NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18. Respect

Keesokan harinya di Minimarket Vika sedang mengecek Acha habis-habisan karena kepergok oleh Vika Acha yang sedang video call dengan Nathan saat posisi mereka berdua masih tertidur lelap.

"Eh Cha ayo bangun nanti kita kesiangan lagi berangkat kerjanya" Ucap Vika sedang Menggoncang-goncang tubuhnya Acha yang masih terlelap dalam tidur.

Vika melirik sekilas ke arah bantalnya Acha yang menjadi sandaran handphone-nya untuk video call bersama dengan Nathan.

"Pantes aja kamu kesiangan Cha, orang kamu semalaman video call sampai ketiduran gini yah" Ucap Vika menggeleng gelengkan kepalanya.

Karena suara Acha langsung terbangun dari tidurnya "eh Vika udah nunggu lama yah" Ucap Acha menguap sambil bersiap siap untuk bangun dari tempat tidurnya.

"Iya santai aja, aku ngerti kok kamu kan habis begadang video call sama pacar barunya" Ucap Vika sambil melirik handphone-nya Acha yang masih tersambung dengan telponnya Nathan.

"Hah, apa sih" Ucap Acha langsung mengambil handphonenya dan mematikan panggilan ponselnya dengan Nathan dan langsung membalikkan layar handphone-nya.

"Cie cie, udah sih orang tadi aku udah lihat kok" Ucap Vika sambil menyinggung lengannya Acha yang sedang salah tingkah.

"Apa sih kamu tuh yah nyebelin banget" Ucap Acha melemparkan guling kepada Vika dan langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Vika sedang menertawakan kelakuannya Acha yang sedang salah tingkah.

Sesampainya mereka berdua di minimarket seorang pedagang tukang bubur mendatangi Acha dan Vika sambil membawa semangkuk bubur ayam.

"Neng Acha ini bubur nya neng, mau ditaro di mana" Ucap penjual tukang bubur.

"Tapi saya gak pesen bubur ayam mang" Ucap Acha menolaknya secara halus karena bubur ayam biasa Nathan kasih bukan penjual yang ini, lagian Nathan masih tertidur tidak mungkin Nathan membelikannya bubur.

"Iya neng tadi ada cowok yang nyuruh mang buat kasih bubur buat neng" Ucap penjual bubur.

"Siapa orang nya mang" Tanya Acha penasaran.

"Itu neng orangnya" Ucap penjual sambil menunjukkan kepada orang yang masih berdiri di depan gerobak tukang bubur sambil melambaikan tangan kepada Acha.

"Denis" Ucap Acha merasa geli dengan sikap perhatian yang diberikan oleh Denis.

"Bawa pulang lagi aja deh mang bubur nya, saya udah kenyang" Ucap Acha dan kembali sibuk merapihkan barang-barang di rak barang minimarket.

Penjual bubur pun balik ke tempatnya dengan ramah sehingga membuat Denis sedikit kecewa dengan penolakan oleh Acha.

"Sebenci itu loh sama gue Cha" Ucap Denis menarik nafasnya kasar.

Sedangkan Vika baru selesai mengecek barang di gudang dan langsung menghampiri Acha yang sedang mengisi persediaan es krim yang mau habis.

"Tadi ada keributan apaan sih Cha" Ucap Vika penasaran karena sempat mendengar desah desuh keributan dari luar.

"Tadi si Denis berulah lagi, dia beliin aku bubur ayam gratis" Ucap Acha masih sibuk menata eskrim eskrim tanpa menolak kearah Vika.

"Lah terus bubur nya mana kok gak ada" Ucap Vika melirik ke meja kasir mencari-cari mangkuk bubur.

"Ya aku tolak lah, ngapain juga aku terima pemberian dari dia" Ucap Acha menatap Acha.

"Kenapa mesti di tolak sih Cha, kan lumayan dapat bubur gratisan" Ucap Vika.

