Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Beberapa menit berlalu. Setelah yakin napas Reza benar-benar terhenti, Wandri melangkah mendekat. Ia berjongkok, lalu mendekatkan jarinya ke bawah hidung Reza.
Senyum puas terbit di wajahnya ketika tak lagi merasakan embusan napas.
Akhirnya selesai.
Wandri kemudian membenarkan posisi tubuh Reza, mengatur sudut pisau dan posisi tangan agar terlihat seolah Reza mengakhiri hidupnya sendiri.
Ia melangkah ke dapur, mengambil alat pel, lalu membersihkan darah yang bercecer sedikit demi sedikit. Setiap noda ia hapus dengan teliti, menyisakan genangan darah di dekat tubuh Reza saja.
Setelah itu, Wandri menuju kamar mandi. Karena cukup sering berkunjung ke rumah Reza, ia tahu betul tata letak rumah tersebut.
Ia mencuci alat pel hingga benar-benar bersih, lalu membersihkan kamar mandi untuk menghilangkan jejak. Setelah selesai, ia keluar sambil mengibaskan kedua tangannya agar kering, lalu kembali mengenakan sarung tangan hitam yang sempat ia lepas.
Tatapannya kembali jatuh pada tubuh Reza.
Sudut bibirnya terangkat.
“Rasain lo,” gumamnya puas.
Wandri melangkah ke pintu utama. Di sana, ia melihat kunci rumah Reza masih tergantung di luar. Senyum kemenangan terlukis jelas di wajahnya.
Bodoh, batinnya. Tak sadar pintunya sudah dibobol dari awal.
Ia mengambil kunci itu dan mengunci pintu dari dalam. Beruntung, kunci yang sempat ia rusak masih dapat berfungsi dengan baik.
Setelah itu, Wandri menuju salah satu jendela rumah. Ia membukanya dan keluar melalui sana.
Di luar, ia mengeluarkan obeng dari kantong plastik yang telah disiapkannya. Dengan cekatan, ia melepas sekrup-sekrup jendela hingga bingkai terlepas.
Lalu ia mengambil tiga buah paku dan sebuah palu. Ia memaku bagian dalam bingkai jendela hingga paku menembus sisi bawah kayu. Setelah itu, ia memotong ujung paku yang tembus menggunakan pemotong baja.
Saat hanya tersisa kepala paku di bingkai, Wandri mengeluarkan lem kayu dan melumuri setiap sisi jendela, lalu menempelkannya kembali ke tempat semula.
Dengan cara ini, jendela terlihat seperti dipaku, padahal sebenarnya tidak. Tidak ada yang akan curiga—banyak jendela lain di rumah Reza memang sudah dipaku sebelumnya karena rusak.
Merasa semuanya sempurna, Wandri mengambil tisu dari sakunya, memungut seluruh sekrup dan potongan paku, lalu membungkusnya rapat agar tak berhamburan.
Setelah itu, ia memanjat tembok beton dan meninggalkan pekarangan rumah Reza..
***
Di gang-gang sempit kota roves seorang laki-laki berlari dengan sekuat tenaga.
Laki-laki itu bernama wandri saputra, sosok pelaku pembunuhan reza agraha, ia berlari dari kejaran azri.
Rasa kesal meliputi dirinya saat para polisi mengejarnya dari berbagai gang.
Dari awal seharusnya dia menyingkirkan benda yang bisa menjadi bukti tersebut secepat mungkin. Namun wandri menundanya karena merasa tidak akan ke tahuan.
Dia menyesal tak melihat situasi tadi, seharusnya dia tak membuangnya begitu saja tanpa melihat sekeliling rumahnya dan reza.
Saat wandri berlari melalu gang sebelah kanannya, 4 polisi telah timbul di sana membuat dia langsung berbalik.
Namun ketika dia berbalik azri segera muncul menodongkan pistol dari arah satunya membuat wandri terkepung.
"Jangan bergerak!!" Teriak azri pada wandri.
Wandri segera mengangkat Tangan pertanda menyerah saat melihat situasi nya.
"Ck menyebalkan" umpat wandri menatap azri dengan kesal.
Di sisi lain 4 orang polisi tadi segera memborgol wandri dan mengamankan ke mobil polisi.
***
Di ruangan yang agak gelap, ruangan yang sama saat di gunakan untuk menginterogasi tiska.
Kini tempat duduk tiska di gantikan oleh wandri yang memakai borgol di tangannya.
Di hadapan wandri ada azri dan ziel menatapnya dengan tatapan memangsa.
"Saudara wandri saputra anda di tahan karena telah membunuh saudara reza agraha tetangga anda" ucap azri sambil membuka buku catatannya.
Wandri tersenyum dengan angkuh saat mendengar itu "saya menolak, karena saya tidak bersalah"
"Kami telah menemukan bukti yang kuat, untuk memasukan anda ke penjara" jawab azri sambil mencatat.
