NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah 20 menit kami melintasi ladang jagung itu, sampailah di hutan bakau di pinggir pantai. Cengkeraman Ghea di perutku mengencang.

"Ghan, hanya kita di sini. Apakah tidak berbahaya?" matanya mengembara ke sekililing kami, yang nampak tanaman bakau hitam pekat.

Bagi orang lain, bagi banyak orang, kegelapan berarti kematian, tapi bagiku kegelapan dan kesendirian adalah kehidupan, kehidupan yang memberiku kesempatan untuk bernafas lega, kesempatan untuk berfikir, dan kesempatan untuk bergerak.

"Aku mengenal daerah ini dari aku kecil Ghe. Tidak apa-apa. Percaya padaku." Aku menggenggam tangannnya erat.

Sebentar.. Sebentar lagi.. Sebentar lagi aku akan sampai di pantai, bertemu dengan speedboat yang sudah disiapkan oleh Jhon, anak buahku yang sudah kuhubungi sebelumnya.

Tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar suara skuter matic. Redup. Tapi ada.

"Ghe, sepertinya ada begal di belakang kita. Pegang yang erat ya, aku ngebut." kataku untuk membuat kamuflase bahwa ini kejahatan biasa.

Tanpa persetujuan darinya, aku memutar gas lebih dalam sehingga laju motorpun bertambah. Beberapa kali ban depan maupun belakang melawan batu dan lubang. membuat kami terayun ke atas juga ke bawah. Sesekali aku melihat wajah cantiknya yang tampak pucat namun, aku tahu, dia berjuang melawan ketakutan dan keraguannya melalui kaca spion.

Tak berapa lama kemudian speedboat depan kami terlihat. Speedboat itu tampak sendirian diantara besarnya ombak samudra Hindia. Aku menghentikan motor, membantu Ghea turun, Aku pun turun dari motor, dan membimbing Ghea naik speedboat.

“Ghea, percayalah padaku, aku akan menjagamu dengan segenap hidupku. Mengerti?”

Dia menatap mataku dalam diam sebelum akhirnya dia mengangguk.

Saat kami hendak bergerak, tampak 2 skuter matik keluar dari hutan bakau dan hendak menyentuh pantai. Tangan kiriku di kemudi dan tangan kananku di Glock-17ku. Aku kemudian menambah kecepatan speedboat itu.

Aku menoleh sekilas ke samping. Ghea mencengkeram pegangan besi di sisi kursi, rambutnya berantakan dihantam angin kencang, tapi matanya menatap lurus ke depan dengan napas memburu.

"Pegangan yang kuat!" teriakku, meski suaraku nyaris tertelan suara mesin dan hantaman ombak pada lambung kapal.

Aku memberanikan diri melirik ke belakang, ke arah garis pantai yang makin menjauh. Di sana, empat siluet pria berdiri tepat di bibir air. Mereka sempat berlari beberapa langkah ke dalam air, seolah-olah amarah bisa membuat mereka berjalan di atas ombak.

Namun, langkah mereka terhenti saat air mencapai lutut. Mereka berdiri mematung di sana, terjebak di daratan. Tidak ada perahu lain di sekitar dermaga kecil itu, tidak ada cara bagi mereka untuk mengejar kami melintasi hamparan air ini.

Satu dari mereka mengangkat senjatanya dengan frustrasi, tapi jarak kami sudah terlalu jauh untuk tembakan yang akurat. Sosok mereka mengecil, menjadi titik hitam di atas pasir putih yang kini tampak tenang, berbanding terbalik dengan jantungku yang masih berdegup kencang.

Aku tak akan membiarkan mereka menemukan kapal. Segera kuambil telepon satelit, aku menelepon Agung, rekan polisiku di Tora-Tora.

"Halo, Agung, ini Ghani. Aku dan temanku sekarang dikejar kelompok bersenjata, sekarang kami dalam pelarian." Ujarku saat Agung mengangkat teleponnya.

"Dimana? Berapa orang?" Tanyanya.

"Mereka ada 4 orang di 5 km selatan lantai pinus. Sekarang kami ada di selat Re."

"Mengerti." Jawabnya.

"Terima kasih."

