Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Deg!
Rasa takut menyelimuti perasaan Wahyu seketika, tatkala dari kejauhan, sosok Randa terlihat sudah menunggu didepan teras rumah yang disebutkan Wahyu dalam pesan lewat ponselnya.
Sejenak Wahyu mengatur pernafasannya dan berupaya merubah raut wajahnya agar tak tegang dan bersikap lebih santai. Dia sudah merangkai banyak alasan bohong untuk menghadapi berbagai pertanyaan Randa mengenai Asyifa dan Safina.
"Lama sekali kau datang, aku nyaris berbusa menunggumu." Kelakar Randa menyambut kedatangan Wahyu yang tersenyum canggung menanggapi candaan Randa.
"Sorry, aku tadi mampir ke supermarket dulu. Beli cemilan buat teman ngobrol." Ujar Wahyu tersenyum miring dan menepuk pundak Randa pertanda mengajaknya masuk kedalam rumah kontrakan yang kemarin sempat dihuni Asyifa dan Safina sebelum kabur.
Randa menahan tangan Wahyu sejenak. "Anakku kau titip dimana?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik sebab, dia tak melihat Safina bersama Wahyu.
Tenggorokan Wahyu seolah tercekat. Lidahnya terasa kelu. Bias pucat pasi sempat terpancar di wajahnya. Namun, dengan cepat Wahyu mengganti rona wajahnya dan berpura-pura tersenyum dihadapan Randa.
"Safina?! Jangan khawatir sobat, dia sedang di asuh oleh seorang teman perempuanku yang sudah ahli mengurus bayi. Serahkan saja urusan mengurus bayi pada temanku itu. Kita sebagai lelaki tak usah ambil pusing. Yang terpenting, anakmu dalam keadaan sehat dan baik-baik saja." Ujar Wahyu bersikap sesantai mungkin di hadapan Randa.
"Hmm, syukurlah. Aku jadi bisa fokus memikirkan masalah ku yang lain." Ucap Randa tanpa mencurigai Wahyu sama sekali.
Plong...!
Aliran darah Wahyu seakan kembali mengalir normal saat mendengar ucapan Randa. Apa yang ia khawatirkan sedari tadi, tak lagi menjadi beban hati dan pikirannya. Wahyu tersenyum lebar kemudian menepuk bahu Randa sambil tertawa renyah.
"Ha ha ha..., jangan terlalu banyak pikiran sobat, nanti kau cepat tua." Ledek Wahyu menyimpan rasa cemasnya dalam hati.
Mereka pun masuk ke dalam rumah layaknya dua sahabat yang berteman baik. Randa mengikuti langkah kaki Wahyu memasuki rumah itu dan menghempaskan pantatnya di atas sofa sembari melepaskan lelah yang menyiksa tubuhnya karena perjalanan yang ia tempuh lumayan jauh.
"Ada apa kau tiba-tiba datang kemari?" tanya Wahyu sembari mengeluarkan minuman kaleng dan beberapa cemilan yang sempat ia beli di supermarket sebelum pulang tadi dan menaruhnya di atas meja di hadapan Randa.
Wahyu tahu, Randa bukan sekedar menemui Safina anaknya. Lelaki itu bukanlah tipe seorang ayah yang menyayangi anaknya setulus hati.
"Si brengs*k itu, anak muda yang bernama Kenzie, dia telah bekerja sama dengan para petugas untuk menangkap anak buahku. Sekarang, mereka sedang mencari ku. Aku kesulitan untuk mencari tempat persembunyian. Cuma kau satu-satunya orang yang bisa membantuku saat ini." Dengus Randa dengan nada geram menjawab pertanyaan Wahyu.
Wahyu mereguk minuman kaleng yang ada di hadapannya dan mengusap tetesan air minuman yang menetes di dagunya dengan cepat.
"Aku tak menyangka, pemuda itu orang yang cukup hebat. Ku pikir, dia cuma pemuda biasa yang tak jelas asal usulnya." Celetuk Wahyu tak sengaja namun cukup memancing kemarahan Randa.
"Huh! Aku belum yakin, dia punya dukungan sehebat yang kau bayangkan." Timpal Randa gusar.
Wahyu terkesan memuji Kenzie yang sedari dulu tidak dia sukai. Hal itu membuat hati Randa jadi terbakar emosi.
Tangan kekarnya menyambar kasar, minuman kaleng yang ada diatas meja. Randa mereguk minuman itu hingga habis tak bersisa. Dia menumpahkan kekesalan hatinya pada kaleng minuman yang sudah kosong, hingga kaleng itu remuk dalam genggaman tangannya.
"Aku akan mencari Asyifa sampai ketemu. Kika benar dia kabur bersama pemuda itu, aku akan membuat hidupnya menderita selamanya." Ungkap Randa dengan geram. Kedua matanya tampak berkilat, seperti memercikan cahaya api kemarahan yang berkobar-kobar.
