NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos atau Calon?

Setelah makan sate, Shane mengantar Aiena pulang, namun ia melajukan mobilnya sangat terlambat padahal jalanan di depan cukup sepi. Hal itu mengundang pertanyaan dari Aiena. Ia khawatir ada yang tidak beres dengan mobil bosnya itu.

“Ada masalah, Shane? Kok pelan banget? Ini nggak bakal mogok kan?”

Shane tertawa, kemudian menggeleng. “Heh, jangan ngejek ya. Mobil jemputan kamu ini baru tiga bulan usianya, aman semua, nggak mungkin mogok di tengah jalan.”

“Terus, kenapa lambat banget?”

“Karena aku mau lama sama kamu. Nggak pengen cepet pisah,” jawab Shane sambil tersenyum menggoda.

“Besok kita juga ketemu lagi kan, Shane.”

“Tapi, aku maunya bareng kamu terus. Twenty four seven with u gitu.”

“Shane! Kenapa bosku jadi suka ngegombal gini sih.” Aiena yang malu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Memangnya nggak boleh? Kan nggak ada peraturannya.”

“Tapi beneran kan kamu belum punya istri? Jangan-jangan kamu…” Aiena melirik Shane dengan tatapan curiga.

“Memangnya aku kelihatan kayak om om nakal?”

“Sedikit….”

“Aku masih single, boleh cek KTP deh.” Shane berpura-pura hendak mengeluarkan dompet dari sakunya.

“Iya, iya, percaya aja deh.”

“Nah gitu dong.”

Meski mobil berjalan lambat nya mereka masuk juga ke area perumahan dimana Aiena tinggal. Yang berarti bahwa mereka akan segera berpisah dalam hitungan menit.

“Mau mampir?” tawar Aiena meski suaranya tidak terdengar yakin.

“Boleh?”

“Boleh dong.”

Shane melepas sabuk pengamannya dan ikut Aiena turun. Mengekor di belakang gadis itu melewati halaman depan hingga ke teras rumah. Ia melepas sepatu kerjanya, menyisakan hanya kaos kaki sebelum melangkah masuk ke area ruang tamu.

“Silahkan duduk, Shane. Maaf agak berantakan. Mau minum apa?”

“Apa aja, Na.”

“Bentar ya.”

Buru-buru Aiena masuk ke dapur untuk membuatkan minum. Rasanya begitu canggung sekaligus mendebarkan. Sesuatu yang lama tidak ia rasakan. Membawa pria baru sebagai tamu rasanya jauh berbeda dengan membawa Haze yang sudah menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri.

“Ada siapa, Na?” tanya Mama Aiena yang melihat putrinya ribut mencari gelas bagus dan minuman untuk disajikan.

“Sirup mana ya, Ma?”

“Itu di kulkas,” jawab Mama sambil membukakan pintu kulkas. “Jawab dulu, ada siapa?”

“Shane,” jawab Aiena singkat. Ia sibuk menuang cairan kental berwarna merah itu ke dalam gelas, menambahkan beberapa balok es batu dan mengisinya dengan air hingga hampir penuh.

“Ini minumnya, Shane. Maaf cuma ada ini,” ucap Aiena sambil menyajikan es sirup buatannya ke hadapan Shane.

“Ini sudah lebih dari cukup, Na. Makasih ya.” Shane meraih gelas itu dan meminumnya sedikit. “Enak, Na. Manis, kayak kamu.”

Belum sempat Shane menggombal lebih banyak, Mama Aiena muncul. Rupanya ia penasaran dengan teman baru anaknya itu.

“Tante,” sapa Shane sopan. Ia segera berdiri dan menjabat tangan wanita itu. 

“Ini Shane, bosku di kantor.”

“Saya Shane, calonnya Aiena.”

Mama Aiena tersenyum penuh arti, menatap putrinya dan Shane bergantian. “Jadi, bos atau calon?”

“Dua duanya,” jawab Shane mantap.

“Oh… udah ada pengganti ternyata, pantes gampang banget lupain Haze,” komentar sang ibu yang hingga detik itu—dan mungkin selamanya—tetap tidak tahu mengenai alasan sebenarnya Aiena melepaskan diri dari pria yang telah menjadi kekasihnya sejak di bangku SMA itu.