"Aku gak mau ngasih harapan sama dia Vika, kamu ingat kan waktu dulu juga aku terima semua pemberian dari dia. Terus ujungnya apa dia jadi posesif, sampai ngatur-ngatur aku gak boleh ini itu. Aku gak mau di kekangan sama cowok aneh kaya dia" Jelas Acha kepada Vika.

"Iya juga sih, serem banget. Untung aja waktu itu kamu masih ada hubungan sama Raka" Ucap Vika.

"Ya makanya kan" Ucap Acha.

"Iya... Iya, maaf deh" Ucap Vika tersenyum sambil menjulurkan tangannya berbentuk vis kepada Acha.

"Iya santai aja, udah ah aku mau revisi barang dulu yah takutnya ada barang yang mau di retur. Keburu ada tukang sales nya nanti datang" Ucap Acha bersiap mengambil kertas dan papan berjalan.

"Kamu jaga di depan aja yah takutnya ada yang beli" Ucap Acha.

"Iya beres tenang aja, udah sana" Ucap Vika sedang mengecek data persediaan stok barang depan menyamakan persediaan nya di komputer.

Sedangkan Acha sedang sibuk mengecek barang yang udah rusak atau sudah exspayer untuk diretur kan.

Namun pikiran Acha masih tertuju kepada Nathan, bayangan-bayangan Nathan yang sedang tersenyum tulus kepada Acha masih terlintas dipikirannya.

Acha selalu mengecek handphone-nya berharap ada notifikasi pesan whatsapp yang masuk dari ponselnya, tetapi tetap saja tidak ada.

"Apa dia masih tidur yah" Ucap Acha menggeser geser layar di ponselnya berharap ada satu notifikasi dari Nathan tetapi tetap saja hasilnya nihil.

"Udah lah mending aku fokus lagi aja deh" Ucap Acha memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan kembali fokus bekerja.

"Bagaimana teh apa ada barang yang mau di retur" Ucap salah satu sales OT menghampiri Acha di gudang.

"Ah iya ini aja sih A, cuma sabun, sama sampo yang udah sobek.

"Saya cek dulu yah teh barangnya" Ucap sales membuka isi dus yang sudah Acha siapkan tadi.

"Iya A silahkan" Ucap Acha.

"Sip, barangnya sudah sesuai kalau catatannya mana teh" Ucap sales.

"Ini catatannya A" Ucap Acha.

"Kalau gitu barang sama catatannya saya terima yah teh, kalau gitu saya pamit" Ucap sales itu dan pergi.

"Iya A" Ucap Acha membereskan peralatan tulisnya kembali ke tempanya.

Hari semakin siang sudah waktunya Acha dan Vika untuk istirahat makan siang tak lupa mereka menutup minimarket terlebih dahulu sebelum mereka mencari makan.

Takutnya ada orang yang mau beli, atau masuk kedalam toko tanpa sepengetahuan mereka berdua yang sedang beraga di minimarket.

"Akhirnya jam istirahat datang juga, aku udah kelaparan bangun nih" Ucap Vika.

Bersiap untuk pergi ke wartegnya ibu Susi langganan mereka berdua biasa beli ke sana, namun Acha kembali teringat perkaranya. Nathan soal sikapnya ibu Susi dan anaknya yang hanya ingin memanfaatkan Nathan saja.

"Hmm, viki gimana kalau kita makan mie tangkar aja" Ucap Acha rasanya dia tidak ingin membeli makanan ke warteg sana.

"Yah tapi, aku lagi pengen makan nasi nih. Soalnya kelaparan bangun dari pagi belum sarapan" Keluh Vika.

"Kalau aku yang traktir gimana" Ucap Acha berharap Vika mau berubah pikiran.

"Setuju" Ucap Vika menancapkan gas motornya bersama dengan Acha menuju pedagang mie tangkar di seberang jalan raya.

Ketika mereka sampai di sana ternyata sudah ramai orang untuk mengantri membeli mie tangkar, apalagi sedang jam makan siang pantas saja ramai.

"Ramai juga yah" Ucap Acha baru turun dari motornya.

"Udah tentang aja, kamu cari tempat duduk kosong buat aku yang ngantri buat beli mie nya" Ucap Vika penuh semangat setelah selesai memarkirkan motornya.

