Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Bayangan dari Masa Lalu
Hujan turun tanpa belas kasihan malam itu, membasahi seluruh kota hingga lampu-lampu jalan tampak seperti bayangan yang bergetar. Di dalam kamar yang gelap, Kenji masih duduk membatu di depan laptop yang baru saja menayangkan rekaman flashdisk. Rekaman yang merobek seluruh hidupnya.
Ryo, pria yang selama ini ia hormati, pria yang ia panggil paman olehnya. Pria yang melatihnya sejak kecil. Ryo ada di rumah ibunya pada malam kejadian sepuluh tahun lalu.
Kenji memejamkan mata, tapi bayangan itu terus muncul. Suara ibunya yang memohon, alat pemantik api, dan Ryo berdiri terlalu dekat dengan para pelaku. Tidak masuk akal. Tidak bisa dipercaya. Tapi rekaman itu tak bisa disangkal.
Dengan napas kasar dan bahu bergetar, Kenji mengambil jaketnya dan bergegas keluar rumah tanpa mempedulikan pengawal yang memanggil namanya. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari. Ia tidak peduli hujan deras atau jalanan licin yang ia pedulikan hanya menemukan Ryo dan menuntut jawaban.
Di halaman belakang rumah keluarga Kazuma, beberapa pengawal sedang mencari seseorang sambil membawa senter.
“Ryo mana!” seru Kenji, suaranya hampir pecah.
Salah satu pengawal menelan ludah. “Tuan Ryo … belum pulang sejak sore, Tuan Muda.”
“Ke mana dia pergi?” tanya Kenji.
“Beliau“ kata pengawal tapi saat ia hendak menjawab tiba-tiba terputus karena panggilan dari suara radio .
“Pak Ryo ditemukan … akan tetapi,” kata pengawal dengan suara itu hilang ditelan statis hujan.
Kenji tidak menunggu kelanjutannya. Ia sudah berlari, menerobos hujan menuju sungai kecil di belakang rumah tempat terakhir Ryo terlihat pergi. Lampu senter para pengawal menyorot sesuatu di tepi sungai yang gelap. Sesuatu yang tergeletak, tidak bergerak.
“Roy!” teriak Kenji.
Kenji langsung berlutut, memeluk tubuh besar pria itu yang sudah bersimbah darah. Napas Ryo tersengal-sengal, wajahnya pucat seperti lilin yang hampir padam.
“Tuan … Muda.” Panggil Ryo dengan suara itu begitu lirih dan hampir hilang.
“Ryo! Kenapa kau ada di sini?! Kenapa kau ada di malam itu?! Katakan!” Kenji mengguncang bahunya, putus asa.
“Aku lihat rekamannya! Kau di rumah Ibu! Kau bersama mereka! Jelaskan!!” tambah Kenji.
Ryo berusaha mengangkat tangannya yang berlumuran darah dan menyentuh lengan Kenji. Sentuhan itu lemah, tapi hangat, seperti doa terakhir yang ingin disampaikan.
“Aku … tidak mengkhianati Mamamu” kata Ryo dengan suara pelan.
“Lalu kenapa?! Kenapa kau ada di sana?!” Kenji menjerit.
Hujan bercampur air mata membuat wajahnya sulit dibedakan mana yang basah karena hujan dan mana karena duka.
Ryo terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya. “Aku hanya mengikuti perintah”.
“Kau bekerja untuk Papaku! Jangan bilang Papa?!” Ryo menggeleng lemah.
“Bukan Kazuma. Perintah tersebut dari orang lain. Orang yang lebih tinggi dari Papamu dan ia lebih kuat.” Mendengar penjelasan Ryo membuat Kenji tertegun.
“Lebih tinggi dari Papa? Siapa?” gumam Kenji.
“Siapa?!” Kenji mendekat, menahan napas. “Siapa orang itu?!” tanya Kenji.
“Namanya.” Ryo membuka mulutnya, napasnya mulai kacau, ia memaksa dirinya bicara.
Ryo hendak menyebutkan nama orang tersebut, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang menembus udara.Tubuh Ryo tersentak, darah memercik ke pipi Kenji. Mata pria itu melebar lalu cahaya kehidupan meredup dari sana dalam hitungan detik. Tangan yang tadi menggenggam Kenji terlepas dan jatuh ke tanah.
“R-Ryo?” Kenji memanggil, suaranya pecah.
“Ryo!! RYO!!” panggil Kenji dengan air mata sudah mengalir.
Tidak ada jawaban, tidak ada napas, tidak ada denyut. Pria yang selama ini melindunginya mati seketika tepat di hadapan Kenji. Kenji menoleh cepat, mencari arah datangnya peluru.