***

Keesokan harinya, kantin kantor yang bising dan beraroma campuran masakan rumahan menjadi saksi pemandangan yang tidak biasa. Shane, yang biasanya lebih sering menghabiskan jam istirahat di ruangannya sendiri menikmati makanan yang dipesannya melalui pesan antar atau dine in di restoran luar gedung, kini duduk santai di salah satu bangku panjang kayu bersama para karyawan lain. 

Di depannya, sepiring nasi rames dengan lauk seadanya tampak kontras dengan kemeja mahal dan jam tangan yang ia kenakan. Semua itu Shane lakukan hanya karena satu alasan: Aiena. 

Gadis itu sedang menikmati soto ayamnya saat menyadari Shane terus memperhatikannya dengan binar jenaka.

“Kenapa? Rasanya beda jauh ya dengan menu makananmu biasanya? Ya sekali-kali Bapak perlu mencicipi makanan kantin ini biar ngerti apa yang dirasakan para karyawan Anda,” goda Aiena sembari memeras jeruk nipis ke dalam kuahnya.

Jika berada di kantor, di jam kerja, maka Aiena akan memanggil Shane dengan sebutan ‘Bapak’ atau ‘Pak Shane’ demi kesopanan dan profesionalitas. Juga agar tidak mengundang kecurigaan dari rekan-rekannya.

Shane terkekeh, lalu mulai menyuap nasinya. “Nggak buruk. Malah rasanya lebih daripada makanan hotel yang rasanya terlalu diatur. Tapi yang lebih penting, suasana disini jauh lebih menarik karena ada kamu.”

Aiena merasakan pipinya sedikit memanas, namun ia berusaha tetap fokus pada makanannya. Shane kemudian meletakkan sendoknya sejenak, wajahnya berubah sedikit lebih serius namun tetap lembut. 

“Ngomong-ngomong, gimana respon Mamamu soal aku semalam?”

Mendengarnya, Aiena menghentikan gerakannya sejenak. “Respon Mama positif, Shane. Beliau senang lihat aku sekarang selalu pulang dengan wajah yang lebih segar. Tapi... ya, beliau sempat tanya soal Haze.”

Shane terdiam, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan tatapan waspada. “Lalu, apa kamu cerita?”

“Nggak,” jawab Aiena tegas, menatap langsung ke mata Shane. “Aku nggak akan ngasih tahu orang tuaku soal apa yang sebenarnya tentang Haze. Biarlah mereka tahu kami sudah putus secara baik-baik. Aku nggak mau mereka terbebani atau merasa bersalah karena membiarkanku berhubungan dengan pria seperti itu selama bertahun-tahun.”

“Ya sudah kalau begitu.”

Ia menarik napas panjang, memberikan senyum tipis yang sarat akan kelegaan. “Lagi pula, semuanya sudah berlalu. Jelasin detail traumatis itu cuma buka luka lamaku. Aku lebih suka fokus sama apa yang ada di depanku sekarang.”

Shane mengangguk paham, tangannya bergerak di atas meja, hampir ingin menggenggam tangan Aiena namun ia menahannya karena sadar mereka masih di area publik. “Pilihan yang bijak, Na. Memang lebih baik kamu fokus sama aku sekarang.”

Aiena yang sudah hendak menyuap makanannya berhenti. Memandang Shane bingung. “Fokus sama…”

“Yang ada di depanmu sekarang kan aku,” ucap Shane sambil tersenyum hingga kedua matanya menghilang, menjadi dua garis yang lucu dan menggemaskan.

***

1
Wid Sity
waw gercep, langsung melamar 😍
Wid Sity
tiba-tiba jadi merakyat
Wid Sity
pacarannya lama banget, gak putus2
Wid Sity
si Haze mah seenak jidat di rumah Aiena, gak ada etika
Wid Sity
yang penting enak. Gak peduli tempatnya mewah atau estitik atau viral
Wid Sity
ambigu banget bang, Aiena jadi salah paham
Wid Sity
Haze gak jelas banget. Apa2 diatur, jam pulang diatur, pakaian diatur, makanan pun diatur
Wid Sity
kalo jumlah menunya banyak juga membingungkan, saking banyaknya bingung pilih menu apa
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!