Lalu Acha langsung mencari tempat kosong dan melihat keberadaan Tasya dan Mila yang sedang duduk di sana masih menggunakan seragam sekolah SMP.

"Teh Acha, duduk sini" Sapa Tasya sedikit teriak karena suasana di sana cukup ramai.

"Eh kalian di sini juga" Ucap Acha menghampiri mereka berdua.

"Teh Vika mana" Tanya Tasya karena tidak melihat keberadaannya Vika dari tadi.

"Dia lagi ngantri di depan" Ucap Acha.

"Pesan di sini aja teh, kalau dari luar mah lama keburu jam masuk kerja kan" Ucap Mila memberikan saran.

"Iya teh bener juga tuh" Ucap Tasya menyetujui pertamanya Mila.

"Iya deh, aku coba kabari dulu Vika" Ucap Acha bersiap mengirim pesan kepada Vika.

Sesampainya di meja tempat Tasya dan Mila duduk, Vika langsung menggeser bangkunya dan ikut bergabung, napasnya sedikit terengah-engah setelah tadi harus berdesakan di antrean.

"Wah, pas banget nih udah dapat tempat duduk! Gila, antrean di depan tadi panjang banget, untung anak-anak ini sigap nyari tempat duduk," puji Vika sambil merapikan jilbabnya.

Lalu memesan dua porsi mie tangkar kuah gurih kepada penjual yang kebetulan lewat mencatat pesanan meja mereka.

Sambil menunggu pesanan datang, suasana meja mereka langsung diisi dengan obrolan ringan khas anak muda.

Tasya dan Mila tampak antusias menceritakan keseruan jam istirahat sekolah mereka, sementara Vika sesekali menimpali dengan candaan khasnya yang membuat mereka tertawa.

Namun, di tengah gelak tawa itu, pikiran Acha justru melayang ke tempat lain. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel di dalam tasnya.

Lalu beralih menatap jalan raya di seberang sana—tempat di mana warteg Bu Susi berada. Bayangan tentang cerita Nathan semalam kembali berputar di kepalanya.

Mengingat fakta bahwa Bu Susi adalah ibu dari Aura, mantan tunangannya yang pernah menyakiti perasaannya Nathan.

Membuat Acha merasa ada rasa canggung yang mendadak muncul jika fia harus berpapasan atau sekadar melihat warteg tersebut.

"Pantas saja Nathan kelihatan agak berat waktu cerita soal masa lalunya", batin Acha dalam hati.

"Eh, Teh Acha... kok ngelamun sih?" panggil Tasya membuyarkan lamunan Acha, melambaikan tangan kecilnya di depan wajah Acha.

"Lagi mikirin siapa nih? Kak Nathan ya?"

Mendengar nama Nathan disebut, Vika langsung menoleh tajam sambil menyeringai usil.

"Uhuk! Wah, disebut-sebut tuh orangnya! Pantas dari tadi mukanya senyum-senyum sendiri tapi mendadak melow."

Pipi Acha langsung merona merah. Dia buru-buru menggeleng sambil mencubit pelan lengan Vika.

"Apaan sih, Sya! Nggak usah ngadi-ngadi deh. Orang aku lagi mikirin stok barang minimarket yang tadi diretur kok takutnya ada yang ketinggalan."

"Alah, ngeles mulu kayak bajaj! Padahal aslinya lagi nungguin chat dari doi kan yang dari pagi belum ngabarin?" ledek Vika tak mau kalah, membuat Tasya dan Mila ikut tertawa cekikikan.

Tidak lama kemudian, pesanan mie tangkar mereka datang tersaji panas di atas meja dengan aroma rempah kuah santan yang sangat menggugah selera.

Rasa lapar yang tadinya mendera langsung mengambil alih perhatian mereka.

Obrolan soal Nathan pun perlahan mereda, digantikan oleh suara seruputan mie yang nikmat di tengah teriknya siang hari itu.