Hujan membuat pandangan kacau, tetapi di balik pepohonan terlihat bayangan seseorang berdiri tegak. Seseorang yang memegang senapan panjang. Arah itu bukan arah rumah melainkan,arah sekolah Emerald.
Tempat Ren sering berada malam hari dan tempat Ren biasa memandang kota dari atap. Dan seseorang baru saja menembak Ryo dari sana, Kenji mengepalkan tangan begitu kuat hingga kuku hampir menembus kulit.
“Ren Hirano,” kata Kenji dengan suara pelan.
Ia berlari menuju sekolah tanpa menunggu siapapun. Sementara itu, jauh di wilayah utara, Ren berdiri di ruangan tua yang diterangi lampu kuning redup. Aroma kayu tua memenuhi udara. Di hadapannya, papanya Daisuke Hirano mengangsurkan sebuah foto lama.
Ren menatapnya, dan dunia terasa berhenti. Itu foto mamanya saat masih muda, rambut terurai indah tersenyum lembut. Dan disampingnya berdiri seorang pria ialah Kazuma Arakawa papa dari Kenji.
“Papa ini apa?” tanya Ren dengan gemetar suara .
Daisuke menarik napas panjang, seperti memikul beban bertahun-tahun. “Kau harus tahu kebenaran. Perang antara keluarga Kazuma dan Hirano tidak dimulai oleh kekuasaan. Perang itu dimulai oleh cinta.”
Ren menatap foto itu lama, tangannya gemetar. “Ibumu mencintai Kazuma sebelum ia menikah dengan keluarga kita. Ia mengkhianati keluarga Hirano demi pria itu. Demi Kazuma.”
Ren hampir tidak bisa berdiri tegak.“Kau menyuruhku membenci Kenji selama ini karena Mama?”
“Karena kau adalah pewaris,” jawab Daisuke berat.
“Dan karena tidak ada perang yang berhenti sampai darah ganti darah,” tambah Daisuke.
Ren menutup mata, meremas rambutnya., seluruh hidupnya tiba-tiba terasa seperti kebohongan besar. Kebohongan yang selama ini ditutupi oleh keluarganya.
Dan ia berbisik dengan suara gemetar namun tajam. “Kalau begitu aku akan menyelesaikan semuanya dengan tanganku sendiri.”
Kenji akhirnya mencapai sekolah. Tangga darurat bergetar saat ia menaiki tangga tersebut. Napasnya berat, tetapi matanya menyala dengan amarah yang nyaris membutakan. Ia membuka pintu atap dengan keras.
Dan disana ditengah hujan deras berdiri sosok berjas hitam dengan topeng logam perak, dan orang tersebut adalah Orion. Angin malam membuat mantel hitamnya berkibar. Ia tidak bergerak, seolah sudah menunggu kedatangan Kenji.
“Kau,” bisik Kenji penuh kebencian.
“Kau yang bunuh Ryo,” kata Kenji dengan penuh benci.
Orion tidak menanggapi, ia hanya menatap ke arah Kenji. Kenji pergi mendekati ke arah Orion.
“Kau yang kirim flashdisk itu. Kau yang mulai semua ini. Jawab aku!!” kata Kenji dengan suara keras. Orion akhirnya bicara, suaranya tenang, dingin, hampir tanpa emosi. “Aku tidak membunuhnya karena dia musuhmu, Kenji.”
Orian tetap berada di tempatnya. “Aku membunuhnya karena dia akan mengatakan sesuatu yang belum waktunya kau dengar.”
Kenji merasakan jantungnya menghantam tulang rusuk. “Kau … apa maumu?!”
“Yang memulai perang keluarga bukan Ren,” ujar Orion. “Dan bukan Kazuma.”
Kenji terpaku.
“Lalu siapa?! Siapa dalang sebenarnya?!” Orion mengangkat pistol, mengarahkannya tepat ke Kenji.
“Ada satu cara untuk tahu,” katanya pelan.
“Yaitu jika kau bertahan hidup setelah ini,” tambah Orian.
“Apa maksudmu dengan setelah ini?” tanya Kenji bingung.
Tiba-tiba Orion menembakkan pistol, dan peluru menembus bahu Kenji. Tubuhnya terpental ke belakang, menghantam lantai atap dengan keras. Darah bercampur air hujan mengalir di sekitarnya Kenji mencoba mengangkat kepala, matanya kabur. Orion mendekat, berdiri tegak di atasnya, hujan menetes di topeng peraknya.
“Bangunlah, Kenji” terdengar sebuah suara yang memanggil itu terdengar jauh, seperti berasal dari mimpi.
“Musuhmu hanya tinggal satu langkah lagi.” Orion pergi meninggalkan Kenji yang sedang terluka.