Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Saya setuju dengan syarat yang Ibu ajukan.
Sepanjang perjalanan pulang Wina hanya terdiam, semua ucapan Ibu Wiksa membuat hatinya gusar. 'Airin ....' batinnya menggeram kesal.
Perjalanan dari kota Sukorejo menuju Singasari serasa begitu panjang dan lama. Batinnya terus mengumpat menyembunyikan semua kecemasan yang tiba-tiba menyusup kalbunya, Wina sadar jika saat ini Ibu Wiksa tengah mencubit hatinya, ada kemarahan yang lama terpendam akan sikapnya pada Wiksa dahulu.
"Wina, kamu yakin dengan keputusan kamu saat ini?" tanya Ibu Wiksa tiba-tiba dan membuat Wiksa langsung menoleh.
"Saya, yakin Bu," jawab Wina, tetapi hatinya tengah cemas.
Ibu Wiksa yang tadinya melirik langsung menatap Wina tidak yakin. Netranya terus memindai wajah Wina yang tiba-tiba memucat. "Ibu sekarang ingin bukti bukan janji dan sikap kamu yang dulu, Ibu masih mengingatnya dengan baik. Apa kabar laki-laki selingkuhan kamu dan anak kamu?" Ibu Wiksa bertanya dengan ketus tanpa memperdulikan reaksi dari Wina.
"Ibu, saya setuju dengan syarat yang Ibu ajukan, tetapi tolong perjanjian ini hanya antara kita yang tahu, bahkan Wiksa pun saya tidak ingin dia tahu," lirih Wina seakan sedang berbisik.
"Lalu ...." Ibu Wiksa menghentikan ucapannya begitu saja saat Wiksa menoleh ke belakang dan tersenyum.
"Saya keguguran," jawab Wina setelah Wiksa berbalik.
"Ibu harap semua perkataan kamu benar adanya," Sang ibu hanya bisa menghela napas panjang, "Ibu hanya berharap semoga Airin tidak pernah mau di ceraikan oleh Wiksa," tuturnya pelan bahkan bisa di pastikan hanya Wina yang hanya bisa mendengar, Ibu Wiksa dengan senyum sinis langsung memalingkan wajah.
Wina makin menunduk bukan karena merasa menyesal dengan sikapnya dulu, tetapi emosinya seketika melonjak saat mendengar nama Airin yang selalu jadi penghalangnya.
Wiksa yang tengah fokus menyetir hanya sesekali terlihat melirik dua wanita yang duduk di jok belakang melalui kaca spion tengah. Bibirnya terangkat sempurna salah menyikapi percakapan mereka berdua. "Wiksa senang, akhirnya Ibu dan Wina bisa akur," ujarnya tiba-tiba meskipun tanpa menoleh.
Namun, Ibu Wiksa hanya diam tidak merespon perkataan Wiksa. Netranya menatap lurus ke depan seakan ada hal yang mengusik hatinya.
Ibu Wiksa flashback on
Dirinya tidak menyangka jika Wina akan muncul kembali, kedatangannya kali ini sungguh membuat hati Wiksa senang berbeda dengan kejadian tujuh tahun ke belakang, Wiksa begitu anti pati mendengar nama Wina, tetapi sekarang dia dengan wajah berseri mengakui Wina sebagai pacarnya dan amarah yang sering dia tumpah 'kan pada Airin seketika mereda dengan kedatangan Wina.
Airin yang awalnya merasa senang dengan perubahan Wiksa dengan berjalannya waktu menjadi curiga saat melihat kedekatan mereka berdua. Airin merasa khawatir, curiga saat mengetauhi siapa Wina sebenarnya, ketakutan yang pernah Airin ungkap waktu itu.
"Ternyata ketakutan yang kamu rasakan benar Airin, Wiksa bukannya sadar dan sembuh. Wiksa semakin memburuk bahkan Wina seakan sengaja agar dia tidak sembuh dari sakitnya."
"Airin, maaf ' kan Ibu jika tidak memperdulikan kekhawatiran yang kamu rasakan, bahkan Ibu membiarkan Wina makin mendekat dengan dalih Wiksa hanya mau di rawat oleh Wina bahkan Ibu dengan bodohnya meninggalkan kamu sendiri dan mempercayai Wina begitu saja bahkan Ibu juga melupakan siapa Wina. Maaf, Airin jika demi kebahagian Wiksa, Ibu rela menutup mata dan mengesampingkan semua kekhawatiran yang selalu kamu ceritakan."
Ibu Wiksa flashback off
Helaan napas panjang membuyar 'kan lamunan Ibu Wiksa. "Ada apa? Kenapa kita berhenti?" tanyanya terlonjak kaget netranya langsung menilik tempat di mana mobil berhenti.
"Bukankah ini di Kebon Raya Purwodadi? Wiksa ada apa? Kenapa macet?" tanya sang ibu memburu.
