Sinopsis
Mitsugu dipindahkan ke dunia Naruto, menggunakan templat Namikaze Minato. Mitsugu ditugaskan untuk berperan sebagai putra Minato dari dunia paralel!
Sarutobi Hiruzen: {Kau putra Minato dari dunia paralel?}
Mitsugu: {Ya, jadi aku akan mengurus putra ayahku di dunia ini.}
Jiraiya: {Kau juga muridku di dunia itu? Hebat!}
Mitsugu: {Tentu saja, kau bahkan mengajariku Rasengan!}
Naruto: {Kau kakakku…}
Mitsugu: {Ya, aku kakakmu. Panggil aku Mitsugu-nii mulai sekarang.}
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayang_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namikaze Mitsugu (19)
Namikaze Mitsugu (19)
Hana memperhatikan interaksi Mitsugu dengan Sasuke dan Naruto.
Tidak ada kepura-puraan dalam semua yang mereka lakukan.
Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa dunia yang diceritakan Mitsugu memang benar-benar damai, seperti yang sebelumnya dikatakan oleh Bibi Mikoto dan Ayahnya.
Hana meminta maaf pada versi dirinya di dunia lain... karena sekarang, dirinya akan bertunangan dengan Mitsugu…
{Pasti sangat merepotkan ya memasak sebanyak ini?}
{Tidak juga, aku bahkan bisa memasak lebih banyak.}
{Hebat... Ngomong-ngomong...kau sering menjalankan misi?} Mitsugu penasaran, mengingat Hana juga seorang Chunin.
{Tidak terlalu. Kadang ada dalam sebulan, kadang juga tidak sama sekali. Untuk kami klan Uchiha, sangat jarang mendapatkan misi… kebanyakan misi pengawalan justru sering diberikan pada klan lain.}
Mitsugu bisa menebak alasan di balik semua itu.
Sasuke dan Naruto memilih untuk diam, namun semangat mereka untuk kembali berlatih sangat besar.
Akan tetapi, Mitsugu menyuruh mereka berhenti dan mengatakan bahwa lebih baik latihan dilanjutkan besok.
Naruto dan Sasuke berjalan di depan, sementara Mitsugu dan Hana berjalan di belakang mereka.
{Kau tahu, Sasuke, cita-citaku adalah menjadi Hokage~}
Sasuke mengernyitkan dahi sambil menatap Naruto yang penuh percaya diri.
Sasuke terdiam...
Mitsugu pernah mengatakan bahwa di dunia lain, Sasuke adalah kandidat Hokage yang sudah pasti.
Sasuke tidak ingin kalah dari versi dirinya di dunia tersebut.
{Orang yang akan menjadi Hokage… adalah aku.}
Naruto terkejut!
{Tidak! Hokage berikutnya adalah aku!}
Naruto dan Sasuke saling menatap, tatapan persaingan mereka seakan memercikkan kilat.
Uchiha Hana terdiam…
(Mereka bercita-cita jadi Hokage?)
Mulai hari ini, persaingan di antara mereka resmi dimulai.
Bukan untuk membuktikan siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling pantas menjadi Hokage!
Sasuke sangat percaya diri dan yakin bahwa dirinya benar-benar layak menjadi Hokage.
Sementara itu, melihat Naruto yang ceroboh dan suka bertingkah konyol, jelas dia sama sekali tidak cocok untuk menjadi Hokage.
Naruto berlari cukup jauh ke depan, lalu tiba-tiba berbalik dan menunjuk wajahnya sendiri dengan jempolnya.
{Aku Uzumaki Naruto! Di masa depan aku pasti akan menjadi Hokage! Semua orang akan mengakuinya!}
Sasuke mengepalkan tangannya, dorongan untuk meninju wajah Naruto yang sok percaya diri itu begitu kuat.
Mitsugu tersenyum geli.
Melihat betapa kuatnya keyakinan Sasuke, kini Sasuke benar-benar terobsesi dengan tujuan menjadi Hokage.
{Kalau Sasuke, masih mungkin… Naruto, kau harus berusaha. Kalau kau malas, Hokage berikutnya pasti Sasuke…}
{Tidak, Mitsugu-nii! Akulah yang paling pantas menjadi Hokage!}
Hana memandang Naruto yang terlihat konyol itu dan hanya bisa tersenyum…
Naruto dan Sasuke jelas sama-sama tidak memiliki kesempatan untuk menjadi Hokage.
Naruto dipenuhi rumor sebagai reinkarnasi Rubah Iblis.
Sementara Sasuke berasal dari klan Uchiha.
Kandidat yang paling mungkin tentu berasal dari klan besar lainnya, seperti klan Nara atau klan Hyuuga.
Kandidat yang paling pasti adalah dari klan Sarutobi, atau bahkan putra Hokage Ketiga sendiri, Sarutobi Asuma.
{Mereka masih terlalu kecil…} gumam Hana pelan.
{Jangan meremehkan mereka, mungkin suatu hari mereka benar-benar akan menjadi Hokage…} Mitsugu tersenyum. {Di duniaku, Sasuke adalah kandidat terkuat dan sosok yang sangat kuat.}
Hana terdiam sejenak… {Itu di duniamu. Di dunia kami, hal itu benar-benar mustahil…}
{Percayalah, tidak ada yang mustahil.}
Hana menghela napas. {Aku berharap apa yang kau katakan itu benar. Jika itu benar-benar terjadi, itu akan sangat bagus sekali.}
mantap 👍👍👍👍👍