Ekspresi wajah Randa yang tampak menakutkan, membuat Wahyu mengusap tengkuknya yang terasa dingin sesaat. Sikapnya agak berubah jadi salah tingkah. Namun, Randa tak menyadari perubahan sikap Wahyu. Pria itu lebih fokus memperhatikan bekas jahitan yang ditutupi perban dikepala Wahyu.
"Kepalamu kenapa?" tanya Randa dengan dahi berkerut heran.
Wahyu langsung gelagapan dan jadi pucat pasi. Pertanyaan Randa, cukup mengejutkan dirinya yang telah susah payah menciptakan banyak kebohongan demi menutupi perbuatan jahatnya.
"Ini luka yang ku dapat, saat berkelahi dengan salah satu orang suruhan yang membawa kabur istrimu." Jawab Wahyu berbohong untuk ke sekian kali.
Randa meraup wajahnya kasar, seolah prihatin melihat luka yang didapat oleh Wahyu akibat ingin menyelamatkan istri dan anaknya.
"Makasih 'Yu, kamu sudah mati-matian menyelamatkan dan merawat anakku Safina. Kau memang teman terbaikku." Ucapan terimakasih serta pujian terlontar dari bibir Randa dengan tulus kepada Wahyu.
Wahyu, pria bertubuh besar itu, hanya tersenyum canggung membalas ucapan serta pujian dari Randa.
"Tak usah basa basi sobat, lebih baik kau istirahat dulu. Kau pasti lelah. Aku juga ingin istirahat sebentar. Masalah Asyifa, serahkan padaku. Biar aku yang mencarinya sampai ketemu." Tutur Wahyu mencoba menutupi sikap canggungnya dengan mengajak Randa beristirahat.
Randa mengangguk pertanda setuju. Dia memang merasa sangat lelah sedari tadi. Dia pun memejamkan matanya di atas sofa itu tanpa menyadari tatapan aneh yang terpancar dari mata Wahyu.
Sementara itu di kediaman Arif Budiman.
Nyonya Ningsih, ibunda Kenzie, sedang berbicara dengan putra kesayangannya. Tubuhnya tampak terbaring lemah diatas ranjang yang tersedia didalam kamarnya yang cukup luas.
Wanita setengah baya itu, memandang wajah Kenzie yang tengah duduk disisi ranjang dengan tatapan sedih. Kecemasan tergurat diwajah tuanya yang masih terlihat cantik.
"Ken, benarkah yang dikatakan ayahmu kemarin malam nak?" suara Ningsih yang lembut dan halus, mengagetkan Kenzie.
Kenzie memandang wajah ibundanya dengan sorot mata yang sendu. Perlahan, jemarinya menggenggam tangan ibunya dengan lembut.
"Bunda jangan khawatir, aku tidak melakukan perbuatan itu. Aku masih tau diri. Apalagi, dia masih berstatus istri orang. Aku tak mungkin berbuat sembrono." Jawaban Kenzie yang penuh keyakinan, mengusir rasa cemas yang mendera perasaan Ningsih.
Wanita itu menggenggam tangan putranya erat. "Bunda percaya, kamu takkan melakukan perbuatan yang akan menjatuhkan harga dirimu." Tutur Ningsih mempercayai perkataan putranya.
Kenzie menatap ibundanya penuh haru. Selama ini, cuma ibunya yang memahami dirinya. Apapun yang dia lakukan, selalu di beri dukungan oleh ibunya. Hanya saja, semua itu seringkali bertentangan dengan ayahnya.
"Sebenarnya, siapa perempuan itu? Kenapa kamu bisa terlibat dalam masalahnya?" tanya Ningsih penasaran.
Pemuda tampan itu sejenak terdiam. Dengan mata sedikit terpejam, ia menarik nafas berat dan menghembuskannya pelan. Bibirnya seakan sulit untuk berbicara. Harus darimana ia memulai cerita tentang Asyifa. Baginya, Asyifa telah menjadi masa lalu. Namun, cerita itu seakan di ungkit kembali. Saat ini, rasa sakit dan luka karena cinta kembali terasa menggores hatinya.
"Kenapa nak? Kenapa kamu cuma diam? Apa kamu tak mau bicara jujur sama bunda?" desak Ningsih makin penasaran.
Baru kali ini, Kenzie teramat sulit menceritakan masalah pribadinya pada Ningsih ibunya. Selama ini, Kenzie bukanlah anak yang tertutup tentang masalah apapun darinya, termasuk masalah perempuan.
"Dia..., dia mantan pacarku bunda." Sahut Kenzie dengan lidah yang terasa kelu dan bergetar.
Ningsih sesaat terpaku. Dia memandang raut wajah putranya yang tampak muram dan sedih tatkala membahas perempuan itu.
"Kau masih mencintainya anakku?" pertanyaan Ningsih sangat mengejutkan Kenzie.
Deg!
Jantung Kenzie seakan berhenti berdetak.
.
.
.
BERSAMBUNG