Namanya adalah Senja Putri Pratama. Seorang remaja perempuan yang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya.
Ayahnya sudah meninggal kala ia dan adiknya masih kecil, dan ibunya juga sudah meninggal beberapa bulan silam.
Almarhum ibunya pernah mengatakan bahwa tuhan akan mengirimkan malaikat tak bersayap yang akan selalu menemani hari-hari sulit Senja.
Arjuna Alexsa, seorang laki-laki yang tidak lain kekasih Senja yang selalu hadir menemani setiap hari-hari sulit Senja.
Namun, apa jadinya ketika laki-laki yang di anggap Senja sebagai malaikat tak bersayap itu justru membuat suatu masalah?
Apa yang akan di lakukan oleh Senja terhadap kekasihnya bernama Arjun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurcahyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dini Anggraini part 1
Pukul 9.30
Lonceng sekolah berbunyi tiga kali di sekolah menengah atas, hal itu menandakan bahwa hari ini mati listrik.
Petugas sekolah selalu menggunakan lonceng tersebut untuk memberitahukan pergantian jam, istrirahat, dan waktu pulang ketika listrik padam.
Murid-murid keluar dari ruang kelas masing-masing. Tempat pertama yang mereka tuju adalah kantin.
Mereka rela berdesak-desakan untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan.
Tidak jarang sekali banyak kejadian kaki terinjak, jatuh, dan kerusuhan.
Senja dan Melati berjalan menuju kantin I yang menjual makanan berat seperti nasi uduk, bakso, mie ayam dan sebagainya.
Mereka menunggu antrian dengan berdesak-desakan.
Setelah mendapat apa yang mereka inginkan Senja dan Melati duduk di depan kelas yang depannya di beri kursi buatan di bawah pohon.
Membuat suasana di sekitar sekolah terasa asri.
Seorang perempuan seumuran Senja berjalan menggerombol menghampiri siswi sebayanya yang sedang duduk-duduk santai.
"Eh minta uang dong." Kata perempuan yang berada di baris paling depan.
Dari kejauhan Senja mengamati tingkah siswi tersebut.
Udah di larang juga di sekolah itu supaya tidak menggerombol karna itu akan memberikan kesan buruk seperti genk.
Sekolah sudah memberikan kebijakan sendiri untuk menyikapi hal seperti itu.
"Ehhh minta uang dong." Ucap siswi untuk kedua kalinya terhadap siswi yang berbeda lagi.
"Nggak usah di liatin Sen." Kata Melati.
"Nggak juga. aku cuma penasaran kenapa dia seperti itu."
Setelah itu siswi tersebut berjalan ke tempat Senja dan Melati yang sedang duduk sambil makan.
Senja tak menggubris perempuan yang tengah berdiri di depannya.
"Eh minta uang dong!"
Senja diam dan sama sekali nggak ngrespon ucapan tersebut.
"Eh gue tu lagi omong sama kamu!"
Senja kemudian menaruh sebentar makanannya di samping Melati.
"Saya?" kata Senja sambil menunjuk dirinya.
"Ya iya elo lah!"
"Ada yang bisa saya bantu?" kata Senja sopan.
"Gue minta uang dong."
"Maaf nggak ada, saya nggak punya."
Senja melihat di baju osis orang tersebut.
Dini Anggraini
Ya, itu adalah dini yang waktu itu dengan sengaja membuat Senja terjatuh.
"Goceng aja deh kalau gitu." kata perempuan itu dengan sedikit memaksa.
"Maaf saya lagi nggak ada."
Baru saja Melati akan mengambil uang di saku kemejanya, namun hal itu di larang oleh Senja.
"Eh apa-apaan sih lo." Kata Dini.
"Yaudah Mel kasih, dia kurang uang jajan kali."
Dini menatap Senja dengan pandangan tidak suka
"Apa lo bilang!"
" Ya mungkin kamu kekurangan uang jajan."
Dini langsung melotot dan menatap tajam Senja.
"Heh asal lo tahu ya! uang jajan gue tu jauh lebih banyak dari uang jajan lo.!"
"Oh ya? syukurlah kalau begitu." Jawab Senja masih dengan nada yang sopan.
"Eh kok nyolot sih!"
"Saya sama sekali nggak nyolot justru saya mengatakan hal baik kepada mu."
"Awas aja ya lo ya!"
Dini meminta botol berisikan teh dari salah satu temannya. Ia kemudian membuka botol tersebut. Awalnya Dini mendekatkan botol itu ke mulutnya seperti orang yang akan minum.
Namun ternyata tidak, ia memutar arah botol tersebut dan "Byurrrrr...., air itu ia tumpahkan di atas kepala Senja.
Hal itu otomatis membuat baju seragam Senja basah.
Semua orang menatap ke arah Senja, namun herannya tidak ada satu dari siswi di sekitarnya yang menolong.
Melati yang di samping Senja ikut panik dalam situasi tersebut. Senja hanya diam berdiri terpaku.
Lelucon seperti apa ini, mungkin itu yang ia pikirkan. Senja hanya diam di tempat dan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Kini giliran Dini yang menatap balik Senja dengan tajam, seolah raut wajahnya mengatakan "Nggak usah macem-macem lain kali!"
Itu yang akhirnya keluar dari mulut Dini.
Senja masih diam di tempat, berusaha mengontrol dirinya supaya sabar dan sabar.
Ia tahu bahwa dirinya sangat susah di kontrol ketika emosi telah menguasai dirinya.
Tidak lama setelah itu Dini dan kawan-kawan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ya ampun Sen, gimana ini baju kamu basah padahal jam pulang masih nanti." Kata Melati mengingatkan.
"Udah nggak papa, kebetulan hari ini aku ada jam olahraga jadi aku bisa memakainya."
"Lain kali diam aja kalau Dini seperti itu, daripada nanti lo sendiri yang kena."
Senja haya diam tidak menyahut, ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membilas rambutnya yang lengket terkena air teh.
Setelah selesai Senja keluar dari kamar mandi dan di kagetkan oleh seorang siswi dari kelas sebelah.
"Yang sabar ya Sen, dia emang suka se-enaknya sendiri sama orang lain."
Senja tersenyum dan mengatakan "Iya nggak papa nanti kan kalau udah puas dia berhenti melakukan tindakan yang merugikan orang lain." Jelas Senja.
Mungkin jika orang lain akan marah ketika di perlakukan tidak sepantasnya, namun Senja masih mentolerin perbuatan tersebut.
Baginya jika seseorang seperti itu pasti meniliki latar belakang yang mendorong seseorang berbuat demikian.
Selama masih bisa di tolerin maka tolerin lah. Ya itulah Senja dengan segala sikapnya yang penuh dengan teka-teki.
semngat ya kak
di tunggu feedback-nya
owh ya thor fav karya ak juga ya. Saling support... 😊