Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gracelyn dan Tanith
Angelica menemukan Phillippa sedang melamun di dapur sambil memegang cangkir yang berisi susu panas. "Apa kamu baik-baik saja?"
Kamu sudah pulang? Aku tidak mendengarmu pulang.
"Karena kamu sedang melamun sejak dari tadi."
Maafkan aku.
"Apa yang terjadi?"
Tidak ada.
"Aku tahu kamu bohong. Jadi katakan ada masalah apa?"
Tadi malam aku bermimpi buruk.
"Lalu?"
Mimpi tentang masa laluku entah kenapa aku memimpikan itu lagi mungki sejak aku bertemu dengan wanita itu.
Phillippa akhirnya untuk pertama kalinya menceritakannya kepada Angelica tentang masa lalulnya dan percobaan pembunuhan yang dilakukan bibinya kepadanya. Selesai membaca tulisan Phillippa, rahang Angelica menganga lebar.
"Ya Tuhan. Aku tidak tahu kalau masa lalumu seburuk itu. Kenapa kamu tidak melaporkan bibimu dan temannya itu kepada polisi?"
Aku tidak punya bukti.
"Kamu benar. Mereka pasti tidak akan percaya apa yang kamu katakan."
Aku berharap aku tidak mengingat kejadian itu lagi.
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap bersembunyi dari mereka?"
Untuk sementara ini iya. Kalau bibi Nicole tahu aku masih hidup, dia pasti akan mengejarku lagi dan mencoba membunuhku lagi.
"Kamu benar."
Phillippa kembali menyeruput susunya lagi.
"Bagaimana persiapanmu untuk ujian terakhir besok?"
Semuanya berjalan dengan baik. Aku sudah menguasi musik yang akan diujikan nanti. Aku dulu sering memainkannya bersama ibuku. Tadi siang aku ke toko musik untuk berlatih lagi.
"Aku yakin kamu akan lulus. Maaf besok aku tidak bisa menemanimu."
Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri.
"Sekarang bantu aku menyiapkan makan malam."
Phillippa mengangguk.
🎵🎵🎵
Gracelyn menatap sedih ibunya yang sedang duduk di teras halaman belakang rumahnya. Ia menyentuh pelan bahu ibunya , lalu duduk di sampingnya. "Apa ibu belum bisa memaafkan Joshua? Sebaiknya ibu maafkan saja. Ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Ibu tidak boleh terus menyalahkannya. Ini bukan salahnya."
Tanith memandang marah kepada Gracelyn.'' Kenapa kamu selalu membelanya? Ah ibu tahu karena kau sudah jatuh cinta kepadanya''.katanya sinis.
"Ibuuuu....''
"Apa yang ibu katakan benar, kan? Kau sudah jatuh cinta kepada sepupumu sendiri."
Gracelyn memandang ibunya dengan wajah sedih. Apa yang dikatakannya memang benar. Ia telah diam-diam jatuh cinta kepada Joshua sejak ia masih remaja, tapi Joshua jatuh cinta kepada Genevieve dan bagi Joshua wanita itu adalah segalanya dalam hidupnya. Sehingga ia tidak punya kesempatan untuk mengatakan perasaannya. Lagi pula ia tidak bisa menikah dengannya, karena Joshua adalah sepupunya.
"Lupakan saja dia! Masih banyak pria di luar sana yang akan menyukaimu. Kamu cantik . Aku yakin akan ada pria yang benar-benar mencintaimu."
Gracelyn mendesah dan tersenyum sedih. Ia mengenggam tangan ibunya dengan erat. Tangannya begitu hangat dan menenangkan. "Tapi aku ingin ibu memaafkan Joshua. Dia masih kecil saat kecelakaan itu terjadi. Aku tahu Joshua sangat sedih dengan kejadian yang menimpa bibi Josalyn dan Joshua adalah keponakan ibu satu-satunya, jadi tolong pikiran kembali tentang hal ini." Gracelyn kemudian meninggalkan ibunya sendirian.
"Dia juga sudah membuatmu banyak mengeluarkan air mata."
Perkataan ibunya membuat langkahnya terhenti. "Aku tahu itu, tapi aku sudah merelakan Joshua pergi dari hidupku."
Gracelyn kemudian masuk ke dalam rumah, sedangkan Tanith masih terlihat sangat kesal dengan mengepalkan kedua tangannya. Ia mas8h belum tahu apakah ia akan memaafkan keponakannya.[ ]