Aku mengembuskan napas panjang, perlahan mulai mengendurkan cengkeramanku pada kemudi. Kami sudah di perairan terbuka. Kami sudah aman.

"Sementara kita aman." kataku pada Ghea dengan tangan kanan memegang kemudi.

Kulihat Ghea hanya terdiam. Wajahnya memucat bagai matahari yang akan kehilangan sinarnya. Rambutnya berkibar dihantam angin laut malam yang kencang.

Aku meneruskan kemudi hingga pulau Toma tujuannya. Pulau Toma hanya pulau karang kecil, hanya satu puncak karang dibalik rerimbunan Bakau, pinus laut, dan kelapa. Pulau yang tepat untuk bersembunyi sekaligus bisa melihat siapa saja yang datang.

Selama perjalanan ke pulau itu, kami berdua membisu. Hanya deru mesin yang membelah ombak bernyanyi di sekitar telinga kami. Aku tahu, Ghea sedang meredam emosi, meredam ketakutannya. Dia berusaha mengatur nafasnya dibalik terpaan angin laut yang kuat serta dinginnya malam. Dia memeluk erat jaket outdoornya dengan mata yang tak pernah berhenti untuk melihat depan. Tak ada pertanyaan, tapi tak ada juga pernyataan.

Setelah sekitar 1 jam kemudian, kami menginjakkan kaki di pulau Toma. Rambut Ghea berantakan, tapi aku tak pernah peduli. Kuraih tangannya, kugenggam tangannya kubawa dia mengikuti jalan setapak yang menuntun kami pada tempat sedikit puncak tebing dilindungi pohon pinus yang menjulang tinggi.

"Ghea kamu istirahat dulu, aku bangun tenda." Kataku menyuruh Ghea duduk dan menyerahkan sebotol air mineral. Ghea menerima air yang kuberikan kemudian akupun memasang tenda kecil yang cukup untuk 2 orang.

Dari sudut mataku, aku melihat alisnya berkerut, bibirnya berkumpul menjadi satu di tengah, matanya yang tajam ke arahku. Tapi dia hanya diam, dan menerima perlakuanku tanpa keluar satu katapun.

"Tidurlah Ghe, aku disini, aku akan menjagamu, di sini aman." Kataku pada Ghea.

Ghea hanya terdiam sambil merebahkan dirinya sendiri. Aku membuka laptop kecilku dan menghubungkannya dengan jaringan internetku sendiri. Kupasang flash drive titanium itu, segera emailku terbuka dan dan buku hitam Markopun akhirnya terkirim pada Interpol dan CIA.

"Apa yang terjadi.. Sebenarnya apa yang terjadi?." suara Ghea lemah. "Mereka bukan begal kan?"

Tanganku membeku. Lidahku kelu. Tapi, bagaimanapun Ghea berhak tahu yang sesungguhnya.

"Mengapa kamu berpikir begitu Ghe?" tanyaku dengan mata menatap tajam padanya.

"Mereka bukanlah warga lokal, mereka orang asing. Warga lokalpun jika begal, tidak akan memakai skuter matik bagus. Pakaian yang dipakai, terlalu bagus untuk begal. Aku benarkan Ghani?"

Hatiku mencelos mendengar pernyataan Ghea. Aku menatap matanya. Kugeser badanku untuk lebih dekat dengan kepalanya.

"Ya, kamu benar Ghe, mereka bukanlah begal. Mereka sebenarnya.." Aku bingung merangkai kata yang tepat untuk Ghea. Aku takut dia shok dan stress yang menyebabkan asmanya kambuh. "Mereka adalah penjahat Ghe. Maafkan aku, karena aku kamu terkena dampaknya. Harus kukatakan bahwa... jika sebenarnya.. aku..adalah..seorang agen intelijen.” Aku mengatakan itu seperti ada duri yang menyangkut di tenggorokan. “ Saat kamu sakit aku mendapat misi dari seorang kartel, seorang bandar narkoba di luarnegeri. Aku ingin menolak, tapi sayangnya kamu dijadikan tumbal oleh mereka sehingga mau tak mau aku harus melakukan misi itu."

Ghea kemudian duduk dari telentangnya dan memandang wajahku dengan raut muka penuh tanda tanya.