Selesai makan dan membayar pesanan, Acha, Vika, Tasya, dan Mila berpamitan karena waktu istirahat hampir habis. Acha dan Vika segera bergegas kembali ke minimarket untuk melanjutkan sisa shift mereka sore itu.

Suasana di dalam minimarket terasa sejuk begitu Acha dan Vika melangkah masuk, disambut oleh dering lonceng pintu otomatis.

Keduanya langsung kembali ke pos masing-masing untuk melanjutkan sisa jam kerja sore hingga malam hari itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, fokus Acha justru semakin buyar. Sesekali dia melirik layar ponselnya yang tergeletak di dekat meja kasir, berharap benda pipih itu bergetar dan menampilkan nama Nathan di layarnya.

Sayangnya, hingga mentari perlahan tenggelam dan lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan, tidak ada satupun pesan atau panggilan dari pria itu. Hati Acha mendadak terasa sepi dan dilanda galau hebat.

"Dia beneran nggak ngabarin aku nih seharian? Apa dia sibuk banget yah, atau... sebenarnya dia cuma main-main kemarin?" batin Acha gelisah, pikirannya berkecamuk tak menentu.

Setibanya waktu pulang kerja pukul delapan malam, Acha membereskan barang-barangnya dengan langkah lesu.

Sepanjang perjalanan pulang ke kosan bersama dengan Vika, dia terus merenungi apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.

Di tengah keheningan malam di kamar kosannya, kesadaran itu datang menghantam batin Acha.

Dia tiba-tiba teringat kembali pada tujuan utamanya di awal saat mulai mendekati Nathan—bahwa niat awalnya hanyalah untuk mencari tahu informasi mengenai perubahan sikap Alfian, yang kian menjauh dari keluarganya.

Acha merutuki dirinya sendiri.

"Awalnya kan aku cuma pengen manfaatkan situasi ini biar bisa tahu kabar si Aa lewat dia... tapi kenapa sekarang malah aku sendiri yang terjebak dalam situasi ini sih?"

Dia memeluk lututnya di atas tempat tidur, menyadari bahwa benteng pertahanannya runtuh begitu saja. Tanpa dia sadari sebelumnya, dia kini telah diam-diam merasa nyaman dengan kehadiran Nathan.

Dengan segala perhatian tulus dan gelagat manis pria itu. Perasaan itu tumbuh begitu cepat, membuatnya kini merasa resah saat Nathan mendadak tidak memberinya kabar seharian penuh.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Kamar kosan Acha terasa begitu sepi, menyisakan suara deru kipas angin kecil yang berputar pelan di sudut ruangan.

Acha baru saja selesai mencuci mukanya dan bersiap untuk tidur, dengan perasaan yang masih dilanda galau lantaran Nathan tidak kunjung memberinya kabar seharian penuh.

Tiba-tiba...

Suara ketukan pintu berketuk pelan dari luar, disusul dengan bunyi ponselnya yang bergetar hebat di atas kasur. Acha segera meraih ponselnya dan melihat sebuah pesan singkat dari nomor yang sangat dia hafal.

"Buka pintunya, Cha. Aku di depan kosan kamu nih." Ketik pesan yang di tuliskan oleh Nathan

Jantung Acha mendadak melompat. Tanpa membuang waktu, dia bergegas melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan. Karena takut akan membangun Vika yang sudah terlelap tidur.

Benar saja. Di bawah temaram lampu lorong kosan, Nathan berdiri dengan mengenakan jaket kasual favoritnya. Pria itu menatapnya dengan senyuman hangat yang seketika meredakan segala gundah dan rasa kesal yang sempat singgah di hati Acha seharian ini.

"A Nathan? Kamu... ngapain malam-malam ke sini?" tanya Acha dengan suara tercekat, matanya mengerjapkan tak percaya.

Nathan terkekeh pelan, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Sambil menatap Acha dengan tatapannya yang teduh penuh makna.

"Maaf ya seharian tadi aku nggak sempat ngabarin kamu, sibuk banget ngurusin beberapa urusan mendadak. Tapi aku nggak tenang kalau belum ketemu kamu malam ini. Mau temani aku sebentar cari angin di luar? Udah kangen banget ngobrol langsung."