"Entah, Bu. Wiksa juga tidak tahu," jawabnya sembari menengok ke arah jalan raya.
Wina yang mendengar percakapan Wiksa dan Ibunya hanya diam, tubuhnya yang sedari tadi duduk dengan cemas, tiba-tiba makin merasa gerah dengan cepat Wina membuka kaca mobil meskipun AC sudah di nyalakan.
"Wiksa, sepertinya di belakang Kebun Raya ini ada desa dan Ibu juga pernah mendengar ada air terjunnya juga," terang sang ibu makin membuat Wina gusar, duduk dengan tidak nyaman.
Wiksa tidak menjawab, netranya hanya fokus pada jalan raya, merasa tidak mendapat jawaban Ibunya Wiksa langsung mengalihkan pandangannya pada Wina yang sedari tadi terlihat duduk dengan gelisah. "Wina, apa? Kamu tahu?" tanya Ibu Wiksa mengejutkan.
"Apa, Bu?" tanya Wina ulang.
Ibu Wiksa langsung menatap Wina aneh. "Apa? Kamu tahu jika ada air terjun di Kebun Raya, mungkin bisa masuk lewat desa yang ada di belakang Kebun Raya ini?"
"Em ... Wina, enggak tahu Bu," jawab Wina hati-hati.
"Ya. Sudahlah! Lagi pula enggak penting," jawab Ibu Wiksa kecewa.
"Memangnya, ada apa? Jalanan makin macet," gerutu Ibu Wiksa kesal.
Mobil belum juga bergerak, mereka semua terdiam udara terasa semakin panas, para pemotor dan pengemudi lainnya terdengar menggerutu. "Mas ... ada kecelakaan atau apa?" tanya Wiksa berusaha mencari tahu, melongokkan kepala di jendela mobil.
"Bukan Mas, ada mobil masuk jurang, masih di derek naik dan sekarang mobilnya sudah di evakuasi di bawa ke Kantor Polisi," jawab laki-laki yang duduk di motor.
"Apa? Ada korban?" tanya Wiksa menelisik.
"Wah ... saya kurang tahu Mas, wong saya bukan Wartawan. Saya hanya mendengar sekilas dari percakapan beberapa orang yang ada di depan," jawabnya spontan.
Wiksa kembali memasukkan kepalanya, duduk bersandar melihat kemacetan yang belum terurai sama sekali. Sang ibu yang melihat langsung mendekat. "Apa? Ada yang meninggal?" tanya sang ibu pelan.
Wiksa menggeleng. "Bu, kenapa Wiksa merasa dejavu dengan kecelakaan ini, bahkan Wiksa merasa ... ash ...." Wiksa meringis memegang kepalanya.
"Wiksa ...." Sang ibu khawatir.
Sementara itu, Wina yang sejak tadi diam memperhatikan langsung mengambil tindakan, bagaimanapun juga dirinya tidak ingin mati konyol. Berdiri lebih mendekat, "menepilah biar aku yang menggantikan," pintanya sigap dan membuka pintu.
"Aku, baik Wina. Duduklah," tolak Wiksa dan kekeh dengan kemauannya.
"Aku masih bisa," tolaknya lagi dan kini dengan tersenyum.
"Setidaknya biar 'kan, aku duduk di depan," pintanya khawatir.
"Boleh, duduk saja di depan." Wiksa mengiyakan keinginan Wina.
Ponsel Wina tiba-tiba berdering, Ibu Wiksa dengan respon cepat langsung memasang telinga untuk mencuri dengar meskipun Wina belum menjawab panggilan yang terus berbunyi, mau tidak mau rasa curiga Ibu Wiksa muncul kembali. "Jawab saja Wina, siapa tahu itu penting," titah Ibu Wiksa menyelidik.
Ibu Wiksa bisa melihat jika ada keraguan di wajah Wina, tangannya canggung saat menggulir ponselnya. "Baik. Terima kasih atas beritanya," jawab Wina dan langsung mematikan ponselnya begitu saja, menyimpannya dengan gelisah.
"Apa? Ada yang penting?" tanya Wiksa tiba-tiba.
"Enggak, hanya seorang teman," jawab Wina cepat untuk menutupi perasaannya.
Lima belas menit kemudian perlahan kemacetan perlahan sedikit terurai, mobil mulai berjalan merambat. "Kasihan semoga tidak ada korban jiwa ...." Ibu Wiksa tidak melanjutkan ucapannya, netranya memindai jalan yang ada di samping Kebun Raya, sesaat terlihat kepalanya menggeleng seakan ada yang tidak bisa di terima melalui penglihatannya.
"Semoga penumpangnya selamat dan kenapa mendengar berita ini hati Ibu merasa sedih," tuturnya dengan suara bergetar.