Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. DEBARAN
Hari ini Murat pulang kemalaman dia telah melewatkan makan malam, karena tadi dia pulang mengantarkan Irine terlebih dahulu.
Murat tiba dirumah jam 8.23, perutnya sangat lapar karena telah melewatkan makan malam. Dia membuka pintu dan rumah tampak sunyi. Mungkin anak anaknya sudah tidur pikirnya.
KLENTANG....
Suara pecahan kaca mengagetkannya. Dia pun berlari ke sumber suara. Dilihatnya Hanna yang panik sedang membereskan makanan dan pecahan piring kaca yang berserakan.
" APA YANG KAMU LAKUKAN?". Suara Murat yang menggelegar membuat Hanna terkejut. Tanpa sengaja tangannya tergores pecahan kaca.
" Maa..af Kak a...ku tidak sengaja, tadi aku pikir piringnya sudah aku simpan dengan benar, tetapi mungkin karena terburu buru piringnya terjatuh". Hanna sangat merasa bersalah, padahal dia berniat menghidangkan makan malam untuk suaminya.
"Huuuuuft..." Murat merauk wajahnya kasar. Hatinya benar benar masih was was karena suara pecahan tadi. " Sudahlah lebih baik aku pesan makanan online saja".
"Maaf kak".
Hatinya benar benar dongkol karena Hanna sudah merusak mood makan malamnya. Dia pun segera kekamar untuk mengecek baby Malika karena suara berisik tadi.
Hanna segera membereskan kekacauan yang dia buat. Meskipun tadi tangannya sempat terluka dia mengabaikannya. Perasaan tidak enak meliputinya, maksud hati ingin membuat makanan kesukaan suaminya. Tetapi dia sendiri yang mengacaukannya.
...****************...
Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya. Murat pun turun untuk menikmati makan malam yang tertunda. Hanna yang tahu suaminya masih kesal pun lebih banyak diam.
Dia hanya menghidangkan makanan yang dipesan oleh suaminya tanpa banyak bicara, padahal dirinya sangat penasaran kenapa tadi suaminya itu pulang terlambat.
Setelah selesai Hanna berniat untuk kembali kekamarnya. " Kau tidak makan?" Meskipun masih sedikit kesal. Dirinya tidak mungkin mengabaikan istrinya terus terusan.
"Aku sudah makan kak". Hanna sedikit gugup karena pertanyaan Murat yang tiba tiba. Pria itu hanya mengangguk. "Bagaimana Keanu hari ini?"
Murat merasa dirinya terlalu sibuk hingga dia tidak sempat mengantar putranya ke sekolah. " Keanu sangat bersemangat, hari ini dia bahkan belajar mencabut rumput, dan kalau kakak lihat, dia senang sekali.....".
Wajah Hanna berbinar ketika menceritakan bagaimana kegiatan Keanu hari ini. Hati Murat menghangat, dia menyadari bagaimana Hanna begitu menyayangi putranya.
"Ehhmmm...". Murat sedikit salah tingkah melihat binar diwajah Hanna. " Maaf kak, baiklah aku keatas dulu". Hanna merasa Murat terganggu dengan dirinya. Dia pun bergegas pergi kekamarnya.
Padahal yang sebenarnya. Belakangan ini jantung Murat berdegup sangat cepat apalagi jika dirinya hanya berduaan di satu ruangan yang sama dengan Hanna. Bahkan warna kulit wajahnya pun sudah merona.
Setelah kepergian Hanna, Murat memegang dadanya. Dia menarik nafas dalam dan menggeleng gelengkan kepalanya untuk menetralisir degupan jantungnya.
...****************...
Irine sejak tadi tidak tenang, beberapa kali dia mengecek ponselnya. Ibunya yang sejak tadi memperhatikan jadi penasaran.
" Kamu kenapa sih sayang? Lagi nungguin apa sih, dari tadi mamah lihat Hpnya dipantengin terus?" Wanita itu tidak sadar kalau ibunya memperhatikan, tetapi dia hanya menggendikkan bahunya.
Sebenarnya Irine sedang menunggu kabar dari Murat. Tadi setelah pria itu mengantarkannya, Irine meminta Murat mengabarinya setelah sampai dirumah.
Tetapi hingga saat ini pria itu tak sekalipun mengabarinya bahkan beberapa pesan WA yang dia kirimkan sepertinya belum dibaca. Hal itu membuat Irine gelisah.
...****************...
Mata Hanna tidak bisa terpejam, suara ponsel Murat sedikit mengganggunya. Deretan suara pesan masuk terus silih berganti yang membuat layar ponselnya berkedap kedip.
Bahkan suara panggilan masuk terdengar nyaring dan cukup lama. Hanna khawatir putrinya terbangun mendengar suara itu.
Dia pun menepuk nepuk tubuh baby Malika, tetapi matanya tidak berhenti memperhatikan ponsel Murat yang tergeletak di atas nakas dimana cahaya ponsel itu terus berkedap kedip.
Suara dering ponsel yang tidak berhenti membuatnya terganggu. Hanna penasaran siapa orang yang menelepon suaminya di jam malam seperti ini.
"Irene Wijaya calling" Ada perasaan tidak nyaman dihatinya, setelah melihat nama si penelepon. "Sepertinya seorang wanita, siapa? kenapa dia menelepon di tengah malam begini".
Hanna hanya melihat ponsel itu tanpa berani untuk mengangkatnya. " Ada Apa?" Suara bariton tiba tiba mengagetkannya.