Mendengar kata-kata tulus itu, pertahanan Acha runtuh seketika. Rasa kesalnya menguap entah ke mana, berganti dengan debaran hangat di dadanya.

Tanpa berpikir panjang dan rasa gengsi lagi, Acha langsung mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu.

"Bentar ya, aku ambil jaket dulu," jawab Acha, lalu berbalik sebentar untuk mengenakan jaketnya sebelum akhirnya melangkah keluar menemani Nathan.

Malam itu, alih-alih pergi ke tempat ngopi atau taman kota biasa, Nathan membawa Acha berkendara ke area lapangan luas di pinggir kota yang sedang meriah oleh lampu-lampu warna-warni.

Suara musik riuh, deru suara mesin komidi putar, serta aroma harum manis dan jagung bakar langsung menyambut kedatangan mereka.

Ternyata, Nathan mengajak Acha mengunjungi pasar malam alias karnaval keliling yang sedang singgah di kota tersebut.

Begitu turun dari motor dan melihat kerlap-kerlip lampu wahana permainan di hadapan mereka, mata Acha langsung berbinar lebar.

Senyum bahagianya mengembang seketika, membuat lesung pipit di pipinya tampak jelas. Sehingga memperlihatkan kecantikannya yang natural.

"Wah... karnaval?!" seru Acha takjub, menoleh ke arah Nathan dengan penuh antusias.

" A Nathan, serius kita mau ke sini?"

Nathan tersenyum melihat reaksi Acha yang begitu ceria, seolah beban galau yang dirasakan gadis itu seharian penuh langsung menguap begitu saja.

"Iya, serius. Kemarin kan aku sempat dengar kamu bilang kalau lagi pengen jalan-jalan santai. Makanya aku ajak ke sini."

Bagi Acha, kunjungan malam ini memiliki arti yang sangat spesial. Ini adalah pertama kalinya seumur hidup dia pergi ke sebuah karnaval malam, bersama dengan seorang cowok yang kini sedang mengisi hatinya.

Acha berjalan berdampingan dengan Nathan menyusuri deretan stan permainan dan jajanan pasar. Sesekali dia menunjuk wahana seperti bianglala besar atau istana balon dengan mata berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali ke tempat rekreasi.

Rasa penat, galau karena seharian tidak dikabari, hingga niat awalnya mendekati Nathan demi mencari informasi soal Alfian, semuanya melebur menjadi satu kebahagiaan malam itu.

Nathan dengan sigap menggandeng tangan Acha pelan di tengah kerumunan orang yang berdesakan, memastikan gadis itu tidak terpisah darinya.

Sentuhan hangat di telapak tangan mereka membuat pipi Acha merona merah, namun dia sama sekali tidak berniat melepaskannya.

Di tengah keramaian karnaval yang dipenuhi lampu warna-warni, langkah kaki Acha dan Nathan akhirnya terhenti di depan sebuah gerobak jajanan yang mengepulkan aroma sedap.

"Mau coba sosis bakar, Cha? Katanya di sini yang paling enak tahu," tawar Nathan sambil menunjuk menu sosis jumbo berlumur saus pedas manis.

"Boleh!" jawab Acha antusias.

Mereka pun memesan satu porsi sosis bakar untuk dinikmati bersama sambil berjalan-jalan menikmati suasana malam.

Namun, saat Nathan asyik menggigit sosisnya, saus merah tampak belepotan di sudut bibirnya. Acha yang melihat hal itu spontan terkekeh geli.

Tanpa berpikir panjang, Acha merogoh saku jaketnya, mengambil selembar tisu, lalu dengan lembut menepuk pelan sudut bibir Nathan untuk membersihkan sisa saus tersebut.

"Makan tuh belepotan banget, kayak anak kecil aja nih A Nathan," ledek Acha malu-malu.

Sentuhan tangan Acha yang begitu dekat membuat gerakan Nathan terhenti seketika. Pria itu menurunkan sosisnya dan menatap lurus-lurus ke dalam mata Acha. Untuk beberapa detik, waktu di sekitar mereka seolah berhenti.

