Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Tamu Tak Diundang
Beberapa waktu setelah Teddy mendatangi ruang kerja Arnold. Zarisha Allova tak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari yang begitu diinginkan oleh ibunya, di mana ia melepas masa lajang, meski dilakukan dengan alasan medis, tanpa cinta.
Pernikahan itu digelar teramat sederhana di ruang tamu rumah Lova, hanya dihadiri oleh ibu Lova, adik ayahnya, Dev sebagai saksi, dan tentu seorang penghulu yang akan menikahkan mereka. Keputusan ini sengaja diambil oleh Arnold demi mengondisikan lingkungan agar Lova tidak mengalami serangan panik.
Lova duduk di atas permadani dengan kepala tertunduk kaku, mengenakan kebaya muslimah berwarna putih gading polos. Ia hanya menatap jemari tangan yang tiada henti dimainkan. Di sampingnya, duduk calon suami dadakan, Arnold yang mengenakan setelan jas hitam formal, memancarkan aura luar biasa karismatik dan maskulin.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zarisha Allova binti Zamzamisyah dengan ..."
Suara Arnold terdengar begitu mantap, berat, dan bergema memenuhi ruang tamu dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
Begitu kata itu terucap, Ibu Lova langsung terisak pelan sambil menyeka air matanya dengan tisu. Kelegaan besar membuncah di dadanya.
Namun, berbeda dengan Lova. Dunia terasa berputar balik di kepalanya yang ternyata tiba-tiba telah menjadi seorang istri dari pria yang menjanjikan kesembuhan mentalnya yang sakit selama lebih kurang 20 tahun ini.
Tiba saatnya ia harus mencium tangan sang suami, tak ada rasa waspada itu. Namun, dirinya bergetar hebat, semenjak tangan Arnold telah menggenggam tangannya. Ini adalah tangan pria yang memilikinya. Dia yang akan selalu berada di sisinya. Semua waktu, semua jiwa, semua raga telah diserahkan begitu saja pada pria yang tak begitu ia kenal.
Namun, akhirnya ... Lova mengecup punggung tangan pria itu sebagai tanda bakti pertamanya sebagai istri. Meski terpaksa, tapi ia pasrah, demi kesembuhan dari cacat mentalnya selama ini.
Brak!
Pintu depan rumah Lova didorong kasar hingga membentur keras di dinding rumah sederhana itu. Suara derap langkah kaki dari sepatu hak tinggi yang berisik seketika menggema, disusul oleh kasak-kusuk beberapa orang yang mengikuti masuk tanpa permisi.
"Oh, jadi benar-benar terjadi, rupanya? Pernikahan sandiwara apa lagi ini?!" sebuah suara wanita paruh baya berintonasi tinggi dan penuh nada meremehkan memecah keheningan.
Arnold yang semula sedang tersenyum tipis langsung menegang. Sorot matanya berubah, sedingin es saat ia mendongak dan mendapati sesosok wanita berpakaian sangat glamor, lengkap dengan perhiasan emas yang mencolok, berdiri di ambang ruang tamu. Di belakangnya, tampak beberapa orang yang ia kenal mengekor dengan wajah sinis.
Wanita itu adalah Tania. Ibu tiri Arnold.
Wanita yang menjadi dalang di balik semua kerumitan hidup Arnold. Tania tahu persis bahwa Arnold memiliki sisi berbeda dengan pria pada umumnya yang menyukai wanita.
Berbekal kartu as itulah, Tania bertahun-tahun menghasut Papa Arnold yang sedang sakit, mencuci otaknya dengan mengatakan bahwa Arnold tidak akan bisa meneruskan garis keturunan keluarga, hingga akhirnya sang papa terhasut untuk membuat syarat wasiat pernikahan yang nyaris mustahil baginya. Tania ingin seluruh warisan itu, jatuh ke tangannya dan anak yang ia bawa dari pernikahan sebelumnya.
"Cih ... Tumben Mama Tiriku ini hadir pada acara pentingku?" Arnold bangkit berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan lambat yang elegan.
Suara beratnya terdengar begitu dalam dan jelas terdengar mengintimidasi wanita itu. Ia tak terlihat goyah sedikit pun. "Seingat saya, tak satu pun undangan sampai ke rumah utama. Bagaimana Kau bisa sampai ke sini?"
Tania mendengus sinis, matanya beralih menatap Lova yang semakin menciut ketakutan di atas karpet permadani, lalu beralih menatap Ibu Lova yang kebingungan.
"Jangan berpura-pura, Arnold! Mama tahu kamu cuma menyewa perempuan miskin ini untuk mengelabui wasiat Papamu, kan?!" Tania melangkah maju, menunjuk Arnold dengan jari kuku merahnya yang panjang.
"Wanita normal mana yang sudi menikah dengan laki-laki cacat mental seperti kamu?! Kamu itu tidak normal, Arnold! Kamu tidak tertarik pada perempuan! Jangan mimpi kamu bisa menyentuh warisan itu dengan pernikahan palsu ini!"
Mendengar kata 'tidak normal' dan bentakan kasar yang menggema di ruangan sempit itu, tubuh Lova mulai bergetar hebat. Dadanya terasa sesak, napasnya memburu terpicu oleh suara keras dari wanita asing itu.
Melihat Lova yang mulai menunjukkan gejala serangan panik, Arnold tidak tinggal diam. Sisi dokternya sekaligus harga dirinya sebagai pria, mulai terusik.
Arnold melangkah maju, berdiri tegap tepat di depan Lova, memblokir pandangan Tania dari istrinya. Ia menatap ibu tirinya dengan pandangan membunuh yang teramat pekat.
"Jaga ucapan Anda di hadapan istri saya, Nyonya Tania," desis Arnold dengan suara rendah yang justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada bentakan.
"Surat nikah kami sah di mata hukum dan agama. Jika Anda meragukannya, silakan bawa pengacara terbaik Anda untuk memeriksa keabsahannya. Tapi sekarang, sebelum saya memanggil pihak keamanan untuk menyeretmu dan rombongan sirkusmu ini, angkat kaki dari sini!"
Tania terengah-engah, wajahnya memerah padam karena murka dan malu di hadapan semua orang. Ia melirik Lova sekali lagi dengan tatapan penuh kebencian, tidak percaya bahwa rencananya untuk menguasai harta sang suami terancam gagal total oleh seorang gadis asing yang tampak rapuh itu.
"Kita lihat saja sampai kapan sandiwara konyolmu ini bertahan, Arnold!" ancam Tania tajam. Dengan sentakan kasar, ia berbalik dan melangkah pergi keluar rumah, diikuti oleh rombongannya yang berbisik-bisik panik.
Begitu suasana kembali sepi, Arnold langsung berlutut di depan Lova yang sudah meneteskan air mata menahan sesak. Dengan gerakan yang teramat lembut, Arnold menggenggam jemari Lova.
"Tarik napas dalam-dalam dan lepas secara perlahan, Adik Kecil ... Kamu tenang ya ... mereka sudah pergi. Kamu sudah aman bersamaku di sini," bisik Arnold. Suaranya kembali memancarkan rasa aman yang magis bagi Lova.
Lova mendongak perlahan, menatap simpul dasi Arnold. Di balik rasa takutnya, sebuah pertanyaan besar kini bersarang di kepala Lova:
'Apa maksud ucapan wanita itu? Apa rahasia besar yang disembunyikan oleh orang ini dariku?'
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