Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Saat sarapan di balkon hotel keesokan paginya, matahari pagi menghangatkan suasana, sementara aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Selena duduk dengan tenang, menikmati sarapannya dengan secangkir teh, sementara Dante sibuk membaca koran dan Elara mengaduk kopinya dengan malas.
Tiba-tiba, Elara menatap Selena dengan senyum licik. "Ngomong-ngomong, Selena... ada satu hal yang belum kukatakan padamu."
Selena meliriknya curiga. "Apa?"
Elara menaruh sendoknya dan menatap Selena dengan ekspresi polos. "Tadi malam, setelah kita berbicara, aku mendapat tawaran pemotretan untuk koleksi terbaru dari seorang desainer terkenal."
Selena mengangkat alis. "Dan?"
Elara menyeringai. "Awalnya itu untukku, tapi aku berpikir... bukankah akan lebih menarik kalau kau yang melakukannya?"
"Elara van regtero...kau ingin roti panggang ini melayang di muka mu?."dia memegang garli dengan kesal.
Dante menahan tawa, sementara Elara dengan santai menyerahkan serbet kepada Selena. "Tenang, Selena. Ini kesempatan emas! Kau akan mengenakan gaun dari desainer ternama, dengan riasan dan gaya yang memukau."
Selena menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Aku bahkan bukan model, Elara!"
Elara mengedikkan bahu. "Tapi kau punya wajah yang luar biasa, tubuh proporsional, dan aura yang misterius. Percaya padaku, ini akan menjadi sesi pemotretan yang fenomenal!"
Dante akhirnya ikut bersuara. "Selena, kalau Elara yang mengatakan itu, berarti kau memang cocok. Lagipula, ini latihan sebelum kau tampil di red carpet nanti."
Selena menutup matanya sejenak, berusaha memahami situasi ini. Kemarin dia hanya datang ke Italia untuk liburan, dan sekarang dia tiba-tiba menjadi model dalam ajang besar?!
Dia menghela napas panjang sebelum menatap Elara. "Kau benar-benar... menyebalkan."
Elara hanya terkikik. "Aku tahu, dan kau tetap menyayangiku, bukan?"
Selena menggelengkan kepala, sementara Dante akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi. Pagi itu, suasana terasa lebih ceria dari biasanya.
sebuah studio fotografi yang telah disiapkan untuk pemotretan. Begitu mereka tiba, seorang stylist dan makeup artist langsung menyambut mereka dengan penuh semangat.
"Ah, ini dia model dadakan kita!" seru seorang pria berjas putih dengan rambut sedikit acak-acakan. Dia adalah desainer yang akan menangani pemotretan ini. Matanya berbinar saat melihat Selena. "Oh, aku menyukainya. Wajahnya memiliki aura yang langka! Kau tidak memberitahuku bahwa kau membawa permata seperti ini, Elara!"
Selena hanya bisa menatapnya dengan bingung, sementara Elara tertawa bangga. "Aku sengaja merahasiakannya, kejutan kecil dariku."
Sementara itu, Dante yang ikut mengawasi pemotretan hanya duduk santai di sofa sambil menikmati espresso-nya. Dia tampak menikmati bagaimana Selena terlihat sedikit gelisah dengan semua perhatian ini.
Selena akhirnya dipersiapkan—gaun berwarna ivory dengan desain klasik dikenakan di tubuhnya, rambutnya disanggul anggun, dan makeup-nya dibuat minimalis tetapi menonjolkan kecantikannya. Saat dia berdiri di depan cermin, dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"Aku terlihat..."
"Menakjubkan," potong Elara sebelum Selena bisa menyelesaikan kalimatnya. "Serius, Selena. Kalau kau tidak mau jadi model, aku benar-benar merasa ini adalah bakat yang terbuang sia-sia!"
Selena hanya mendesah, tetapi akhirnya mengikuti arahan fotografer. Pemotretan berjalan cukup lancar, meskipun di beberapa momen Selena masih canggung. Namun, begitu pemotretan berlangsung, dia mulai terbiasa dengan sorotan kamera.
