Seralina Lexander adalah seorang wanita yang bekerja sebagai pengantar bunga dan dia anak yatim. Di siang hari Sera sangat terburu" pergi ke alamat tujuan, sebab dia hampir terlambat gegara membaca buku di perpustakaan, saat di perjalanan Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang membuat mobil tersebut menabrak Sera. darah mengalir dan bunga-bunga berserakan.
Li Qiang Xu adalah seorang wanita cantik, sebelumnya ia pernah di tidurin oleh Kaisar saat Kaisar mabuk, dan Qing di kabarkan hamil membuat permaisuri membencinya sebab dia seorang permaisuri tapi belum mempunyai keturunan. sedangkan Qiang hanya satu malam bersama Kaisar, sudah di kabarkan hamil.
semenjak Qiang sudah berstatus Selir, Kaisar menyanyangi Qiang dari pada permaisuri begitupun Selir lain. Ibu Suri pun terus menerus menemui Qiang membuat permaisuri semakin murka. Permaisuri pun membayar pelayan dapur untuk mencampurkan obat fiktif kepada makanan Qiang, hingga beberapa hari Qiang di kabarkan mengalami keguguran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Hukuman Cambukan Dua Ratus Kali
Ruyi pun segera berjalan melaksanakan perintah nyonyanya. Begitu sendirian kembali, cahaya samar berkilat dan wujud Xing Jin serta Ming perlahan muncul berdiri di hadapannya.
"Kini Permaisuri lengah, karena mengira rencananya berjalan lancar," ucap Xing Jin dengan wajah tenang. "Kita punya waktu sedikit lebih banyak untuk mempersiapkan diri."
Ming melipat tangannya di dada sambil mendengus pelan. "Lama-kelamaan dia pasti curiga kalau kau tidak pernah terlihat sakit atau melemah. Kita harus memikirkan langkah selanjutnya sebelum dia menyadari kalau usahanya sia-sia."
Qiang Xu mengangguk setuju, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menyentuh kalung giok yang masih terasa hangat.
"Benar. Kita tidak bisa terus begini," gumamnya pelan, matanya menatap tajam ke depan. "Satu hari nanti... Aku akan membuat semua orang yang menyakiti ibuku dan anakku merasakan akibat perbuatannya."
...****************...
Siang hari pun tiba. Terlihat Qiang Xu membawa nampan berisi teh, berjalan menuju kediaman Permaisuri Xun Sin.
Sesampainya di sana, sudut bibir Qiang Xu terangkat membentuk senyum miring penuh rencana. Pelayan pribadi Permaisuri pun membiarkannya masuk tanpa curiga.
"Yang Mulia Permaisuri, ini teh yang aku buat sendiri sebagai tanda terima kasih atas kebaikan hati Permaisuri," ucap Qiang Xu dengan nada yang sangat sopan.
Permaisuri Xun Sin bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat. Ia mengambil cangkir teh hijau itu, namun tidak langsung meminumnya.
"Teh buatanmu tampak sangat nikmat... Tapi kau yang coba dulu," ucap Xun Sin dingin, lalu dengan tiba-tiba menyiramkan teh hijau yang masih panas itu tepat ke arah Qiang Xu.
"Akh!" Qiang Xu meringis kesakitan.
"Xun Sin! Apa yang kau lakukan?!"
Teriakan itu terdengar keras—dan datanglah Ibu Suri yang baru saja melangkah masuk.
Melihat kedatangan Ibu Suri, tangan Permaisuri gemetar hingga cangkir yang dipegangnya terlepas, jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Wajahnya seketika pucat pasi.
Ibu Suri berjalan mendekat dengan langkah mantap namun wajahnya menahan amarah yang meluap-luap.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Xun Sin.
"Apakah ini sopan santun seorang Permaisuri terhadap sesama selir?!" bentak Ibu Suri penuh emosi.
Di balik rasa sakit yang ditahan, Qiang Xu justru menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan, meski seketika kembali meringis menahan perih dan panas yang menjalar di punggungnya.
"Ibu! Kenapa Ibu menampar Xun Sin?" Tanya Kaisar Yao Chong yang baru datang dan segera berdiri melindungi istrinya.
"Apakah kau yang mengajarkannya menyiksa sesama wanita di istana?" Tantang Ibu Suri menatap tajam ke arah putranya.
"Maksud Ibu apa? Xun Sin adalah wanita yang baik. Mustahil dia menyakiti selir," bela Kaisar Yao Chong tegas.
"Bagaimana mungkin Ibu Suri dan Kaisar bisa ada di sini bersamaan? "batin Permaisuri Xun Sin mulai panik.
"I-Ibu, mungkin Ibu salah melihat..." cicit Xun Sin mencoba membela diri.
"Kau kira karena aku sudah tua, mataku sudah rabun dan tidak bisa melihat dengan jelas? Hah!" bentak Ibu Suri dengan suara menggelegar.
"Aku menghukummu berlutut di Kuil Leluhur selama dua hari dua malam!" putus Ibu Suri dengan tegas.
"Ibu! Dia sedang mengandung anakku! Bagaimana mungkin kau menghukumnya berlutut begitu lama?" tolak Kaisar Yao Chong tidak terima.