Dalam debaran yang sama, keduanya saling berpandangan dalam keheningan singkat yang penuh makna, sebelum akhirnya Acha buru-buru menarik tangannya karena salah tingkah.

"Ehm, yuk lanjut jalan lagi A!" elak Acha cepat, merona merah sambil mempercepat langkahnya.

Nathan tersenyum penuh kemenangan, lalu mengekor di samping Acha hingga mata mereka tertuju pada salah satu stan permainan klasik yaitu adalah lempar kaleng.

"Eh, lihat itu! Mau coba nggak?" tantang Nathan menunjuk tumpukan kaleng di hadapan penjaga stan.

"Boleh! Tapi kalau Aa nggak bisa jatohin kalengnya, traktir aku gulali ya," balas Acha menantang balik dengan penuh semangat.

Dengan teknik lemparan yang mantap, Nathan maju dan melemparkan bola-bola kecil ke arah tumpukan kaleng.

Brak!

Lemparan ketiganya sukses merobohkan seluruh kaleng dalam sekali pukul. Penjaga stan bersorak riuh dan langsung menyerahkan hadiah utama berupa sebuah boneka beruang berukuran besar.

Nathan menerima boneka beruang itu dengan senyuman lebar, lalu menyerahkannya kepada Acha.

"Nih, buat kamu. Katanya kalau menang harus dikasih ke pemenang hatinya," bisik Nathan menggombal, membuat wajah Acha memerah padam menahan salah tingkah.

Puas berkeliling karnaval, perut mereka mulai keroncongan. Nathan lantas mengajak Acha singgah ke warung nasi goreng langganannya yang berada tak jauh dari area lapangan.

Warung sederhana gerobakan pinggir jalan itu ternyata menyajikan nasi goreng dengan aroma rempah yang begitu menggugah selera.

Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Acha langsung berbinar. "Wah, A! Enak banget nasi gorengnya! Bumbu rempahnya berasa banget," puji Acha jujur sambil terus menyuap makanannya dengan lahap.

Melihat betapa senangnya Acha, sebuah ide melintas di benak gadis itu. "Eh, iya A... kalau aku bungkus satu porsi lagi buat Vika di kosan boleh nggak? Kasihan dia tadi lembur jaga minimarket, pasti belum sempat makan enak kayak gini."

Nathan tertegun sejenak. Alih-alih merasa terganggu karena waktu berdua mereka jadi teralihkan, rasa takjub justru membuncah di dalam dada Nathan.

Di tengah momen kencan mereka yang begitu romantis, Acha masih sempat memikirkan sahabatnya yang sedang bekerja.

Sikap tulus, perhatian, dan sebaik hati itulah yang kian meyakinkan Nathan bahwa Acha adalah perempuan tepat yang selama ini dicarinya untuk dijadikan pendamping hidup.

Malam semakin larut ketika sepeda motor yang dikendarai Nathan akhirnya memasuki area kosan Acha. Suasana di sekitar jalanan sudah mulai sepi, hanya ditemani temaram lampu jalan.

Nathan mematikan mesin motornya tepat di depan gerbang kosan, lalu melepas helmnya.

Acha turun dari boncengan sambil menenteng kantong plastik berisi satu porsi nasi goreng spesial pesanan khusus untuk Vika.

Pipinya masih terasa hangat, sisa-sisa euforia kegembiraan di karnaval tadi masih melekat erat di kepalanya.

"Makasih banyak ya, A, buat malam ini. Seru banget, nggak nyangka bakal diajak ke karnaval," ucap Acha tulus sambil tersenyum manis kepada Nathan.

Nathan balas tersenyum hangat, menatap Acha lekat-lekat di bawah terangnya lampu kosan. "Sama-sama, Acha. Yang penting kamu senang. Besok-besok kalau ada waktu luang, kita jalan-jalan lagi ya. Istirahat yang cukup, jangan malam-malam tidurnya."

"Iya, Aa juga hati-hati di jalan pulangnya," balas Acha melambaikan tangan pelan sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam gerbang kosan.

