Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan Itu Kembali
“Ada apa ini?” tanya Raka saat turun dari motornya.
“Kakak…” panggil Dhea dengan wajah yang sudah benar-benar menahan air mata.
Raka langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Tatapannya perlahan beralih ke Reno yang berdiri tidak jauh dari adiknya dengan wajah meremehkan.
“Kamu lagi?” tanya Raka dingin.
Reno terkekeh kecil sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Kenapa? Nggak suka lihat saya datang ke sini?”
Raka tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekat ke arah Dhea terlebih dahulu.
“Dia ngomong apa lagi?” tanyanya pelan.
Dhea langsung menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa, Kak.”
Namun wajah gadis itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Raka mengepalkan tangannya kecil. Ia paling tidak suka melihat adiknya diperlakukan seperti itu.
“Sudah saya bilang berkali-kali,” ucap Raka akhirnya sambil menatap Reno tajam. “Jangan datang ke sini cuma buat menyakiti Dhea.”
Reno malah tersenyum sinis.
“Loh? Saya cuma ngobrol sama sepupu sendiri.”
“Kalau cuma ngobrol, mulutmu nggak akan bikin orang hampir nangis.”
Suasana mendadak terasa tegang. Sedangkan Dhea mulai panik melihat tatapan kedua pria itu.
“Kak… sudahlah,” ucap Dhea pelan sambil memegang lengan Raka.
Namun Reno justru kembali berbicara dengan nada merendahkan.
“Memangnya saya salah? Saya cuma heran, keluarga kalian masih betah hidup susah begini.”
“Itu bukan urusanmu bagaimana kehidupan kami,” jawab Raka dengan ketus.
Reno langsung tertawa kecil penuh ejekan.
“Haha… Raka, Raka. Kamu masih sama saja seperti dulu. Nggak ada berubahnya.”
Tatapan Raka langsung berubah dingin. Sedangkan Dhea mulai merasa tidak nyaman melihat suasana yang semakin memanas.
“Aku nggak datang ke sini buat dengar omonganmu,” ucap Raka tegas.
“Tapi aku datang buat lihat kenyataan,” balas Reno santai sambil melihat sekitar toko bunga itu. “Dan ternyata hidup kalian benar-benar menyedihkan.”
Deg.
Dhea langsung menundukkan kepalanya pelan.
Namun sebelum gadis itu kembali merasa semakin kecil,
Raka tiba-tiba melangkah maju.
“Dengar ya, Reno,” ucapnya dengan suara rendah penuh penekanan. “Kami mungkin nggak hidup mewah seperti keluargamu.”
“Tapi setidaknya kami nggak merendahkan orang lain buat merasa tinggi.”
Ucapan itu membuat Reno langsung terdiam beberapa detik.
Sedangkan Dhea menatap punggung kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Karena hanya Raka yang selalu berdiri di depannya setiap kali orang mulai menghina mereka.
“Kalau cuma datang buat menghina, lebih baik pergi,” lanjut Raka dingin.
Reno terkekeh kecil, tetapi kali ini wajahnya terlihat sedikit kesal.
“Kalian memang keras kepala.”
“Dan kamu terlalu ikut campur.”
Suasana di depan toko bunga itu kembali dipenuhi ketegangan. Di sela perdebatan mereka, terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Hal itu membuat Raka, Dhea, dan Reno langsung menoleh bersamaan.
pria berjalan santai ke arah mereka dengan hoodie hitam dan wajah yang terlihat lelah.
Tatapannya sedikit kosong, tetapi masih menyisakan aura tajam yang sulit dijelaskan.
Dia adalah Rafalendra.
“Wah, wah… siapa lagi ini yang datang?” ucap Reno sambil tertawa sinis.
Rafalendra menghentikan langkahnya beberapa meter dari mereka. Matanya langsung tertuju pada Dhea yang terlihat ingin menangis.
“Ada apa lagi?” tanyanya datar.
Reno langsung menyeringai kecil.
“Oh, jadi si pecundang ini masih sering pulang juga?”
Ucapan itu membuat tatapan Rafalendra perlahan berubah dingin.
Sedangkan Raka langsung menatap Reno tajam.
“Mulutmu nggak bisa dijaga, ya?” tegur Raka.
Namun Reno justru semakin santai.
“Memangnya salah? Semua orang juga tahu hidup Rafalendra hancur gara-gara perempuan.”
Deg.
Suasana langsung berubah hening. Dhea tampak panik seketika.
“Kak Reno, sudah…”
Namun Rafalendra justru tertawa kecil pelan. Tawa yang terdengar kosong.
“Iya,” ucapnya santai. “Memang hancur.”
Jawaban itu justru membuat Dhea semakin sedih. Karena di balik nada santainya.
Rafalendra terlihat seperti seseorang yang benar-benar sudah lelah dengan hidupnya sendiri.