"Aku tidak peduli! Aturan istana tetaplah aturan! Baik sakit, lemah, maupun sedang hamil, hukuman tetap harus dijalankan!" ucap Ibu Suri menatap tajam, tidak memberi ruang untuk bantahan sedikit pun.
Permaisuri Xun Sin menunduk pasrah, wajahnya pucat menahan rasa sakit dan ketakutan. "Hamba... terima hukuman ini," ucapnya lirih.
Namun begitu ia melangkah hendak pergi, lengan Kaisar Yao Chong langsung menahannya dengan erat.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya!" seru Kaisar Yao Chong dengan suara tegas dan berwibawa. Ia berdiri di depan Xun Sin seolah menjadi perisai bagi istrinya sendiri. "Aku adalah Kaisar! Kata-kataku adalah hukum tertinggi di istana ini! Jika aku tidak mengizinkan, hukuman ini tidak boleh dijalankan!"
Suasana seketika menjadi hening dan mencekam. Ibu Suri menatap putranya lekat-lekat, matanya memancarkan kekecewaan sekaligus kemarahan yang mendalam. Sementara di sudut ruangan, Qiang Xu memperhatikan pemandangan itu dengan senyum tipis yang tersembunyi—pertikaian ini persis seperti yang ia harapkan.
Qiang Xu menatap lurus ke arah Kaisar Yao Chong, lalu berbicara dalam hatinya. "Seandainya kau juga bersikap melindungi seperti ini kepada pemilik tubuh asli ini... pasti dia tidak akan kehilangan anaknya dulu."
Ibu Suri pun menatap tajam kepada putranya dan langsung membantah dengan tegas.
"Aturan istana tidak boleh dilanggar hanya karena perasaanmu! Jika dibiarkan, mana ada tata tertib di istana ini?!"
Kaisar Yao Chong mengeratkan genggaman pada lengan Xun Sin, lalu menatap ibunya dengan tegas.
"Ibu, saat ini—Xun Sin sedang mengandung darah dagingku! Bagaimana mungkin aku membiarkan istriku yang sedang mengandung berdiri berlutut selama dua hari tanpa makan dan minum? Itu sama saja dengan membunuh anakku yang belum lahir!" bantah Yao Chong dengan suara meninggi, tidak mau mengalah.
"Meskipun aku Kaisar, bukankah tugasku pertama-tama melindungi keluargaku sendiri? Aturan dibuat untuk manusia, bukan manusia yang dihancurkan demi aturan yang kaku!" tambahnya mantap.
Qiang Xu menatap tajam ke arah Kaisar, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah lama tertahan:
"Melindungi keluarga? Apa kau pernah sekalipun melindungiku saat Permaisuri Xun Sin ingin membunuhku? Apa kau tahu... anak yang dulu berada di dalam kandunganku meninggal, hanya karena memakan bubur yang dibuat olehnya!"
Ruangan seketika menjadi sunyi senyap. Pengakuan yang menyakitkan itu terucap begitu jelas, menampar wajah Kaisar Yao Chong dengan kenyataan pahit yang selama ini ia abaikan. Wajah Xun Sin semakin pucat mendengar tuduhan itu, sementara Kaisar hanya bisa terpaku, tidak sanggup membalas sepatah kata pun.
"Sejak kapan kau hamil, Li Qiang Xu?" ucap Kaisar Yao Chong dengan nada berat dan menatap tajam ke arahnya.
Permaisuri Xun Sin segera menatap tajam ke arah Qiang Xu, suaranya meninggi penuh pembelaan dan kepanikan.
"Kau tidak pernah hamil, mana mungkin aku membunuh anakmu! Kau jangan sembarangan menuduhku tanpa memiliki bukti apa pun!" serunya tegas, napasnya memburu menahan emosi. "Kau membuat fitnah agar aku jatuh ke dalam lubang yang kau gali sendiri!"
Kaisar Yao Chong menatap ke arah keduanya bergantian, keraguan kembali menyelimuti hatinya mendengar penyangkalan istrinya itu.
PLAK!
Kaisar Yao Chong menampar keras pipi Qiang Xu hingga tubuh gadis itu terhuyung ke samping. Wajahnya berubah dingin dan penuh amarah.
"Qiang Xu, kau jangan jadi kelewatan!" bentaknya tajam, matanya menatap Qiang Xu dengan pandangan tidak percaya dan kecewa. "Beraninya kau menuduh Permaisuri tanpa bukti yang jelas!"
Qiang Xu memegang pipinya yang terasa perih, menatap kaisar dengan mata yang perlahan berair—namun di dasar matanya, tersimpan kebencian yang semakin dalam.
Kaisar menatapnya dingin, suaranya berat penuh keputusan.
"Atas tuduhan kosong yang kau lontarkan ini, kau akan dihukum cambuk sebanyak dua ratus kali!"
Ibu Suri langsung melangkah maju, matanya membulat tak percaya dan segera membantah keras-keras.
"Kau ingin mencambuknya dua ratus kali?! Apa kau bermaksud membunuh putri dari Li Yuanbo?! Dua ratus kali cambukan itu pasti akan merenggut nyawanya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...