"Misinya hanya untuk menyelidiki rekan bisnisnya. Tapi aku dikhianati. Setelah mereka mendapat datanya, aku malah yang dijadikan tumbal dan dilaporkan ke FSB, badan intelijen Rusia, jika aku melakukan penyusupan. Mereka ingin aku.. mati. Mereka tak ingin seorangpun tahu bukti kejahatan mereka. Bukan hanya aku, tapi semua orang yang aku cintai. Celakanya mereka tahu jika .. Jika orang yang aku cintai adalah kamu. Saat aku di luar negeri, aku mendapat info jika mereka sedang menargetkan kamu sehingga aku langsung terbang kemari. Tapi untungnya aku punya alat untuk membalas mereka, aku punya bukti kejahatan mereka, dan baru saja aku mengirimkan bukti kejahatan mereka ke Interpol, jadi kita aman. Kamu jangan khawatir." Suaraku terbata-bata saat mengeluarkannya bak terdakwa yang sedang dalam penghakiman.

"Dan camping ini sebenarnya pelarian?" Tanyanya.

"Maafkan aku. Hanya itu yang aku pikirkan tanpa menyebabkan kepanikan Ghe. Selain itu saat itu tidak cukup waktu untuk menjelaskan semuanya dalam waktu yang sempit. Aku harap kamu mengerti." Jantungku seperti ditabuh dengan keras.

Ghea kemudian menghela nafas panjang. "Jadi, diantara semua tentang dirimu, mana yang benar?" pertanyaannya menohok hatiku.

Aku terdiam. Menatapnya lama, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan, tetapi aku tahu, Ghea cerdas dan tak mudah percaya dengan orang lain.

"Namaku benar, Ghani. Hanya saja sebagai agen aku memperkenalkan diriku pada mereka sebagai "Samuel". Nenek dan Ghina benar, juga.. Juga perasaanku.. padamu.. Itu benar. Yang lain jika aku berbohong, itu berarti ada alasan kenapa aku melakukan itu, entah demi keselamatan .... atau .....memang.. tidak boleh ada...rahasia yang bocor."

"Lalu kenapa kamu tidak menyelamatkan nenek dan Ghina?"

"Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Aku sudah mengirim pesan pada mereka. Jangan khawatir." kataku mencoba tersenyum padanya.

"Ghani, sejujurnya, sejak aku kenal dirimu, itu adalah hari-hari terindah yang pernah kulalui. Baru kali itu aku benar-benar memiliki orang untuk bersandar. Jika biasanya aku selalu harus mandiri, berjuang di atas kakiku sendiri untuk sekian lama, saat itu aku merasa lepas. tak dipungkiri, hatiku juga bahagia jika selalu ada di dekatmu. Tapi aku benci dibohongi, apapun alasannya. Kamu punya waktu menjelaskan semuanya saat kamu belum pergi, tapi kamu tidak melakukannya."

"Maaf Ghea"

"Selain itu, aku suka dengan anak-anak. memiliki keluarga kecil yang bahagia adalah impianku. Tapi dengan pekerjaanmu itu, sepertinya...akan berbahaya untuk masa depan keluarga. Maaf, aku tak bisa bersamamu.. Ghani."

Sakit.. Sebenarnya hatiku sakit mendengarnya. Tapi aku mencoba menyelami apa yang dikatakannya. Yang dikatakannya benar. Semua orang memiliki prioritas masing-masing, dan dia sebagai perempuan, sebagai calon ibu pasti ingin memiliki kehidupan yang aman. Sedangkan aku, jauh dari kata itu. Setiap detik, setiap jam penuh dengan ancaman, bahkan aku sendiri tak yakin jika aku akan bernafas esok hari.

"Oke, aku mengerti. Tapi aku mohon, tetap disini setidaknya sampai besok pagi. Akan kupastikan Tora-Tora aman." Dia mengangguk. "Tidurlah."

Setelahnya aku mengemasi laptopku dan memilih keluar dari tenda. Kubiarkan angin menerjang tubuhku yang hanya bersalut jaket. Aku menerawang jauh. Segera kuambil binokularku untu melihat keadaan Tora-Tora, apakah Agung sudah bergerak atau belum.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!