“Bisa nggak jangan selalu menghina adik-adikku?!” teriak Raka yang kini benar-benar emosi.
Reno hanya terkekeh kecil mendengar nada marah itu.
“Keluargaku memang miskin,” lanjut Raka dengan rahang mengeras. “Tapi kami nggak pernah menghina orang seperti yang kamu lakukan sekarang.”
Suasana langsung terasa hening.
Dhea menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
Sedangkan Rafalendra hanya berdiri diam sambil memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie-nya.
Tatapannya mulai berubah dingin ke arah Reno.
Namun Reno masih belum berhenti.
“Lalu saya salah di mana?” tanyanya santai. “Saya cuma ngomong kenyataan.”
“Menurutmu merendahkan orang itu kenyataan?” balas Raka tajam.
Reno tersenyum miring.
“Kalau kalian nggak mau dihina, ya ubah hidup kalian.”
Deg.
Kalimat itu langsung membuat Dhea menundukkan wajahnya lagi.
Tetapi tiba-tiba—
“Lucu.”
Suara Rafalendra membuat semua orang menoleh. Pria itu tertawa kecil sambil menggeleng pelan.
“Kamu ngomong seolah hidupmu paling sempurna,” lanjutnya dengan tatapan tajam ke arah Reno.
Reno langsung menyipitkan matanya.
“Setidaknya hidup saya lebih baik dari kalian.”
Rafalendra terkekeh pelan lagi.
“Kasihan.”
“Hah?”
“Punya segalanya, tapi mulutmu tetap buruk.”
Seketika wajah Reno berubah tidak suka.
Sedangkan Dhea menatap kedua kakaknya bergantian dengan perasaan campur aduk. Karena untuk pertama kalinya, Rafalendra ikut berdiri di sisinya.
“Pantas saja jadi aib keluarga, ternyata mulutnya memang seburuk itu,” ejek Rafalendra dengan tatapan dinginnya.
Seketika wajah Reno langsung berubah.
“Kamu bilang apa?” tanyanya tidak terima.
Rafalendra tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak terlihat ramah.
“Salah dengar?”
Reno langsung melangkah maju beberapa langkah.
Sedangkan Dhea mulai panik melihat keadaan yang semakin memanas.
“Kak Rafa, sudah…” ucap Dhea pelan sambil mencoba menenangkan.
Namun Rafalendra tetap menatap Reno tanpa takut sedikit pun.
“Selama ini kamu paling suka merendahkan orang lain, kan?” lanjut Rafalendra santai. “Padahal yang paling memalukan di sini justru sikapmu sendiri.”
“Kamu pikir dirimu lebih baik dari saya?” balas Reno emosi.
Rafalendra terkekeh kecil.
“Oh, jelas nggak.”
Jawaban itu membuat Reno sedikit terdiam. Karena Rafalendra mengatakannya tanpa gengsi sedikit pun.
“Saya memang berantakan,” lanjut Rafalendra sambil menatap lurus ke arah Reno. “Saya mabuk, hidup saya kacau, bahkan saya nggak bisa memperbaiki diri saya sendiri. Tapi setidaknya…” suaranya mulai berubah dingin. “Saya nggak pernah datang ke tempat orang cuma buat bikin mereka merasa rendah.”
Deg.
Suasana langsung hening.
Dhea menatap Rafalendra dengan mata perlahan berkaca-kaca.
Karena meski kakaknya sering terlihat kacau tetap saja, Rafalendra selalu membela keluarganya saat benar-benar dibutuhkan
“Ayo kita masuk. Jangan ladeni orang seperti ini,” ucap Rafalendra sambil berjalan mendekati Dhea dan Raka.
Dhea langsung menatap kakaknya itu pelan. Sedangkan Raka masih terlihat menahan emosinya. Namun akhirnya ia menghela napas kasar sebelum mengalihkan pandangannya dari Reno.
Rafalendra berdiri di samping Dhea lalu menepuk pelan kepala adiknya itu.
“Masuk,” ucapnya lebih lembut.
Dhea langsung mengangguk kecil. Namun sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam toko, Reno kembali bersuara.
“Kalian pikir bisa hidup tenang terus begini?”
Langkah mereka langsung terhenti.
Tatapan Raka kembali berubah tajam. Sedangkan Rafalendra perlahan menoleh dengan wajah datar.
Reno tersenyum miring sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Keluarga kalian memang aneh.”
Ucapan itu membuat Rafalendra terkekeh kecil.
“Iya,” jawabnya santai. “Tapi setidaknya kami saling menjaga.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat Reno terdiam beberapa saat.
Sedangkan Dhea tanpa sadar menundukkan wajahnya pelan. Karena meski hidup mereka berantakan, setidaknya ia masih memiliki kedua kakaknya di sisinya.