Saat pemotretan selesai, Selena melepaskan sepatu hak tinggi dan langsung duduk di sofa dengan wajah lelah. "Aku merasa seperti sudah berlari maraton."
Elara hanya terkikik sambil mengulurkan botol air kepadanya. "Dan kau berhasil. Kau luar biasa, Selena."
Dante yang akhirnya berjalan mendekat, menyeringai kecil. "Aku punya ide."
Selena menatapnya dengan curiga. "Apa lagi sekarang?"
"Sebentar lagi red walk nya ...kau harus memilih pakaian yang cocok untuk mu,kan?Iyakan Elara.."kata dante.
"Benar..."
"Kalian ini... sungguh gila."balas nya.
Saat hari pemilihan gaun tiba, Selena, Elara, dan Dante mendatangi butik eksklusif yang sudah dipesan khusus untuk mereka. Tempat itu begitu mewah dengan chandelier berkilauan dan deretan gaun indah yang dipajang dengan anggun.
"Baiklah, Selena," kata Elara sambil bertepuk tangan. "Kita harus menemukan gaun yang akan membuat semua orang terdiam di red carpet."
Selena menghela napas. "Tidak bisakah aku memakai sesuatu yang sederhana?"
Dante terkekeh. "Sederhana tidak ada dalam kamus Elara. Dan juga dalam red carpet."
Seorang stylist datang membawa beberapa pilihan gaun. "Miss Selena, kami sudah menyiapkan beberapa koleksi terbaru untuk Anda. Silakan memilih."
Selena mulai mencoba satu per satu. Gaun pertama berwarna merah marun dengan belahan tinggi di paha, membuatnya terlihat elegan dan sedikit menggoda. Gaun kedua berwarna biru safir dengan taburan kristal di bagian bahu, memberi kesan anggun dan misterius. Gaun ketiga berwarna emas dengan potongan klasik yang menonjolkan siluet tubuhnya dengan sempurna.
Elara menatapnya dengan penuh pertimbangan. "Hm... yang merah menonjolkan sisi berani, yang biru membuatmu tampak seperti dewi es, dan yang emas... ya ampun, kau terlihat seperti ratu di sana!"
Dante mengangguk setuju. "Aku suka yang emas. Ini benar-benar mencerminkan auramu."
Selena menatap cermin, merasa sedikit canggung tetapi sekaligus terpana. Dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri dalam refleksi itu. "Apakah ini tidak berlebihan?"
Elara menaruh tangan di pinggul. "Tidak ada yang namanya berlebihan dalam red carpet."
Setelah beberapa perdebatan kecil, akhirnya Selena memilih gaun emas itu. Stylist tersenyum puas. "Pilihan yang luar biasa. Gaun ini akan membuat Anda menjadi pusat perhatian."
"Kenapa kalian melakukan ini?."Tanya nya.
"Ha.Hm..apa ya? aku tidak pernah mendengar kabar mu lagi selama tiga tahun,kau ini seorang bangsawan yunani tapi aku tidak pernah ada yang membahas tentang mu..."kata nya.
"Jadi?"menaiki alis nya.
"Aku pikir kau sedang di kurung oleh keluarga mu, pasti.pergi ke Italia pasti akan sangat susah untuk mu..."sahut Dante melihat Selena.
Apa?
Tunggu sebentar...
orang ini berpikir bahwa aku... dikurung?aku? tunggu...apa mereka tidak tahu aku pensiunan Penasihat pemerintah kerajaan inggris?
aku memang jarang menunjukkan wajah ku saat menjadi penasihat..tapi-ini sungguh..?ha.Jadi tindakan mereka ini seakan akan:Inilah dunia yang sebenarnya.
"Pfftt... Hahahahahaha..!!."dia tertawa terbahak-bahak hingga dia tidak bisa mengendalikan nya.
"a-apa?Apa yang terjadi kepada mu?."Tanya Dante yang kaget dengan Selena.