Begitu Acha membuka pintu kamarnya, ia mendapati Vika sedang duduk bersila di atas kasur sambil membaca majalah, menunggu kepulangannya.

Mendengar suara pintu terbuka, Vika langsung mendongak. Namun, belum sempat Vika melontarkan protes karena Acha pulangnya malam, hidungnya langsung menangkap aroma sedap nasi goreng yang menyeruak dari kantong plastik di tangan Acha.

"Wah... bau apa nih? Harum banget!" seru Vika langsung menutup majalahnya, matanya berbinar menatap bungkusan di tangan Acha.

"Jangan bilang..."

Acha tersenyum tipis sambil meletakkan bungkusan itu ke atas meja kecil di samping kasur.

"Iya, nih. Sengaja di bungkusin sama A Nathan buat kamu. Katanya biar kamu nggak kelaparan habis tertidur lelap kan."

Mata Vika langsung terbelalak lebar, lalu dia tersenyum penuh arti sambil menyenggol-nyenggol bahu Acha.

"Aduh, aduh! Belum resmi jadian aja udah perhatian banget sama calon ipar—eh, maksudnya sahabat doi! Perhatian banget sih A Nathan, peka parah!" ledek Vika dengan nada gemas.

Pipi Acha seketika merona merah padam hingga menjalar ke lehernya. Dia langsung salah tingkah, mencubit pelan lengan Vika sambil cemberut pura-pura kesal.

"Apaan sih, Vika! Udah dibawain makanan malah ngadi-ngadi!"

"Hahaha, ampun Neng! Tapi seriusan ya, Cha, kamu beruntung banget dapet cowok tulus kayak A Nathan. Udah diajak jalan ke karnaval, dibeliin boneka beruang besar, masih sempat-sempatnya mikirin perut sahabatnya ini," puji Vika tulus sambil membuka bungkus nasi goreng tersebut dan mulai melahapnya dengan lahap.

Acha hanya bisa menggelengkan kepala, menyembunyikan senyuman lebar yang sejak tadi tidak bisa dia tahan di balik selimutnya.

Malam itu, di kamar kosan yang sederhana, Acha tidur dengan hati yang berbunga-bunga, merasa begitu bahagia dan berbunga atas segala perhatian yang diberikan oleh Nathan.

Suasana di dalam kamar kosan sudah sangat senyap. Vika bahkan sudah terlelap pulas setelah menghabiskan nasi goreng pemberian Nathan, menyisakan suara napas teratur dan dengkuran halus dari sudut kasurnya.

Namun, hal serupa sama sekali tidak dirasakan oleh Acha.

Gadis itu berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara tangannya mendekap erat boneka beruang besar pemberian Nathan di dadanya.

Alih-alih merasa mengantuk setelah seharian lelah bekerja dan berjalan-keluar di karnaval, mata Acha justru terbuka lebar.

Pikiran dan hatinya sepenuhnya dikuasai oleh bayang-bayang Nathan. Senyuman hangat pria itu, tatapan lekat saat mereka tak sengaja berpandangan di dekat gerobak sosis, hingga genggaman tangan yang erat di tengah kerumunan karnaval terus berputar ulang di kepalanya seperti kaset rusak.

Setiap kali dia memejamkan matanya, bayangan wajah Nathan tersenyum manis kembali melintas, membuat debaran di dadanya bergemuruh hebat dan pipinya kembali memanas seketika.

"Duh... gimana caranya biar bisa tidur kalau bayangin muka dia terus?" gumam Acha pelan sambil membenamkan wajahnya ke bukit bulu boneka beruang itu, merasa salah tingkah sendiri di dalam sunyi nya malam.

Rasanya begitu ajaib bagaimana seorang pria yang awalnya hanya ia dekati demi mencari informasi soal sang kakak, kini justru berhasil merenggut seluruh perhatian dan isi kepalanya.

Malam itu, Acha harus menyerah kepada rasa perasaannya sendiri, membiarkan dirinya terjaga cukup lama sambil terus tersenyum-senyum sendiri di dalam gelap.

Be to continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!