"Memangnya bukti apa yang kau temukan" tantang wandri.
Ziel yang berada di samping azri segera mengeluarkan kantong plastik yang ada di tong sampah tadi "Ini adalah bukti yang kami katakan"
Wandri tertawa kecil melihat itu " apa yang bisa barang ini katakan bahwa ia adalah bukti yang kuat"
Azri kini merasa kesal saat melihat tingkah menyebalkan wandri "Anda bilang ini sampah sayur bukan, mengapa isinya berbeda"
"Itu hanya basa-basi saja pak polisi!" Ucap wandri sambil menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Oh ya, lalu mengapa anda berlari dari kami tadi" azri bertanya kembali dengan nada tak kalah menekan seperti wandri.
"Itu karena saya terlambat bayar pajak rumah kemarin, ku pikir kau akan menagih ku yang tak punya uang ini" sarkas wandri pada azri.
Ziel yang dari tadi mengamati tersenyum sinis ke arah wandri, dia segera menghentikan azri yang ingin berbicara lagi.
"Wandri saputra, umur 28 tahun, seorang laki-laki yang bekerja menjaga toko di jalan xxxx, juga seorang penjudi online, apa saya benar pak!" Ucap ziel, menatap tajam ke arah wandri.
Wandri diam mengamati apa yang akan ziel lakukan.
"Apa anda tau apa kesalahan anda!" Tanya ziel masih dengan tatapan tajamnya.
Wandri tersenyum menatap ziel "saya tidak bersalah apa-apa" ucapnya dengan sombong.
Mendengar ini ziel tersenyum dengan penuh kemenangan "anda seharusnya menyingkirkan bukti lebih cepat, itu kesalahan anda!"
Senyum sombong wandri langsung luntur ketika mendengar itu, dia merasakan ada yang salah dengan polisi ini, biasanya seorang polisi akan mengatakan nya lewat bukti dan memberikan kebenaran atas buktinya, namun polisi di hadapannya ini malah memberikan kalimat dari sudut pandang penjahat.
"Apa!?" Ucap wandri bingung.
"Kau mau mendengar dongeng, biar aku ceritakan" ucap ziel.
Ziel menyandarkan kepalanya ke kedua tangannya sambil berkata " malam hari tanggal xxxx seorang laki-laki pulang ke rumahnya dalam ke adaan sempoyongan karena telah mengkonsumsi benda terlarang, laki-laki itu pulang ke rumahnya sambil membawa rasa bersalah pada kakaknya. Dia masuk ke dalam rumah dengan kepala yang pusing dan pandangan yang kabur"
Mendengar cerita dari ziel wandri yang awalnya tenang jadi gelisah.
"Dia kemudian Mecoba menghubungi kakaknya, namun tidak sengaja malah menghubungi orang lain. Tanpa di duga suara ponsel berdering di belakangan nya, membuat laki-laki itu menoleh dan melihat sosok kakaknya di belakang, dia segera memeluk kakaknya sambil berkata "Kak aku minta maaf, harusnya aku tak melakukan itu kak, maaf kan aku!" Namun kakaknya tak menggubris malah menusuk lehernya, sontak laki-laki itu kaget dan mundur dari langkah nya, dia kemudian tiada karena ke habisan darah.
Dan kau tau kakaknya dengan kejam meninggalkan dirinya menghapus bukti bahwa dia membunuhnya dan pergi melalui jendela, jendela tersebut dia copot dari tempat nya, memakunya hingga tembus dan memotong tembusan paku tersebut hingga terlihat kepala pakunya dari bingkai jendela"
Wandri terdiam, dia meneguk ludah dengan gugup.
Ziel tersenyum melihat reaksi wandri, dia kemudian berbicara kembali "kau tau laki-laki itu ternyata berhalusinasi melihat sosok kakaknya" ucap ziel tersenyum penuh kemenangan pada wandri.
Wandri mengigit bibirnya, kedua tangannya mengepal memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih "memangnya kenapa kalo aku membunuh laki-laki menjijikkan itu, dia itu tak pantas hidup!!" Teriak wandri dengan keras membuat seisi ruangan terdiam menatap nya.
"Bagus anda bersalah" ucap ziel dengan tenang, dia kemudian menyuruh beberapa polisi lainnya untuk membawa wandri ke sel penjara.
wandri yang tak terima saat di seret oleh polisi langsung mengumpat ''kau jalang sialan!''
plak!
azri yang mendengar itu langsung melayangkan tamparan ke wandri hingga wajah wandri ter toleh ke kiri.
''jaga bahasa anda!'' ucap azri dengah wajah yang memerah marah.
setelah sedikit keributan itu wandri segera di seret ke sel penjara oleh para polisi.