"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 31
Belum genap satu bulan tinggal di kos-kosan yang baru, Mila memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Ia meminta Leo menjemputnya sebab tak mau pulang sendirian.
Mila akhirnya dikampung orang tuanya dengan membawa 2 koper, 1 buah tas ransel dan 2 kardus berukuran sedang. Sebenarnya ia ingin membuang barang-barang pemberian Hasbi tapi diurungkannya.
"Pak, Bu, aku tak tau mau bekerja atau membuka usaha kecil-kecilan di kampung ini," Mila meminta saran.
"Lebih baik kamu bekerja aja," kata Maya.
"Daya beli di kampung ini kecil, pasar besar juga jauh. Benar kata ibumu, memang lebih baik bekerja di toko orang lain aja," sahut Rahman memberikan pendapat.
"Apa aku boleh ke kota?" Mila meminta izin.
"Nanti kamu diganggu Hardi lagi," kata Rahman. Ia khawatir mantan menantunya itu menyakiti putrinya lagi.
"Kalau gak ada yang memberitahunya, pasti dia enggak 'kan tau," ucap Mila.
"Hmm..ya sudah, kamu boleh bekerja di kota," kata Maya dan disetujui Rahman juga.
"Aku mau mengajak Adit juga bekerja di sana, dia 'kan udah lulus sekolah," ucap Mila lagi.
"Dia baru aja selesai ujian," kata Maya.
"Ya, berarti tinggal beberapa bulan lagi," ucap Mila.
"Kamu aja dulu, nanti satu atau dua bulan lagi Adit menyusul," Rahman memberikan ide.
"Hmm... boleh juga!" kata Mila lagi.
***
Dua hari di kampung halamannya...
Mila pagi ini sebelum matahari terbit, ia mulai berolahraga setelah beberapa hari tak bergerak. Olahraganya jalan kaki dan lari. Ia melakukannya sendiri, meskipun kegiatannya menjadi pusat perhatian orang-orang.
Hampir 30 menit berolahraga, Mila berpapasan dengan Ratmi, saudara kandungnya bapaknya yang bermulut nyinyir.
"Diet, ya?" tanya Ratmi dengan nada menyindir sebab selama ini melihat Mila bertubuh gendut.
"Iya, Bi. Memang lagi diet biar dapat suami yang ganteng, kaya dan baik hati. Jadi, harus mempersiapkannya dengan matang!" jawab Mila balas menyindir. Sebab, Bibi Ratmi pernah mengatakan kepadanya wanita jelek tak usah milih-milih pasangan.
Bibi Ratmi terdiam.
"Ayo, Bi. Ikutan lari, biar enggak penyakitan!" sindir Mila lagi. Ia kemudian berlalu.
Bibi Ratmi tersinggung dengan kata-kata keponakannya.
Mila tak peduli jika Ratmi marah dan membencinya. Baginya membalas ucapan wanita itu adalah kemenangan.
Selesai berolahraga lari, Mila lanjut sarapan dengan 2 butir telur, seperempat kilo dada ayam panggang dan satu buah jeruk.
"Mil, kamu makan itu aja apa kenyang?" Maya duduk dihadapan putrinya.
"Kenyang juga, Bu."
"Rasanya hambar, kan?" tanya Maya karena melihat potongan dada ayam putih polos.
"Pakai garam secuil aja," jawab Mila.
"Oh," ucapnya singkat. "Kapan kamu mau ke kota mencari pekerjaan?" lanjut Maya bertanya.
"Aku belum menghubungi Bu Hanny, Bu. Mungkin dua atau tiga hari ku mau ke sana. Sekalian bersilaturahmi dengan Bu Hanny dan Bu Mayang," jawab Mila.
"Apa Ibu boleh ikut menemani?" pinta Maya, dia ingin mengucapkan terima kasih kepada Hanny dan Mayang yang sudah membantu putrinya.
"Boleh aja, Bu." kata Mila dengan senang hati.
***
Dua hari berlalu, mereka berangkat ke kota. Mereka diberikan izin menginap di rumahnya Hanny tak jauh dari toko ponsel milik wanita itu.
Mila tak hanya ditemani Maya saja, Adit juga turut ikut karena perintah Rahman. Dari kampung Mila membawa oleh-oleh berupa nanas dan buah rambutan. Rencananya mau dibagikan buat Bu Hanny, Bu Mayang dan para karyawannya Hanny.
Mila sampai di kota pukul 9 pagi dan bertemu Mayang jam 10 lalu mereka beristirahat sejenak di rumahnya Hanny. Rencananya mereka akan menginap 1 malam saja.
Pukul 2 siang, mereka berangkat ke kantornya Mayang menggunakan taksi online. Mereka disambut Bu Mayang dengan senang.
Setelah mengobrol panjang lebar selama 2 jam, mereka lalu pamit pulang. Sebelumnya, mereka singgah mengisi perut di warung mie serba pedas.
Jam 6 tiba di rumah Hanny, mereka memilih menggunakan ruang televisi sebagai tempat beristirahat malam.
"Apa Hardi tau sebelumnya kamu pernah tinggal di sini?" tanya Maya karena Mila sempat cerita dirinya diberikan tumpangan rumah oleh majikannya.
"Enggak, Bu. Aku sengaja gak mau memberitahunya," jawab Mila.
Malam harinya, Della datang mengunjunginya. Mila begitu senang kembali bertemu dengan Della dan mereka dapat mengobrol panjang lebar.
Mila juga meminta Della dan suaminya untuk mencarikan pekerjaan buatnya. "Kalau bisa dari pagi sampai sore dan kos-kosannya juga gak terlalu jauh."
"Nanti kami bantu cari!" janji Della.
Jam 9 malam, Della dan keluarga kecilnya pamit pulang.
Jam 10 malam, Mila dan Maya merebahkan tubuhnya di atas karpet tebal. Seraya menonton televisi.
"Mil, siapa Hasbi?" tanya Maya yang penasaran saat mengobrol, Della dan Mila beberapa kali menyebut nama Hasbi.
"Hanya sekedar teman kos di sana," jawab Mila.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Maya menoleh ke arah putrinya.
Mila terdiam sejenak dan menjawab, "Iya, Bu. Tapi, aku terlalu berharap padanya. Dia gak menyukaiku."
"Yang sabar, ya. Mungkin dia bukan jodohmu," kata Maya tersenyum memberikan semangat.
Mila mengulas senyum tipis dan anggukan kecil.
Tak semua keinginan harus diwujudkan. Harapan Hasbi mencari dan menemuinya, ia tutup rapat-rapat. Ia tak boleh larut dalam suasana patah hati. Dirinya berhak bahagia meskipun bukan bersama Hasbi.