkah maju, memperpendek jarak. Di tengah lobi rumah sakit yang ramai, ia tidak peduli lagi pada citra profesional yang diagung-agungkan Sarah. Ia memegang kedua bahu Kania.

"Dengar, Kania. Operasi ini mungkin akan memakan waktu sepuluh jam. Saya akan sangat lelah, sangat stres, dan mungkin akan sangat menyebalkan nanti malam. Tapi saya ingin kamu tahu satu hal." Devan menatap dalam ke mata Kania. "Alasan saya ingin cepat-cepat menyelesaikan 'perang' ini adalah supaya saya bisa pulang dan melihat kamu lagi. Kamu bukan gangguan. Kamu adalah tujuan saya pulang."

Kania terdiam, air matanya jatuh satu tetes, tapi kali ini karena rasa lega yang luar biasa.

"Janji ya?" bisik Kania.

"Janji kelingking," jawab Devan sambil sedikit tersenyum, lalu ia berbalik dan berlari menuju ruang operasi dengan kekuatan baru di langkahnya.

Kania berdiri di sana, memandangi punggung Devan sampai hilang di balik pintu otomatis. Ia tahu, perjalanannya masih panjang, dan rintangan seperti Sarah masih akan ada. Tapi selama ia menjadi "tujuan pulang" bagi Devan, ia tidak akan pernah menyerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!